Jahat!!

1122 Kata
Erina mematung di depan pintu melihat pemandangan yang berada di hadapannya, Kirana yang tengah berciuman dengan Billy, menyadari Erina yang tengah memperhatikan mereka, dan ia semakin memperdalam ciumannya, Billy yang hendak melepas ciuman Kirana, merasa kesulitan karena Kirana menarik kuat leher Billy, Erina pun melangkah mundur dan berlari pergi, dengan airmata yang sudah tidak dapat ditahan, Setelah kepergian Erina, Kirana pun melepas ciumannya, Billy yang menatap kesal ke arah Kirana pun berkata, "Jangan pernah melakukan hal itu lagi!" Kirana mengerutkan dahinya, "Melakukan apa?" Ia mendekatkan dirinya lebih dekat ke arah Billy, mengelus lembut d**a Billy dan tersenyum penuh arti, "Apa kau tidak menyukainya?" Billy pun mengalihkan pandangannya, Kemudian kirana memegang wajah Billy, Ia membisikkan sesuatu di telinga Billy, "Aku menginginkanmu," Bisikan Kirana membuat laki laki manapun merasa merinding mendengarnya, begitu pun dengan Billy, Kirana semakin menggodanya, Ia berjalan menuju pintu lalu menutup dan menguncinya dari dalam, "Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kita," Ujarnya, Kirana pun berjalan mendekat ke arah Billy, perlahan ia membuka satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya, hingga hanya menampakkan pakaian dalam yang ia kenakan, Billy menelan salivanya kasar, Kirana mengibaskan rambut panjangnya dan berjalan ke arah Billy, Billy seolah tersihir, Ia hanya berdiri mematung, Kirana pun menarik tangan Billy dan meletakkannya di pinggang rampingnya, kemudian tangannya mengelus lembut wajah Billy, Ia pun mencium lembut bibir Billy, Billy terbuai oleh godaan Kirana, Kirana pun menggiring Billy untuk berbaring di sofa panjang miliknya, Kemudian naik ke atas tubuh Billy dan membuka satu persatu kancing kemejanya, terlihat d**a bidang Billy di hadapannya, Ia mengelus d**a bidang Billy, dan membuat Billy terbuai, Tangan nakalnya pun mulai membuka ikat pinggang yang dikenakan oleh Billy, **** Dilain sisi, Erina menangis tersedu sedu di taman dekat perusahaan, Ia merasa tidak percaya Billy akan melakukan itu dengan gadis lain, Tangisannya pun terhenti saat mendengar tepuk tangan seseorang yang tengah berjalan menuju ke arahnya, "Prok.. Prok..prok.." Pandangan Erina beralih ke arahnya, "I-ibu?" Ucap pelan Erina Lilian nampak menyunggingkan senyuman, "Sudah aku duga, Kau bukanlah gadis biasa!" Ucapnya, Erina nampak terdiam, "Awalnya, Aku merasa heran.. Kenapa kau bersikap seperti itu? Tapi sekarang, Aku mengerti semuanya.. Dan itu menjelaskan semuanya," Erina mencoba untuk mencerna maksud perkataan Lilian, "Aku rasa, Kau harus menyerah untuk mendapatkan Billy kembali, Erina?" Pandangan Erina pun bergetar saat mendengar namanya disebutkan oleh sang ibu, "Kenapa? Kamu heran aku tau dari mana?" Erina terdiam, "Untukku, itu hal yang mudah!" "Aku rasa, meskipun kau mengganti wajah mu.. Billy tetap tidak akan pernah mengenalmu! Dan satu hal lagi, Billy tidak akan pernah bisa lepas dari Kirana putri ku, Karena aku akan membuat mereka bersama selamanya," Erina pun membulatkan matanya, "Apa Kirana itu Lisa?" Lilian hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan Erina, "Katakan padaku, Apa yang kalian rencanakan?!" Bentak Erina Lilian menatap tajam ke arah Erina, "Itu bukan urusanmu! Tapi.. Saat kau disini, Kirana dan Billy pasti sedang bersenang senang," "A-apa?" Erina pun langsung berlari sekuat tenaga menuju ke kantor nya, meninggalkan Lilian dengan senyuman di sudut bibirnya, 'Aku mohon, Jangan lakukan itu Billy!' Batin Erina, Beberapa menit kemudian, Erina pun tiba dan langsung membuka pintu ruangan Billy, terlihat Billy yang sendirian di dalam ruangan sambil mengancingkan pakaiannya, Ia menatap heran ke arah Erina yang berlari dengan nafas terengah engah, Erina tergelak lemah, melihat Billy yang tengah merapikan pakaiannya, Ia terduduk lemas di atas lantai, Billy yang terkejut pun menghampiri Erina, "Kau Kenapa?" Tanya Billy, Erina pun melihat bekas lipstik yang ada di d**a Billy, Ia kemudian menggeleng cepat dan menangis, Billy pun kebingungan melihat Erina yang tiba tiba menangis, "Hey, Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Billy, Erina pun menarik kerah baju Billy, "Kau jahat! Kau tega melakukan ini padaku!" Bentak Erina, Billy mengerutkan keningnya, Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Erina, "Apa, Aku tidak mengerti!" Erina melepas pegangannya, dan mengusap wajahnya kasar, sedangkan Billy semakin bingung dibuatnya, Billy berjongkok di hadapan Erina, memegang tangan Erina dan menatapnya lekat, "Katakan, Ada apa?" Erina menangis sejadi jadinya, Ia merasa benar benar telah dilupakan oleh Billy, "Kenapa kau melakukannya dengan Lisa? Kenapa!" "Lisa? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali!" "Kirana itu adalah Lisa! Dan Erina yang sebenarnya itu adalah aku!!" Teriak Erina. Billy membulatkan matanya sempurna, Ia hanya menggelengkan kepalanya, "Itu tidak mungkin! Jangan mengada ada!!" Billy pun melangkah pergi meninggalkan Erina yang masih menangis di ruangannya, "Arrggghhhh!!!" Teriak Erina. **** Erina memutuskan untuk pulang ke rumah, setibanya di rumah.. Pandangan Erina terlihat kosong, Ia sedikit menyeret langkahnya dan terus melangkah masuk ke dalam kamarnya, Asisten rumah tangganya yang melihat kondisi Erina pun merasa khawatir, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Arvin yang tengah berada di rumah sakit, Mendapat berita dari asisten rumah tangganya, Arvin bergegas untuk pulang, "Kau mau kemana?" Tanya dokter seniornya yang melihat Arvin sedang membereskan tas kerjanya, "Maaf, saya harus pulang lebih dulu," "Apa sesuatu terjadi?" Arvin pun mengangguk, "Dokter, sebelum pulang bisakah kau menangani seorang pasien terlebih dahulu? Aku harus melakukan operasi dan dokter yang biasa menanganinya sedang tidak masuk," Arvin pun terdiam, "Aku harap kau tidak keberatan, gadis itu pasti bisa menunggu," Arvin pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan dokter seniornya, Ia pun segera menangani pasiennya, **** Erina duduk di sudut kamar, tanpa menghidupkan lampu kamarnya hingga kamarnya pun gelap tanpa cahaya, Terdengar suara tangis Erina memenuhi kamarnya, Tidak ada satu orang pun yang menemaninya, dan membuatnya semakin terluka, Erina pun mengambil sesuatu dari lemari kecil yang berada di pinggir kasur, sambil menangis ia terus mencari, hingga ia pun menemukannya, Dengan tangan yang bergetar, dan suara tangis yang masih terdengar, Ia pun membuka tutup botol tersebut dan meminum sebanyak mungkin obat yang ada di botol itu, Erina pun langsung tidak sadarkan diri, 'Aku lelah, Untuk apa lagi aku bertahan? Jika suamiku saja, bahkan tidak mengharapkan ku, biarkan aku tertidur dengan tenang, Tuhan.." Batin Erina. "Brakk!" Suara pintu didobrak terdengar sesaat setelah Erina tidak sadarkan diri, Terdengar seseorang yang terus memanggil namanya, "Erina! Bangun!" Teriaknya, Namun, mata Erina tetap tertutup. **** Arvin bergegas membawa Erina ke rumah sakit, terlihat jelas wajah cemas Arvin, Ia terus menggenggam tangan Erina, Sesampainya di rumah sakit, Erina langsung dilarikan ke unit gawat darurat, Arvin di bantu dokter seniornya langsung menangani Erina, "Kenapa dia bisa seperti ini?" Tanya dokter Arvin hanya menggeleng, Mereka pun berusaha untuk mengeluarkan obat yang telah tertelan, Setelah berhasil mengeluarkan semua obat itu, Erina pun dipindahkan ke ruang pemulihan, Arvin menatap dalam Erina yang terbaring lemah diatas tempat tidur, dengan selang infus yang tertancap di tangannya, Raut wajah Arvin pun berubah marah, Ia pun pergi ke kantor Billy untuk mencari tahu apa yang telah terjadi sehingga Erina mencoba bunuh diri dengan mengkonsumsi obat tidur dalam jumlah banyak, **** Sesampainya di kantor Billy, Arvin langsung mendaratkan bogem mentahnya di pipi Billy yang membuat Billy jatuh tersungkur, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah, "Hey! Apa apaan kau!" Teriak Billy,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN