Rencana sempurnamu!!

1479 Kata
Kevin dan Theo telah siap melakukan percobaan melarikan diri, mereka memperhatikan sekitar mereka, mereka pun meminta bantuan teman teman mereka dalam percobaan melarikan dirinya, Dengan diiming imingi bayaran tinggi, salah satu teman mereka bersedia menjadi tumbal untuk percobaan melarikan diri mereka, "Jika rencana ini gagal, setidaknya kita tahu kesalahan mana yang harus kita perbaiki," Terang Kevin. Theo pun mengangguk paham, Teman mereka pun memulai rencana ini, ia berpura pura menabrak seseorang saat sedang makan malam, dan itu menciptakan keributan yang membuat para tahanan dan para penjaga berfokus pada mereka, mencoba untuk melerai mereka, Disini lah Kevin dan Theo melangkah menjauh, namun tiba tiba salah seorang keamanan berada di hadapan mereka, "Mau kemana kalian?" seorang penjaga yang menyadari langkah mencurigakan mereka pun memergoki mereka, "Maaf pak, saya hanya mau pergi ke toilet," Penjaga itu pun mengikuti langkah Kevin dan Theo, setelah memastikan mereka yang memang hendak ke toilet, Ia kemudian kembali ke area keributan tersebut, karena keributan semakin jelas terdengar, Di dalam toilet, rupanya Kevin dan Theo sudah mempersiapkan beberapa alat, seperti sebuah pisau yang mereka dapatkan dari dapur penjara, dan juga sebuah tali, Kevin pun menaiki dinding toilet yang menjadi penyekat dengan toilet yang lain, Ia kemudian mencoba membuat lubang yang berukuran tidak terlalu besar dengan menggunakan pisau yang bawa, Keringat mulai bercucuran, dengan mata yang terus memperhatikan sekitar, Ia pun berhasil membuat lubang tersebut, kemudian ia naik ke atap dan menutup kembali lubang itu, Ia merayap perlahan, lalu membuka sebuah lubang atap yang biasanya digunakan oleh para tukang membenarkan kabel, Disitu, Ia mengulurkan tali agar sang adik bisa naik keatas bersamanya, Theo pun memanjat perlahan, dan berhasil mencapai atap, mereka pun perlahan merayap hingga ke sudut atap, seperti yang kevin perkirakan di jam itu, truk pengangkut sampah sedang terparkir, mereka pun memastikan sekitar aman, setelah berhasil keluar, mereka pun melompat ke pohon yang tumbuh di dekat penjara, Ketika lampu sorot bergerak ke arah mereka, mereka pun bergegas bersembunyi di balik pohon, setelah lampu sorot tersebut menjauh dari mereka, satu persatu melompat ke dalam truk pengangkut sampah, Namun, Saat Theo melompat, tidak sengaja kakinya terkena kawat berduri yang menyebabkan kulit betisnya robek dan terluka, Theo yang hendak berteriak kesakitan pun, mulutnya ditutupi oleh telapak tangan Kevin, "Sstt," Theo pun mengangguk paham, Tak lama kemudian, Truk pengangkut sampah itu pun mulai bergerak menjauhi penjara, bersamaan dengan suara sirine yang berbunyi kencang karena menyadari ada napi yang telah melarikan diri, Kevin dan Theo menyembunyikan dirinya dengan baik dalam tumpukan sampah tersebut, 'Tunggu lah! Kakak akan melindungimu sampai wanita itu benar benar lenyap dari dunia ini,' Batin Kevin **** Keesokkan harinya, Erina diperbolehkan untuk pulang, namun karena merasa khawatir Erina akan melukai dirinya sendiri lagi, Arvin pun memutuskan untuk mengawasi Erina, "Lebih baik kau bekerja daripada bersamaku!" Arvin pun menatap tajam ke arah Erina, "Dan membiarkanmu menyakiti dirimu sendiri lagi? Tidak!" Erina menghela nafas panjang, "Aku tau, Aku sudah salah melakukan. Hal itu, saat itu aku merasa duniaku runtuh, suamiku sendiri tidur dengan wanita lain," Tatapan sendu Erina terlihat jelas di wajahnya, Arvin pun mengacak acak rambut Erina, "Sudahlah! Jika Suamimu memperlakukanmu dengan buruk, Aku bersedia untuk menjadi penggantinya," Arvin tersenyum menatap Erina, Erina pun memukul lengan Arvin, "Jangan mengada ada! Kau mau mendapat hinaan dari semua orang karena bersama janda seperti ku?" Arvin meringis kesakitan karena pukulan yang Erina lakukan, "Aww, Itu sakit!" Erina pun mengelus lengan Arvin, "Oh, Maaf.. Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk…" Tiba tiba Arvin pun tertawa, Erina yang merasa dijahili oleh Arvin pun langsung menunjukkan raut wajah kesalnya, "Menyebalkan!" Arvin pun meminta maaf kepada Erina karena sudah meledeknya, **** Kedekatan mereka terlihat jelas oleh Billy yang melihat mereka dari balik pintu, Pandangan Billy pun tertunduk, Ia memegang d**a sebelah kanan, terasa begitu sakit saat melihat orang yang ia cintai justru tertawa bahagia, dan yang lebih menyakitkan bukan dia lah penyebab dari kebahagiaan itu, Namun, Billy tidak mau menyerah begitu saja dengan perasaannya, Billy pun menguatkan dirinya, dan melangkah masuk, "Selamat pagi,Sayang?" Sapa Billy, Pandangan Arvin dan Erina pun tertuju pada Billy, "Emm, Aku harus pergi memeriksa pasien yang lain, dan kau jangan lupa bersiap, karena sebentar lagi kau pulang," Erina pun mengangguk paham, Arvin pun meninggalkan mereka berdua untuk bicara, Setelah diluar, Arvin menengok ke arah pintu kamar Erina dengan tatapan sendu nya, kemudian melanjutkan langkahnya, **** Billy kemudian mendekat ke arah Erina, Seolah tidak terjadi apapun, Billy menyodorkan sebuket mawar putih kesukaan Erina, "Ini, Untukmu!" Erina pun meraihnya, dan menyimpan nya di meja kecil disamping tempat tidurnya, "Bagaimana keadaanmu?" Erina tersenyum tipis, "Sudah lebih baik," Billy pun mengangguk angguk, "Syukurlah!" Mereka terlihat kaku, setelah apa yang terjadi, "Em, Erina.. Hari ini kau diperbolehkan pulang kan?" Erina hanya mengangguk pelan, "Emm, Bagaimana jika kita pulang ke rumah?" Pinta Billy tiba tiba, Erina pun menatap lekat ke arah Billy, "Kau, mengajakku pulang ke rumahmu?" "Bukan rumahku, tapi rumah kita," Erina tersenyum sinis, "Aku tidak mau, tinggal bersama suami orang," Billy terkejut mendengar ucapan Erina, "Suami orang? Apa maksudmu?" "Dengar! Lebih baik, fokuslah pada istrimu, dan berhentilah menggangguku, Aku akan segera mengurus perceraian kita!" Billy menggenggam tangan Erina erat, "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu! Lagipula, aku tidak memiliki istri lain, hanya kau satu satunya istriku!" Erina menarik tangannya, "Jika begitu, lalu kenapa kau tidur dengan Lisa?" Billy memejamkan matanya sesaat dan menarik nafasnya dalam, "Maaf, Aku tidak tahu jika dia bukanlah kau, wajahnya sangat mirip denganmu, Aku tidak tau jika itu bukan kau!" Erina yang tidak mau menerima penjelasan dari Billy pun hanya menggeleng kan kepalanya, "Aku tidak mau menerima penjelasan apapun," Mata Billy pun mulai berkaca kaca karena menahan tangis, "Apa kau mencintai pria lain?" Tanya Billy tiba tiba, Erina menatap kesal Billy, "Apa menurutmu, Aku segampang itu jatuh cinta pada seorang pria?" Pandangan Billy pun tertunduk, "Lebih baik, Kau pergi!" "Tidak, Aku ingin kita bicara…" "Pergi!" Bentak Erina Billy pun mengalah, Dengan langkah yang berat Ia berjalan keluar. **** Tak berselang lama, Ryan pun datang menemui Erina, Ia melihat Erina yang tengah membereskan barang barangnya, "Kau jadi pulang hari ini?" Erina pun mengangguk, Ryan pun membantu membereskan barang barang Erina, "Oh ya, Apa Billy belum datang?" Tangan Erina pun terhenti membereskan barang barangnya saat Ryan menanyakan tentang Billy, Melihat Erina yang terdiam, Ryan seolah mengerti dengan diam nya Erina, lalu tanpa sengaja matanya menangkap sebuah buket bunga mawar putih yang terletak di atas meja kecil, "Erina, Apapun yang terjadi diantara kalian, Aku harap kau bisa menyelesaikan semuanya dengan baik," Erina pun menatap ke arah Ryan yang kembali melanjutkan pekerjaannya, 'Apa aku harus menemuinya?' Batin Erina, **** "Oh ya, Aku akan menemui dokter mu! Kau tunggulah sebentar," Ryan pun pergi menemui Arvin di ruangannya, "Jadi, Bagaimana keadaan Erina?" Tanya Ryan pada Arvin "Erina, mengalami 'Anxiety Disorder', mungkin karena trauma masa lalu yang ia alami, ditambah dengan kejadian yang kemarin, Dan itu cukup berbahaya untuk kesehatannya," Ryan terkejut mendengar pernyataan Arvin, Mereka berdua sangat tahu apa yang sudah Erina alami sejak ia diangkat menjadi anak oleh keluarga Owent, Mereka pun terdiam setelah mengetahui, masalah serius yang dihadapi oleh Erina, "Apa hal itu bisa terulang lagi?" Arvin pun mengangguk lemah, Ryan nampak mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Apa dia bisa sembuh?" "Ada beberapa hal yang harus kita upayakan untuk kesembuhan Erina, sebelum semuanya semakin parah," Ryan pun terdiam, **** Dilain sisi, Kirana alias Lisa tengah mengamuk di dalam kamarnya setelah ia mengetahui tentang penolakan Billy terhadapnya, Semua kebahagiaan yang dirasakannya begitu sangat singkat,  "Arghhh!! Ini semua salah ibu!!" Teriak Lisa Lilian pun mencoba untuk menenangkan putrinya itu, "Nak, tenanglah! Ibu berjanji akan memperbaiki semuanya!" "Memperbaiki? Semua rencana sempurna ibu itu gagal!! Itu hanya membuat Billy semakin membenciku!" Bentak Lisa, Lisa pun menatap dirinya di depan cermin, Ia memegang wajahnya.. "Dan wajah ini? Aku benci wajah ini!!! Arghhhh!!!" Lisa membanting Vas bunga ke arah cermin hingga pecah, pecahan kaca pun berserakan ke segala arah, Lilian begitu syok melihat Lisa yang diluar kendali, Lisa pun mengambil pecahan kaca tersebut dan mencoba untuk menyayat pergelangan tangannya, Lilian mencoba menghalangi tindakan Lisa, dengan memegang erat tangannya, "Lepaskan! Biarkan saja aku mati!" Teriak histeris Lisa  "Dengarkan aku nak! Ibu berjanji akan memperbaiki semuanya, Ibu akan membawa Billy ke pelukanmu lagi!" Lisa terus menangis histeris, Lilian pun meminta bantuan beberapa orang pelayannya untuk memegang Lisa, Kemudian, Lilian menghubungi dokter keluarganya. Karena Lisa terus memberontak, Lilian pun mengikat kedua tangan Lisa agar ia tidak menyakiti dirinya sendiri, Lisa dibaringkan di atas kasurnya dalam keadaan terikat dan terus saja menangis, Lilian ikut menangisi keadaan putrinya, Ia membelai lembut surai putrinya itu, "Maaf, Maafkan Ibu." **** Tak berselang lama, Dokter pun tiba dan segera memeriksa Lisa, Karena Lisa yang masih saja memberontak membuat dokter membuat keputusan untuk memberikan obat penenang, "Bagaimana keadaan putri ku dokter?" Dokter pun menghela nafas kasar, "Putri anda sangat depresi dengan apa yang menimpanya, Dia harus benar benar mendapatkan perhatian yang serius dari medis, Jika tidak ia akan terus mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri," Jelas dokter Lilian syok mendengar penjelasan dari dokter,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN