Arvin merasa bersalah karena sudah membuat Erina bersedih, sudah terlalu banyak hal yang menyakitkan telah Erina lalui, dan bahkan sekarang Erina harus menerima kenyataan jika suami nya tidak bisa merasakan kehadiran nya disisinya,
Arvin pun tersenyum dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya,
"Kau mau mendengarkan saranku?"
Erina menatap sendu ke arah Arvin,
"Apa?"
Arvin menghela nafas kasar,
"Ikuti saranku, temui Billy dan katakan yang sejujurnya jika kaulah Erina yang sebenarnya,"
Erina pun terdiam sesaat,
"Tapi, Bagaimana jika Billy tidak mempercayaiku?"
"Setidaknya, Kau sudah mengatakan yang sebenarnya.. Apapun tanggapan Billy, setelah itu kau bisa melanjutkan hidupmu lagi,"
****
Di lain Sisi,
Lilian yang menaruh curiga pada sekretaris baru Billy, mencoba mencari tahu siapa gadis itu,
Berdasarkan cerita dari putrinya, Sekretaris itu adalah satu satunya orang yang ada bersama mereka malam itu, besar kemungkinan sekretaris itu lah yang menyabotase tindakan putrinya,
"Jadi, tidak ada riwayat apapun tentang Erika?" Tanya Lilian pada orang suruhannya yang kini berada di hadapannya,
"Benar Nyonya,"
Lilian semakin dibuat penasaran oleh sosok Erika,
"Gadis ini, Siapa dia sebenarnya? Apa dia mengincar Billy untuk dijadikan batu loncatan?" Gumamnya,
****
Hari pun berganti,
Erika tengah bersiap untuk berangkat bekerja,
"Kau yakin, akan melanjutkan pekerjaanmu?" Tanya Arvin yang duduk di birai kasur,
"Iya, Aku pikir.. Aku ingin mencoba untuk melindungi Suamiku, Aku tau jika Kirana bukanlah gadis baik baik, jika dia gadis yang baik, mungkin aku akan dengan tenang meninggalkannya, tapi… melihat tindakannya yang seperti itu kemarin, membuatku sadar.. Jika suamiku hanya sedang dipermainkan, dan sudah menjadi tugasku untuk menjaganya," Ungkap Erina
Arvin pun menghela nafas kasar,
"Kenapa kau tetap keras kepala untuk terus menutupi identitas mu?"
Erina pun menatap ke arah Arvin,
"Aku.. Hanya belum siap menerima reaksi Billy nanti nya."
"Baiklah, Terserah kau saja."
Erina pun tersenyum manis,
"Aku berangkat dulu, sampai jumpa!"
****
Setibanya di kantor,
Erika langsung mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk karena ia tinggalkan seharian kemarin,
Ia terlihat sangat sibuk, hingga ia tidak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya,
"Sudah selesai, tinggal ditandatangani saja,"
Erina pun merapikan berkas berkas yang ada di atas meja nya, kemudian ia menghampiri Billy di ruangannya,
Billy yang menyadari itu, segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah laptopnya,
"Tok tok tok,"
"Iya, Masuk!"
Erika pun melangkah masuk,
"Maaf Tuan, Ini berkas berkas yang perlu di tanda tangani,"
Billy pun meraihnya dan membacanya,
Billy berdehem,
"Ehem, Em.. Erika, bisakah kau.. " Ucapan Billy terhenti saat menatap senyuman Erika,
"Iya Tuan?" Tanya Erika,
Billy pun mengalihkan pandangannya,
"Emm, Bisakah kau belikan aku makan siang seperti waktu itu?" Pinta Billy,
Billy kemudian menutup matanya,
'Dasar bodoh! Kenapa jadi membahas makanan,' Batin Billy
Erina pun kembali tersenyum,
"Tentu Tuan muda, Kebetulan saya membawa bekal dari rumah dengan menu yang sama, Tuan bisa memakannya,"
Billy pun mengerutkan dahinya,
"Bekal?"
Erina mengangguk pelan,
"Iya Tuan, Bekal yang saya buat sendiri untuk Bekal makan siang,"
Billy pun tersenyum tipis,
"Oh, b-begitu ya?"
'Kenapa masakannya mirip dengan yang pernah Erina masakkan untukku?' Batin Billy,
Erika pun mengambil berkas berkas yang sudah Billy tanda tangani dan kembali menuju ke mejanya,
Billy yang terpaku tiba tiba tersenyum senyum sendiri karena mengingat kejadian kemarin Lusa yang terjadi diantara mereka, sedangkan Erika belum bisa mengingatnya,
Billy kembali menyentuh bibirnya, dan kembali tersenyum,
Datanglah Kirana ke kantor Billy,
Ia langsung memeluk dari belakang dengan hangat, sedangkan Billy tengah duduk di kursi nya,
"Sayang, Apa Kau Tidak merindukanku?"
Raut wajah Billy pun berubah,
"Ya, Aku merindukanmu!" Ucap Billy dengan nada datar,
Kirana yang merasa kesal dengan reaksi Billy pun, memanyunkan bibirnya,
"Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Ucap Kirana
Billy menghela nafas panjang,
"Tidak sayang, Aku mencintaimu Erina!" Ucap Billy,
Namun, Kirana merasa kesal dengan nama yang keluar dari mulut Billy,
"Kenapa nama itu yang keluar dari mulut mu?"
"Lho, Memang kenapa? Kau memang Erina kan?"
Namun, kirana semakin kesal dan menghentak hentakkan kakinya seraya melangkah keluar,
Billy pun menghela nafas kasar,
"Kenapa rasanya, semakin hari tingkah nya semakin Menyebalkan!" Gumamnya,
Billy memilih untuk melanjutkan pekerjaannya daripada mengejar Kirana,
****
Kirana yang baru saja tiba di rumah sang ibu, tangisan nya pun pecah di hadapannya,
"Ada apa lagi?"
Kirana menceritakan bagaimana sikap Billy yang menjadi dingin dan datar terhadap nya,
Ia langsung memeluk sang ibu dan menangis di pelukannya,
"Jangan terlalu membawa perasaan, Jika kau ingin bahagia, ikutilah cara ibu,"
Kirana mengangguk paham, dan kembali memeluk sang ibu,
'Aku harus cepat cepat menjalankan rencana ini, jika tidak.. putri ku akan kehilangan Billy untuk yang kedua kalinya, Aku tidak akan membiarkan ia kembali terpuruk seperti saat itu,' Batin Lilian,
****
Sementara itu,
Jam makan siang telah tiba, Erika membawa paper bag berisi rantang makanan, dan menatanya diatas meja Billy,
"Hmm, Wangi sekali.. Sepertinya lezat,"
Billy pun mulai menikmati makan siangnya dengan lahap,
Erina tersenyum menatap ke arah Billy,
Billy pun mengajak Erina untuk ikut makan siang bersamanya,
"Ayo, makan lah bersamaku!" Pinta Billy,
Erina awalnya ragu, namun pada akhirnya ia mau mengikuti permintaan Billy, Erina duduk disamping Billy dan mulai memakan makanannya,
Diam diam, Billy memperhatikan Erina yang tengah mengunyah makanannya, pandangannya pun tertuju pada Bibir merah muda milik Erina,
Seketika, Ia kembali teringat bagaimana Erina menciumnya.
Billy menggeleng geleng kepalanya cepat,
'Tidak, tidak.. apa apaan aku ini!' Batin Billy,
Selesai menikmati makan siang, Erina pun membereskan barang barangnya, saat akan melanjutkan langkahnya tanpa sengaja ia tersandung dan hampir terjatuh namun Billy berhasil menangkap nya,
Pandangan mereka pun bertemu, cukup lama mereka saling menatap, hingga deheman seseorang menyadarkan mereka,
"Ekhem!"
Mereka berdua pun langsung membetulkan posisi mereka, Erina langsung berpamitan untuk kembali ke meja nya,
"Wah, wah..Aku tidak menyangka kau akan bergerak cepat seperti itu," Ucap Ryan
Billy pun terlihat salah tingkah, dan lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan,
"Bagaimana dengan pencarian Erina?" Tanya Billy,
Ryan pun menghela nafas kasar,
"Belum ada perkembangan yang signifikan, Tapi… Aku punya ide untuk menemui Kevin dan Theo di sel mereka, dan mencari tahu tentang yang terjadi pada Erina, bukankah mereka adalah orang terakhir yang bersama Erina?" Terang Ryan
"APA? Menemui Kevin dan Theo?"
"Iya, Kenapa?"
"Sampai saat ini, Aku masih belum bisa memaafkan mereka atas perbuatan keji mereka terhadap istriku,"
"Untuk itu, Aku tidak ingin menemui mereka," Imbuh Billy
"Kau tidak perlu menemui mereka, Biar aku saja yang menemui mereka,"
Billy pun terdiam,
Sejak peristiwa mengerikan itu terjadi, Billy tidak pernah ingin melihat wajah Kevin dan Theo, setiap kali ia mengingat kejadian itu, Billy merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya, penyesalan nya karena meninggalkan Erina sendirian kala itu terus menghantui nya,
****
Setelah kepergian Ryan, Billy terlihat termenung, Ia memandangi poto istri tercinta nya itu, dan mengingat semua kenangan indah saat mereka bersama,
"Kenapa, meski ada Kirana yang aku yakini sebagai Erina, Tetap saja rasa hampa itu ada, Padahal wajah Kirana sangat mirip dengan Erina, Tapi kenapa itu tidak membuatku merasa benar benar seperti sedang bersama Erina?" Gumamnya,
Tiba tiba…
Erika memasuki ruangan Billy untuk memberitahu meeting yang harus dihadiri oleh Billy,
"Maaf Tuan, Klien anda sudah menunggu di ruang meeting," Jelas Erika
Billy pun hanya mengangguk, Ia kemudian berjalan menuju tempat meeting, Erina yang menghampiri meja Billy dan meraih sebuah pigura yang berisi foto dirinya, tanpa terasa buliran bening itu pun lolos dari matanya,
"Apa dia sangat merindukanku?" Gumamnya,
Erina pun menghapus kasar air matanya dan bergegas mengikuti langkah Billy,
****
Sepulang bekerja,
Erina terlihat murung dan memikirkan sesuatu, Arvin yang baru saja tiba di rumah langsung menghampirinya,
"Kau kenapa?" Tanya Arvin,
Erina menatap lekat ke arah Arvin,
"Bisakah kau temani aku, untuk menemui Billy di rumahnya?"
Arvin Mengerutkan dahinya,
"Tiba tiba?"
Erina mengangguk pelan,