Billy terkejut melihat sikap Erina yang agresif terhadap nya, Ia mencoba untuk menyadarkan Erina,
Billy memegang bahu Erina, dan menggoyang goyangkannya,
"Hey, Sadar lah!" Bentak Billy
Namun, Erina hanya tersenyum dan terus mencoba untuk mencium Billy, Billy terus berusaha untuk menghindar, Hingga Billy berhasil mendorong tubuh Erina dari atas tubuhnya, Erina pun ambruk di samping Billy,
Erina terlihat menggelinjang di atas lantai, Ia terlihat sangat tersiksa dengan rasa panas di tubuhnya,
"Tolong aku!" Ucap Erina.
Billy hanya menatap Erina, Ia teringat dengan kejadian di masa lalu, ketika ibunya Diana, memberikan obat perangsang pada Erina, reaksi nya mirip dengan yang dialami gadis yang berada di hadapannya kini,
Kemudian, Tiba tiba Erina kembali berdiri, Ia mendorong kuat Billy, hingga Billy terduduk di sofa nya, Erina pun naik ke atas pangkuan Billy, Ia memegang wajah Billy dengan kedua tangan nya, dan menatapnya dalam,
Sentuhan tangan Erina pun turun ke d**a Billy, Erina mengelus d**a Billy lembut, Kali ini Billy hanya terdiam, entah apa yang merasuki Billy, Ia membiarkan Erina melakukan yang ia inginkan.
Erina mengelus bibir Billy, mendekatkan wajahnya ke wajah Billy, Ia kemudian mencium lembut Billy, hingga kelamaan ciumannya berubah menjadi agresif,
Billy yang terbuai dengan sentuhan Erina pun perlahan menikmati setiap sentuhan Erina,
Tiba tiba,
"Brakkk!"
Seseorang mendobrak pintu ruangan Billy, yang membuat Billy terkejut dan langsung berdiri dari duduknya, Erina yang tengah duduk di pangkuannya pun langsung terjatuh dan kepalanya membentur lantai, membuat Erina jatuh pingsan,
"Erina?" Panggil orang itu,
Ia kemudian bergegas menghampiri Erina dan memeriksanya,
"Dia pingsan,"
Billy pun terdiam sesaat menatap seseorang yang kini berada di hadapannya tengah bersiap menggendong Erina,
"Tunggu!" Ujar Billy,
Orang itu pun menatap lekat ke arah Billy,
"Sepertinya, Aku mengenalmu!" Imbuh Billy
Orang itu pun berdalih,
"Nanti saja kita bicara, sekarang aku harus membawanya ke rumah sakit!" Ungkapnya,
Orang itu pun menggendong Erina menuju ke kendaraan miliknya, dan membiarkan Billy terpaku sendirian.
****
Arvin nampak menghela nafas kasar melihat Erina yang duduk disampingnya dalam keadaan pingsan,
#Flashback
Arvin terlihat sangat gelisah setelah Erina menghubunginya dan menanyakan tentang obat potenzol, Ia kemudian menghubungi asisten rumahnya untuk mengetahui keadaan Erina,
In Call,
"Bi, Apa Erina disana baik baik saja?" Tanya Arvin,
"Maaf Tuan, Tapi Nona masih belum pulang bekerja,"
Arvin mengernyitkan dahinya,
"Bekerja?"
"Iya Tuan, Nona sudah bekerja sejak beberapa hari yang lalu, biasanya Nona sudah kembali saat sore hari, tapi ini sudah hampir larut dan nona belum pulang,"
'Degh'
Arvin langsung mematikan ponselnya, setelah mendapatkan alamat tempat bekerja Erina dari asistennya,
****
Tanpa berpikir lagi, Arvin langsung memacu kendaraan nya menuju ke tempat Erina bekerja, Ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada Erina,
"Erina, Aku harap tidak terjadi apa apa," Gumamnya
#Flashback off
Arvin menatap lembut ke arah Erina, Ia mengelus pipi Erina, kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan membawa Erina ke rumah sakit,
****
Di lain sisi,
Billy tengah berdiri menatap ke arah luar jendela, Ia menyentuh bibirnya dengan jarinya, Ia teringat bagaimana Erina barusan mencium nya,
Sentuhan itu, Untuk sesaat Ia merasa jika saat itu, Ia tengah bersama Istrinya Erina,
Billy pun memegang dadanya, Ia masih bisa merasakan degupan jantungnya saat Erika menyentuhnya,
"Kenapa, Aku tidak merasakan ini saat bersama Kirana?" Gumamnya,
Di tengah lamunannya,
Datanglah seseorang yang mengejutkannya,
"Hey!" Panggilnya,
Billy langsung mengerjap karena terkejutnya mendengar panggilan dari seseorang,
"Kau? Kenapa setiap kau datang, kau selalu mengejutkanku?" Ucap Kesal Billy,
Ryan pun tertawa melihat reaksi Billy,
"Kenapa, kau bereaksi berlebihan seperti itu?" Tanya Ryan,
Billy yang memasang raut wajah kesalnya pun hanya berjalan menuju ke kursi nya,
"Ada apa kau kemari?" Tanya Billy,
Ryan pun duduk berhadapan dengan Billy,
"Billy, Apa Erika tidak masuk hari ini?" Tanya Ryan,
"Hm? O-oh E-erika? Hm, Sepertinya dia izin tidak masuk untuk hari ini," Terang Billy,
"Kenapa?"
"Oh I-itu…, Karena dia sedang sakit,"
"Apa?"
"Sakit apa?"
"Emm, Aku kurang tau,"
Ryan pun mengangguk paham,
Billy menatap lekat ke arah Ryan,
"Apa kau kemari hanya untuk menanyakan hal itu?" Tanya Billy,
"Tentu saja tidak,"
"Lalu?"
Ryan mulai menatap serius ke arah Billy,
"Billy, Aku memulai kembali pencarian Erina,"
Billy nampak membulatkan matanya,
"Benarkah?"
"Tapi, bukankah kita sudah menemukannya?" Imbuh Billy,
Ryan pun menyunggingkan senyuman,
"Huh, Kau tetap percaya Kirana itu Erina?"
Billy terdiam sesaat,
"Seharusnya, Kau jauh lebih mengenalnya daripada aku," Ujar Ryan
Billy sejenak berpikir,
"Baiklah, jika begitu.. Aku ikut denganmu,"
Ryan pun kembali tersenyum mendengar keputusan Billy,
****
Kirana terlihat uring uringan di hadapan sang ibu Lilian,
Kemudian, Ia duduk disamping Lilian,
"Kau kenapa lagi?" Tanya Lilian,
"Bu! Rencana ibu benar benar gagal total!"
Lilian membulatkan matanya,
"Benarkah? Apa kau yakin?"
Kirana mengangguk,
"Aku memberikannya sesuai dengan instruksi dari ibu, dan minuman itu pun Sampai habis Billy minum, Tapi tidak ada reaksi apapun,"
Lilian mengernyitkan dahinya,
"Aneh sekali," Gumamnya.
Lilian pun nampak berpikir sejenak, mencoba untuk mencari jalan keluar,
****
Erina sadar dari pingsannya, perlahan ia membuka matanya dan mendapati Arvin yang tengah berada di sampingnya,
"Bagaimana perasaan mu?" Tanya Arvin
"Sudah lebih baik, Emm.. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
Arvin pun menjelaskan jika dia hanya menemukan Erina dalam keadaan tidak sadar,
Erina pun mulai mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi padanya,
Namun, Ia hanya mengingat jika saat ia bangun tidur, ia meminumnya sebotol minuman yang terletak di pinggir meja nya,
Saat itu, Erina langsung membulatkan matanya dan menyadari sesuatu,
"Ya Ampun!! Dasar bodoh!!!" Gumamnya,
Arvin pun mengernyitkan dahinya,
"Maksudmu? Apa ini ada hubungannya dengan jenis obat yang kau Tanya kan padaku?"
Erina menundukkan pandangannya, Pipinya pun memerah menahan malu,
"Maaf, A-aku tidak sengaja meminumnya,"
"Apa? Kenapa bisa begitu?"
"Itu.. Aku tadinya berniat untuk menolong Billy, karena Kirana memasukkan obat itu ke dalam botol minuman Billy, Aku berhasil menukarnya dengan botol yang lain, tapi…" Erina terhenti,
"Tapi, Apa?" Tanya Arvin,
"I-itu… Aku saat bangun tadi pagi, karena merasa sangat haus, aku mengambil minuman yang ada di pinggir mejaku, aku tidak menyadari Jika botol itu, adalah botol yang sudah berisi obat itu," Terang Erina,
"Jadi dengan kata lain, Kau yang menjerumuskan dirimu sendiri?" Tanya Arvin,
Erina pun mengangguk pelan,
Arvin menghela nafas kasar, namun tiba tiba ia tertawa,
Erina menatap heran ke arah Arvin,
"Kenapa kau tertawa?"
Arvin menatap ke arah Erina,
"Aku hanya sedang membayangkan, bagaimana kau berubah menjadi harimau ganas, dan Billy yang terkejut karena tingkahmu itu,"
Wajah Erina pun berubah sendu,
"Sayangnya, Billy tidak mengenaliku,"
Tawa Arvin pun seketika terhenti, Ia benar benar melupakan jika Billy tidak mengenali Erina,
"Maaf, Aku…"
Erina pun tersenyum tipis,
"Tidak apa apa,"