~Kasih seorang ibu, memanglah tiada batas.. Dan pengorbanan seorang anak pun tidak berujung.. Itulah ikatan sebenarnya antara seorang ibu dan anaknya~
Lilian tengah menatap ke arah luar jendela, Ia memikirkan bagaimana cara untuk bisa membawa Billy kembali ke pelukan Lisa,
Satu satunya yang ia pikirkan adalah meminta bantuan Erina, beruntung hingga saat ini, belum ada yang mengetahui perbuatannya di masa lalu terhadap Erina, kecuali kedua kakak nya Kevin dan Theo,
Lilian pun menarik nafas panjang, Ia kemudian meraih ponselnya setelah ia berpikir sejenak,
Lilian pun menekan beberapa nomor dan menghubungi seseorang,
In Call,
"Bisakah kau datang kemari?" Pinta Lilian,
"Baiklah," Terdengar suara dari seberang telpon yang menyetujui permintaannya tersebut.
****
Selang tiga puluh menit kemudian,
Terdengar suara bel pintu, Lilian pun bergegas membukanya, Ia melihat seorang gadis yang sudah tidak asing lagi baginya,
"Terima kasih, sudah mau datang!"
Gadis itu pun hanya tersenyum,
Lilian pun mengajak Erina untuk menemui Lisa yang berada di kamarnya,
Erina membulatkan matanya karena syok melihat keadaan Lisa yang dalam keadaan terikat di atas tempat tidur,
"A-apa yang terjadi?"
Lilian kembali meneteskan air matanya, dengan tatapan sendu ia menatap ke arah Erina,
"Dia, Depresi berat karena kehilangan Billy, Dia terus saja berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri,"
Erina nampak tergugu,
Ia tidak mampu untuk berkata kata,
"Aku mohon, Tolong Lisa! Tolong kakakmu! Kau bisa mencari pria yang jauh lebih baik dari Billy, Biarkan Lisa bersama dengan Billy,"
Permintaan Lilian yang tidak masuk akal, membuatnya hanya terdiam.
'Bagaimana mungkin, aku melepaskan suamiku untuknya, Tapi.. Aku juga tidak mungkin membiarkannya seperti itu,' Batin Erina,
Erina pun memilih untuk melangkah pergi meninggalkan Lilian,
****
Sepanjang perjalanan,
Erina hanya melamun, Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu, bahkan ketika ia sampai di rumah, Ia tidak berbicara apapun, hanya terdiam dan terus melangkah ke arah kamarnya,
Asisten pribadi Arvin yang memang sudah diminta untuk memperhatikan Erina, menghubungi Arvin dan memberitahu tentang gelagat aneh Erina,
Mendengar laporan dari asisten rumah tangganya, Arvin pun bergegas pulang,
Setibanya di rumah, Arvin langsung menghampiri kamar Erina,
"Tok tok tok,"
"Erina! Boleh aku masuk?"
Namun, tidak terdengar jawaban dari dalam kamar Erina,
Arvin pun mencoba untuk membuka pintu kamar, dan ternyata pintu kamar Erina tidak dalam keadaan terkunci,
Arvin pun melangkah masuk, dan mendapati kamar Erina yang gelap, Erina menutup seluruh gordennya, dan membiarkan dalam keadaan gelap,
"Erina? Kau tidak apa apa?"
Tanya Arvin sambil membuka gorden kamar Erina,
Erina tetap terdiam,
Arvin pun menghampiri Erina, Ia berjongkok di hadapan Erina yang tengah duduk diatas lantai sambil menundukkan pandangannya,
Arvin pun mengangkat dagu Erina,
"Katakan, Apa kau sedang memiliki masalah?"
Buliran bening itu pun tiba tiba mengalir begitu saja membasahi pipi Erina,
Arvin menghapus air mata Erina,
"Katakan, Ada apa?"
Erina menatap lekat ke arah Arvin,
"Jika kamu disuruh untuk memilih, mana yang akan kau pilih diantara saudaramu atau cintamu?"
Arvin mengerutkan dahinya,
"Menurutku, Aku akan memilih saudaraku, karena tidak akan ada yang namanya bekas saudara, beda dengan pasangan, yang akan ada istilah 'bekas' setelah kita tidak memiliki hubungan apapun dengannya,"
Erina pun mengangguk paham,
"Kenapa, kau tiba tiba menanyakan itu?" Arvin merasa heran dengan pertanyaan Erina,
"Tidak apa apa, Hanya bertanya saja,"
Erina pun bernafas lega ketika Arvin tidak melanjutkan pertanyaannya,
****
Dilain Sisi,
Kevin dan Theo, nampak bersembunyi di salah satu rumah kosong, sejak pelariannya kemarin, mereka belum menemukan makanan dan minuman,
"Aku sangat lapar," Keluh Theo sambil memegangi perutnya,
Kevin menatap adik laki lakinya itu,
"Aku akan keluar mencari makanan untuk kita, kau tunggulah disini!"
Kevin pun melangkahkan kakinya keluar rumah, dengan memperhatikan sekitar, Ia terlihat berhati hati dalam melangkah, saat melewati sebuah gang, ia melihat sampah pakaian yang berada di samping bak sampah, Ia kemudian mengganti pakaiannya, dan membawakan baju lain yang bisa di gunakan oleh adiknya,
Kevin kemudian menggunakan topi untuk menyamarkan wajahnya,
Saat tengah mencari makanan, Tanpa sengaja ia melihat Ryan yang keluar dari mini market, Kevin pun mencoba untuk mendekat ke arah Ryan,
Namun sebuah mobil tiba tiba menghalangi langkahnya, yang membuatnya kehilangan Ryan,
Kevin berdecak kesal,
Ia kemudian pergi mencari makanan lagi untuk Theo,
****
Hari pun berganti,
Sepagi ini Erina sudah berada di depan pintu rumah Billy,
Dengan sedikit keraguan, Erina pun menekan bel rumah Billy,
"Ting Tong,"
Tak lama kemudian, Asisten rumah tangga Billy pun membukakan pintu nya,
"Nona siapa? Apa Anda ingin bertemu Tuan?"
Erina pun tersenyum manis,
"Ini aku bi," Sapa Erina
Asisten rumah tangga nya pun mengerutkan dahinya,
"Bibi, pasti tidak mengenalku karena wajah ku, tidak apa apa."
"A-apa anda Nona Erina?"
Senyuman pun kembali terukir di wajah Erina,
"Iya, Benar! Ini aku Erina,"
Asisten rumah tangganya sangat senang ketika melihat Erina berada di hadapannya,
"Silahkan masuk nona!"
Erina pun tersenyum tipis dan melangkah masuk ke dalam rumah, tak ada yang berubah di dalam rumah itu, semuanya masih sama dengan tata letak dan barang barang yang sama seperti saat Erina masih tinggal di rumah itu,
"Saya akan panggilan Tuan,"
Sang asisten rumah tangga pun bergegas untuk menemui Billy yang masih di dalam kamarnya dengan. Selimut yang membalut tubuhnya,
"Tuan, Ada tamu!" Teriak sang asisten dari arah luar kamar,
Namun Billy masih tetap tertidur pulas tanpa mendengar panggilan dari asisten rumah tangganya,
Setelah beberapa kali pintu diketuk, namun tidak ada tanda tanda Billy akan keluar dari kamarnya,
Sang asisten rumah tangga pun kembali menghampiri Erina yang tengah menunggu di ruang tunggu,
"Maaf Nona, tapi Tuan masih belum bangun,"
Erina yang mendengar itu pun berdecak kesal,
"Ckk, dari dulu dia tidak berubah, selalu saja sulit dibangunkan!"
Erina pun melangkah menghampiri Billy ke kamarnya,
Ia menarik selimut yang membalut tubuh Billy,
"Hey! Bangunlah!"
"Hmm? Tunggulah lima menit lagi,"
Erina semakin kesal dibuatnya, Ia kemudian memiliki ide untuk menjahili Billy,
Erina mengeluarkan permen yang berada di dalam tas nya, dan mengikat permen tersebut setelah membukanya, Ia pun menarik ulur tali yang berada di mulut Billy,
Billy pun merasa terganggu dengan kejahilannya, tiba tiba..
Billy menarik pinggang Erina, yang membuatnya terjatuh diatas Billy, Billy pun memeluknya dengan erat,
Seketika, Erina tertegun selama beberapa detik..
Erina yang tersadar pun mencoba untuk berdiri, namun pelukan Billy yang begitu erat membuatnya kesulitan untuk bergerak,
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja," Terdengar suara Billy dengan mata terpejam,
Erina terdiam,
Billy perlahan membuka matanya, Ia mengukir senyuman manis di Wajahnya,
"Aku mencintaimu," Ucapan itu terlihat sangat tulus dari hati Billy, untuk beberapa detik Erina tidak mampu berkata apapun, namun Ia teringat bagaimana kondisi Lisa.
Erina langsung memaksa melepaskan tangan Billy,
"Lepaskan!"
Billy yang melihat raut wajah marah Erina pun perlahan melepaskan pelukannya,
Erina langsung berdiri dan memperbaiki pakaiannya, Sedangkan Billy terduduk di atas kasur dan menatap sayu Erina,
"Aku senang, Kau datang."
Erina mengalihkan pandangannya ke arah lain,
"Aku kesini, hanya untuk memastikan surat perceraian kita secepatnya diselesaikan,"
Billy menundukkan pandangannya,
"Apa hanya sampai disini saja? Pernikahan kita? Setelah semua hal yang telah kita lalui?"
Erina memejamkan mata sejenak, seolah ingin menahan air mata yang hendak meluncur di pipinya,
"Lihat mataku, Erina?" Pinta Billy,
Namun Erina tidak berani menatap mata Billy,
"Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
"Tidak!" Erina menatap Billy
"Setelah pengkhianatan itu, bagi ku semuanya sudah berakhir!!" Imbuhnya,
Billy pun mendekat ke arah Erina,
"Jangan mendekat!" Bentak Erina seraya mengulurkan jari telunjuknya ke arah Billy,
Langkah Billy pun terhenti,
"Sebaiknya, Kau kembali pada Lisa.. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu!"
"Berapa kali aku harus menjelaskannya padamu? Itu sebuah kekhilafan, aku hanya mencintaimu dan selama nya akan terus seperti itu!!" Tegas nya
"Khilaf? Jika kau memang mencintaiku, seberapa berat godaan itu, Kau akan kuat dan tidak akan tergoda oleh Lisa!!"
Billy pun terdiam,
Erina mulai meneteskan air matanya,
"Mulai sekarang jangan ganggu hidupku lagi, kembali lah pada Lisa!"
Erina hendak melangkah, namun Billy langsung memeluknya dari belakang dan menahan langkahnya,
"Aku mohon, Jangan lakukan ini! Aku bisa mati!"
Erina terdiam,
"Aku sangat mencintaimu, Aku mengakui kesalahanku, karena itu berikanlah aku kesempatan kedua, Aku mohon,"
Tak terasa buliran bening itu pun kembali mengalir membasahi pipi Billy,
"Aku mohon!"
Erina menguatkan dirinya, perlahan ia melepas pelukan Billy, Billy menggeleng kuat,
Kemudian, Erina pun melanjutkan langkahnya.
'Maafkan aku, Aku tidak mungkin berbahagia diatas penderitaan kakakku,' Batin Erina
****
Diana yang telah lama tidak mengunjungi putra semata wayangnya, akhirnya hari ini ia bisa menemui sang putra, dengan wajah sumringah ia membawa beberapa masakan yang ia buat sendiri,
Sedangkan sang suami tidak bisa ikut karena pekerjaannya,
Namun saat di perjalanan ia berpapasan dengan seorang gadis yang baru saja keluar dari gerbang rumah sang putra sambil menangis,
Diana pun mengerutkan dahinya, Ia mencoba mengingat siapa gadis tersebut,
"Siapa gadis itu?" Ucapnya pelan.
****
Diana yang baru saja tiba langsung melangkah masuk ke dalam rumah dan memanggil nama sang putra,
"Billy? Nak?" Teriaknya,
Ia pun menyimpan masakan itu di atas meja makan, Kemudian melihat sekitar, namun tidak terdengar suara sang putra.
"Kemana dia?" Gumamnya,
Diana pun melangkah menuju ke kamar Billy,
"Billy, Ibu membawakan makanan….." Ucapannya terhenti saat ia melihat Billy dengan tatapan sendunya dan tertunduk,
Diana menghampiri Billy,
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Billy menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang dipaksakan,
Diana pun mengelus kepalanya lembut,
"Ceritakan lah pada Ibu jika kau punya masalah,"
Billy pun memeluk erat sang ibu, Tangisnya pun pecah,
Diana mengelus lembut punggung Billy, mencoba untuk menenangkan nya,
****
Setelah berangsur tenang, Billy pun angkat suara..
"Erina, Dia ingin bercerai,"
Diana terkejut mendengar ucapan Billy,
"A-apa? Tapi, kenapa?"
Billy menatap lekat sang ibu,
"Ibu mungkin belum tahu jika yang selama ini bersama kita bukanlah Erina,"
Diana menghela nafas kasar,
"Hah, Aku sudah menduganya! Ibu sudah curiga sejak awal, jadi dia meminta cerai padamu? Tapi, dia kan bukan Erina, lalu untuk apa meminta cerai?"
"Dia adalah Lisa, dan Erina yang asli adalah sekretaris ku yang baru,"
Diana membulatkan matanya sempurna,
"A-apa?"
"Apa itu benar?" Imbuhnya
Billy mengangguk,
"Lalu?" Tanya Diana
"Erina memergokiku yang sedang melakukan hubungan itu dengan Lisa,"
Diana pun berdiri dari duduknya,
"K-kau melakukan itu?"
Billy mengangguk,
Diana menghela nafas kasar dan memegang keningnya dengan sebelah tangannya,
"Bisa bisanya kau melakukan itu?"
Billy pun menundukkan pandangannya, rasa penyesalan begitu besar di dalam hatinya,
"Erina ingin bercerai darimu karena itu?"
Billy kembali mengangguk,
Diana tak mampu berkata apapun, Ia kemudian hanya melangkah pergi meninggalkan Billy sendirian di dalam kamarnya,
****
Diana bergegas kembali menaiki mobilnya, ia menuju ke suatu tempat,
Tak perlu waktu lama, Diana pun tiba di sebuah tempat makan, Ia bergegas turun dan masuk begitu saja ke dalam kantor pemilik tempat makan tersebut,
"Anda?"
Kedatangan diana yang tiba tiba membuatnya cukup terkejut dan langsung berdiri dari duduknya,
"Ryan, Kau pasti tahu masalah Erina kan?" Tanya Diana langsung
Ryan hanya mengangguk,
Diana menatap kesal padanya,
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan tentang Erina?"
"Maaf bu, bukannya aku tidak ingin menjelaskan semua itu, tapi.. Aku butuh waktu untuk mengumpulkan semua bukti bukti yang meyakinkan aku jika dia benar benar Erina,"
Diana menghela nafas kasar,
"Dan kau juga sudah tau, jika Erina menggugat cerai Billy?"
Ryan mengernyitkan keningnya,
"Cerai? Aku tidak tahu mengenai itu.. Memang saat di rumah sakit Erina sempat mengatakannya, tapi aku pikir itu hanya emosi Erina sesaat,"
Diana melipat kedua tangan di dadanya,
"Bisakah kau membujuk Erina? Aku sudah terlanjur menyayangi gadis itu, Aku tidak ingin Billy bersama dengan Lisa," Terangnya,
Ryan mengangguk pelan,
"Aku akan mencobanya,"
****
Hari pun berganti,
Lilian memutuskan untuk membawa Lisa menghirup udara segar di taman, Lisa terlihat sedikit lebih baik setelah mendapat penanganan dari medis,
"Nak, Bagaimana perasaanmu?"
Lisa menatap sendu dengan senyuman tipis di wajahnya,
"Sudah lebih baik bu,"
"Bu, bisa tolong belikan aku minuman?"
"Baiklah, tunggulah disini,"
Lilian pun melangkah pergi menuju ke minimarket terdekat,
Sedangkan Lisa menunggu sang ibu di taman,
Lisa kembali termenung, Ia teringat dengan semua kesalahan yang ia lakukan saat ia masih bersama Billy,
Buliran bening itu pun kembali meluncur di pipinya, Ia menghapusnya kasar..
****
Di lain sisi,
Kevin tengah mencari tempat tinggal Erina bersama Theo, Namun di perjalanan, mereka yang sudah merasakan kelelahan memutuskan untuk beristirahat di taman,
Mereka pun mencari bangku untuk duduk, sedang asyik mencari.. Tiba tiba mata mereka menangkap sosok seorang gadis yang tengah duduk di kursi roda dengan pandangan tertunduk,
"E-erina?" Syok Kevin dan Theo
Ketika Theo hendak menghampiri, Kevin pun menahan tangan sang adik,
"Tunggu!".
Langkah sang adik pun terhenti, Ia menatap lekat sang kakak,
" Ada apa?"
"Kita harus pastikan, jika dia memang adikku,"
Kevin dan Theo pun memutuskan untuk memperhatikan dari jauh,