Menjadi sekretaris

1201 Kata
Karena merasa kesal dengan perlakuan Billy, Kirana pun melangkah pergi sambil menghentak hentakkan kakinya, Billy hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Kirana, Pandangan nya pun kembali beralih ke arah Erina, "Apa sudah semuanya?" Tanya Billy "Sudah, Terima kasih Tuan Muda!" Jawab Erina seraya membereskan beberapa berkas yang berada di hadapan Billy, 'Degh' Ucapan Erina yang memanggil nya Tuan Muda, mengingatkannya akan kenangan nya bersama Erina saat awal pernikahan mereka, Billy pun menatap lekat Erina yang melangkah keluar ruangannya, "Sudah lama sekali tidak ada yang memanggilku Tuan Muda," Gumam Billy. **** Erina melanjutkan pekerjaannya kembali, "Erina?" Panggil Seseorang Seketika tangan Erina pun terhenti mengetik, Jantung nya pun berdebar saat seseorang memanggil namanya yang sebenarnya, Ia tidak berani menoleh ke arah suara, tiba tiba sebuah tangan memegang bahu kanan Erina, Erina pun menoleh perlahan, Jantung nya pun berdetak sangat cepat.. Erina menatap sosok di hadapannya  dengan mata membola, Ia terkejut karena ternyata orang itu adalah Billy, "Kau Erina, Bukan?" Tanya Billy. Erina tergugu, Billy mendecih, "Cih, Untuk apa kau kembali kesini? Apa kau sengaja kembali hanya untuk mengganggu kebahagiaanku?" Erina terlihat gugup, "A-aku…" Billy menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, "Jangan berharap terlalu tinggi! Karena bagi ku kau sudah mati!" Kirana pun tiba-tiba menghampiri mereka, dan bergelayut di lengan Billy, "Sayang, Ayo!" Ajak Kirana Billy kembali menatap ke arah Erina, "Kau lihat, Aku bahkan sudah menemukan penggantimu! Jadi, lebih baik kau pergi jauh dari sini!" Mendengar itu, buliran bening itu pun kembali lolos membasahi pipi Erina, Billy dan Kirana pun melangkah pergi sambil menertawakan Erina, Erina hanya bisa menangis melihat semua itu, "Hikz hikz hikz, Kau jahat! Kau benar benar jahat!" Teriak Erina. Tiba tiba… Seseorang menggoyang goyangkan tubuhnya perlahan, "Erika?" Suara seseorang memanggil manggil namanya, Beberapa kali Erina mendengar suara panggilan itu, Hingga, Erina pun mengerjap dan tersadar, Erina terbangun dari tidurnya, Ia Melihat ke arah sekeliling dan mendapati Billy berhadapan dengannya, "B-Billy?" Gumam Erina, Billy yang samar samar mendengar Erina memanggilnya dengan Panggilan Billy, "Apa? Kau memanggilku apa?" Erina yang merasa terkejut dengan reaksi Billy pun mencoba menjawab, "Oh, T-tidak Tuan, Maaf!" Ucap Erina. Billy pun menatap tajam ke arah Erina, Kemudian menyodorkan secangkir kopi hangat, "Ini, untukmu!" Erina pun terlihat heran karena mendapat secangkir kopi dari Billy, "Terima kasih," Billy pun melangkah menuju ruangannya, namun langkah Billy terhenti sesaat dan melihat ke arah Erina. "Jangan sampai tertidur lagi saat bekerja!" Erina pun mengangguk pelan. "B-baik Tuan," Erina pun menghela nafas panjang dan menempelkan dahinya di meja, **** Saat di ruangannya, Billy terlihat senyum senyum sendiri, Ia mengingat bagaimana tanpa sengaja Ia melihat  Erina yang tertidur di atas meja barusan, raut wajahnya sangat menggemaskan baginya, hingga tanpa sadar Billy mengelus lembut pipi Erina, Billy pun menggelengkan kepalanya, Ia kembali tersenyum setelah mengingat hal itu, "Gadis yang aneh!" Gumamnya, Billy pun melanjutkan kembali pekerjaannya, **** Erina terlihat bernafas lega, Saat ia mengetahui jika semua itu hanyalah mimpi, "Bisa bisanya, Aku tertidur saat bekerja." Gumam Erina, Erina pun melanjutkan pekerjaannya, **** Di Lain sisi, Kirana yang baru saja tiba di rumah Lilian, langsung memasang raut wajah kesal, Lilian mengernyitkan keningnya melihat sang putri, "Kau kenapa?" Kirana pun melipat kedua tangannya, "Aku benar benar kesal pada Billy," "Kesal? Kesal kenapa?" "Billy mengusirku dari ruangannya, hanya karena ada sekretaris barunya itu!"  "Sekretaris baru?" "Iya, Billy mempekerjakan sekretaris yang baru karena sekretarisnya yang lama di rawat di rumah sakit, jadi untuk sementara dia yang menggantikannya," Terang Kirana Melihat Lilian yang hanya diam saja, membuat Kirana semakin kesal, "Bu? Kenapa ibu hanya diam saja?!"  Lilian pun menatap ke arah sang putri, "Sudahlah! Jangan marah seperti itu! Kau harus menjaga sikapmu, agar Billy tetap meyakinimu sebagai Erina," Kirana pun terdiam, Lilian pun melangkah pergi menuju ke kamarnya, Ia mengambil sebuah botol kecil dari laci meja riasnya, Kemudian ia kembali menemui Kirana. Ia menyodorkan botol tersebut pada Kirana, "Ini," Kirana pun mengernyitkan dahinya, seraya meraih botol kecil itu, "Apa ini?" Tanya Kirana Lilian pun duduk disamping Kirana, "Ini, Adalah obat perangsang yang harus kau gunakan agar Billy mau menyentuhmu," Kirana pun membulatkan matanya, "Apa?" "Ini, harus kau campur pada makanan atau minuman Billy nanti, kau harus cepat mengikat Billy, jika tidak.. Semua kemungkinan buruk bisa saja terjadi," Kirana pun tersenyum dan mengangguk cepat, "Ibu benar, Baiklah bu!" "Ingat! Jangan terlalu banyak, karena obat ini cukup kuat, bisa bisa nanti kau kewalahan!" Imbuh Lilian Kirana pun tertawa mendengarnya, **** Kirana bergegas pulang ke rumah, Ia membersihkan dirinya dan menggunakan pakaian terbuka, Ia menunggu Billy di depan pintu rumah, namun sudah hampir larut malam Billy masih belum pulang, Kirana mulai merasa gelisah, Billy belum pernah seperti ini sebelumnya, Karena penasaran Kirana pun memutuskan untuk mendatangi Billy di kantornya, Setibanya di kantor Billy, Kirana langsung menuju ke ruangan Billy, Ia melihat Erina yang masih di meja kerjanya begitupun dengan Billy yang masih setia di depan layar laptopnya, Kirana pun langsung marah pada Billy, "Kenapa kau tidak pulang?" Tanya Kirana kesal, "Maaf, tapi aku harus lembur malam ini.. Ada yang harus aku selesaikan hari ini!" Jawab Billy tanpa menatap Kirana. Kirana yang merasa kesal pun, langsung menutup laptop yang tengah Billy gunakan, Billy langsung berdiri dari duduknya, dia terlihat sangat marah dan kesal pada Kirana, "Apa maumu? Apa kau tidak tau jika aku harus menyelesaikan pekerjaan yang penting?!" Bentak Billy, Mata Kirana pun berkaca kaca, Ia terlihat menahan tangis,  "Apa karena sekretaris baru itu kau lembur disini? Sebelumnya kamu belum pernah seperti ini!" Teriak Kirana Billy semakin kesal dengan sikap Kirana, "Jangan pernah bawa bawa Erika dalam hal ini!" Bentak Billy, Kirana langsung terdiam, air mata pun mulai menetes dan membasahi pipinya, Billy pun merasa bersalah, "Maaf, Aku tadi.." Ucapan Billy terpotong oleh Kirana, "Kau lebih membela orang asing itu daripada aku istri mu!" Teriak Kirana, Kirana pun berlari pergi ke luar ruangan Billy, "Kirana!" Panggil Billy, Namun, Panggilan Billy tidak ia hiraukan, Kirana terus saja melangkah pergi, Sedangkan Billy tidak mencoba untuk mengejar Kirana, Dia memilih untuk duduk kembali di kursi nya dan menenangkan dirinya, Ia mengusap wajahnya kasar, "Maafkan aku," Ucap nya pelan. "Tok tok tok," Suara ketukan pintu terdengar, mengalihkan perhatian Billy pada arah Muka pintu, Ia melihat sang sekretaris berdiri di muka pintu, "Ada apa?" Erina tampak sedikit gugup, "M-maaf Tuan muda, A-aku hanya ingin berpamitan untuk pulang, pekerjaanmu sudah selesai," Billy pun mengangguk pelan, **** Erina melangkah keluar dari gedung, Ia terus berjalan hingga tidak sengaja ia melihat Kirana yang tengah terdiam di sudut gedung dengan sebuah botol minuman di tangannya, Erina melihat Kirana memasukkan sesuatu ke dalam botol tersebut, Erina mencoba memfokuskan pandangannya dan melihat apa yang Kirana pegang, Matanya pun terbelalak saat ia menyadari jika botol itu adalah botol yang sama yang dibeli oleh Lilian, "Itu kan?" Erina pun memutuskan untuk menghubungi Arvin, In Call "Arvin, ini aku," "Ya, Ada apa?" "Aku ingin bertanya tentang sebuah jenis obat," "Apa nama obat nya?" Erina nampak sedang mengingat ngingat nama obat itu, "Kalau tidak salah, Po.. Tan.. Zol, Iya itu namanya," Arvin sangat terkejut ketika Erina menanyakan Jenis obat tersebut, "Dari mana Kau tau obat ini?"  "Aku melihat seseorang membelinya," Ujar Erina "Itu adalah jenis obat perangsang yang cukup kuat, jika terlalu banyak di gunakan, itu akan merusak sistem saraf orang yang menggunakannya," Mata Erina pun terbelalak, Ia melihat Kirana yang berjalan menuju ke kantor, dengan membawa minuman itu, ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN