Sebuah kebenaran

1122 Kata
Billy meringis kesakitan sambil memegang pipi nya yang merah dan mengusap sudut  bibirnya yang mengeluarkan darah, "Apa yang kau lakukan?!" Bentak Billy, Billy pun mencoba untuk bangun, namun kemarahan Arvin yang masih belum mereda membuat Billy kembali merasakan pukulan lebih keras lagi di perutnya, Billy kembali tersungkur, "Hey! Apa apaan kau!!" Teriak Billy Arvin pun mendekat ke arah Billy, dan menarik kerah bajunya kasar, Billy bisa melihat api kemarahan di mata Arvin, "Katakan, Apa Salahku?" Rahang Arvin pun mengeras, "Kau ingin tau apa kesalahanmu?" Arvin pun menarik kasar Billy menuju ke rumah sakit, **** Setibanya di rumah sakit, Arvin mendorong kasar Billy masuk ke dalam ruangan Erina, Billy membulatkan matanya karena melihat sosok yang ia ketahui sebagai Erika tengah terbaring lemah diatas tempat tidur, "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Billy, Arvin berdecak kesal, "Ck, Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang terjadi sampai sampai Erina mencoba untuk melakukan bunuh diri dengan meminum obat tidur dalam jumlah banyak?!" Bentak Arvin. "A-apa? Kau bilang Erina?" Billy menatap lekat ke arah Erina, kemudian kembali menatap ke arah Arvin, "Jadi, Apa yang dikatakannya tadi itu benar, kalau dia adalah Erina?"  Arvin pun mengangguk, "Tapi, Wajahnya?" Tanya Billy ragu "Erina terpaksa melakukan operasi dan membuat wajah baru, karena wajah lamanya rusak oleh siksaan siksaan itu," Jelas Arvin Mata Billy pun terlihat berkaca kaca, "Kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal?" Tanya Billy, "Sekarang, bukan hal itu lagi yang menjadi permasalahannya, tapi.. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" "Aku juga tidak mengerti, tapi dia tiba tiba datang padaku sambil menangis, dia mengatakan jika dia adalah Erina, dan Kirana adalah…." Ucapan Billy pun terhenti, "Apa?" Tanya Arvin penasaran, Billy terdiam sesaat, "Katakan padaku, Apa yang ingin kau katakan!" "Kirana adalah Lisa, Tapi.. Aku tidak mempercayai itu karena, dia tiba tiba mengatakan hal itu, begitu saja," Arvin menghela nafas kasar, "Kau sama sekali tidak tahu apa yang Erina hadapi selama dua tahun ini! Dia bahkan rela melakukan banyak operasi hanya untuk bisa kembali lagi bersamamu! Bukankah rasanya konyol sekali jika kau tidak mempercayainya dan berpaling begitu saja darinya?"  Billy pun terdiam, "Jika kau tidak percaya, Aku akan menantangmu untuk membuktikan nya!" Ia menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak! Aku benar benar bingung dengan semua ini! Aku butuh waktu untuk berpikir!" Billy memegang kepalanya kencangnya, Ia merasa kebingungan dengan apa yang terjadi, Billy pun melangkah keluar **** Sepanjang perjalanan pulang Billy terus memikirkan tentang Ucapan Arvin, yang bahkan menantangnya untuk membuktikan jika Erika adalah Erina yang asli, Istri tercinta yang selama ini ia cari, Billy melangkahkan kakinya dengan pikiran yang semrawut, bahkan sapaan dari Kirana pun tidak terdengar olehnya, Kirana yang merasa heran pun memutuskan untuk menghampiri Billy, Billy terlihat melamun sambil duduk di birai kasur, "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kirana sambil memegang tangan kanan Billy, Billy pun menatap ke arah Lisa, 'Apa aku harus menanyakan ini padanya? Tapi, jika aku menanyakan nya apa dia bisa jujur?' Batin Billy, Kirana yang merasa aneh dengan tatapan Billy pun melambaikan tangannya di depan wajah Billy, hingga Billy pun mengerjap karena terkejut, "Kenapa melamun?" Billy pun melemparkan senyumannya, "Tidak, Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan saja!" Kirana pun bergelayut manja di lengan Billy, "Jangan melamun seperti itu, Aku ada disini bersamamu," Ujar Kirana sambil tersenyum, Sedangkan Billy hanya tersenyum tipis, "Emm, Bisakah kau memasak makanan kesukaan ku?"  