"Terima kasih sudah mau menolongku,"
Pria itu pun tersenyum,
"Sama sama, Lagipula itu hanya Kebetulan saja, Aku tidak sengaja melihatmu yang sedang menangis dan berteriak lalu tiba tiba kau jatuh pingsan," Terangnya
Erina nampak tidak mendengar apa yang ia katakan, Erina hanya menatap dalam padanya,
Pria itu pun melambaikan tangannya di depan wajahnya,
"Hey!"
Erina pun mengerjap karena terkejut,
"O-oh, M-maaf!" Ujar Erina
Pria itu pun kembali tersenyum,
"Tidak apa apa, Habiskan makananmu, Aku akan mengantarmu pulang!"
Pria itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Erina,
Pandangan Erina pun tertunduk dan airmata itu kembali menetes,
'Bahkan, Kak Ryan tidak mengenaliku.. Hiks hiks," Batin nya.
****
Ryan termenung di dapur, Ia memikirkan sesuatu..
Ia merasa tidak asing dengan sorot mata gadis yang ia tolong,
"Kenapa rasanya, Aku pernah melihatnya di suatu tempat ya?" Gumam Ryan,
Namun, Ryan mengabaikannya dan memutuskan untuk mengantar gadis yang ia tolong pulang ke rumahnya.
****
Sesampainya di depan rumah Arvin,
"Terima kasih, sudah menolongku dan juga mengantarkan ku!"
Ryan pun tersenyum dan mengangguk pelan,
Erina yang hendak keluar dari mobil Ryan, tiba tiba tangannya tertahan oleh Ryan..
"Tunggu!"
"Ya?"
Erina menatap ke arah Ryan,
Namun, Ryan terlihat ragu ragu untuk bicara,
"Em, Tidak apa apa! Bisakah aku lain kali mampir ke rumahmu?"
Erina pun mengangguk,
"Tentu!"
Erina pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah, sedangkan Ryan terus menatapnya Hingga Erina menghilang dari hadapannya,
****
Erina yang baru saja masuk disambut oleh Arvin yang sudah menunggunya di depan pintu,
"Kau pulang dengan siapa?" Tanya Arvin
"Kakakku,"
Arvin mengernyitkan dahinya,
"Kakak? Maksudmu Kevin? Atau Theo?" Tanya Arvin penasaran,
Erina menggeleng pelan,
"Bukan, Tapi.. Kak Ryan,"
"Ryan?"
"Dia adalah orang yang sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri,"
Arvin pun mengangguk angguk,
****
Sementara itu,
Ryan mendatangi Billy yang tengah sibuk di kantornya,
"Kau masih sibuk?" Tanya Ryan
Billy pun menatap ke arah Ryan,
"Ya, begitulah!"
Ryan pun menghampiri Billy dan duduk di hadapannya,
"Ada apa, Kau kesini?" Tanya Billy,
"Apa kau sudah membaca berkas berkas yang ku berikan?"
Sontak Billy langsung menepuk dahinya,
"Aduh! Aku lupa! Maaf ya!"
Ryan menggeleng geleng,..
"Lebih baik, kau luangkan waktu untuk membacanya!"
Billy pun menghela nafas kasar,
"Sudahlah, lain kali saja! Aku juga sedang sibuk, lagipula bukankah bisa saja kau membacakan nya untuk ku?"
"Dengar! Jika aku yang bercerita tanpa bukti, apa kau akan percaya padaku?"
Billy pun terdiam..
Sedangkan Ryan melangkah pergi meninggalkan Billy yang termenung,
****
Hari pun berganti,
Arvin berpamitan pada Erina untuk pergi ke rumah sakit, ia akan meninggalkan Erina untuk beberapa hari,
"Jaga dirimu baik baik! Jika terjadi sesuatu, hubungi aku!"
Erina pun mengangguk,
Setelah kepergian Arvin, Erina pun terlihat kembali merenung, hingga asisten rumah tangganya pun membangunkannya dari lamunannya,
"Nona?"
Erina pun menoleh ke arah suara,
"Ya?"
"Saya mau pergi ke supermarket, Apa nona ingin menitip sesuatu?"
Erina nampak berpikir sejenak,
"Emm, Bi.. Biar saya saja yang pergi,"
"T-tapi.."
"Tidak apa, Lagipula tidak ada yang bisa aku kerjakan disini," Ungkapnya
Sang asisten rumah tangga pun hanya mengangguk pasrah,
"Mana daftar belanjaannya?"
Sang asisten pun memberikan daftar itu pada Erina,
****
Erina tiba di supermarket langganannya dulu, Ia memilih beberapa bahan makanan yang diperlukan di rumah,
Ketika sedang asyik memilih bahan makanan, tanpa sengaja ia melihat Lilian yang sedang berada di sebuah apotek di seberang supermarket tempat ia berbelanja,
Lilian terlihat membeli sesuatu, Erina yang merasa penasaran pun memutuskan untuk mendekat ke arah Lilian, Erina melihat dari balik muka pintu, Ia mencoba memfokuskan pandangannya ke arah obat yang terletak di atas meja kasir, Ia mencoba membaca tulisan yang ada pada botol kecil tersebut,
"Po.. Tan.. Zol? Obat apa itu?" Gumam Erina,
Saat sedang memperhatikan, tiba tiba Lilian pun melangkah keluar, dan membuat Erina terkejut, Erina pun bersikap seolah sebagai pembeli yang hendak masuk ke dalam apotek, Lilian menatap sekilas ke arah Erina, dan Erina tersenyum tipis ke arahnya.
****
Sepanjang perjalanan pulang, Erina terus penasaran dengan obat itu,
Setibanya di rumah,
"Nona, sudah pulang?"
"Iya,"
Sang asisten pun merasa aneh karena Erina pulang tanpa menjinjing apapun, Erina menatap heran ke arah asistennya yang celingukan mencari sesuatu,
"Kenapa?" Tanya Erina
"Emm, Maaf Nona, barang belanjaannya…"
"Ya ampun, Aku lupa!" Erina menepuk dahinya seketika,
Sang asisten pun hanya tersenyum,
"Tidak apa apa Nona, Biar saya saja yang berbelanja,"
"Tidak, Biar aku saja! Tadi aku sudah menawarkan diri bukan?"
"Baiklah Nona,"
Erina pun bergegas pergi menuju supermarket,
****
Selesai berbelanja,
Karena hujan Erina pun menunggu taksi untuk pulang ke rumah, namun tiba tiba sebuah mobil mewah melintas di hadapannya dan menyebabkan kubangan air di jalan mengenai pakaiannya,
"Hei!!! Dasar tidak tahu sopan santun! Bukannya minta maaf malah pergi begitu saja!!" Teriak Erina kesal
Mendadak mobil itu pun berhenti, Seorang pria pun keluar dari mobil tersebut, dan orang itu pun bukanlah orang asing baginya,
"B-billy?"
Billy menghampiri Erina yang tengah berdiri mematung menatapnya,
"Maaf nona, saya tidak sengaja."
Erina hanya terdiam,
Billy melihat pakaian Erina yang kotor dan membuatnya merasa bersalah,
"Emm, Begini saja.. Aku akan memberikanmu sejumlah uang untuk membeli pakaian yang baru,"
Billy mengeluarkan dompet kulit miliknya yang berwarna coklat, Ia mengambil beberapa lembar uang dan menyerahkannya pada Erina,
"Ini,"
Namun, Erina tetap diam..
Billy pun menarik tangan Erina, dan memberikan uang tersebut ke tangan Erina,
"Sekali lagi, Aku minta maaf!"
Billy pun melangkah pergi, Sedangkan Erina melihat lembaran uang yang diberikan oleh Billy di tangannya, itu membuatnya sangat terluka.
"Semurah itukah kau menilaiku?"
Erina hanya menatap kepergian Billy dengan raut wajah sendu
****
Billy baru saja kembali dari makan siangnya bersama klien nya, Namun baru saja ia duduk, tiba tiba ia dikejutkan dengan keributan yang terjadi di luar ruangannya,
Billy yang merasa terganggu pun langsung mendatangi mereka,
Billy melihat para karyawannya yang tengah mengerubungi seseorang yang tergeletak diatas lantai,
"Ada apa ini?" Tanya Billy,
"Tuan, Nona sekretaris tiba tiba jatuh pingsan!" Jawab salah satu karyawannya
Billy pun membulatkan matanya karena terkejut, Ia pun meminta salah satu dari mereka menghubungi ambulan, sekretaris nya pun dilarikan ke rumah sakit, Beberapa saat kemudian sang sekretaris pun sadar,
"Maaf Tuan, Karena saya sudah merepotkan tuan,"
Billy pun menghela nafas kasar,
"Tidak apa apa, beristirahat lah! Mungkin kau terlalu lelah!"
"Terima kasih tuan!"
Billy pun kembali ke kantor nya,
"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri, Aku butuh seorang sekretaris untuk mengurus semuanya," Gumamnya,
Billy pun melanjutkan pekerjaannya,
****
Kirana tengah menelpon seseorang, Ia tertawa begitu kerasnya, hingga asisten rumah tangga yang tengah berjalan melewati kamarnya mendengar suara tawa Kirana.
Karena penasaran, Sang asisten rumah tangga itu pun menempelkan telinganya di pintu kamar Erina,
Samar samar ia mendengar sesuatu yang membuat matanya terbelalak,
"A-apa?"
Asisten rumah tangga itu pun memutuskan untuk melangkah pergi saat mendengar suara derap langkah Kirana mendekat ke arah pintu,
****
Kirana yang mendengar suara mesin mobil Billy berada di depan rumah, bergegas turun dari tempat tidurnya dan mematikan telponnya,
Kemudian Kirana berlari menghampiri Billy,
"Sayaaang!!" Teriak Kirana
Kirana langsung meloncat ke arah Billy, dan Billy pun menangkapnya.
"Jangan melompat seperti itu, Aku kaget!"
Kirana pun tertawa,
"Maafkan aku! Aku seperti ini, Karena aku merindukanmu!"
Billy pun hanya tertawa,
"Kenapa tertawa?"
"Tidak apa apa, hanya saja.. Dulu, kau tidak pernah bersikap seperti ini,"
Kirana pun turun dari pangkuan Billy,
"Apa dulu aku sekaku itu? Maaf, Aku masih belum bisa mengingat apapun," Ucap Kirana dengan wajah sendu,
Billy pun memegang wajah Kirana,
"Tidak apa apa, Saatnya nanti kau akan ingat,"
Kirana pun memeluk Billy erat,
"Oh ya, Apa kau sudah makan?"
Billy pun menggelengkan kepalanya,
Kirana menarik tangan Billy menuju ruang makan,
"Duduklah, Aku akan mengambilkan makanannya,"
Billy pun mengangguk pelan,
Kirana mengambilkan beberapa jenis makanan dan menaruhnya di piring Billy,
Billy mulai menikmati makanannya,
"Emm, Apa kau yang memasak nya?" Tanya Billy
"Bukan! Aku tidak tau cara memasak, jadi mana Mungkin aku yang memasaknya," Ujar Kirana.
'Degh'
Seketika tangan Billy terhenti, Ia mencoba untuk mencerna perkataan Kirana,
'Tidak mengerti cara memasak?' Batin Billy.
Billy menatap Kirana yang tengah asik menikmati makanannya dengan raut wajah kebingungan,
****
Di lain Sisi,
Ryan masih penasaran dengan sosok gadis yang ia temui saat itu,
Ia merasa gadis itu bukanlah orang asing, sorot matanya mengingatkan Ryan pada seseorang, Ryan pun memutuskan untuk menemui gadis itu,
Ryan mendatangi kediaman Erina, Terlihat Ryan ragu untuk melangkahkan kakinya, Ketika ia hendak mengetuk pintu tiba tiba pintu rumah pun terbuka, menampakkan sosok seorang gadis cantik yang ia cari,
"H-Hai?" Sapa Ryan,
"Hai,"
Erina mempersilahkan Ryan masuk,
"Apa kau tinggal sendiri?"
"Tidak, Aku tinggal dengan saudaraku,"
Ryan pun mengangguk angguk,
"Maaf, Aku datang secara tiba tiba,"
Erina tersenyum dan menggeleng pelan,
"Tidak apa apa,"
"Oh ya, barusan kau mau pergi atau…"
Ucapan Ryan pun terpotong,
"Tidak, Aku hanya ingin pergi untuk.. Untuk.. Emm.. Mencari pekerjaan.. Iya itu," Jawab Erina,
"Begitu ya?"
Erina mengangguk cepat,
Ryan berpikir sejenak, lalu tiba tiba...
"Kalau begitu, bagaimana jika kamu bekerja di tempatku?"
Erina terlihat gugup dan terbata bata,
"A-apa?"
Ryan tertawa melihat tingkah Erina,
"Ha ha.. Jika kamu berminat, kau boleh bekerja di tempatku,"
"B-begitu ya, Baiklah."
Erina menyetujui tawaran Ryan karena merasa terpaksa,
Mereka berdua pun kembali mengobrol dan mereka dengan cepat akrab,
"Emm, ngomong ngomong.. Apa kau sudah bekerja?"
Erina terdiam sejenak, dan menggelengkan kepalanya,
"Benarkah? Sayang sekali, baiklah.. Besok bawa berkas berkasnya, dan datanglah ke alamat ini."
Ryan memberikan alamat perusahaan pada Erina.
Erina nampak terkejut setelah membaca alamat tersebut,
'Bukankah ini?' Batin Erina.
"Ada apa?" Tanya Ryan,
"Oh, T-tidak apa apa!"
Ryan pun memperhatikan sekeliling,
"Apa kau sudah lama tinggal disini?"
"Belum lama," Jawab singkat Erina.
Tiba tiba..
"Oh ya, Aku lupa.. Kita belum sempat berkenalan kemarin, kenalkan namaku Ryan," Ryan Menyodorkan tangannya,
Erina pun menyambutnya,
"Nama ku.. Eri… ka, Iya nama ku Erika,"
Erina baru menyadari jika dirinya tidak bisa berkata jika ia Erina, mengingat ada seseorang yang mirip dengannya, Ia pun memutuskan menggunakan nama yang lain,
"Erika, Nama yang bagus."
"Terima kasih,"
"Baiklah, Erika.. Aku tunggu di kantor besok,"
Ryan pun berpamitan.
****
Keesokkan harinya,
Erina berpakaian rapi mengenakan rok blazer berwarna abu muda dengan heels berwarna hitam, dan rambut panjang lurus yang diikat,
Erina terlihat sangat cantik dan elegan, sehingga semua mata tertuju padanya, Ia kemudian mencoba mencari ruangan milik Ryan, Ia pun bertanya pada CS,
"Maaf, dimana ruangannya Tuan Ryan?"
"Apa sudah ada janji sebelumnya?"
Erina pun menggelengkan kepalanya,
"Maaf, tapi harus ada janji dulu sebelum bertemu,"
Tiba tiba…
Ryan datang menghampiri,
"Tidak apa apa, dia adalah tamu ku."
Ryan pun menarik lembut tangan Erina menuju ke ruangan Billy,
"I-ini kan?" Ucap pelan Erina.
Erina terlihat syok saat tahu Ryan membawanya ke ruangan Billy,
Billy menatap heran ke arah Ryan yang tiba tiba datang, sambil menggandeng tangan seorang perempuan,
"Siapa dia?" Tanya Billy,
"Bukankah, kau sedang membutuhkan seorang sekretaris?" Tanya Ryan
"Darimana kau tahu?"
Ryan menghela nafas kasar,
"Apa kau lupa, Aku juga salah seorang pemegang saham disini, kejadian sekretarismu yang pingsan kemarin itu, tentu aku pasti mengetahuinya, dan aku tahu kau akan kesulitan untuk bekerja tanpa ada seseorang yang membantumu," Terang Ryan
Billy pun terdiam sejenak,
"Baiklah,"
Ryan pun terlihat menyunggingkan senyuman,
****
Erina mencoba mengejar langkah Ryan,
"Tunggu!"
Ryan pun menoleh ke arahnya,
"Kenapa?"
"Aku tidak mau bekerja dengannya,"
Ryan pun tersenyum menatap Erina,
"Dengar, Ini adalah kesempatan mu untuk memperbaiki kehidupanmu, jadi jangan pernah menolak bantuan dariku."
Erina menatap lekat Ryan,
"Aku adalah orang asing untukmu, tapi.. Kenapa kau membantuku?"
Ryan pun memegang kepala Erina dan mengelusnya lembut,
"Seorang kakak akan bisa mengenali adiknya,"
Erina terdiam mematung mendengar kata kata Ryan,
Ryan pun melangkah pergi meninggalkan Erina,
'Apa itu artinya, Kakak mengenaliku?' Batin Erina.
****
Sejak hari itu, Erina mulai bekerja di perusahaan Billy sebagai sekretarisnya,
Billy masih bersikap dingin dan datar terhadap Erina, Namun Erina bisa menerimanya.
Erina begitu sangat perhatian pada Billy, meski Billy tidak menyadari itu,
"Maaf, Ini makan siang Tuan!" Ucap Erina
"Terima kasih,"
Billy menatap menu di dalam kotak makan siangnya, semua menu itu adalah menu kesukaannya,
"Biasanya, Erina yang selalu memasak menu ini untukku," Gumam Billy.
Billy pun mulai menyantap makan siangnya, Ia sedikit terkejut karena rasa dari menu makan siangnya kali ini benar benar mirip dengan masakan Erina, Ia pun dengan lahap memakannya hingga habis tidak tersisa.
Billy pun menghampiri Erina yang tengah mengerjakan pekerjaannya,
"Erika?"
Erina pun berdiri dan menatap ke arah Billy
"Ya Tuan?"
"Emm, Aku menyukai makan siang ku, kedepannya tolong kau siapkan makan siang setiap hari untukku di restoran tempatmu membeli makanan itu," Ucap Billy diiringi senyuman.
"Baik Tuan,"
Erina pun membalas senyuman manis Billy,
****
Suatu hari,
Kirana datang mengunjungi Billy yang tengah sibuk dengan berkas berkasnya, dengan Erina yang berada di hadapannya.
Kirana pun duduk manja di pangkuan Billy dengan kedua tangannya mendarat di leher Billy,
"Sayang, Apa kau masih sibuk?" Tanya Kirana.
Erina mengalihkan pandangannya ke arah lain, Billy yang menyadari itu mencoba untuk menasehati Kirana,
"Kirana, bisakah kau duduk di tempatmu sendiri?"
"Kenapa?"
Kirana pun menatap Erina yang tengah berdiri di hadapan mereka,
"Sudah, biarkan saja! Aku tidak peduli dengan siapapun kecuali kau!" Imbuh Kirana.
Billy yang merasa risih pun kembali menasehati Kirana, dan akhirnya Kirana menuruti permintaan Billy dengan raut wajah kesal.