Billy dan Kirana kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat perbelanjaan, Mereka pun masuk ke dalam salah satu toko perhiasan, Kirana sedikit merengek pada Billy untuk membelikannya sebuah cincin, Billy pun menuruti keinginan Kirana,
Disaat Kirana sedang memilih milih, tanpa sengaja pandangan Billy tertuju pada sebuah cincin yang ada di dalam etalase toko,
"Cincin itu?" Gumam Billy.
Billy pun memperhatikannya dengan seksama, terlihat Cincin yang berbentuk setengah hati..
'Ini, mirip dengan Cincin pernikahan ku bersama Erina,' Batin Billy
Billy tersenyum tipis menatapnya,
Ia kemudian memanggil Kirana,
"Kirana?"
Kirana pun menatap ke arah Billy
"Hm?"
Kirana Menghampiri Billy yang masih berdiri di dekat etalase berukuran sedang itu,
"Ada apa?"
Billy pun menunjuk cincin itu sambil tersenyum,
"Oh, Emm.. Aku tidak mau cincin itu, cincin itu terlalu kekanak kanakan, dan terlalu kampungan,"
'Degh,'
Raut wajah Billy pun berubah, sedangkan Kirana kembali ke tempat ia berdiri tadi,
Billy menundukkan pandangannya kembali menatap ke arah cincin itu,
'Kenapa, dia tidak menyukainya? Apa dia tidak ingat dengan cincin ini?' Batin Billy,
Billy menatap lekat ke arah Kirana yang tengah mengobrol dengan pelayan toko,
****
Di lain sisi,
Erina sedang termenung di kursi belakang rumah, Arvin yang melihatnya pun menghampiri nya,
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Erina pun mengalihkan pandangannya ke arah Arvin,
"Tidak apa apa,"
Erina bergegas membereskan rumah,
Arvin pun menahan tangan Erina yang tengah mengelap debu,
"Ayo, Kita temui Billy!" Ajak Arvin
"Tidak!"
"Tapi, Billy harus tahu tentangmu!"
"Kau sendiri yang mengatakan, Jika Billy benar benar mencintaiku ia akan bisa merasakan kehadiranku tanpa harus melihat wajahku,"
Arvin pun terdiam, sedangkan Erina melangkah pergi keluar.
****
Erina memutuskan untuk mencari udara segar di luar rumah, Ia berjalan tanpa tujuan, dengan mata berkaca kaca ia terus saja melangkah.
Semua kenangan akan dirinya dan Billy terus berputar di otaknya,
"Hiks hiks, kenapa? Kenapa kau tidak mengenalku?" Gumamnya
Erina pun memasuki kawasan taman kota, ia duduk di salah satu bangku, tangisnya pun pecah,
Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menghapus air matanya kasar.
Sejenak Erina berpikir, Ia merasa Arvin benar, walau bagaimanapun ia harus menemui Billy dan menyelesaikan pernikahannya dengan baik baik,
"Arvin benar, Aku harus selesaikan!"
Erina pun melanjutkan langkahnya menuju ke kantor Billy,
Setibanya di kantor Billy, Ia langsung menuju ruangan Billy,
Namun saat di depan pintu, pintu kantor Billy terlihat sedikit terbuka, Ia menyaksikan pemandangan yang sangat ia takuti, Matanya membulat sempurna, Ia menyaksikan bagaimana Billy dan gadis yang mirip dengannya tengah berciuman panas di dalam ruangannya,
Erina melangkah mundur, dan buliran bening itu pun kembali lolos..
Tanpa sengaja, Ia menabrak sekretaris Billy yang berada di belakangnya,
"M-maaf!" Ucap Erina,
Erina pun langsung berlari pergi,
Sedangkan sekretaris Billy hanya menatap aneh ke arahnya,
Sekretaris Billy pun mengetuk pintu sehingga membuat Billy dan Kirana terkejut,
Kirana pun membenarkan pakaiannya dan Billy pun menghapus bekas lipstik yang menempel di wajah Billy,
"Iya, Masuk!" Titah Billy,
Sekretaris pun masuk ke dalam ruangan Billy, dengan membawa setumpuk kertas, Kirana yang melihat tumpukan itu pun merasa malas, Namun ia tetap mencoba untuk tersenyum,
"Emm, sayang! Aku akan pergi berbelanja dulu, nanti aku tunggu di rumah.. Oke?"
Billy pun mengangguk pelan, Kirana pun melangkah pergi keluar, setelah Kirana tidak ada.
Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya, namun tiba tiba..
"Tuan, M-maaf?"
"Hm? Ada apa?" Tanya Billy dengan nada datar,
"Tadi, sebelum saya masuk, tidak sengaja saya bertabrakan dengan seorang gadis, sepertinya dia tidak asing tuan," Terang sekretaris
"Gadis?" Billy mengerutkan dahinya,
"Apa kau mengenalnya?"
"Tidak Tuan!"
Billy pun tertegun,
****
Erina yang terus menangis sambil berlari, tanpa sengaja ia menabrak lagi seseorang di hadapannya,
Mata Erina yang sembab pun kembali membulat saat ia menatap siapa orang yang ia tabrak,
"I-ibu?" Ucapnya pelan
Erina tidak sengaja bertabrakan dengan Lilian di depan gedung,
Lilian menatap tajam ke arah Erina,
"Lain kali berhati hatilah jika kau berjalan! Perusahaan ini adalah milik menantuku! Kau bisa aku tuntut!" Bentak Lilian,
Erina hanya diam mematung mendengar bentakan Lilian,
'Apa? Menantu tadi ia bilang? Kenapa dia mengatakan itu? Apa dia sudah menerimaku? Apa dia tau jika gadis itu bukanlah aku?' Batin Erina.
"Heh!" Bentak lilian,
Bentakan Lilian Menyadarkan Erina dari lamunannya,
"Kau benar benar tidak sopan! Orang tua sedang bicara padamu kau hanya diam saja!" Bentak Lilian,
"M-maaf!" Ungkap Erina,
Lilian pun melangkah pergi sambil menggerutu,
Sedangkan Erina, hanya menatap kepergian Lilian.
Erina pun melanjutkan langkahnya,
****
Kirana yang tengah berjalan keluar berpapasan dengan sang ibu Lilian,
"Hai bu?" Panggil Kirana,
"Hai, Sayang.."
Lilian memeluk erat Kirana,
"Apa kita jadi pergi berbelanja?" Tanya Lilian,
"Tentu saja bu!"
Mereka kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke salah satu pusat perbelanjaan,
Di perjalanan..
Lilian menggenggam tangan sang putri,
"Bagaimana sekarang? Apa kau bahagia?" Tanya Lilian
Kirana mengukir senyuman lebarnya
"Sangat sangat sangat bahagia bu, Ibu tau? Kami bahkan tadi berciuman panas, Aku rasa Billy sudah mulai benar benar mencintaiku lagi,"
Lilian pun tersenyum bahagia,
"Benarkah? Syukurlah!"
Namun tiba tiba, Lilian bertanya..
"Apa, Kau sudah melakukannya dengan Billy?"
Senyuman Kirana pun sedikit memudar,
"Belum bu, Billy mengatakan padaku jika dia belum siap untuk melakukan itu!"
Lilian pun terdiam,
'Apa Billy mulai mencurigai Lisa?' Batinnya,
"Ada apa bu?" Tanya Kirana membuyarkan lamunan,
"Oh, Tidak! Tidak apa apa! Nanti, Ibu akan memberimu sesuatu!"
Kirana pun mengerutkan dahinya,
"Apa itu?"
Lilian pun tersenyum,
"Ibu, Akan memberikan obat untuk Billy,"
"Obat?"
"Iya, Obat.. Untuk membuatnya mau b******u denganmu.. Walau bagaimanapun segala kemungkinan bisa saja terjadi, kau harus cepat cepat mengikat Billy selamanya, dengan cara mengandung anaknya,"
Kirana pun terdiam mendengar penjelasan sang ibu,
****
Dilain sisi..
Erina pergi ke tempat favoritnya saat bersama Billy, Di Sana Ia menangis sejadi jadinya,
"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu? Apa ini alasannya kau tidak mencari ku selama dua tahun ini?" Teriak Erina,
Bayangan Billy yang tengah bermesraan itu terus terngiang di kepalanya,
"Kau keterlaluan!" Imbuhnya,
Tiba tiba,
"Brukk!"
Tubuh Erina pun ambruk, Ia jatuh pingsan Karena kelelahan dan belum makan sejak pagi,
Seseorang yang melihat Erina jatuh pingsan langsung berlari menghampiri Erina dan membawanya ke tempat miliknya yang kebetulan tidak jauh dari sana,
Ia kemudian membaringkan Erina di sofa panjang miliknya, Sejenak Ia menatap Erina dan memperhatikannya, Namun ia pun hanya menyelimutinya dan meninggalkan nya,
Tak berselang lama, Erina pun perlahan membuka matanya, Ia memperhatikan sekitar, Ia merasa itu bukanlah tempat asing baginya, Tapi…
"Dimana ini?" Erina seketika terbangun dan duduk melihat ke arah sekitar,
Seseorang pun masuk dengan membawa sebuah nampan dengan makanan diatasnya,
"Kau sudah bangun?"
Erina pun menatap ke arahnya dan mengangguk pelan,
"Ini, Makan lah!"
Erina pun perlahan memakan makanan yang disodorkan oleh nya,
"Apa kau orang baru?"
"I-iya,"
Orang itu pun mengangguk paham
"Oh, pantas saja aku belum pernah melihatmu,"