Erina yang merasa panik bergegas mengikuti langkah Kirana yang melangkah menuju ke gedung, Kirana memasuki Lift, Erina yang tidak bisa mengejarnya pun memutuskan untuk menggunakan tangga,
Erina berlari menuju ke lantai tujuh tempat Billy berada, karena kurang berhati hati dan terburu buru di lantai keempat Erina tersandung dan terjatuh hingga lututnya terluka,
"Aww,"
Erina meringis kesakitan, namun itu tidak menghentikannya untuk terus berlari meski terpincang pincang,
Setibanya di lantai ke tujuh, Erina melihat Kirana yang tengah berjalan menuju ke ruangan Billy,
Erina pun memikirkan sebuah cara untuk menggagalkan rencana kirana, tanpa sengaja Erina melihat sekaleng minuman di salah satu meja staff yang sama dengan minuman yang kirana bawa, Ia langsung mengambilnya dan segera mendekat ke arah Kirana,
Kirana pun masuk ke dalam ruangan Billy, terlihat Billy yang tengah memijit pelipisnya,
Billy yang menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya, langsung mengalihkan pandangannya, se ketika ia berdiri saat melihat Kirana memasuki ruangannya,
"Kirana?" Panggil Billy
Kirana pun mendekat ke arah Billy, Ia mengelus lembut d**a Billy dan menatapnya dalam,
"Maaf, Karena tadi.. Aku terlalu kekanak kanakan,"
Billy pun tersenyum dan mengelus lembut kepala Kirana,
"Aku juga minta maaf, Karena tidak memberitahumu jika aku harus lembur, malam ini,"
Kirana pun memeluk Billy,
****
Erina yang menatap kejadian itu hanya terdiam sambil memegang erat botol minuman itu,
Kemudian, Ia melangkah mundur dan mengusap air matanya kasar, langkahnya terhenti saat ia kembali ingat dengan obat berbahaya itu yang berada di dalam botol yang Kirana bawa,
Erina pun mengambil beberapa berkas, dan berpura pura untuk meminta tanda tangan Billy,
Erina memberanikan diri untuk menemui Billy yang tengah bersama Kirana,
"Tok tok tok,"
Erina mengetuk pintu dengan ragu,
Billy melepas pelukannya,
"Sayang, tunggulah sebentar!"
Kirana pun mengangguk pelan, Ia memutuskan untuk duduk di kursi milik Billy,
Billy membuka pintu ruangannya, dan Ia melihat Erika yang berada di hadapannya dengan wajah heran,
"Bukankah, tadi kau sudah berpamitan?" Tanya Billy heran
Erina pun berpikir untuk mencari jawabannya,
"Aku, tadi membereskan berkas ini dulu Tuan, setelah itu aku akan pergi,"
Billy pun mengangguk paham.
"Masuklah!"
Erina pun masuk ke dalam ruangan Billy,
Billy yang menyadari Erina mengalami luka di lututnya, langsung menghampiri,
"Kenapa kakimu terluka?"
Erina terdiam sejenak,
"Aku, terjatuh saat di luar tadi," Ucap Erina tanpa menatap ke arah Billy,
Billy pun mengeluarkan sesuatu dari saku jas nya,
Ia pun berlutut di hadapan Erina, dan menempelkan sebuah plester di lututnya,
Erina pun tersenyum,
Sedangkan Kirana, tidak menyadari kejadian itu karena tengah asik memainkan ponselnya,
****
Erina kemudian melihat sekitar mencari botol yang tadi kirana bawa, hingga matanya menangkap botol yang berada di atas meja,
'Itu, dia!' Batin Erina,
Billy yang tengah membaca berkas berkas dari Erina pun langsung duduk di kursi tamu, Ia nampak sedang mempelajari berkas berkas itu, sedangkan Kirana terlihat masih sedang memainkan ponselnya,
Kirana yang merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan pun mengalihkan pandangannya ke arah Erina,
Erina terlihat membuang mukanya,
Kirana hanya mengernyitkan dahinya dan kembali memainkan ponselnya, tiba tiba, Kirana merasa sakit pada perutnya, Ia pun berpamitan untuk pergi ke toilet,
Erina memperhatikan Kirana yang telah masuk ke dalam kamar mandi, Erina menggunakan kesempatan ini dengan baik, Billy pun terlihat masih membaca berkas berkas yang Erina bawa,
Dirasa ini adalah kesempatan terbaik, Erina pun mendekat ke arah meja, dan menukarkan botol tersebut secara perlahan, Ia kemudian kembali ke tempatnya,
"Erika?" Panggil Billy,
"I-iya Tuan?"
"Emm, ada beberapa kesalahan dalam beberapa point, cobalah untuk kau perbaiki dulu," Billy menyodorkan berkas berkas itu pada Erina,
"B-baik Tuan!" Erina meraih berkas berkas tersebut dan melangkah keluar,
Tak lama kemudian, Kirana masuk kembali ke dalam ruangan Billy,
Kirana pun menyodorkan botol minuman kepada Billy,
"Apa ini?" Tanya Billy,
"Anggap saja ini sebagai permintaan maafku," Ucap Kirana
Billy pun tersenyum dan meraih botol tersebut, Ia kemudian membukanya dan meminumnya hingga tersisa setengahnya,
Namun, sudah beberapa menit berlalu sama sekali tidak terlihat reaksi apapun pada Billy,
"Apa kau baik baik saja?" Tanya Kirana
Billy pun mengangguk,
"Tentu, Aku tidak apa apa!" Jawab Billy,
Kirana Mengernyit,
"Kau yakin?"
"Tentu, hmm ckk, sudahlah!" Jawab Billy,
Billy pun kembali duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Kirana terlihat menatap heran ke arah Billy,
Ia terus menatap ke arah Billy dan menghampirinya seraya membawa botol yang sedari tadi ia pegang,
'Apa mungkin, karena belum habis minuman nya? Jadi, Efeknya belum ada?' Batin Kirana
Kirana pun kembali membujuk Billy untuk meminumnya lagi,
Billy pun menuruti permintaan Kirana dan menghabiskan minuman tersebut,
Namun tidak terlihat reaksi apapun yang ditunjukkan oleh Billy,
'Ini, Aneh!' Batin Kirana,
Kirana yang merasa aneh pun akhirnya berpamitan untuk pulang, Ia memutuskan untuk beristirahat,
"Apa obat yang ibu berikan salah ya?" Gumam Kirana
****
Sedangkan Billy, memutuskan untuk menginap di kantornya, Dini hari pekerjaannya baru saja selesai, Ia nampak meregangkan otot ototnya,
"Ah, Lelah sekali!" Gumam Billy
Tiba tiba, Erina datang membawa makanan dan minuman, ia meletakkannya di atas meja Billy,
"Ini, Tuan Muda!"
Billy menatap heran ke arah Erina
"Kenapa kau tidak pulang?" Tanya Billy,
"Maaf, bukankah tadi Anda memintaku untuk merevisi semua berkas nya,"
"Oh iya, Aku lupa! Terima kasih untuk semuanya,"
****
Setelah merapikan semuanya, Billy yang melihat jam sudah menunjukkan pukul dua malam memutuskan untuk pulang ke rumah,
Namun, saat ia melangkah melewati meja Erina, ia melihat Erina yang tengah tertidur di atas meja nya,
Karena merasa tidak tega harus meninggalkannya sendiri, Billy pun memutuskan untuk memindahkan Erina ke sofa panjang miliknya, sedangkan Ia tidur di sofa yang berhadapan dengan sofa Erina.
Billy menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan kepalanya, hingga ia pun tertidur,
****
Keesokan paginya,
Sinar matahari menembus celah celah jendela kantor, membuat mata Erina pun perlahan terbuka, Ia kemudian terduduk dengan wajah yang masih mengantuk, ia merasakan haus di tenggorokannya, namun ia tidak menemukan air minum di dalam ruangan itu, Ia kemudian berjalan keluar, Karena masih terlalu pagi para karyawan pun belum datang ke kantor,
Erina berjalan menuju ke mejanya, dan menemukan sebuah botol berisi minuman, Ia pun langsung meneguknya,
Erina kembali masuk ke dalam ruangan Billy, dan meletakkan botol tersebut diatas meja,
Tiba tiba..
Erina merasakan tubuhnya sangat panas, ia pun menghidupkan AC full, namun udara dingin dari AC tidak terasa sama sekali oleh Erina, wajah Erina mulai memerah, Ia mulai gelisah dan mulai membuka kancing bajunya,
Billy merasakan udara disekitarnya menjadi dingin, Ia pun terbangun.
Matanya terbelalak saat melihat Erina yang tengah melepas kancing bajunya satu persatu,
"Erika! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Billy,
Billy pun langsung menghampiri Erina dan menahan tangan Erina, namun Erina terus saja memberontak,
"Lepas! Lepaskan aku! Disini sangat panas! Aku tidak tahan!" Ujar Erina
Billy yang merasa sangat aneh dengan sikap Erina pun mencoba untuk menenangkan Erina, Namun bukannya tenang Erina malah semakin menjadi,
Kali ini, Erina mulai agresif pada Billy, Ia mencoba untuk mencium Billy berkali kali, Billy pun melangkah mundur untuk menghindari Erina, tanpa sengaja Erina tersandung kaki meja dan membuatnya terjatuh diatas Billy,
Erina terlihat menyunggingkan senyum nakalnya pada Billy, yang membuat Billy membulatkan matanya,