Kirana pun menatap lekat ke arah Billy, Ia pun tersenyum.. "Jangan bercanda! Kau tau sendiri, Aku tidak tahu cara memasak!" Ucapnya sambil tersenyum, Billy pun mengalihkan pandangannya, 'Erina pandai memasak, Tapi.. Kenapa? Apa dia benar benar bukan Erina?' Batin Billy, Billy pun terpikir sesuatu, "Emm, Bukankah kau ingin kita berbulan madu di pulau jeju?" "Ya, Tentu saja! Aku sangat suka sekali dengan pulau itu, kapan kita akan berangkat?" 'Dia bukan Erina, Tapi Lisa.. Lisa sangat suka sekali dengan pulau itu, berbeda dengan Erina,' Batin Billy Billy pun berdiri dari duduknya, menatap tajam ke arah Kirana dan melepas kasar pegangannya, Kirana terkejut dengan sikap Billy padanya, Billy kemudian melangkah keluar, namun langkahnya terhenti oleh Kirana yang tiba tiba merentangkan tangannya di hadapannya, "Tunggu! Ada apa?" Tanya Kirana penasaran Raut wajah Billy terlihat sangat marah, "Minggir!" Ucap Billy Namun Kirana tetap berdiri di tempatnya, "Aku bilang, Minggir!!" Bentak Billy, Kirana masih tetap berdiri di hadapannya, Karena kesal Billy pun menarik kasar tangan Kirana ke pinggir, dan Billy kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Kirana yang diam mematung dengan mata berkaca kaca, **** Billy mengitari kota tanpa tujuan, ia tidak bisa berpikir dengan jernih, kemudian memutuskan untuk menemui Ryan di rumahnya, Karena saat ini, hanya dia satu satunya orang yang masih bisa Billy percayai, Setibanya di rumah Ryan, Billy menekan bel pintu, Pintu pun terbuka menampakkan Ryan yang menatap heran ke arah Billy, "Tumben sekali kau kesini?" Ryan mengernyitkan dahinya saat melihat sosok Billy berada di hadapannya, Billy pun masuk begitu saja ke dalam rumah Ryan, "Bolehkah, Aku menginap disini?" Tanya Billy tanpa menatap ke arah Ryan, "Tentu, Kau bisa menempati kamar tamu," "Terima kasih," "Sama sama," Ryan pun melihat raut wajah Billy yang kacau, "Apa kau punya masalah?" Tanya Ryan Tatapan Billy pun terlihat tertunduk, Ryan pun memegang bahu Billy, "Kau tidak apa apa?" Billy menatap ke arah Ryan, "Aku, Aku bingung.. Mana yang harus aku percaya, Ucapan Arvin ataukah penglihatan ku," Ryan mengernyitkan dahinya, "Maksudmu?" Billy pun menceritakan apa yang baru saja terjadi, Ryan terlihat tidak terkejut setelah mendengar cerita Billy, "Kenapa kau tidak terlihat terkejut sama sekali?" Ryan pun menghela nafas panjang, "Apa kau masih belum membaca berkas dariku?" Billy pun menggelengkan kepalanya pelan, "Kau tau? Berkas itu berisi selain siapa pelaku pembullyan Erina saat sekolah dulu, juga berisi beberapa bukti yang menunjukan jika Erina masih hidup, disitu juga ada beberapa bukti yang menunjukkan jika Kirana bukanlah Erina," Billy pun tergugu, "Kau tau aku bahkan menemukan satu fakta mengejutkan tentang Erina," "Apa itu?" "Kevin dan Theo melakukan semua itu, atas perintah seseorang," "A-apa? Bagaimana mungkin, dari mana kau tau?" Ryan pun tersenyum tipis, "Selama ini, Aku juga meyakini jika Erina masih hidup dan berada di suatu tempat, dan aku mencoba untuk mencarinya," Billy terdiam, Ia merasa malu karena Ryan yang selama ini sibuk mencari Erina, Justru Billy malah sibuk bersama Kirana, "Erika adalah Erina," Tiba tiba terdengar suara yang dilontarkan oleh Billy padanya, Ryan pun menatap lekat ke arah Billy, "Sudah kuduga!" Billy seketika menatap ke arah Ryan saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Ryan, "Kau sudah menduganya?" Billy terlihat mengernyitkan dahinya, Ryan mengangguk, "Saat pertama kali aku bertemu dengannya, Aku melihat sorot matanya yang mengingatkan ku pada Erina, Tapi.. Aku merasa tidak yakin, karena itu aku melakukan penyelidikan tentang nya," "Kenapa kau tidak meyakinkan aku saat itu?" Tanya Billy, Ryan menatap tajam ke arahnya, "Aku pernah mengajakmu, untuk mencari Erina, tapi. Kau malah memilih untuk bersama Kirana!" Billy kalah telak dengan perkataan yang keluar dari mulut Ryan, dan membuat mulutnya langsung terkunci,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN