Rencana melarikan diri

1008 Kata
Ryan dan Arvin meminta Billy untuk pulang kembali ke rumah, dan membiarkan Erina untuk menenangkan dirinya, Billy pun mengikuti sarang dari mereka, **** Ketika Ryan masuk ke dalam ruangan Erina, Ia mendapati Erina yang tengah melamun menatap ke arah luar jendela, "Bagaimana keadaanmu,?" Erina pun beralih menatap ke arah Ryan, Ia mengukir senyuman tipisnya di hadapan Ryan, "Aku.. Sudah merasa lebih baik kak!" Ryan pun menghampiri Erina dan duduk disampingnya, "Aku tau ini berat, tapi.. Cobalah untuk kuat! Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu yang berharga itu begitu saja," Erina kemudian menundukkan pandangannya, "Jika aku boleh tau, Apa yang sebenarnya terjadi?" Erina kembali menatap Ryan dengan tatapan sendu nya, Namun Erina terlihat sedikit kebingungan bagaimana caranya untuk mengatakan semua hal itu pada Ryan. Ryan pun mengelus lembut kepala Erina, "Tidak apa apa! Jika kau belum siap untuk bercerita," Ryan tersenyum menatap Erina, **** Di lain sisi, Billy hanya terdiam melamun di balkon kamarnya, Hatinya terasa sangat sakit saat ia mengingat kata kata perceraian itu keluar dari mulut Erina, Istrinya tercinta. 'Seharusnya, Aku tidak melakukan semua itu!' Batin Billy, Penyesalan Billy begitu besar, Hingga air mata itu pun menetes dan membasahi pipinya, "Tok tok tok" Suara ketukan pintu dari luar kamarnya terdengar memenuhi ruangan kamarnya, Billy pun mengusap kasar air matanya, "Siapa?" "Ini saya, Tuan!" Billy yang mendengar suara asisten rumah tangganya langsung menuju ke pintu kamarnya, "Ceklek" Terdengar suara kunci pintu terbuka, Billy pun membukanya, "Ada apa bi?" Tanya Billy dengan nada datar, "Maaf, Tapi Tuan ada tamu yang menunggu di depan," Billy mengernyitkan dahinya, "Tamu?" Untuk sesaat Billy tertegun, Billy pun memutuskan untuk menemui tamunya, Billy melangkah masuk ke ruangan tamu miliknya, Ia memperhatikan sosok seorang perempuan di hadapannya bukanlah sosok yang asing baginya, "Ada apa,?" Tanya sinis Billy, Wanita paruh baya itu mulai angkat bicara, "Aku sudah mengetahui apa yang terjadi, dan aku juga tahu kau sudah tidur dengan putriku!" Billy menatap sinis orang tersebut, "Itu bukan salahku, tapi dia yang menggodaku!" Mendengar jawaban Billy, membuat Lilian sangat murka, "Ingat! Kau sendiri yang menarik putriku kemari!" Bentak Lilian, "Aku tidak pernah menarik nya, dia yang tiba tiba datang dan masuk ke dalam kehidupan ku!" "Apa kau tidak takut bagaimana jika Kirana nanti hamil!"  Billy pun tersenyum tipis, "Kau tidak akan membuang Kirana begitu saja kan?" Tanya Lilian, Namun Billy tidak menjawab sama sekali pertanyaan Lilian, **** Lilian yang merasa marah dengan sikap Billy pun memutuskan untuk menemui Erina, Ia mengetahui jika Erina tengah berada di rumah sakit, dengan langkah cepat Lilian pun menghampiri Erina, "Erina?" Panggil Lilian, Erina pun memalingkan pandangannya ke arah Lilian, "Ibu?" Lilian pun memeluk Erina dan menggenggam erat kedua tangan Erina, "Ada apa ibu kemari?" Tatapan Lilian yang berkaca kaca menggambarkan jika memang ada sesuatu yang terjadi, dan itu jelas terlihat dari raut wajahnya, "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Erina, Lilian pun mengangguk, Erina yang merasa heran pun mengernyitkan dahinya, "Ada apa?" Lilian mulai menceritakan semuanya, "Aku benar benar merasa sangat hancur, karena sebagai ibu.. Aku merasa gagal.. Maafkan aku, karena aku sudah banyak bersikap buruk padamu, mungkin ini adalah hukuman untukku, sekarang putriku Lisa yang harus menerima semuanya," Erina nampak mendengarkan dengan sangat serius, "Apa arah pembicaraan ini?" Tanya Erina Dengan derai air mata Lilian pun melanjutkan ceritanya, "Billy, Dia.. Dia tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Lisa, Aku takut, Jika Lisa hamil, Apa yang bisa aku lakukan?" Erina terdiam mendengar ucapan Lilian, "Aku berjanji, Akan mengakuimu sebagai putri ku, jika kau mau membantuku, dan aku juga berjanji akan menyayangi mu seperti putri ku, Bantu aku!" Lilian terus menerus membujuk Erina agar Billy tidak berpisah dengan Kirana, **** Setelah kepulangan Lilian, Erina pun semakin bulat untuk berpisah dengan Billy, namun meski mulutnya berkata seperti itu, tetapi hatinya tetap tidak bisa dibohongi, sehingga air mata itu pun kembali menetes, Erina memeluk dirinya sendiri sambil menangis, Seseorang pun datang menghampiri Erina, "Kau tidak apa apa?" Tangis Erina semakin pecah saat ia melihat Arvin di hadapannya, Arvin pun memeluk erat Erina dan mencoba untuk menenangkannya, Arvin membiarkan Erina menangis, hingga Erina berangsur tenang, Arvin pun membantu Erina menghapuskan air matanya, "Sudah merasa lebih baik?" Erina pun mengangguk, Perlahan Arvin mengusap lembut rambut Erina Erina menyandarkan kepalanya di bahu Arvin, "Tadi, Ibu menemui ku!" Arvin mengernyitkan Dahinya, "Ibu? Maksudmu apa?" Arvin belum mengetahui tentang Lilian, hingga saat ini, "Lilian, dia adalah ibuku," Terlihat sekali kesedihan di wajah Erina saat mengucapkan jika Lilian adalah ibunya, "Lalu?" Erina pun kembali duduk tegak, "Dia, memintaku untuk membujuk Billy agar mau kembali pada Lisa, karena Lisa bisa saja langsung hamil," Arvin terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Erina, "Lalu, Apa jawabanmu?" Erina terdiam sesaat, "Aku, akan mencoba bicara pada Billy," Arvin pun mengangguk angguk, **** Dilain sisi, Ryan menemui seseorang di tempat makan miliknya, Ia terlihat sedikit melamun, hingga beberapa kali karyawan nya membangunkannya, Namun, tak lama tamu pun datang menemui Ryan, Dengan setelan jas yang rapi dan menenteng sebuah koper berukuran sedang, Ia menghampiri Ryan Kemudian, Ia menyodorkan tangannya, dan disambut baik oleh Ryan, "Senang, bertemu dengan anda Tuan!" Sapa orang tersebut, Ryan pun tersenyum dan mempersilahkan tamu tersebut untuk duduk, Tanpa berbasa basi, Ryan pun langsung bertanya padanya, "Katakan, Apa yang kau ketahui?" Seorang pria yang masih terbilang muda ini dengan senyuman di sudut bibirnya pun menjawab, "Aku menemukan sesuatu yang sangat luar biasa disini," Ryan mengerutkan dahinya dan mencoba untuk bertanya kembali, "Apa maksudmu?" Tanya Ryan, "Saya menemukan sesuatu, Nyonya Lilian bukanlah ibu kandung dari nona Erina," Ryan membulatkan matanya mendengar pernyataan orang suruhannya, keinginannya untuk mencari tahu semakin besar, saat Kevin dan Theo mengatakan jika Erina adalah adik mereka, Ryan berusaha untuk menggali informasi lebih dalam lagi tentang Erina, dengan cara mencari tahu siapa Lilian, Senyuman itu pun terukir di sudut bibir Ryan, Setelah sekian lama, Ia akhirnya mendapatkan informasi yang cukup akurat, Sementara itu, Dibalik jeruji besi, Kevin dan Theo nampak sedang melakukan olahraga, dengan sorot mata yang tajam, Kevin dan Theo seolah sudah siap menerkam mangsanya, Kevin dan Theo merencanakan untuk melarikan diri dari sel, mereka memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi pada mereka, Mereka pun siap untuk melakukan percobaan pertama melarikan diri dari sel tahanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN