Satu fakta

2095 Kata
Diana merangsek masuk ke kamar Erina, Saat pintu terbuka ia mendapati Billy yang terlihat sangat bahagia bersama Erina, Sudah hampir satu bulan, Ia tidak melihat senyuman terukir di wajah sang putra, Diana pun kembali menutup pintu kamarnya, Ia tertegun di depan pintu.. "Ada apa bu?" Tanya Ryan menghampirinya, Diana menatap ke arah Ryan, "Tidak apa apa!" Diana kemudian melangkah pergi melewati Ryan begitu saja, **** Arvin baru tiba di rumahnya pada malam hari, Namun ia tidak mendapati siapapun di rumahnya, Ia merasa heran karena mereka sepakat untuk tinggal di rumahnya sementara Arvin pergi, "Kemana semua orang? Apa mereka sudah pulang ke rumahnya masing masing?" Gumamnya, Arvin kembali melihat sekitar, "Bi!" Teriaknya Asisten rumah tangganya pun menghampiri, "Iya Tuan," "Dimana semua orang?" "Nona Erina ikut bersama Nyonya Diana dan Tuan Billy," Arvin mengerutkan dahinya, "Kenapa mereka tidak memberitahuku?" "Mereka mengatakan jika sudah mencoba menghubungi Tuan berkali kali tetapi ponsel Tuan tidak aktif," "Ah iya, Aku lupa jika ponselnya belum di charge, Ya sudah nanti aku akan menghubungi mereka," Asisten rumah tangganya pun berpamitan untuk kembali bekerja, Sedangkan Arvin melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya, **** Arvin tengah berbaring di atas tempat tidur dan memainkan ponselnya, Ia melihat galeri foto di ponselnya, Banyak sekali poto Erina yang ia Ambil diam diam, dan juga poto poto lama saat mereka masih bersekolah di bangku SMA, Arvin tersenyum senyum menatap poto poto itu, Ia kemudian berhenti di salah satu foto, dan mengelus poto tersebut dengan ibu jarinya, "Seandainya, Ada kehidupan lain setelah ini, Aku akan minta pada Tuhan, untuk menjadikanmu milikku selamanya," Pandangannya pun berubah sendu, Ketika mengingat bagaimana pertama kali ia mengetahui jika gadis yang ia cintai telah bersuami, "A-apa? Dia Suamimu?" Arvin sangat syok kala itu, Ia memutuskan untuk mengalah dan menempuh pendidikan di luar negeri, untuk melupakan Erina, Namun saat ia kembali, Takdir seakan mempermainkannya, Ia kembali dipertemukan dengan Erina, Dengan cara yang di luar dugaannya, Ia mendapati Erina yang hampir kehilangan nyawanya, dengan luka yang sangat parah, hingga penculikan yang kembali menimpa nya dan membuat mental Erina semakin memburuk, Air mata Arvin pun menetes, Ia menghapus nya kasar, "Apa ini, Cara Tuhan menunjukkan padaku, agar Aku lah yang menjagamu?" **** Erina memutuskan untuk tinggal bersama Billy selama tiga hari, dan Billy pun menyetujui nya, Ia sangat senang dengan keputusan Erina untuk tinggal bersamanya meski sementara, Erina tengah melamun di balkon kamarnya, Hingga sepasang tangan kekar tiba tiba melingkar di pinggangnya, dan meletakkan dagunya di atas bahu Erina, "Aku sangat bahagia, Kau kembali kesini," Erina pun hanya tersenyum tipis, Ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Billy, "Aku sudah mengantuk, Bolehkah aku pergi tidur?" Billy pun mengangguk, Kemudian Erina membaringkan dirinya diatas tempat tidur, Keesokan harinya, Erina menyiapkan sarapan pagi untuk Billy dan juga Diana, semuanya seperti dulu lagi saat Erina masih tinggal disana, "Nona, Aku sangat senang kau bisa kembali ke rumah ini lagi!" Ucap Asisten rumah tangganya, "Terima kasih bi, Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi," Asisten rumah tangganya pun berpamitan untuk pergi ke pasar, Saat sedang sibuk menyiapkan sarapan, Diana datang menghampiri, "Erina?" Panggil nya, Erina mengalihkan pandangannya ke arah suara, "Iya bu?" Diana menghela nafas kasar, "Ibu tau, Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan," Erina mengerutkan dahinya, "Maksud ibu?" Diana melangkah lebih dekat ke arah Erina, "Jangan Turuti keinginan Lilian, Nak! Ibu mohon!"  Erina mengalihkan pandangannya, Diana pun menggenggam tangan Erina, "Kau tau kan, yang akan terluka bukan hanya Billy saja tapi juga ibu," Erina menatap lekat Diana, "Lalu, Aku harus bagaimana? Selama hidupku aku belum pernah bertemu dengan orang tuaku, dan di saat aku membutuhkan pelukan ibu, Aku pikir itu akan membuatku merasa lebih baik, Aku juga ingin di sayangi oleh Ibu ku sendiri, Aku akan mengorbankan apapun demi ibu," "Termasuk mengorbankan Ibu mertua mu ini?" Selanya Mata Erina mulai meneteskan buliran bening itu, "Bu, Aku mohon mengertilah! Billy juga tidak benar benar mencintaiku, Ia bahkan b******u dengan Lisa di depan mata ku, Apalagi yang bisa aku pertahankan?" "Percaya lah! Billy sangat mencintaimu! Ia tidak pernah berbohong, tentang itu," Erina menggelengkan kepalanya, "Maaf bu, Terlalu sulit untukku mempercayai itu," Erina melepas genggaman tangan Diana dan melangkah pergi melewati nya, Diana pun terpaku dan meneteskan air matanya, **** Erina terduduk di halaman belakang rumah, Ia merasa bersalah sudah berperilaku sekasar itu pada Diana yang sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri, Air mata pun mengalir membasahi pipinya, 'Maafkan aku bu,' Batin Erina **** Billy berjalan menuju ruang makan, namun ia tidak menemukan siapapun, selain hanya makanan yang sudah tersaji di meja makan, "Kemana Erina?" Gumamnya, Billy pun menghubungi Erina, In Call "Sayang, Kau dimana?" Tanpa ada jawaban tiba tiba 'Grepp' Erina memeluk Billy dari belakang, "Hey, Kau membuatku terkejut!" Billy mematikan ponselnya, dan membalikkan tubuhnya, "Kau darimana?" Tanpa melepaskan pelukannya, Erina pun tersenyum manja, "Aku pergi ke halaman belakang rumah, untuk menyirami tanaman disana," Billy pun mengangguk, "Ayo, Kita makan!" Ajak Erina "Ayo," Erina pun duduk disamping Billy, Sedangkan Billy memperhatikan sekitar, namun ia tidak mendapati sosok yang setiap pagi ada bersamanya, "Dimana ibu?" Tanya Billy, "Ibu disini," Jawab Diana sambil melangkah menghampiri mereka, "Bu, Ayo kita makan!" Diana pun tersenyum, mereka pun sarapan bersama seolah tidak terjadi apa apa, Selesai sarapan, Billy berpamitan pada ibunya untuk pergi bersama Erina, Billy membawa Erina ke tempat favorit mereka dulu,  Setibanya di tempat itu, Erina menarik nafas nya dalam, "Tempat ini, tidak pernah berubah selalu terlihat mengagumkan!"  Erina tersenyum menatap hamparan laut biru di hadapannya, Tiba tiba ide jahilnya pun muncul, Ia melemparkan pasir ke baju Billy, Billy terkejut dan menatap tajam Erina, Erina pun tertawa melihat reaksi Billy, Ia kemudian berlari untuk menghindari pembalasan dari Billy, Billy mengejarnya dengan sekuat tenaga, hingga ia berhasil mendahului Erina, Billy kemudian menggendong Erina sambil tertawa, Erina pun berusaha memberontak, "Hey! Lepaskan aku!" Teriak Erina, Namun Billy tidak mendengarkan Ucapan Erina, Ia terus melangkah membawa Erina ke dalam penginapan, Billy pun melemparkan Erina ke atas kasur, "Hey! Lepaskan aku, Aku minta maaf!" Ucap Erina yang memundurkan dirinya perlahan Billy menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, "Kau harus dihukum atas perbuatan mu barusan!" Billy pun perlahan melepas kancing bajunya yang memperlihatkan ABS nya, Ia kemudian melemparkan baju nya ke sembarang arah, dan menaiki tempat tidur mendekat ke arah Erina, "Tidak! Jangan! Aku tadi hanya bercanda!" Erina pun turun dari tempat tidur, Ia memundurkan langkahnya ketika Billy mencoba untuk mendekat, "Ayolah, Aku sudah lama menginginkan mu!" Erina pun mencoba untuk membuka pintu kamar, namun rupanya Billy telah mengunci nya, "Ayo, Kemari lah!" Ucap Billy, Tanpa sengaja Erina melihat kunci tergantung di saku celana Billy, Erina pun melakukan rencananya agar ia bisa lolos, Erina mendekat ke arah Billy, Ia kemudian menggoda Billy dengan mengelus lembut tubuh Billy, Erina menggiring Billy untuk berbaring di atas tempat tidur, Erina yang kini berada diatas Billy, Ia kembali mengelus lembut tubuh Billy, dan membuat Billy terbuai, hingga tanpa sadar, Kunci kamar itu telah Erina dapat kan, Erina pun berlari cepat, membuka pintu kamarnya dan pergi keluar, meninggalkan Billy yang melongo, Erina tertawa puas karena berhasil mengerjai Billy, "Erina!!!!" Teriak Billy, Erina yang mendengar teriakan Billy dari luar pun hanya tertawa puas, **** Billy berlari mengejar Erina, Ia merasa kesal karena Erina yang sudah mengerjainya, Tanpa menggunakan kembali baju atasannya, Billy berlari hanya menggunakan celana selutut saja, Sehingga Abs Billy pun terlihat jelas oleh orang orang sekitarnya, Bahkan beberapa orang gadis yang ia lewati pun terkesima melihatnya, Mereka berbisik bisik melihat keindahan tubuh milik Billy, Erina yang menyadari itu pun merasa kesal, Ia menghentikan langkah cepatnya, Sehingga Billy mampu menyusulnya, Billy menaruh kedua tangannya di pinggangnya, dengan nafas terengah engah ia berkata, "Akhirnya, kau berhenti juga!"  Namun, Billy menatap heran karena melihat raut wajah Erina yang kesal, "Ada apa?" Erina melipat kedua tangannya di dadanya, "Apa kau sengaja berpenampilan seperti itu?" Tanya sinis Erina, "Seperti itu, Apa maksudmu?" Tanya Billy, Billy pun melihat dirinya sendiri, Kemudian menyunggingkan senyuman, "Memangnya kenapa dengan penampilanku? Semua wanita menyukainya, kau lihat kan?" Ucap Billy sambil melihat ke arah salah satu gadis, Erina pun menghentakan kakinya dan kembali melangkah, "Duh, Aku sepertinya salah bicara! Padahal kan hanya bercanda!" Gumam Billy, Billy pun mengikuti langkah Erina, "Sayang, Maafkan aku! Aku sama sekali tidak menyadari jika aku tidak memakai baju," Erina tidak menggubrisnya, Billy pun menarik tangan Erina, "Erina, Aku mohon! Jangan seperti ini!" Bujuk Billy, Tiba tiba Erina membuka perlahan kancing bajunya dan membuat Billy membulatkan matanya, "Hey, Apa yang ingin kau lakukan?" Erina tersenyum nakal, Ia menggigit bibir bawahnya, "Aku juga ingin, Para pria melihat bagaimana indahnya tubuhku, mereka pasti menyukainya," Billy pun bergegas mengancingkan kembali baju Erina, "Tidak! Hanya aku yang boleh melihatnya!" Sarkasnya Erina menatap tajam ke arah Billy, "Lalu, Kenapa kau tidak menutup nya untukku?" Tanya Erina, Billy terdiam, Tanpa sengaja, Billy melihat sehelai daun di samping tempat ia berdiri, Billy pun memungut nya, Ia menempelkan daun tersebut di tubuhnya, "Aku sudah menutup nya, berjanji lah kau tidak akan melakukan hal itu lagi!" Erina terlihat menahan tawa melihat Billy yang menggunakan daun tersebut, "Ppfftt," "Hey, jangan meledek ku seperti itu!!" Billy memanyunkan bibirnya, Karena merasa gemas refleks Erina mencium bibir Billy sekilas, Billy dan Erina sendiri membulatkan matanya karena sama sama terkejut, Mereka pun terlihat salah tingkah, **** Di lain sisi, Lisa diam diam menemui Lilian yang berada di rumahnya, sementara Kevin dan Theo bekerja, "Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Lilian yang langsung memeluk sang puteri, "Aku baik bu, hanya saja.. Aku merasa bosan karena harus terikat dengan dua pria menyedihkan itu!"  Lilian pun tersenyum melihat sang puteri yang merasa kesal, "Ikuti saja, Ibu yakin suatu saat mereka akan bisa jauh lebih berguna untuk kita," Jelas sang ibu "Tapi, sampai kapan?" Tanya Lisa dengan tatapan sendu ia menatap ke arah sang ibu Lilian menarik nafas kasar, "Tidak lama lagi, setelah Erina resmi bercerai, Billy akan mutlak menjadi milikmu!" Lisa tersenyum bahagia mendengar ucapan sang ibu, **** Kevin pulang lebih awal hari ini, Ia pulang dengan membawa se kantung makanan untuk adik perempuannya, dengan senyum sumringah ia berjalan menuju ke rumah sewa milik mereka, Setibanya di rumah, Kevin merasa heran, karena tidak ada siapapun di dalam, "Kemana Erina?" Gumamnya, Kevin mencoba untuk mencari Erina ke sekitar Rumah, Namun tidak ia temukan.. Kevin pun mulai cemas, Kemudian Ia memutuskan untuk menunggu Erina di luar, Kevin juga terus mencoba menghubungi ponselnya, Namun tidak ada jawaban, Hingga ia melihat perempuan yang duduk diatas roda, tengah bersusah payah memutarkan roda nya menuju ke rumah, Ia bergegas menghampiri nya, "Kau Darimana?" Tanya Kevin, "Emm, Maaf, Tadi.. Aku mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai untukku, karena aku juga  ingin ikut bekerja seperti kalian," "Kenapa? Kau tidak perlu bekerja, biar aku dan Theo yang bekerja," Lisa pun terdiam dan menundukkan pandangannya, "Maaf, Kakak tidak bermaksud untuk berbuat kasar padamu, kakak hanya ingin kau tidak perlu bekerja, fokuslah pada kesehatanmu, Kakak ingin bisa melihatmu kembali berlari seperti dulu," Kevin pun berdiri dan mendorong pelan kursi roda Lisa ke dalam rumah, "Ini," Kevin menyodorkan kantung yang tadi ia bawa, Lisa meraihnya dan melihat ke dalam kantong tersebut, "Ini, Apa?" Kevin mengerutkan dahinya, "Ini donat krim lemon kesukaanmu," Lisa kemudian menyodorkan kembali kantung tersebut pada Kevin, Kevin menatap heran Lisa, "Kenapa?" Lisa menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau, Aku tidak menyukai donat dengan krim lemon seperti itu, rasanya itu aneh, Aku menyukai donat dengan krim strawberry yang ada potongan kecil strawberry di dalamnya," Terang Lisa 'Degh' Kevin mulai merasa aneh dengan adik perempuannya ini, Namun Kevin tidak terlalu ambil pusing, karena kesukaan seseorang bisa saja berubah pikirnya, Kevin pun membawa kembali kantung tersebut dan menyimpannya di meja kecil di samping tempat tidurnya, Kevin duduk di birai kasur dan memikirkan ucapan Adiknya barusan, "Aku tidak suka donat dengan krim lemon itu, karena rasanya aneh! Aku lebih suka donat dengan krim strawberry dan ada potongan strawberry nya," Lamunan Kevin pun buyar, ketika adik lelaki nya menghampirinya, "Kau, Kenapa?" Tanya Theo yang baru saja masuk dan mendapati Kevin yang tengah melamun, "Aku tidak apa apa," Ucap Kevin, Kevin memperhatikan Theo yang tengah berganti pakaian, "Theo?" Panggil Kevin, "Hmm?" Jawab Theo tanpa menatap ke arah Kevin, "Apa menurutmu, kesukaan itu bisa berubah?" Theo pun menatap lekat, "Kenapa kau menanyakan itu?" "Emm, Tidak apa apa, hanya ingin bertanya saja!" Jawab gugup Kevin, Theo mengangguk, "Menurutku, kesukaan itu bisa saja berubah," Jelas Theo, Kevin kembali terdiam, **** Malam hari pun tiba, Lisa, Kevin dan Billy tengah bersama di ruang televisi.. Kevin terus saja, memperhatikan Lisa diam diam, Theo yang menyadari itu pun hanya mengerutkan dahinya karena heran, Ketika Kevin pergi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan, tiba tiba Theo sudah berada di belakang Kevin dan membuat Kevin terkejut, "Kak, Aku perhatikan, Kau sepertinya terus melihat ke arah Erina?" " Emm, Tidak! Itu tidak benar," Kevin pun tersenyum tipis di hadapan Theo ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN