Billy menghampiri sang ibu, dan duduk disampingnya,
"Apa yang sedang ibu lakukan disini?" Tanya Billy
Tanpa menjawab pertanyaan Billy, Diana menghela nafas panjang,
"Kau dari mana saja? Ibu sudah menghubungimu berkali kali, tapi ponselmu tidak aktif,"
"M-maaf, A-aku hanya butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku,"
"Dan apakah sekarang pikiranmu sudah jernih?" Tanya Ryan kesal,
Billy yang merasa aneh dengan reaksi Ryan pun kembali bertanya pada sang ibu,
"Apa terjadi sesuatu, saat aku pergi?"
"Seseorang telah menculik Erina, dan membuat Erina Trauma," Terang Arvin,
"Apa?" Billy langsung berdiri dari duduknya saat ia mendengar ucapan Arvin,
"Siapa yang menculiknya?"
"Tidak ada yang tahu siapa yang menculik Erina, termasuk bodyguard yang menjaganya," Jelas Ryan,
"Bagaimana dengan CCTV?"
Arvin menggelengkan kepalanya,
"Pelakunya merusak CCTV yang aku pasang, dia juga menggunakan topeng, jadi tidak ada yang bisa mengenalinya," Lanjut Arvin.
Billy terlihat syok mendengarnya,
"Dimana Erina?"
"Di kamarnya,"
Billy kemudian berlari menuju ke kamar Erina dan langsung masuk ke dalam kamarnya,
Ia mendapati Erina yang tengah tertidur,
"Lebih baik, jangan mengganggu nya, Biarkan dia istirahat,"
Ryan merangkul bahu Billy, namun Billy melepas nya,
"Biarkan aku disini menjaga nya," Pinta Billy,
Arvin pun mengangguk pelan, Ryan dan Arvin pun melangkah pergi meninggalkan Billy bersama Erina,
Billy mendekat ke arah Erina yang tengah tertidur pulas, matanya berkaca kaca saat melihat wajah Erina, Ia pun menyadari ada bekas tamparan keras di pipi Erina yang memerah,
Billy pun mengelus pipi Erina,
"Maaf, Sekali lagi aku gagal menjagamu" Ucap pelan Billy,
Billy kemudian berbaring disamping Erina dan memeluknya,
****
"Dimana aku?"
Erina terkejut saat ia tiba tiba terbangun di sebuah tempat yang mengerikan,
Mata Erina membola ketika ia menyadari berada di sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi,
"B-bukankah tempat ini?"
Erina mendapati dirinya yang tengah duduk terikat diatas kursi dengan mulut yang ditutup oleh lakban, Ia mencoba untuk membuka ikatan itu, tapi tangannya tidak bisa menyentuh apapun, Erina semakin panik saat Tiba tiba seseorang datang dengan membawa sebilah pisau, dengan senyuman di ujung bibirnya, Ia melangkah masuk menghampiri Erina yang terikat, namun tidak bisa melihat Erina yang tengah berdiri di sampingnya, Kemudian Ia menendang kursi yang Erina duduki hingga terjatuh,
"Kasian sekali nasibmu, seharusnya kau tidak perlu mengalami semua ini jika saja kau dulu menolak untuk diangkat menjadi anak di keluarga Withell," Ujarnya,
Mata Erina memerah, Ia menahan sakit sekaligus marah atas perbuatan pria di hadapannya,
Pria itu pun menggoreskan pisau nya ke kulit tangan Erina yang menyebabkan Erina menjerit kesakitan,
Namun jeritannya tak terdengar karena mulutnya yang ditutupi oleh lakban, hanya air mata yang terus keluar dan membasahi pipinya,
"Tidak! Jangan lakukan itu!! Tidak, Tidaaaaaaakkk!!"
****
Billy yang terkejut mendengar teriakan Erina mencoba untuk membangunkan Erina dengan menepuk nepuk pipinya,
"Erina, Sayang! Bangunlah! Bangunlah!"
Erina pun mengerjap, Ia terbangun dan melihat Billy yang ada di hadapannya, Ia kembali berteriak histeris,
"Pergi!!" Teriak Erina,
Berkali kali Erina meneriakkannya pada Billy, tapi Billy terus mencoba untuk menenangkannya, Hingga Arvin, Ryan dan Diana pun datang karena mendengar teriakan Erina,
"Ada apa? Apa Erina histeris lagi?" Tanya Ryan,
Mereka melihat Erina menangis kencang dan meminta Billy untuk pergi,
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia terus berteriak seperti itu," Terang Billy
Diana pun meminta Billy untuk menjauh dari Erina, dan Billy pun menuruti perkataan sang ibu, Diana menghampiri Erina dan menariknya ke dalam pelukannya, Ia mencoba untuk menenangkan Erina,
Billy menatap ke arah Arvin dan Ryan bergantian,
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Billy penasaran,
"Aku tidak tahu, Tapi sepertinya Trauma masa lalu nya semakin parah setelah penculikan itu,"
Mereka bertiga menatap sendu Erina yang mulai tenang dalam pelukan Diana,
****
Di lain Sisi,
Theo tengah menyiapkan sarapan pagi untuk kevin dan Lisa, Ia terlihat lebih lembut dan perhatian dibanding sebelumnya,
"Sarapan sudah siap!" Teriaknya,
"Iya!" Jawab Kevin dan Lisa,
Kevin yang tengah berada di kamar Lisa, Ia menggendong Lisa dan membantunya untuk duduk di kursi roda,
"Ayo!" Ajak Kevin
Lisa pun mengangguk seraya tersenyum ke arah Kevin,
Kevin pun mendorong pelan kursi roda tersebut,
"Waaa, baunya harum sekali! Aku tidak tau kakak pintar memasak!"
Theo pun tersenyum manis dan mencubit gemas hidung lisa,
"Ayo makan! Aku akan mengambilkannya untukmu,"
Mereka pun mulai menikmati sarapan pagi dengan canda tawa dan obrolan ringan,
"Oh ya, Hari ini rencananya aku mau masuk kerja!" Ucap Lisa
Kevin dan Theo pun saling menatap satu sama lain,
"Emm, Lebih baik tidak usah, Kau belum benar benar sembuh," Jawab Kevin
"Tapi, seseorang harus bekerja bukan?"
Mereka pun terdiam,
Theo kemudian menarik nafas panjang,
"Baiklah, Biar aku saja yang bekerja!" Ia menawarkan dirinya, meski belum mengetahui apa yang harus ia lakukan,
Kevin pun mengerutkan dahinya,
"Apa kau yakin? Bukankah selama ini aku yang bekerja?" Sanggah Kevin
"Sstt, Kak! Kau jangan membuatku malu di depan adikku!"
Mereka pun tertawa melihat raut wajah Theo,
'Semoga, kita akan terus bersama dan bahagia seperti ini,' Batin Theo
Selesai sarapan pagi, Theo pun berusaha mengubah penampilannya agar tidak dikenali oleh orang lain, ia menggunakan alis mata dan kumis tipis palsu buatannya, Ia kemudian keluar rumah dan mencari pekerjaan,
Penolakan demi penolakan ia terima, namun itu tidak menyurutkannya untuk terus berusaha, Adik perempuannya lah semangatnya, Ia hanya ingin membahagiakannya semampu yang ia bisa, dan menebus semua kesalahannya dengan kebahagiaan,
Rupanya Dewi fortuna tidak meninggalkan Theo, Ia akhirnya mendapatkan sebuah pekerjaan, ia bekerja sebagai pengantar koran pagi ke komplek perumahan,
Theo sangat senang, karena ini kali pertama ia mendapatkan sebuah pekerjaan yang baik,
Theo langsung pulang ke rumah menemui sang adik,
"Erina!" Teriaknya
"Iya kak!" Jawab Lisa yang tengah berada di ruang tengah,
Theo berlari ke ruang tengah, Ia langsung berjongkok di hadapannya,
"Ada apa? Kenapa kakak berlari seperti itu?" Tanya Lisa,
Theo tersenyum lebar,
"Aku sudah mendapatkan pekerjaan,"
"Benarkah?"
Theo pun mengangguk cepat,
Lisa memeluk erat Theo,
"Selamat ya kak! Aku tau kau pasti bisa!"
"Terima kasih adikku!"
Kevin melihat mereka berdua di muka pintu dapur sambil membawa secangkir teh hangat, Ia tersenyum melihat pemandangan itu, Kemudian melihat ke atas,
'Ayah, Ibu.. Seandainya kalian ada disini, Kalian pasti ikut merasakan kebahagiaan ini,' Batin Kevin
Sejak saat itu, Theo bekerja dengan giat, ia mengumpulkan lembar demi lembar uang untuk memenuhi keperluan Adiknya tercinta,
Kevin pun ikut membantu, Ia bekerja sebagai seorang badut yang memberikan selebaran pada orang orang yang lewat di depan toko,
Meski penghasilan mereka tak seberapa, Namun mereka bahagia melihat sang adik yang selalu menyambut mereka dengan senyuman saat pulang,
****
Di lain sisi,
Psikis Erina semakin memburuk setelah kejadian penculikan itu, ia mengurung diri di kamarnya, bahkan tidak ingin berbicara dengan siapapun,
Bahkan Arvin dan Ryan yang mencoba untuk mendekatinya pun diusir oleh Erina,
Terutama terhadap Billy, Jika Billy mendekat ke arahnya, Erina akan langsung berteriak histeris dan mengusir nya dari sana,
Hanya Diana satu satunya orang yang berhasil mendekati Erina,
Arvin, Ryan dan Billy tengah berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan perihal kondisi yang Erina alami,
"Bagaimana ini? Beberapa hari setelah penculikan itu, kondisi Erina semakin memburuk," Billy angkat suara,
Ryan pun menarik nafas panjang,
"Sebenarnya apa yang terjadi? Sehingga Erina bersikap seperti itu?" Tambah Ryan,
Arvin kemudian berdiri dari duduknya, dan menatap Billy juga Ryan bergantian,
"Aku, Akan mencoba untuk kembali menemui Erina,"
Arvin pun melangkahkan kakinya menuju kamar Erina,
Arvin membuka perlahan pintu kamar Erina, Ia bahkan tidak bisa melihat dimana Erina, karena kamarnya yang gelap, Kemudian ia menyalakan lampu kamar, Erina terlihat duduk di salah satu sudut ruangan, dengan matanya yang basah dan tubuh yang bergemetaran,
Ia melihat sosok Arvin yang melangkah mendekat ke arahnya,
"Pergi!" Teriak Erina,
"Tenanglah!"
Arvin tetap melanjutkan langkahnya, Ia pun berjongkok di hadapan Erina,
Ia menatap lekat Erina,
"Erina, Apa kau tau? Aku dan yang lainnya sangat menyayangimu, Jika kau seperti ini, bukan hanya dirimu yang terluka, tapi kami juga,"
Erina terdiam,
"Aku mohon, jangan seperti ini! Katakanlah semua yang kau rasakan, Kami ada disini bersamamu,"
Arvin perlahan mengulurkan tangannya, dan mengusap lembut kepala Erina,
Erina pun kembali menangis keras,
Arvin pun menarik lembut Erina ke dalam pelukannya,
Sementara itu,
Ryan dan Billy yang melihat kejadian tersebut hanya menahan air mata yang ingin menerobos keluar, mereka tidak tega melihat orang yang mereka sayangi menderita seperti itu,
Dua minggu setelah kejadian itu, Erina berangsur membaik, meski terkadang setiap malam ia masih sering gelisah dan kesulitan untuk tidur,
"Nak, Sekarang mandi dulu ya, kita akan pergi berjalan jalan," Bujuk Diana pada Erina,
Erina hanya mengangguk dengan raut wajah datar nya,
Selesai membersihkan dirinya, Diana membantu Erina mengenakan pakaiannya, Ia juga yang menyisir rambut Erina,
"Kau sangat cantik hari ini," Puji Diana seraya tersenyum pada Erina,
Erina tersenyum tipis mendengarnya,
Setelah itu, Diana pun membawa Erina ke ruang tengah,
Disana, Ryan sudah menunggu nya bersama dengan Arvin dan Billy,
Pandangan mereka tak berkedip saat menatap Erina yang untuk pertama kalinya kembali berdandan,
"Wow, Cantik sekali calon pacar?" Celetuk Ryan,
"Dia benar benar Calon istriku!" Celetuk Arvin,
Billy mengalihkan pandangannya ke arah mereka saat mendengar Celotehan mereka,
Dengan tatapan tajam, Billy pun berdehem
"Ehem, Wanita cantik di hadapan kalian itu adalah milikku, dia adalah istriku,"
"Bukankah kalian akan berpisah?" Ucap Ryan tanpa menatap Billy,
Billy merasa kesal dengan ucapan Ryan,
"Apa maksudmu?" Bentak Billy,
Ryan yang baru menyadari apa yang ia katakan pun langsung mencari alasan,
"Emm, M-maksudku.. Kalian tidak akan terpisah kan, Iya.. Itu maksudku,"
Arvin mengerutkan dahinya,
"Tapi, Aku tadi mendengar dengan jelas.. Kau mengatakan…"
Ucapan Arvin terpotong, Karena Ryan yang tiba tiba menutup mulutnya dengan tangannya,
Ryan pun merasa salah tingkah,
Beruntung, Ucapan Diana mengalihkan perhatian mereka,
"Erina duduklah disini,"
Erina duduk disamping diana, sehingga mengundang protes ketiga nya,
"Kenapa Erina duduk terpisah dari kami?" Tanya Arvin,
Diana menatap tajam ke arah mereka,
"Aku hanya tidak ingin, salah satu diantara kalian jadi bertingkah seperti anak kecil karena Erina yang duduk di samping salah satu dari kalian,"
Mereka pun terdiam, Karena apa yang diucapkan Diana benar adanya,
Ryan pun mengambilkan makanan untuk Erina,
"Makanlah yang banyak, karena hari ini kita akan pergi berjalan jalan!"
Billy yang tidak mau kalah, kemudian mengambil beberapa jenis minuman untuk Erina,
"Ini minum lah, Kau harus banyak meminum minuman sehat agar kau cepat pulih,"
Diana menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak kanakan mereka,
Diana pun menyuapi Erina dengan telaten,
"Bu?"
Kata pertama keluar dari mulut Erina setelah dua minggu ia diam membisu dengan mata sayu, dan membuat semua orang terhenti menyuapkan makanannya,
"Ada apa?" Tanya Diana,
Erina menatap ke arah sang ibu,
"Aku ingin menemui ibu,"
Diana yang awalnya mengerutkan kening nya karena merasa heran pun, Ia pun mulai mengerti yang dimaksudkan oleh Erina,
"Apa kau ingin bertemu Lilian?" Tanya Diana,
Erina kemudian mengangguk pelan,
Diana menatap ke arah Billy, Arvin dan Ryan.
Mereka bertiga pun mengangguk setuju,
Diana menarik nafas panjang, dan kemudian mengangguk setuju,
Rencana untuk membawa Erina berjalan jalan pun ditunda,
Billy memilih untuk menunggu di rumah, karena ia tidak ingin bertemu dengan lisa,
Erina diantar oleh Diana dan Ryan, Karena Arvin yang harus berangkat ke rumah sakit,
Sepanjang perjalanan, Erina hanya diam tidak mengatakan apapun, Ryan yang merasa khawatir pun mencoba untuk mengajaknya mengobrol,
"Emm, Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ryan menatap Erina sekilas,
Erina menundukkan pandangannya,
Ia terlihat menahan tangis,
"Emm, Jika kau tidak mau menjawabnya, tidak apa apa!"
Erina menatap ke arah Ryan,
"Aku sudah merasa lebih baik,kak" Jawab Erina,
"Baiklah," Ryan mengembangkan senyuman mendengar jawaban dari Erina,
****
Setibanya di kediaman Lilian, Ryan dan Diana pun menatap lekat Erina,
"Apa kau yakin? Akan menemui Lilian?" Tanya Diana,
Erina mengangguk yakin,
Diana menghela nafas kasar,
"Baiklah, kalau begitu.. Apapun yang terjadi, Ibu dan kakakmu akan ada bersamamu,"
Erina mengangguk paham, Ia kemudian melangkah lebih dahulu, diikuti oleh Ryan dan Diana,
'Ting Tong'
Erina menekan bel rumah, tak lama kemudian, pintu terbuka, menampakkan seorang pelayan dengan seragam hitam putih nya,
"Maaf, Anda ingin bertemu dengan siapa?"
"Emm, Apa Ibu Lilian ada?"
Namun belum sempat si pelayan menjawab pertanyaan Erina, Tiba tiba terdengar suara dari dalam rumah,
"Siapa bi?" Teriaknya,
Si pemilik rumah menghampiri mereka,
"Erina?" Ia terkejut dengan kedatangan Erina dan keluarganya,
"A-apa? Yang kalian lakukan disini?" Tanya Lilian gugup,
Erina pun mendekat ke arah Lilian,
"Bu, Aku ingin sekali merasakan pelukanmu sekali saja, Aku merindukanmu bu!" Terang Erina,
Namun, Ketika Erina hendak memeluk Lilian, Lilian menghempaskan kedua tangan Erina,
"Aku tidak akan pernah melakukan keinginan mu, jika kau belum melakukan keinginan ku!"
Erina tergugu,
Lilian pun membanting pintu nya,
Seketika mereka pun mengerjap karena terkejut,
Diana menghampiri Erina dan merangkul bahunya,
"Kau tidak apa apa?"
Erina tersenyum tipis dan mengangguk,
"Ayo, Kita pulang?" Ajak Diana
Erina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil bersama dengan Diana dan Ryan,
Selama perjalanan, Ryan dan Diana tidak berani menanyakan apapun tentang Erina dan Lilian,
Erina hanya terdiam sambil menatap keluar jendela, hingga getaran dari ponselnya membuatnya tersadar dan meraih ponsel miliknya dari dalam tas,
Ia melihat sebuah pesan masuk di ponselnya,
"Ibu?" Gumamnya,
Erina kemudian membuka pesan dari Lilian tersebut,
'Aku ingin bicara empat mata denganmu, datanglah sendiri.'
Erina kemudian membalas pesan tersebut,
'Baiklah,'
Di tengah perjalanan pulang,
"Emm, Bu.. Kak?"
"Iya?"
"Bolehkah aku turun disini saja?" Pinta Erina,
Diana mengerutkan dahinya,
"Kenapa? Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"Emm, Iya.. Aku ingin menemui temanku,"
Ryan menatap heran ke arah Erina,
"Teman?"
Erina mengangguk,
"Iya, Teman yang ada di panti dulu,"
Ryan mengangguk angguk,
"Ya sudah, Biar aku mengantarmu!"
"Oh, Tidak perlu kak! Aku bisa pergi sendiri,"
Ryan mengangguk pelan,
"Ya sudah, jika itu mau mu! Jaga dirimu baik baik! Aku akan berhenti di depan,"
"Hmm,"
Ryan pun merapatkan mobilnya, dan berhenti tepat di persimpangan jalan.
Erina pun melangkah keluar, kemudian sedikit membungkukkan badannya menatap sang ibu,
"Ibu, tidak perlu menunggu ku, Aku akan segera pulang ke rumah,"
Diana pun mengangguk,
Ryan pun kembali menjalankan mobilnya, sedangkan Erina melanjutkan langkahnya,
"Apa kau yakin, kita meninggalkan Erina seperti ini?" Tanya Diana yang menatap ke arah luar jendela belakang mobil,
Ryan yang menatap Erina lewat spion mobil pun menjawab
"Ibu tidak perlu khawatir, kita akan mengikutinya lewat jalan lain,"
Diana bernafas lega saat mendengar ucapan Ryan,
Erina berjalan menuju sebuah tempat makan, disana Lilian sudah menunggu kedatangan nya, terlihat bibir Erina yang mengukir senyuman saat menghampiri Lilian,
"Bu, Aku datang!"
Lilian hanya menatapnya datar,
Erina pun duduk berhadapan dengan Lilian,
"Aku senang sekali, saat ibu mengirimkan pesan dan mengatakan ingin bertemu denganku,"
"Kau jangan senang dulu!"
Seketika raut wajahnya pun berubah ketika Lilian mengatakan itu,
"Apa kau sudah membuat keputusan?" Tanya Lilian,
Erina terdiam untuk sesaat, sekilas ia mengingat kata kata yang pernah diucapkan oleh Ryan,
'Aku akan memilih keluargaku daripada pasangan ku, karena keluarga adalah rumah bagiku, tempatku untuk pulang, tidak ada yang namanya bekas keluarga, berbeda dengan pasangan yang apabila hubungan berakhir, akan menjadi mantan,'
"Bagaimana?" Tanya Lilian yang membuat Erina mengerjap terkejut,
"Emm, B-baiklah.. Aku akan mengikuti permintaan ibu untuk berpisah dari Billy, Tapi.. aku ingin meminta satu hal padamu,"
Lilian pun menatap lekat ke arah Erina,
"Apa itu?" Tanya Lilian,
Erina menarik nafas panjang,
"Biarkan aku menghabiskan waktu selama tiga hari terakhir bersama Billy, sebelum aku meninggalkannya,"
Lilian berpikir sejenak,
"Emm, Baiklah.. Aku akan memberikanmu waktu tiga hari untuk menyelesaikan masalahmu,"
Erina mengangguk paham,
****
Tak lama Erina tiba di rumah, Ia sedikit melamun dengan pikiran kosong, Hingga tidak mendengar panggilan Billy,
Billy menatap heran Erina yang melangkah melewatinya begitu saja,
"Ada apa dengan nya?" Gumam Billy,
Karena merasa penasaran,
Billy pun mengikuti langkah Erina menuju ke kamarnya,
Billy mendapati Erina yang tengah duduk diatas tempat tidurnya sambil melamun, Billy pun mendekati Erina,
Ia duduk di birai kabur,
"Apa ada masalah?"
Erina pun menatap ke arah Billy,
Entah apa yang merasuki Erina, Ia tiba tiba memeluk Billy erat,
"Eh, Ada apa?" Ucap Billy,
Erina melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Billy,
"Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu,"
Billy pun tersenyum,
"Benarkah?"
Erina mengangguk,
Billy sangat senang mendengar ucapan Erina,
Billy terlihat melompat lompat seperti seekor kelinci lucu,
****
Dilain Sisi,
Diana dan Ryan sangat kesal setelah mengetahui yang sebenarnya,
"Ini tidak bisa dibiarkan??!" Jelas Diana,