Kirana tersenyum manis seraya mengelus pipi Billy lembut,
"Ada apa?" Tanya Kirana,
Billy hanya menggelengkan kepalanya, Ia tidak menceritakan apapun tentang pembicaraannya bersama asisten rumah tangga nya barusan, Billy memilih untuk menyimpan nya.
Kirana pun menarik lembut tangan Billy dan melangkah menuju ke kamarnya, Langkahnya pun diikuti oleh Billy,
Sesampainya di dalam kamar, Kirana pun menutup pintu kamar dan menguncinya, membuat Billy mengernyitkan dahinya,
Kirana mulai menyentuh lembut tubuh Billy, kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Billy,
"Apa, Kau tidak ingin disini bersamaku?" Goda Kirana.
Billy pun terdiam, Kali ini ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda, Apa mungkin dia bukan Erina?
Pertanyaan itu lagi dan lagi muncul di benak Billy,
Kirana pun memiringkan wajahnya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Billy,
Namun Billy memalingkan wajahnya ke arah lain, sehingga membuat Kirana merasa kesal,
"Maaf, Tapi.. Aku sedang merasa lelah hari ini,"
Billy pun berpamitan untuk tidur di kamarnya sendiri, Meninggalkan kirana dengan raut wajah kesalnya.
****
Hari ini,
Erina keluar dari rumah sakit dengan wajah barunya, Terlihat senyuman yang berkembang di wajah Erina juga Arvin,
"Terima kasih, untuk semuanya!" Ucap Erina
Arvin pun tersenyum bahagia seraya mengangguk pelan,
Arvin pun menawarkan tumpangan, ia bersedia untuk mengantar Erina ke tempat Billy, Erina sangat bahagia saat mendengar Arvin mau membantunya menemui Billy,
****
Arvin dan Erina dalam perjalanan menuju ke tempat Billy, Sepanjang perjalanan Erina terlihat sangat bersemangat dan sangat bahagia, dengan antusias ia menceritakan pada Arvin Bagaimana besarnya cinta Billy padanya,sekali, tiba tiba raut wajah Erina berubah sendu saat ia melihat wajahnya dari kaca spion mobil milik Arvin.
Arvin pun menatap heran ke arah Erina
"Ada apa? Kenapa diam?"
Erina mengalihkan pandangannya ke arah Arvin
Dengan mata berkaca kaca, ia pun berkata..
"Apa Billy, masih akan mengenaliku dengan wajah ini?" Ucap Erina seraya memegang wajahnya,
Arvin pun menghentikan mobilnya, ia menatap lekat ke arah Erina,
"Jika dia benar benar mencintaimu, Ia akan tahu jika itu kau, bagaimanapun wajah mu,"
Erina pun mengukir senyuman di wajahnya mendengar ucapan dari Arvin,
Arvin kembali menghidupkan mesin mobilnya,
"Emm, ngomong ngomong.. Apa yang akan kau lakukan saat pertama bertemu Billy?"
Erina tampak berpikir,
"Aku tidak tahu, Selama ini aku belum memikirkan hal itu,"
Arvin pun hanya tersenyum mendengar ucapan Erina,
****
Tak terasa, Arvin dan Erina pun telah tiba di depan kediaman Billy dan Erina,
Erina melihat Billy yang keluar dari rumah hendak berangkat ke kantor, Senyum Erina pun merekah,
Ketika Erina hendak turun dari mobil, matanya menangkap sosok seorang wanita yang mirip dengannya keluar dari rumahnya,
Ia pun hanya mematung melihat pemandangan di depan matanya, Billy bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya terlihat sangat mesra dan bahagia, Billy bahkan mengecup kening wanita itu, sama seperti saat bersamanya,
Erina nampak terguncang, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, langkahnya pun terasa mati, ia mencoba mencerna apa yang ia lihat di hadapannya.
Arvin pun tak kalah terkejutnya seperti Erina, bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu mirip dengan Erina, sedangkan Erina ada bersamanya?
Arvin melihat ke arah Erina yang menundukkan pandangannya, Erina terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi,
"Erina, Kau tidak apa apa?"
Namun, pertanyaan Arvin tak mendapat jawaban dari Erina,
Setelah melihat mobil Billy berlalu melewati mereka, dan melihat wanita itu masuk kembali ke rumah, Arvin pun memutuskan untuk membawa Erina ke rumahnya untuk menenangkannya,
Setibanya di rumah, Erina masih terdiam syok, hingga untuk berjalan saja ia harus dibantu oleh Arvin.
Arvin pun mendudukkan Erina di salah satu sofa panjang miliknya,
"Erina?" Panggil Arvin
Setelah beberapa kali memanggil Erina, Erina pun akhirnya menoleh ke arah Arvin
"Kau tidak apa apa?" Tanya Arvin
Air mata itu mengalir begitu saja dalam diam, Tidak terdengar jerit tangis Erina, hanya air mata yang lolos keluar dari matanya membasahi pipinya,
"A-aku, Aku tidak mengerti.. Siapa dia?" Ucap Erina
Arvin pun mencoba untuk menenangkan Erina,
"Tenanglah! Kita akan mencari tahu siapa wanita itu, yang terpenting kau harus kuat, jangan lemahkan dirimu!"
Erina pun menatap lekat ke arah Arvin, Arvin pun tersenyum tipis seraya menggenggam erat tangan Erina.
****
Billy yang masih setia di depan layar laptopnya, seketika teringat dengan pembicaraannya dengan asisten rumah tangganya,
Ia melepas kacamata kerjanya dan sedikit melamun, lamunannya pun buyar ketika seseorang datang..
"Billy?"
Pandangannya beralih ke arah suara,
"Ada apa Ryan?"
Ryan pun duduk berhadapan dengan Billy, Ia menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat,
Billy menatap heran ke arah Ryan,
"Apa ini?"
Ryan pun menghela nafas kasar,
"Lihat saja,"
Billy pun meraih amplop tersebut dan membukanya, terdapat beberapa lembar kertas di dalamnya,
Billy pun membaca salah satunya,
"Bukankah ini?"
Billy pun menatap lekat ke arah Ryan,
"Iya, itu adalah beberapa hal yang harus kau ketahui.. Apa yang terjadi pada Erina saat di sekolah dulu, dalang dibalik itu semua adalah Nyonya Lilian, Dia membayar beberapa orang murid untuk membully dan membahayakan hidup Erina,"
"Lalu, Kenapa kamu baru memberitahu sekarang?"
"Karena, penyelidikan ku tidak hanya sampai disitu!"
Billy mengerutkan keningnya,
"Maksudmu?"
"Sekarang, pikirkan! Nyonya Lilian yang dulu sangat membenci Erina, sekarang katakanlah Erina kembali, tiba tiba dia menerima dan mengakuinya, apa kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh?"
Billy pun terdiam,
"Jika kau masih ragu, kita lakukan tes DNA untuk menguji apa dia benar benar Erina?"
Billy masih terdiam,
"Sebagai sahabatmu, Aku hanya tidak ingin kau dijebak ataupun dimanfaatkan oleh orang lain,"
Ryan pun berdiri dari duduknya,
"Bacalah baik baik berkas berkas itu,"
Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Billy,
Ditengah lamunannya, Ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Kirana yang datang ke ruangannya,
"Hai, sayang!" Sapa Kirana
Billy pun tersenyum manis, dan pura pura membereskan mejanya, ia kemudian menyimpan berkas berkas dari Ryan di laci meja paling bawah,
"Hai,"
Kirana pun menghampiri Billy, Kemudian ia duduk manja di pangkuan Billy dan mengalungkan kedua tangannya di leher Billy,
"Sayang, Ayo kita makan siang?" Ajak Kirana
"Emm, Bukankah kau biasanya memasak untukku?"
Kirana pun terdiam,
"Emm, Itu.. Aku sedang tidak mood, tidak apa apa kan jika sesekali makan diluar?"
Billy pun mengangguk pelan,
Kirana pun menarik tangan Billy dan melangkah pergi,
****
Mereka tiba di sebuah restoran eropa, Billy pun memesan beberapa jenis makanan disana, Billy dan Kirana me ngobrol layaknya sepasang kekasih, obrolan mereka pun terkadang diselingi dengan canda tawa,
Tanpa sengaja, Arvin dan Erina pun datang ke restoran yang sama, Arvin yang menyadari itu pun, mencoba untuk mengajak Erina makan di tempat yang lain,
"Lebih baik, kita pergi ke restoran lain saja,"
Namun, Erina menahan tangan Arvin, Ia tampak menggelengkan kepalanya,
"Aku tidak apa apa, Lagipula Billy tidak akan mungkin mengenaliku,"
Erina pun tersenyum tipis menatap Arvin,
"Apa kau yakin?"
Erina mengangguk pelan,
Arvin pun mencari meja untuk mereka, Namun karena restoran yang penuh, meja mereka pun berhadapan dengan Billy,
Erina dan Billy terlihat saling berhadapan, sedangkan Arvin dan Kirana saling membelakangi,
Pandangan Billy pun tanpa sengaja bertemu dengan Erina,
'Degh'
'Wanita itu, tatapannya terlihat tidak asing bagiku,' Batin Billy.
Erina pun mengalihkan pandangannya,
Beberapa kali Billy diam diam memperhatikan Erina, Ia merasa yakin jika gadis yang berhadapan dengannya bukanlah orang asing, tapi ia juga tidak bisa mengingat siapa gadis itu,
Erina pun melihat bagaimana Kirana dan Billy begitu mesra, mereka saling menyuapi satu sama lain, hingga tertawa bersama.
Arvin mencoba untuk menguatkan Erina dengan menggenggam tangannya,
Erina pun hanya tersenyum menatap Arvin,
****
Tak lama, Erina pun berpamitan pada Arvin untuk pergi ke toilet..
Di dalam toilet, Erina yang sedari tadi menahan tangisnya, tangisnya pun tiba-tiba pecah, Ia memegang dadanya yang terasa perih karena harus menahan sakit ketika ia melihat suaminya bermesraan dengan gadis lain,
Erina pun segera mencuci wajahnya, Ia menatap wajah sembabnya di depan cermin,
'Billy, tidak mungkin mengenali ku dengan wajah ini,' Batin Erina.
Erina pun kembali membasuh wajahnya,
Setelah selesai, Ia pun melangkah keluar, Namun karena tidak memperhatikan jalan tanpa sengaja Erina menabrak seseorang yang melangkah berlawanan dengannya,
"Brugh"
Erina bertabrakan dengan seorang pria di hadapannya, Pria itu pun refleks memegang pinggang sampingnya agar tidak terjatuh, pandangan mereka pun bertemu, untuk beberapa menit mereka mematung dan saling menatap, hingga Erina pun tersadar, Ia pun membenarkan berdirinya,
"Oh, M-maaf! Aku tidak sengaja," Ucap Erina.
Pria itu pun tersenyum,
"Tidak apa apa, aku juga minta maaf karena sudah menabrak mu,"
Erina pun hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya menuju meja nya, sedangkan pria itu melanjutkan langkahnya menuju ke toilet,
Di dalam toilet, Pria itu nampak mengingat kejadian yang baru saja ia alami, Ia pun tersenyum senyum sambil menggelengkan kepalanya,
"Gadis yang cantik," Gumamnya.
****
Selesai dari toilet, Pria itu pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke meja nya, namun langkahnya terhenti sesaat ketika ia melihat sebuah gantungan ponsel yang tidak sengaja terinjak oleh nya,
Pria itu pun meraihnya, Ia pun memperhatikan gantungan tersebut,
"Inisial ini?"
Inisial tersebut membuatnya teringat dengan masa lalunya,
Kemudian, untuk sejenak Ia terdiam..
Namun, Tiba tiba Ia teringat dengan kejadian tadi saat tanpa sengaja ia menabrak seorang gadis,
"Apa gantungan ini, Milik gadis itu? Mungkin gantungan ponsel ini terjatuh dari saku gadis itu?" Gumamnya,
Pria itu pun memasukkan nya kedalam saku jas nya, dan kembali melanjutkan langkahnya.
****
"Kau dari mana saja? Kenapa lama sekali?" Ucap Kirana sambil memanyunkan bibirnya,
Billy pun tersenyum,
"Aku hanya dari toilet,"
"Apa kau pergi ke toilet yang berada di antartika? Hingga membuatmu pergi lama sekali?" Kesal Kirana
Billy hanya tertawa mendengar ocehan Kirana,
Billy pun meraih gelas yang berada di hadapannya, tanpa sengaja tatapannya pun kembali mengarah ke arah Erina, Erina yang tengah tersenyum mendengar candaan Arvin, seketika langsung terdiam saat pandangannya bertemu dengan Billy,
Erina kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan Billy langsung meneguk air dalam gelas tersebut dalam satu tegukan,