Sebuah kekhilafan

1536 Kata
Billy mulai merasa yakin jika Kirana bukanlah Erina, Ryan mengantar Billy ke kantor nya untuk melihat berkas berkas yang pernah diserahkan oleh Ryan padanya, Ia membacanya satu persatu, Billy memejamkan matanya sesaat diiringi oleh helaan nafas yang berat, Ryan pun menepuk bahu Billy, "Sejak awal, Aku sudah memperingatimu, tapi kau terlalu dibutakan oleh perasaan mu," Billy pun mengusap wajahnya kasar, "Sudahlah! Yang terpenting, Kau sudah tahu sekarang! Jika gadis yang selama ini bersamamu bukanlah Erina," Terang Ryan, Billy mengangguk, Wajahnya pun berubah memerah karena menahan marah, saat ia mengingat setiap kebohongan yang dilakukan oleh Kirana, "Aku akan mengusirnya dari rumah!" Ryan hanya terdiam, Namun ia tiba tiba teringat sesuatu, "Tunggu! Apa yang membuatmu akhirnya meyakini jika Kirana bukanlah Erina? Apa terjadi sesuatu?" Billy terlihat gugup, Ia tidak berani melihat ke arah Ryan, "Katakan!" Desak Ryan Dengan sedikit keraguan Billy mencoba menjelaskan apa yang terjadi, "Tadi.. Arvin mengatakan padaku jika Erina mencoba untuk bunuh diri dengan meminum banyak obat tidur, dia...." "Apa? Bunuh diri? Dimana dia sekarang?" Billy pun memberi tahu keberadaan Erina yang kini tengah berada di rumah sakit, Ryan kemudian memaksa Billy untuk menemani nya ke sana, **** Setibanya di rumah sakit, Ryan melihat sosok Erina yang sangat ia sayangi tengah terbaring lemah diatas tempat tidurnya, Tak terasa sudut matanya pun mengeluarkan buliran bening itu, Ryan mendekat ke arah Erina, Ia mengelus lembut kepala Erina, Tiba tiba seseorang yang mengenakan jas berwarna putih pun menghampiri mereka, "Arvin, bagaimana keadaannya sekarang?" Arvin pun menoleh ke arah Billy, "Efek obat tidurnya masih belum hilang, meski seluruh obat sudah berhasil dikeluarkan," Billy pun mengangguk pelan, "Tapi, Syukurlah.. Erina bisa diselamatkan," Imbuh Arvin. Ryan menatap ke arah Arvin, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ryan "Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, Karena saat aku itu aku menemukannya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri," Mereka pun menatap nanar ke arah Erina, **** Hari pun berganti, Billy mendatangi Kirana di rumahnya, dengan perasaan kesal Ia pun menghampiri Kirana yang tengah duduk santai di sofa, "Kirana!" Panggil Billy, Kirana pun menoleh ke arah suara dan senyuman nya pun terukir saat ia melihat sosok Billy yang tengah berjalan ke arahnya, Kemudian Ia berdiri dari duduknya, "Sayang, Kau sudah kembali? Semalaman kau dimana?" Tanya Kirana bertubi tubi, Namun, Tanpa menjawab pertanyaan Kirana, Billy langsung memintanya untuk pergi, "Pergi!" Kirana menatap heran ke arah Billy yang tiba tiba mengusirnya, "Apa? Kau ini bicara apa?" Billy mengepal kuat tangannya menahan kemarahan nya, "Aku ingin, Kau pergi dari rumah ku! Kau bukan Erina! Bukan istriku!" Tegas Billy 'Degh' "Apa? Kenapa kau bicara seperti itu? Aku ini istrimu! Aku hanya kehilangan ingatan secara permanen, dan itu yang membuatku tidak bisa mengingat apapun!" Terang Kirana Billy pun mendecih, "Huh! Apa kau tidak lelah terus terus an berlindung di balik topeng? Apa kau tidak lelah berpura pura menjadi Erina? Padahal sebenarnya.. Kau adalah Lisa!" Mata Kirana membulat sempurna saat mendengar Billy menyebutkan nama aslinya, "B-bagaimana kau…" Ucapan Lisa terpotong, "Bagaimana aku tahu itu maksudmu?" "Huh, Aku selama ini benar benar buta! Aku dibutakan oleh kerinduanku pada Erina, dan kau memanfaatkan itu!" Imbuhnya Billy pun menarik Kirana keluar rumah, "Lepas! Lepaskan aku! Billy, Aku bisa menjelaskan semuanya padamu! Aku mohon dengar kan aku!" Ucap Kirana yang mulai menangis "Tidak! Kau sudah cukup menipuku!!" Kirana terus menangis histeris dan Memohon pada Billy untuk tidak mengusirnya, Saat di muka pintu, seseorang pun datang dengan langkah cepat nya, "Ada apa ini? Kenapa kau menarik kirana seperti ini?" Bentak Lilian, Kirana pun langsung memeluk Lilian, "Bu, tolong aku!" Ucap Kirana Lilian menatap tajam ke arah Billy, "Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau begitu kasar pada Kirana?" Billy dengan raut wajah kesalnya pun mengatakan, "Jangan berpura pura! Aku sudah tau semuanya! Kalian bersekongkol untuk menjebakku kan? Dan dia, bukan Erina tapi Lisa!" Ujar Billy Lilian terlihat sangat terkejut dengan ucapan dari Billy, 'Bagaimana mungkin, ia mengetahuinya secepat ini?' Batin Lilian Melihat Lilian yang terdiam membuat Billy semakin murka, "Benar kan?" Lilian pun mencoba untuk menjelaskan perlahan, "Dengar, Bukankah kalian saling mencintai? Itu semua seharusnya sudah tidak menjadi masalah lagi bukan?" "Apa maksudmu?" Billy mengernyitkan dahinya, "Jadi, benar.. Dia itu Lisa?" Lilian pun terdiam, Billy mendecih, "Cih, Dasar Licik!" Ia kemudian membanting pintunya, hingga membuat Kirana dan Lilian mengerjap karena terkejut, Lisa menatap sendu ke arah Lilian, "Bu, bagaimana ini? Billy sudah mengetahui semuanya!" Lilian pun memeluk erat putrinya, 'Tidak akan kubiarkan, Billy membuang putriku begitu saja!' Batinnya **** Setelah kepergian Kirana dan Lilian, Billy pun melangkah cepat menuju ke mobilnya, Ia pergi ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Ryan jika Erina sudah sadar, Billy meminta Ryan dan Arvin untuk menjaga Erina selama ia mengurus urusannya dengan Lisa, "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Billy sesaat setelah ia masuk ke dalam ruangan Erina, Erina mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Untuk apa kau kesini?" Billy pun mendekat ke arah Erina, "Aku minta maaf, karena aku tidak mempercayaimu," Ryan menepuk bahu Billy dan meninggalkan mereka berdua untuk bicara, "Pergi!" Ucap Erina, Namun Billy tidak menurutinya begitu saja, Ia kemudian menggenggam tangan Erina, namun Erina kembali menarik tangannya, Billy terlihat kecewa saat Erina melakukan hal itu, "Maafkan aku! Aku benar benar minta maaf!" "Aku ingin kita bercerai!" 'Degh' Billy menggeleng cepat, "Tidak! Aku tidak akan pernah menceraikanmu!" Erina pun menatap ke arah Billy,  "Mau tidak mau, Aku akan tetap mengajukannya!" Billy pun memohon pada Erina untuk tidak menceraikannya, "Aku mohon, Aku tidak tahu itu kau! Maafkan aku! Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal jika itu adalah kau!" "Lalu apa kau akan percaya? Sedangkan Kirana yang memiliki wajah ku yang dulu ada di hadapanmu!" Billy pun terdiam, "Aku, sangat merindukanmu.. Selama ini aku berusaha untuk mencari keberadaan mu, ditengah kerinduanku, Aku menemukan Kirana yang memiliki wajah persis seperti mu, Aku tidak tahu jika itu bukan kau!" Billy pun meneteskan air mata, sedangkan Erina, Ia merasakan terlalu sakit, Apalagi saat mengingat kemesraan kemesraan Billy dan Kirana, hingga pada puncaknya, ia melihat Billy dengan banyak tanda ungu kebiruan di dadanya dan juga bekas lipstik di tubuh Billy, hal itu membuat Erina benar benar sangat terluka, Pengkhianatan Billy adalah hal fatal baginya, yang tidak bisa dimaafkan, "Lebih baik kau keluar!" Bentak Erina "Sayang, Aku benar benar minta maaf!" "Keluar!!" Teriak Erina, Karena mendengar teriakan Erina, Ryan pun kembali masuk ke dalam ruangan, ia melihat Billy yang terus memohon untuk dimaafkan, sedangkan Erina mulai menangis karena tidak ingin melihat Billy, Ryan pun merangkul Billy dan membawa billy keluar, "Dengar! Biarkan erina tenang! Nanti aku akan bicara padanya!" Billy pun menangis mengingat perlakuan Erina padanya, "Sudahlah!" Ucap Ryan Tiba tiba pandangan Ryan pun beralih pada tanda biru keunguan yang ada di leher Billy, meski terlihat samar dari kejauhan, itu akan terlihat jelas dari dekat. Ryan mengerutkan dahinya, Ia tahu betul tanda apa itu, tapi ia mencoba bertanya pada Billy, berharap jika itu hanyalah kesalahpahaman dirinya saja, "Apa itu?" Billy menatap ke arah Ryan, setelah menghapus air matanya kasar, "Apa?" Ryan mengeluarkan ponselnya dan memotret leher Billy, Kemudian ia memberikan ponselnya pada Billy, Billy membulatkan matanya saat ia melihat foto tersebut, tanda biru keunguan sangat jelas di ponsel Ryan. Billy pun bercermin lewat ponsel Ryan, Ia mengusap usap kasar lehernya, namun bekas itu tetap ada, Ryan menatap tajam ke arah Billy, "Aku rasa, sekarang aku tau.. Apa penyebab Erina begitu marah padamu!" Billy terlihat salah tingkah karena tatapan Ryan, "Jujur padaku! Apa kau sudah melakukan itu dengan Kirana?" "Jawab!!" Imbuhnya Billy terdiam.. Tiba tiba, "Melakukan apa maksudmu?" Arvin yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka pun merasa penasaran, Billy dan Ryan langsung berdiri setelah Arvin yang tiba tiba berada di hadapan mereka, "Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?" Ryan pun menghela nafas kasar dan kembali menatap tajam Billy, "Kau berhutang sebuah penjelasan pada kami, Billy!" Billy yang merasa tersudutkan pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan yang sesungguhnya pada mereka, "Sebenarnya, Aku… Aku tergoda oleh Kirana, Pada saat aku kebingungan mencari kebenaran siapa Kirana, dimana Erina, saat itu Aku merasa sangat merindukan Erina, Lalu Kirana merayu ku, dia memberiku sentuhan sentuhan yang membuatku merasakan hadirnya Erina, dan.. Semua itu terjadi begitu cepat.." "Dan kau melakukannya tanpa berpikir panjang dahulu?" Sela Arvin Arvin terlihat mengepalkan kedua tangannya, rahangnya pun mengeras, Ia merasa kesal dengan ucapan Billy, "Tenanglah!" Ucap Ryan "Maaf, Aku khilaf!" "Khilaf? Kau tau, Perbuatan mu itu yang membuat Erina merasa tidak berharga dan akhirnya mendorongnya untuk bunuh diri!!" Bentak Arvin. Arvin yang telah mendengar pengakuan Billy pun langsung murka dan langsung mendaratkan pukulan di wajah Billy, "Bugh"   Billy pun jatuh tersungkur, Perhatian orang orang sekitar pun beralih pada mereka bertiga, Ryan mencoba untuk menenangkan Arvin, "Tenanglah! Ini rumah sakit, dan kau adalah seorang dokter, kau tidak boleh memukul nya sembarangan!" Ucap Ryan, Billy terduduk sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, "Jika aku tau, melepaskan Erina adalah sebuah kesalahan.. Aku tidak akan pernah mengalah darimu!" Bentak Arvin Billy pun terdiam, "Bagi ku, Pengkhianatan bukanlah hal yang bisa dimaafkan, begitu saja! Seandainya aku tau, Besarnya cintamu hanya sebatas nafsu, Aku tidak akan merelakan Erina untuk terus menjadi istrimu! Selama ini, Aku selalu menjaga Erina layaknya adik ku sendiri, meski hati ku menyayanginya lebih dari itu, tapi aku menghargaimu sebagai suamimu! Dan memilih membunuh perasaanku! Tapi kali ini, kau benar benar keterlaluan!!" Terang Ryan Billy masih terdiam, Ia menerima semua perkataan Arvin dan Ryan, karena ia menyadari jika ia memang sudah bersalah,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN