Trauma

2746 Kata
"Kenapa kakak bilang begitu? Lihatlah, Dia itu adik kita kak! Adik kandung kita! Apa kau tidak merindukan adikmu?" Ucap Theo dengan mata berkaca kaca Kevin pun perlahan menurunkan tangannya, Rindu? Ya, Tentu saja.. Ia sangat merindukan adik perempuannya itu, setelah semua yang ia lakukan terhadap sang adik di masa lalunya, kini.. Ia hanya ingin berlari dan memeluk erat adiknya itu, Ia ingin meminta maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam atas kesalahannya, Namun kakinya seolah berat untuk melangkah. Theo kemudian berlari menghampiri Kirana alias Lisa yang masih duduk di kursi roda nya, mereka sama sekali tidak mengetahui jika wanita itu bukanlah Erina, 'Grepp' Satu pelukan erat Theo tujukan pada wanita yang kini berada di hadapannya, buliran bening itu pun mengalir begitu saja di pipi kusamnya, Bibirnya bergetar menahan tangis, "Adikku, Erina!" **** Lisa terkejut karena tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari samping, ketika akan berteriak untuk meminta tolong, pria yang memeluknya itu menyebutkan nama Erina, seketika mulutnya pun langsung terdiam, 'Erina? Siapa dia?' Batin Lisa. Theo kemudian melepas pelukannya dan berjongkok di hadapan Lisa, Ia mengelus lembut pipinya, "Sudah lama sekali, Kami mencarimu kemana mana!" Ujarnya "Kami?" Ucap heran Lisa, Theo mengangguk pelan, "Aku kesini bersama Kevin," Kevin pun muncul di hadapan Lisa dengan senyuman tipis, "Bagaimana kabar mu?" Tanya Kevin Lisa tersenyum tipis, Ditengah pertemuan mereka, Lilian pun kembali dengan membawa sebuah kantong berisi botol minuman, langkahnya terhenti saat melihat Lisa sedang bersama Kevin dan Theo, Lilian pun bersembunyi di balik semakin semakin, Ia sangat terkejut melihat mereka berdua bersama Lisa, "Apa yang mereka lakukan? Apa mereka berniat menyandera putriku?" Gumamnya, Lilian pun meraih ponselnya dan menekan nomor telepon Lisa, **** 'Drrt.. Drttt' Dering ponsel milik lisa terdengar, Lisa pun meraih ponselnya dan melihat nama sang ibu tertera di layar ponselnya, Ia kemudian mengangkat telepon tersebut, In Call "Nak, Apa kau tidak apa apa?" Tanya Lilian cemas. "Tidak apa apa, Aku baik baik saja!" "Apa mereka melakukan sesuatu yang buruk?" Lisa pun menutup telpon nya dengan telapak tangannya, Ia kemudian menatap kevin dan Theo, "Maaf, bisakah aku menerima telepon secara pribadi?" Kevin dan Theo mengangguk, mereka pun sedikit menjauh dari lisa, "Bu, Apa ibu mengenal mereka?" "Iya! Mereka adalah suruhan ibu untuk melenyapkan Erina, tapi.. Bagaimana mereka bisa kesini, Seharusnya mereka berada di dalam penjara,!" "Mereka mengira aku adalah Erina," "A-apa?" Mendengar cerita Lisa, Lilian pun memiliki ide gila untuk bisa membuat Billy kembali pada putrinya, Lilian pun menjelaskan rencananya pada Lisa, Lisa terlihat menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, End Call **** Lisa memutarkan roda dengan kedua tangannya untuk menghampiri Kevin dan Theo, Ia nampak tersenyum pada mereka, "Kakak?" Panggil Lisa, Theo dan Kevin yang merasa terharu saat Lisa yang mereka yakini sebagai Erina, memanggil mereka dengan sebutan Kakak, Mereka pun berjongkok di hadapan Lisa, "Apa, Kau sudah memaafkan kami?" Lisa mengangguk pelan, "Terima kasih," Lisa tersenyum menatap Kevin dan Theo, "Emm, bagaimana jika kita terus kan mengobrol nya di rumah?" Kevin dan Theo pun mengangguk setuju, Mereka kemudian melangkah pergi menuju ke rumah Lisa, **** Lisa memutuskan untuk membawa mereka ke tempat tinggalnya yang dulu saat ia masih bekerja di restoran teman Lilian, Ia khawatir jika membawa mereka ke rumah yang sebenarnya, mereka akan mengetahui tentang Lilian, Setibanya di rumah yang berjarak cukup jauh dari taman tadi, mereka pun melangkah masuk, "Ini, Adalah rumahku," Ucap Lisa Kevin dan Theo pun melihat sekitar, "Kau, tinggal disini sendirian?" Tanya Theo, Lisa kembali mengangguk, "Bagaimana dengan Billy?" Tanya Kevin, Untuk sesaat Lisa terdiam, "Apa terjadi sesuatu?" Lisa menatap kedua pemuda itu, "Billy.. Dia.. Ingin menceraikanku," Ujar Lisa Theo dan Kevin pun membulatkan matanya, "A-apa?" "Tapi, kenapa?" Imbuh Theo Lisa menarik nafas panjang, "Billy, Dia berselingkuh dengan sekretaris barunya, dan aku tidak bisa melakukan apa apa, Kakak melihat sendiri bagaimana kondisiku sekarang," Kevin pun menatap haru sang adik yang duduk diatas kursi roda nya, Namun, berbeda dengan Theo, nampak rahangnya yang mengeras dengan tangan yang mengepal, terlihat kebencian di raut wajahnya, Theo pun melangkah pergi, Kevin berusaha mengejarnya, Ketika di luar rumah, Kevin menarik lengan Theo, "Mau kemana kau?" Theo menghempaskan tangan Kevin kasar, "Aku akan memberikan pelajaran padanya!" Sarkas Theo, Kevin memegang kedua bahu sang adik, "Tenanglah! Kita akan mencarimu tahu Siapa gadis itu, baru setelah memberikan mereka pelajaran!" Theo pun terdiam, Sementara itu, Lisa Terlihat menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, **** Di lain sisi, Diana meminta Ryan untuk menemaninya bertemu dengan Erina, "Bagaimana keadaan Billy hari ini,?" Tanya Ryan, "Dia, belum mau keluar kamar.. Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun," Jelas Diana, Ryan melihat ke arah ibu Diana lewat kaca spion yang tergantung di dalam mobil, Terlihat wajah sendu di kulitnya yang mulai keriput, Ryan yang sudah menganggap Diana seperti ibunya sendiri merasa tidak tega melihatnya, Ryan pun hanya bisa menarik nafas panjang, Setibanya di rumah Arvin, 'Ting Tong' Ryan menekan bel beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari dalam rumah, "Apa Erina sedang pergi?" Gumam Ryan, Ryan pun menghubungi Erina, namun yang terdengar hanyalah suara dari operator saja, Ryan kemudian berinisiatif untuk menghubungi Arvin, dan kali ini telponnya diangkat, In Call, "Hallo, Dr. Arvin, Apa kau tau dimana Erina?" "Bukankah dia berada di rumah?" Mata Ryan seketika membola saat ia mendengar jawaban dari Arvin, Ryan langsung mematikan telponnya sepihak, Dengan segera ia mengelilingi rumah tersebut dan mencari jalan masuk ke dalam rumah, Sedangkan Diana menatap bingung Ryan yang terlihat panik, Ia menemukan jendela yang tidak terkunci, dan langsung menerobos masuk, "Erina!" Teriak Ryan Ryan mencari Erina ke setiap sudut rumah, Namun ia tidak menemukan siapapun disana, Ryan yang merasa cemas pun kembali menghubungi Arvin, **** Arvin yang tengah memeriksa pasiennya, merasa heran karena Ryan yang kembali menghubungi nya, Ia pun mengangkat telepon itu, In Call "Iya, Ada apa?" Tanya Arvin "Erina tidak ada di rumah! Tidak ada seorangpun disini!" Arvin syok mendengar ucapan dari Ryan, "Tapi itu tidak mungkin, Disana ada asisten rumah tanggaku dan juga dua orang bodyguard yang menjaga Erina," Arvin mengerutkan dahinya heran, "Aku tidak akan sepanik ini jika bukan karena sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!!" Bentak Ryan, "Baik, Tenanglah! Aku akan mencoba menghubungi bodyguard ku!" 'Tut tut tut' Telepon pun terputus, Arvin langsung mencoba untuk menghubungi kedua bodyguard Erina, Namun tidak ada yang mengangkat teleponnya, Arvin semakin panik, Ia kemudian bergegas mencari Erina, 'Erina kau dimana?' Batin Arvin **** Di suatu tempat, Terlihat seorang perempuan yang tengah duduk terikat di atas kursi, dengan lakban yang menutupi mulutnya, dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, Hingga seseorang menyiramkan segelas air tepat ke wajah perempuan tersebut yang menyebabkan perempuan itu pun tersadar dari pingsannya, Perlahan pandangannya yang tertunduk itu terangkat, Ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya, Pandangannya yang kabur perlahan menjadi jelas, terdengar lenguhan dari mulutnya, "Euh," Ketika ia bisa melihat dengan jelas, Matanya pun membulat sempurna saat Ia melihat sosok di hadapannya, "K-kakak?" Ucapnya, Theo kini berada di hadapan Erina dengan tatapan dingin dan datar nya, Ia mengangkat dagu Erina dengan sebilah pisau yang sedari tadi ia pegang, "Jadi ini, Gadis penggoda itu? Gadis yang sudah merebut kebahagiaan adik ku?" Erina mengerutkan dahinya, "A-adik?" Erina masih belum mengerti dengan pembicaraan yang Theo katakan, "Kak! Apa yang kakak bicarakan?" Tanya Erina, "Jangan memanggilku Kakak! Aku bukan kakakmu!!" Bentak Theo, Tubuh Erina bergetar saat Theo membentak nya, Ia masih ingat bagaimana Theo dan Kevin pernah menyakitinya dulu hingga wajah dan tubuhnya pun rusak dan harus menjalani operasi, Theo mengelus lembut pipi Erina dengan ujung pisau, "Ini hanya Peringatan untukmu! Jika kau berani mendekati Billy, maka aku tidak akan segan segan untuk memberimu hukuman yang lebih menyakitkan!" "Seharusnya, Kau malu karena sebagai wanita, Kau bersikap murahan seperti itu! Apa kau tidak laku? Sehingga kau merebut suami orang lain?" Imbuh Theo Racauan demi Racauan yang Theo lontarkan sama sekali tidak membuat ia mengerti, "Kak! Apa yang sebenarnya kakak bicara kan?" Bentak Erina 'Plakk' Satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya, Erina pun meringis kesakitan "Aww," Dengan mata berkaca kaca dan menahan perih di pipinya yang kini berubah kemarahan karena tamparan itu, Erina mencoba kembali berbicara pada Theo, "Apa sebenarnya kesalahanku?!" Bentak Erina Tiba tiba terdengar suara roda yang mendekat ke arah mereka, Erina terkejut melihat sosok Lisa yang duduk diatas kursi roda menghampiri mereka, "K-kak Lisa?" "Siapa yang kau Panggil Lisa?!" Bentaknya Lisa menatap sendu Theo, "Kak! Wanita Ini lah yang sudah menghancurkan rumah tanggaku dan menyakiti ku, hingga aku tidak berdaya dan hanya bisa duduk diatas kursi roda ini!" Terang Lisa dengan air mata yang mulai mengalir, Erina menggeleng cepat, "Tidak! Aku tidak melakukan apapun padamu! Kak Theo, kau harus percaya padaku, Kak Lisa berbohong!" Lisa menatap tajam ke arah Erina, dan mendekat ke arahnya, Ia membisikkan sesuatu pada Erina, "Kau lihat sendiri kan, bagaimana Billy mencumbuiku? Kami sudah terikat pernikahan, sedangkan pernikahan mu itu sudah tidak bisa diakui karena kau yang sudah menghilang selama dua tahun ini," Bisiknya 'Degh' Jantung Erina terasa berhenti berdegup, Saat ia mendengar penjelasan Lisa, Lisa pun kembali menangis, "Aku mohon, Lepaskan suamiku!" Lisa pun terjatuh dari kursi roda, kedua tangannya memegang erat kedua kaki Erina, Ia memohon agar Erina melepas Billy, Theo yang merasa tidak tega melihat Lisa bersikap seperti itu pun membantunya untuk kembali duduk di kursi roda nya, "Sudah! Tangan menjatuhkan harga dirimu untuk w************n seperti dia!!" Bentak Theo, Lisa terus saja menangis, Theo menatap tajam ke arah Erina, Ia mengulurkan jari telunjuknya di depan wajah Erina, "Kau! Jangan harap bisa bahagia setelah memperlakukan adikku seperti ini!" Bentak Theo. "Sekali lagi, Aku peringatkan pada mu! Jangan pernah mendekati Suami adikku lagi!! Jika kau menceritakan kejadian hari ini, maka esok hari kau hanya akan tinggal menjadi nama!!" Ancam Theo, **** Erina pun dilepaskan oleh Theo, Sedangkan Theo dan Lisa bergegas pergi dari tempat itu, Erina pun menangis keras, "Kak! Kenapa aku diperlakukan seperti ini olehmu? Aku menyayangimu seperti kakakku sendiri! Tapi kau membenciku seperti musuh bebuyutan mu! Apa salahku, Kak!" Teriak Erina, Erina pun melangkah pergi dengan sedikit menyeret kakinya, Ia merasa lemas karena belum makan seharian, **** Dilain sisi, Ryan dan Diana masih mencari Erina, Diana yang mencoba menghubungi Billy pun kesulitan karena ponselnya yang tidak aktif, Diana pun mengirimi Billy beberapa pesan, namun tidak ada balasan dari Billy, Sedangkan Arvin, Ia juga melakukan hal yang sama, Ia mencari Erina dengan perasaan khawatir, Billy pergi ke suatu tempat tanpa membawa ponselnya, Ia pergi ke tempat favorit dirinya bersama Erina, di sebuah Cottage dengan pemandangan pantai indah di depannya, Billy menarik nafas panjang, Ia mengingat setiap momennya bersama Erina, matanya pun mulai memerah tak terasa buliran bening pun kembali mengalir membasahi pipinya, Billy kembali menundukkan pandangannya, **** Arvin yang tengah fokus menyetir, tiba tiba pandangannya pun menangkap sosok seorang gadis di pinggir jalan yang sedang berjalan kaki sambil menangis, 'Ckiiitt' Arvin menghentikan mobilnya mendadak, Ia kemudian bergegas turun dari mobilnya dan berlari menghampiri gadis itu, "Erina?" Panggilnya, Erina pun menoleh ke arah suara, Tangisnya pun semakin pecah saat ia melihat sosok Arvin di hadapannya, Arvin berlari ke arahnya, dan memeluknya erat, **** Erina tertidur di dalam mobil Arvin karena kelelahan, Arvin menatap Erina dalam, Ia merasa kan sakit melihat Erina seperti ini, Arvin pun memakaikan jaket milik nya pada Erina, mengelus lembut kepala Erina Arvin pun menghidupkan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang, Sesampainya di rumah, Arvin membaringkan Erina di dalam kamarnya dan menyelimutinya, Ia kemudian mengirimkan pesan pada Ryan dan memberi tahu jika Erina telah ia temukan, **** Ryan bernafas lega setelah mendengar kabar dari Arvin, Diana melihat raut wajah Ryan yang berubah, "Ada apa? Apa Erina sudah ditemukan?" Ryan mengangguk, Raut wajah Diana berubah lega dan bahagia, "Ayo, Kita temui Erina!" Ryan pun memutar balik kendaraannya menuju rumah Arvin, **** "Aku masih tidak mengerti, Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ryan, Arvin pun menghela nafas panjang, "Aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, Saat aku menemukan Erina, Ia terlihat sangat syok dan juga sangat sedih," "Bisakah aku bertemu dengan nya?" Pinta Diana, Arvin pun mengangguk, Diana melangkah kan kaki nya menuju kamar Erina, Namun, ketika di depan pintu kamarnya tiba tiba ia mendengar suara teriakan, "Aaaaaahhh!!" Diana yang merasa khawatir pun langsung masuk ke dalam kamar, Ia melihat Erina yang tengah gelisah dalam tidurnya, Diana pun mencoba untuk membangunkannya, "Erina, Bangunlah!!" Diana terus menepuk nepuk pipi Erina agar Erina terbangun dari tidurnya, "Tidaaaaakkk!!" Erina berteriak cukup keras hingga membuat Arvin dan Ryan berlarian masuk ke dalam kamar Erina, "Ada apa ini?" Tanya Arvin yang melihat Erina sudah terbangun, Tubuh Erina bergemetaran, Ia terlihat sangat ketakutan, "Nak, Kau tidak apa apa?" Tanya Diana, Nafas Erina tak beraturan, Ia memperhatikan sekitarnya, "Kau tidak apa apa?" Tanya Ryan, Namun, Erina justru memundurkan dirinya, "Jangan mendekat!" Bentak Erina, Diana, Ryan dan Arvin pun menatap heran ke arah Erina, "Tenanglah! Apa kau tidak ingat pada kami?" Tanya Ryan, Ryan pun mencoba untuk mendekat ke arah Erina, "Aku bilang jangan mendekat!!" Teriak Erina, Ryan pun memundurkan langkahnya, Ia menatap heran ke arah Erina, Diana menatap ke arah Ryan dan Arvin, "Biar aku yang bicara padanya," Arvin dan Ryan pun mengangguk paham, Perlahan Diana mendekat ke arah Erina, Ia memegang lembut tangan Erina, "Nak, Ini ibu! Apa kau tidak mengingat ibu?" Erina pun menatap lekat Diana, "I-ibu?" Panggilnya, Diana pun menarik Erina ke dalam pelukannya, Tangis Erina pun pecah.. Diana mengelus lembut punggung Erina, "Tidak apa apa, Ibu disini.. Tenanglah!" Arvin dan Ryan pun saling menatap satu sama lain, **** Erina sudah kembali tertidur, Diana, Arvin dan Ryan pun meninggalkan Erina untuk beristirahat, "Erina, Dia sangat syok! Entah apa yang sudah terjadi," Arvin angkat suara Ryan mengusap wajahnya kasar, "Aku akan melihat CCTV hari ini," Arvin yang tiba tiba teringat dengan CCTV di rumahnya pun, langsung bergegas mengambil laptopnya dan membuka rekaman CCTV, Namun, dalam rekaman itu hanya menunjukkan sosok bertopeng yang melihat ke arah CCTV dan menutupi CCTV tersebut menggunakan sehelai kain, "Argh Sial!!" Umpat Arvin, "Kita tidak bisa mengetahui apa yang terjadi," Arvin pun mengusap wajahnya kasar, Tiba tiba.. Terdengar suara dari arah belakang rumah, 'Dugh Dugh' "Suara apa itu?" Ryan melebarkan telinganya mencoba mendengar lebih jelas, Arvin dan Diana pun ikut mendengar nya, Ryan pun berlari menuju asal suara, Suara itu pun semakin jelas ia dengan saat ia berada di depan gudang rumah milik Arvin, Arvin pun segera membuka gudang itu, Mata mereka bertiga pun membulat ketika mendapati asisten rumah tangga Arvin dan kedua bodyguard nya terkunci di dalam gudang dengan tangan dan kaki terikat, dan mulut yang ditutupi lakban, Mereka pun bergegas membuka ikatan ketiganya, "Kalian tidak apa apa?" Tanya Arvin Mereka bertiga pun menggelengkan kepalanya bersamaan, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ryan, Mereka bertiga pun saling menatap satu sama lain, hingga salah satu bodyguard pun angkat bicara, "Saat itu, Kami berdua sedang berjaga di depan gerbang, hingga seorang kurir datang mengantarkan makanan untuk kami, dia bilang itu adalah makanan yang dikirim Tuan Arvin untuk kami, Setelah kami memakannya, Kami tidak sadarkan diri.." "Setelah itu, ada seorang pria berpakaian rapi, Dia mengatakan jika Tuan Arvin menyuruhnya untuk mengambil beberapa berkas milik pasien, Tapi ketika saya mencari berkas itu, tiba tiba saya merasa ada sebuah suntikan yang menembus kulit saya dan setelah itu saya tidak ingat lagi…" Terang asisten rumah tangga Arvin. Ryan dan Arvin pun saling menatap, "Siapa sebenarnya yang melakukan semua itu?" Gumam Diana, "Satu satunya yang tahu siapa pelakunya hanyalah Erina," Ucap Arvin. **** Di lain sisi, Kevin menatap kedua adiknya yang baru saja tiba di rumah, "Kalian dari mana?" Tanya Kevin Theo dan lisa pun tersenyum, Kevin melihat kantong kecil yang berada di pangkuan Lisa, Lisa yang menyadari itu pun menyodorkan kantong kecil tersebut pada Kevin, "Ini! Aku tadi pergi berjalan jalan bersama kak Theo, dan pulangnya kami membeli makanan kesukaanmu," Kevin tersenyum menatap Lisa, Ia mengelus lembut kepalanya, "Terima kasih," Kevin pun mengajak mereka berdua untuk makan bersama, Sedangkan Theo dan Lisa saling bertatapan dengan sebuah senyuman di sudut bibir mereka, **** Billy tengah berbaring diatas tempat tidurnya menatap langit langit kamarnya, Ia melamun dan memikirkan bagaimana Erina meminta cerai darinya, Ia kemudian memejamkan matanya, penyesalan itu terus menghantui pikirannya, "Tidak! Aku tidak boleh terus menghindari seperti ini! Aku harus meyakinkan Erina, kalau aku benar benar sangat mencintainya! Aku tidak boleh menyerah begitu saja!" Billy pun terbangun dan bergegas melangkah pergi menuju ke rumah Arvin, Setelah hampir satu jam perjalanan, Billy pun tiba di kediaman Arvin, Ia merasa aneh karena melihat mobil Ryan yang terparkir di halaman rumah Arvin, Karena penasaran, Billy pun melanjutkan langkahnya menuju muka pintu, 'Ting Tong' Pintu pun terbuka dan menampakkan Arvin di hadapannya, "Kau? Masuklah!" Billy pun melangkah masuk mengikuti langkah Arvin, Setibanya di ruang tamu, Ia mendapati Ryan dan sang ibu Diana yang tengah duduk di ruang tamu, "Ibu?" Billy mengerutkan dahinya karena merasa heran dengan keberadaan sang ibu,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN