Kesempatan kedua

2021 Kata
"Kenapa kau ingin menemui Billy, tiba tiba seperti ini?" Erina terdiam tanpa menatap ke arah Arvin Arvin pun mendekat ke arah Erina dan duduk disampingnya, "Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Arvin menatap lekat ke arah Erina yang masih menundukkan pandangannya, "Aku merasa jika Billy sedang merindukanku, itu saja," Arvin pun tersenyum tipis, dan menatap ke arah depan "Jika keputusanmu sudah bulat, Aku akan mengantarmu kesana," Erina langsung menatap ke arah Arvin, dengan senyuman yang terukir di wajahnya, "Terima kasih," "Bersiaplah!" Erina pun melangkah pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, tak lama Erina pun kembali menghampiri Arvin, Erina sangat antusias untuk menemui Billy di rumahnya, **** Setibanya di depan rumah Billy, Erina  memberanikan diri dengan tangan sedikit bergemetaran, Erina pun mengetuk pintu.. "Tok tok tok," Belum ada sahutan dari dalam rumah, Erina pun mencoba untuk kembali mengetuk pintu, "Tok tok tok," Pintu pun terbuka, Mata Erina terbelalak saat ia melihat sosok yang berada di hadapannya, dengan raut wajah dingin, Ia melipat kedua tangannya di dadanya, 'ibu?' Batin Erina "Ada apa kau kemari?" Tanya Lilian, Erina pun berpikir untuk mencari alasan yang tepat, Ia meremas ujung bajunya, "A-aku…" Ucapan Erina terpotong saat mendengar suara seseorang dari dalam rumah, "Siapa bu?" Ia menghampiri mereka yang tengah berdiri di muka pintu, "Erika?" Billy menatap heran ke arah Erika yang tiba tiba mengunjunginya, "Ada apa?" Tanya Billy Erina terlihat gugup saat Lilian menatapnya tajam, Billy yang menyadari itu pun mencoba untuk berbicara pada Lilian, Ia menatap ke arah Lilian, "Emm bu, Maaf… Kami akan bicara tentang pekerjaan, bisakah tinggalkan kami berdua?" Tanpa menjawab ucapan Billy, Lilian pun melangkah masuk ke dalam rumah, Billy mempersilahkan Erina untuk masuk, "Masuklah," "Em, tidak usah.. Disini saja," Billy pun sedikit melangkah keluar, "Ada apa Erika?" Erika pun terdiam, Ia terlihat sedikit kebingungan, karena niatnya untuk memberitahu siapa dirinya kini telah menemui keraguan setelah melihat Lilian, "Emm, I-itu… Aku…" Ucapan Erina pun terpotong oleh ucapan dari Kirana yang tiba tiba merangsek masuk, "Heh! Untuk apa kau kesini? Bukankah kalian juga bertemu saat di kantor, apa itu belum cukup? Apa kau sengaja ingin mencari perhatian suamiku?!" Ucap sinis Kirana 'Degh' 'Suami?' Batin Erina Billy pun mencoba untuk menenangkan  Kirana, "Tenanglah! Kami hanya membicarakan tentang pekerjaan saja" Ucap Billy, "Kenapa kau membelanya?" Bentak Kirana, Billy yang semakin merasa kesal dengan tingkah Kirana pun mulai membentak nya, "Apa kau tidak bisa tenang!" Teriak Billy, Seketika Kirana pun terdiam karena terkejut dengan teriakan Billy, Mendengar keributan, Lilian pun menghampiri mereka, "Billy! Ada apa ini? Jaga nada bicaramu!" Bentak lilian, "Hanya karena wanita lain, Kau tega membentak istrimu?!"  Lilian pun menunjuk ke wajah Erina, "Dan kau! Pergi! Jangan ganggu rumah tangga putri ku!" Imbuh Lilian, "Maaf, Tapi aku kesini hanya ingin mengatakan kalau sebenarnya aku…" Ucapan Erina kembali terpotong oleh Lilian, "Aku apa? Dasar tidak tahu diri," Bentak Lilian, Lilian mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar Erina, Namun sebuah tangan kekar menghalanginya, "Jangan berani berani menyentuhnya!" Bentak seseorang, Mata Lilian pun membulat saat menatap seseorang yang menahan tangannya begitu keras, Ia kemudian menghempaskannya kasar. Ia menunjuk ke arah Lilian, "Jaga sikap anda Nyonya!" Arvin yang sedari tadi hanya menyaksikan dari luar, akhirnya merasa sangat geram melihat Erina yang disudutkan, Ia pun menghampiri Erina, Arvin menatap ke arah Billy, "Dan kau! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah membiarkan nya dihina, dan disakiti seperti ini!" Arvin pun menarik tangan Erina, "Ayo, Kita pergi!" Erina mengikuti langkah lebar Arvin dengan raut wajah kecewa, Setelah di dalam mobil, Arvin memukul mukul setir mobil dengan raut wajah marah, Erina pun memegang tangan Arvin, "Sudahlah! Aku tidak apa apa!" Arvin menatap ke arah Erina, "Mulai sekarang, Aku tidak akan memintamu lagi untuk berkata jujur pada Billy tentang siapa kau sebenarnya!" Erina pun terdiam.. Mereka pun pulang kembali ke rumah, Sementara itu, Billy terlihat sangat marah dengan perlakuan Lilian dan Kirana pada Erika, "Aku sama sekali tidak habis pikir, Kenapa kalian bersikap seperti itu pada Erika?" Billy pun melangkah keluar meninggalkan Lilian dan Kirana, **** Dilain sisi, Langkah lebar seorang pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam menuju ke sebuah tempat, nampak senyuman ia ukir di sudut bibirnya, Ia melangkah menuju ke sebuah ruangan, Kemudian ia pun duduk di kursi yang telah disediakan, Pandangannya pun beralih ke arah pintu, saat dua orang pria menampakkan dirinya, Mereka melangkah mendekat ke arah Pria tersebut, "Bagaimana kabar kalian?" Sapa nya Wajah sendu, dengan Kantung mata yang menghitam menghiasi wajah mereka, Pandangan mereka pun beralih pada pria itu, "Ada apa kau kesini, Tuan Ryan?" Ryan kembali menyunggingkan senyuman nya, "Aku harap, Kalian menyesali perbuatan kalian terhadap Erina," Mereka pun terdiam, dengan mata berkaca kaca menahan tangis, "Seandainya, ada yang bisa kami lakukan untuk menebus semuanya," Ucapan salah satu diantara mereka terdengar sangat tulus, hingga tak terasa air mata itu pun terjatuh membasahi pipi mereka, Ryan merasa terenyuh mendengar ucapan tulus tersebut, Ia kemudian menghela nafas kasar, "Sebenarnya, Billy menemukan seseorang yang mirip sekali dengan Erina," Pandangan mereka pun langsung teralihkan ke arah Ryan, "Tapi, Entah kenapa.. Aku merasa dia bukanlah Erina," Ryan pun menatap tajam ke arah mereka, "Apa kalian mengetahui sesuatu?" Kevin dan Theo pun menggeleng pelan, Sesaat mereka pun terdiam, hingga Theo membuka suara, "Pertemukan kami, kami akan mengetahui dia adik kami atau bukan!" Ryan melihat ketulusan di mata mereka, namun Ryan pun tidak mampu berbuat banyak untuk mereka. Ryan menghela nafas kasar, "Kalian tahu itu tidak mungkin," Kevin dan Theo pun menundukkan pandangannya, "Beritahu aku, Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ryan penasaran "Aku tidak percaya, saat kalian mengatakan jika Erina kalian siksa dan kalian buang ke laut, Apa kalian memang sekejam itu?" Imbuhnya Kevin menundukkan pandangannya, ia mengingat kembali masa lalu menyakitkan itu hingga buliran bening itu pun kembali mengalir, "Sebenarnya, Kami memang menyiksa Erina, Tapi untuk dibuang ke laut.. Itu.." Ujar Theo. Ucapan Theo terhenti, Ia membayangkan bagaimana ia sekejam itu menyiksa Erina, "Itu, Apa?" Tanyanya, "Kami tidak pernah membuangnya ke tengah laut," Terang Theo "A-apa?" Ryan sangat terkejut mendengarkan pengakuan Theo, "Lalu, Itu berarti.. Kemungkinan Erina masih hidup?" Theo pun terdiam, Karena merasa kesal, Ryan berdiri dari duduknya dan menggebrak meja, "Brakkk!" Kevin dan Theo terkejut dibuat nya, "Katakan padaku, kemana kalian membawa Erina?" Bentak Ryan, Kevin dan Theo pun saling melihat, seolah memberi kode untuk menceritakan semuanya pada Ryan, ''Kami membawa Erina ke tengah lautan untuk dijual pada seorang g***o diatas kapal," "A-apa?" "Dan, mereka membawa Erina," Ryan merasa tidak senang mendengarnya, ia kemudian menarik baju Theo dan membentaknya, "Apa kau tau apa yang kau lakukan?" Theo hanya tergelak lemah mendengar ucapan Ryan, "Aku tidak tahu, setan apa yang sudah merasuki diriku, hingga aku dengan kejam menyiksanya tanpa ampun, aku terbutakan oleh perasaan benci pada adik ku sendiri, hanya karena dia anak angkat yang menurutku tidak pantas berada di tengah tengah kami, perasaan itu lah yang membuat kami menjadi pria yang kejam," Tangis pun pecah, Ryan menatap kasihan ke arah Kevin dan Theo, Ia pun membiarkan Kevin dan Theo menangis, Setelah mereka berangsur tenang, Ryan pun memutuskan untuk berpamitan pulang pada Mereka, **** Sudah hampir larut malam, Namun Billy masih belum ingin pulang ke rumahnya, ini kali pertama Billy merasa tidak ingin bertemu dengan Kirana, Ia mulai merasa Kirana memang bukanlah Erina, Billy masih termenung di dalam mobilnya, dengan dahinya yang ia tempelkan di atas setir, Billy terlihat kacau, keraguan itu mulai muncul di benak Billy, bagaimana sikap Kirana yang sebenarnya perlahan muncul, Tiba tiba terdengar seseorang yang mengetuk jendela mobilnya, Billy pun melihat ke arah luar jendela, nampak seorang perempuan dengan pakaian terbuka, ia terlihat bukanlah perempuan baik baik, Perempuan itu pun meminta Billy untuk membuka jendela nya, Billy pun membuka sedikit kaca jendela mobilnya, "Ada apa?" Tanya sinis Billy, Perempuan itu pun tersenyum nakal dan mencoba untuk menggoda Billy, "Hallo tampan! Apa kau sedang kesepian?" Billy pun memutar bola matanya, Ia merasa malas meladeni perempuan seperti ini, Tanpa menjawab pertanyaan perempuan itu, Billy pun hendak kembali menutup jendela nya, "Eh, Tunggu tunggu!" Teriak perempuan itu, Billy kembali menatap ke arah perempuan itu, "Apa lagi?" Perempuan itu pun kembali tersenyum, "Mungkin, Kau tidak tertarik padaku.. Tapi, tidak apa apa.. Setidaknya berikan lah aku uang, Aku membutuhkan nya untuk anak anak ku," Jelas nya, Billy pun terdiam sejenak, "Kau sedang mempermainkanku kan?" Perempuan itu pun menatap lekat ke arah Billy, "Aku tidak akan bermain main jika mengenai kehidupan Anak anak ku," Billy pun mengambil beberapa lembaran uang dari dalam dompetnya, dan menyerahkan nya pada perempuan itu, Perempuan itu pun tersenyum dengan mata berkaca kaca, "Terima kasih, Maaf.. Jika aku jadi mengemis padamu, Aku rela melakukan semua itu demi anak anak ku," "Cari lah pekerjaan yang lebih baik, agar anak anakmu bangga padamu, bukankah mereka juga berhak menikmati uang dari hasil pekerjaan baik mu?" Perempuan ini pun terdiam, Namun tanpa sengaja perempuan ini melihat sekilas Foto seseorang yang terpajang di dekat jendela mobil milik Billy, "Eh, Bukankah itu?" Perempuan itu pun berusaha untuk meraih foto tersebut, Billy pun menatap heran padanya, Setelah berhasil, Ia menatap dengan seksama ke arah foto tersebut, Billy yang menatap heran reaksi perempuan tersebut pun mencoba bertanya, "Apa kau mengenalnya?" Tanya Billy Perempuan itu pun mengangguk, Billy semakin heran mendengarnya, "Perempuan ini, adalah perempuan yang waktu itu memberontak karena tidak ingin ikut bersama dengan mamih," Billy pun membulatkan matanya, "Apa kau yakin?" Perempuan itu pun mengkonfirmasi lewat anggukan kepala, Billy nampak semakin kebingungan, "Lalu, dimana dia sekarang?" Perempuan itu pun terdiam sejenak, "Dia nekat menceburkan dirinya ke lautan, kami tidak tahu bagaimana dia sekarang," Billy pun tergelak lemah mendengar penjelasan dari perempuan tersebut, **** Di lain sisi, Erina yang tengah melamun sambil memotong sayuran dikejutkan dengan kedatangan Arvin, "Hey!" "Ya Ampun! Kau mengagetkanku!" Arvin tertawa melihat reaksi Erina yang menurutnya lucu, Sedangkan Erina memukul-mukul lengan Arvin, karena merasa malu, "Aww, Hentikan!" Ringis Arvin Erina pun menghentikan pukulannya, "Kau itu, sepertinya punya bakat dalam olahraga tinju, ini benar benar sakit," Imbuh Arvin, "Uuu tutututu… Maafkan aku," Erina mengusap lembut lengan Arvin, Arvin menatap dalam ke arah Erina, pandangan mereka pun bertemu, Pandangan itu pun mengingatkan mereka pada masa lalu Mereka saat masih duduk di bangku sekolah, Untuk beberapa detik pandangan itu membuat mereka terdiam, Kemudian tiba tiba, Erina yang tersadar pun mengalihkan pandangannya, "M-maaf," Arvin pun mengalihkan pandangannya, "Em, Aku harus menyelesaikan pekerjaanku," Ia kemudian berpamitan untuk pergi ke kamarnya, Arvin membuka lemari pakaiannya, dimana ada sebuah laci di dalamnya, Ia kemudian membuka laci tersebut, nampak sebuah kotak kecil yang berisikan foto dirinya saat bersama Erina, Arvin mengelus foto tersebut, "Kau tau? Aku selalu berharap diberikan kesempatan kedua untuk mengungkapkan perasaanku padamu, tapi.. Sayangnya, Itu tidak mungkin.. Aku harus melepaskanmu bahkan sebelum aku bisa menggenggam mu," Ucap pelan Arvin, Selama ini, Arvin selalu bekerja keras dan mengikuti berbagai kegiatan, Ia berharap kesibukannya bisa membuatnya melupakan Erina, namun takdir berkata lain, Ia justru dipertemukan kembali dengan Erina, saat ia mulai melupakan Erina dengan susah payah, Namun keadaan Erina yang seperti sekarang, membuatnya tidak memungkinkan untuk meninggalkan Erina, **** Erina baru saja selesai memotong sayuran dan menata sayuran yang akan ia masak di pagi harinya di dalam kulkas, Hampir setiap hari ia melakukan hal ini, namun kali ini mood nya sedikit terganggu karena perkataan Kirana dan Lilian yang membuatnya bertanya tanya, "Apa benar, Billy dan Kirana adalah suami istri? Lantas, bagaimana dengan hubungan kami? Apa Billy benar benar sudah tidak menganggapku ada?" Gumam Erina. Erina tergelak lemah, Ia pun duduk di atas lantai sambil memeluk dirinya sendiri, pandangannya yang tertunduk, terlihat sekali bagaimana sulitnya ia menjalani semuanya, terlebih ia harus melihat hampir setiap hari sang suami bersama wanita lain, "Sampai kapan semua ini akan terus terjadi?" Imbuhnya, **** Hari berikutnya, Erina baru saja sampai di ruangan nya, Ia membawa sebuah tempat makan berukuran sedang, yang berisi sandwich dan potongan buah buahan segar, Tak lama kemudian, Billy pun tiba dengan raut wajah datar, Erina yang hendak mendatangi Billy di ruangannya pun mengurungkan niatnya, karena ia melihat Kirana yang ikut melangkah masuk ke dalam ruangan Billy, Erina yang merasa penasaran pun, melangkah perlahan mendekat ke arah ruangan Billy, Ia menempelkan telinganya di balik pintu, Namun, Erina tidak mendengar suara apapun dari dalam ruangan, Matanya pun membola.. "Apa Jangan jangan…?" Karena merasa khawatir, Erina pun  bertindak tanpa berpikir, Ia langsung merangsek masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alhasil, Erina terkejut dengan 'pemandangan' yang disuguhkan,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN