Tidak mengerti kamu

3052 Kata
Kevin memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi, mungkin Theo benar, kesukaan seseorang terhadap sesuatu, suatu hari bisa saja berubah, Ia kemudian menjalani semuanya seperti biasa lagi, **** Hari kedua Erina bersama Billy, Erina mengajak Billy untuk pergi bersepeda bersama pada pagi hari, terlihat tawa bahagia Billy, mereka bermain kejar kejaran dengan menggunakan sepeda tersebut, "Sayang! Jika kau tidak mengayuh sepedamu lebih cepat kau akan kalah!" Teriak Billy, Erina cukup jauh tertinggal dibelakang Billy, sehingga Billy memutuskan untuk menunggunya, "Ayo, Cepat!!" Teriak Billy, Erina mengayuh sepedanya lebih cepat, namun tiba tiba ada seekor kucing yang hendak melintas dan membuat Erina kehilangan keseimbangan dan.. "Brukk" Erina terjatuh dari sepedanya cukup keras, Billy pun panik dan berlari ke arah Erina, "Erina, Kau tidak apa apa?" Erina menggeleng pelan, Melihat luka baret di lutut dan tangannya, Billy pun menggendong Erina dan membawa Erina ke klinik terdekat, "Eh, Kenapa kita kesini?" "Kau itu terluka dan harus mendapatkan penanganan medis," Erina menghela nafas kasar, "Luka ku hanya luka kecil, jangan berlebihan seperti itu!" "Ah, bodo amat! Yang terpenting, kau mendapat penanganan terbaik!" Erina hanya menatap tajam dengan raut wajah kesal ke arah Billy, Selesai mendapat pengobatan, Erina dan Billy pun pulang ke rumah, Diana yang melihat Erina tengah dirangkul oleh Billy dan berjalan perlahan pun merasa heran, "Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Diana Belum sempat Billy dan Erina menjawab, Diana tiba tiba nyeletuk, "Apa Erina sedang mengandung sampai sampai kau memapahnya seperti itu?" Erina menggeleng cepat, namun tidak mampu berkata apa apa, Sedangkan Billy hanya terdiam menahan tawa melihat ekspresi Erina, "Wah, Ini berita yang sangat baik! Ibu akan menghubungi ayahmu, dan memberitahu nya jika dia dan Ibu akan segera menjadi kakek dan nenek!" Diana begitu antusias, Ia kemudian melangkah cepat menuju ke kamarnya, Erina hanya menarik nafas panjang, "Bagaimana ini?" Tanya nya, Saat Erina menatap ke arah Billy, Ia melihat raut wajah Billy yang terlihat aneh, "Kau Kenapa?" Tanya Erina, Billy pun tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya, Erina menggeleng cepat, "Tidak! Jangan berpikiran m***m!" Erina yang ketakutan pun berlari menjauh dari Billy dan masuk ke kamarnya, Billy pun mengikutinya, Ketika hendak menutup pintu kamarnya, Billy menghalanginya dengan tubuhnya yang sudah sedikit masuk, Erina mendorongnya kuat, "Pergi!!" Teriak Erina, "Sayang, Hentikan! Ini sakit! Biarkan aku masuk!" Pinta Billy, Namun, karena tenaga Erina yang kalah dari Billy, Erina pun terdorong jatuh ke lantai, Billy pun masuk dan menutup pintu kamar, Ia melepas baju kaos yang ia kenakan, dan melemparkannya ke sembarang arah, Erina melangkah mundur, "Dengar! Ini hanya kesalahpahaman! Jadi, kita hanya perlu menjelaskan nya pada ibu," Billy pun tersenyum, "Aku tau, tapi tidak ada salahnya kan jika kita mewujudkan keinginan ibu? Lagi pula, kita sudah lama menikah, dan aku sama sekali belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya tubuhmu," "Aku sudah menunggu sangat lama, Apa alasanmu terus menolakku? Aku adalah Suamimu, dan aku memiliki hak untuk itu," Imbuh Billy, Erina pun mematung, Apa yang dikatakan Billy memang benar, selama hampir lima tahun menjadi istrinya, Erina sama sekali belum memenuhi tugasnya dengan baik, Billy selalu sabar menunggu nya, Tanpa Erina sadari, Billy kini berada di hadapannya, Erina mengerjap karena terkejut, Billy pun mengelus lembut wajah Erina, dengan tatapan yang dalam dan tulus, "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!"  Billy pun memiringkan kepalanya, matanya tertuju pada bibir merah muda milik Erina, Erina pun memejamkan matanya, hingga terasa sesuatu menyentuh bibirnya, Satu ciuman lembut Erina rasakan, perlahan Billy memperdalam ciumannya, semakin lama ciuman itu semakin memanas, dan membuat Erina kesulitan untuk bernafas, Erina mencoba untuk mendorong Billy, namun Billy malah semakin brutal, Billy menggiring Erina ke atas tempat tidur, Ia menindih Erina tanpa melepaskan ciumannya, Tiba tiba… "Ceklek," Pintu kamar terbuka, Billy dan Erina terkejut saat mereka melihat Diana yang berada di muka pintu, Diana pun merasa malu dan salah tingkah, "Emm, Maaf.. Ibu mengganggu di saat yang kurang tepat," Diana pun menutup kembali pintu nya perlahan, namun pintu itu kembali terbuka, "Billy, Erina.. Semangat!" Ucap Diana Diana pun kembali menutup pintunya, Erina dan Billy pun saling menatap dan akhirnya tertawa karena melihat tingkah random sang ibu, Billy pun berbaring di samping Erina, dan Tertawa terbahak bahak karena kejadian barusan, Sedangkan, Erina pun melangkah pergi ke kamar mandi meninggalkan Billy yang masih tertawa, **** Erina tengah menikmati makan siang di rumahnya bersama Diana dan juga Billy, Namun suara notifikasi pesan mengalihkan perhatiannya, Erina membaca isi pesan tersebut, 'Ingatlah, waktumu hanya tersisa satu hari lagi,' Tatapan Erina pun berubah sendu, Teringat dengan perjanjiannya bersama sang ibu, ' tapi mungkin inilah yang terbaik, setidaknya aku mendapatkan kembali  ibu, bukankah Billy tidak benar benar mencintaiku, Billy juga akan bahagia bersama Lisa,' Batinnya. Diana memperhatikan Erina, tatapan nya berubah sendu seperti Erina, Ia tahu apa yang dihadapi Erina sekarang, Erina seolah tidak diberikan pilihan dalam hidupnya, Ia selalu harus menerima apa yang ada di hadapannya, Selesai makan siang, Erina membantu asisten rumah tangganya membersihkan dapur, "Nona, biar saya saja yang membersihkannya," "Tidak apa Bi," "Oh ya bi, Apa Lisa lama tinggal disini?" Tanya Erina, "Emm, Maksud nona.. Gadis yang mirip dengan nona itu?" Erina mengangguk, "Tidak terlalu lama, hanya beberapa minggu," Terang asisten rumah tangganya, "Lalu, Billy dan Lisa.. Bagaimana mereka selama tinggal bersama? Apa Billy terlihat bahagia?" Asisten rumah tangganya pun terdiam sejenak, "Tuan terlihat bahagia, mereka menjalani kehidupan seperti sepasang suami istri.." Asisten rumah tangganya pun tiba tiba menutup mulutnya, Erina tersenyum tipis, "Tidak apa apa bi, lagipula setidaknya aku tau, jika suatu hari mereka kembali bersama, Aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka lagi," Ujar Erina, "Nona, Aku rasa.. Tuan bersikap seperti itu karena Tuan masih belum mengetahui jika dia bukanlah nona," Erina kembali melanjutkan pekerjaannya, **** Diana menghampiri Billy yang tengah duduk di sofa dengan laptop yang berada di atas pangkuannya, Billy terlihat serius menatap layar laptopnya, "Billy?" Panggil Diana sambil duduk berhadapan dengannya, "Iya, Ada apa bu?" Jawab Billy tanpa menatap ke arah sang ibu, Diana melipat kedua tangannya karena merasa kesal pada Billy yang masih asik dengan laptopnya, "Bisakah kau menatap ibu?" Pinta Diana, Mendengar hal itu, Billy pun mematikan laptopnya dan menyimpannya di atas meja, "Ada apa bu?" Diana menatap tajam ke arah Billy, "Ibu, ingin bertanya padamu.. Apa kau benar benar mencintai Erina?" Billy tertawa mendengarnya, "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku sangat mencintai nya, Ibu tidak perlu menanyakan hal itu," Terang Billy, Namun, Diana mencoba untuk tetap bersikap serius pada Billy, "Nak, jika kau memang benar benar mencintai Erina, buat Erina memilihmu daripada yang lain," Billy mengerutkan dahinya heran, "Maksud ibu?" Diana berdecak kesal, "Ck, Lebih peka lah sedikit, apa kau tidak merasa aneh kenapa Erina tiba tiba meminta waktu khusus untuk bersamamu?" "Apa yang sebenarnya, Ingin ibu sampai kan?" Billy kebingungan dengan arah pembicaraan Diana, "Ibu mengetahui sesuatu hal," "Apa?" Ditengah pembicaraan serius mereka, tiba tiba Erina pun datang dengan membawa teh hangat untuk Billy, "Ibu? Maaf.. Aku hanya membawa satu cangkir teh saja, Apa ibu mau ku buat kan teh hangat?" Tanya Erina dengan senyum manisnya, "Tidak perlu nak, terima kasih," "Bu, Apa yang ingin ibu katakan barusan?" Tanya Billy langsung, Diana pun tergagap, "Ah, I-itu.. I-ibu, ibu ingin kamu membeli sesuatu untuk ibu," Billy mengernyitkan dahinya, "Tapi tadi bukankah ibu ingin bicara tentang…" Ucap Billy terpotong karena tiba tiba sang ibu yang merasa kan pusing, "Aduh, Kepala ibu pusing sekali rasanya," Diana memegangi kepalanya, Erina terlihat khawatir, "Apa ibu baik baik saja?" Tanya Erina, Diana pun mengangguk lemah, "Ibu, akan pergi ke kamar dulu untuk beristirahat," Diana pun berjalan perlahan menuju kamarnya, Sedangkan Billy hanya menggelengkan kepalanya, **** Diana yang sudah berada di kamarnya, hanya melangkah mondar mandir, "Billy, Bagaimana kau tidak peka? Kau itu benar benar mirip dengan ayahmu, kurang sekali kepekaan mu pada keadaan di sekitarmu," Gumam Diana Diana pun memikirkan bagaimana caranya untuk menyampaikan pada Billy tentang Erina dan Lilian, Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu, 'Tok tok tok' Diana pun melompat ke atas kasur, ia menyelimuti dirinya, dan memercikan air ke wajahnya, "Iya, Siapa?" Tanya Diana "Ini aku bu," Jawab Erina dari luar kamar, "Masuklah nak," Erina membuka perlahan pintu kamar diana, Terlihat Erina yang tengah membawa sebuah nampan, dengan semangkuk sup di atasnya, Erina menghampiri Diana dan duduk di birai kasur, "Bu, makanlah selagi hangat, mungkin ibu terlalu lelah," Erina pun membantu Diana untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di headboard kasur, Diana pun memakannya, "Ini, enak sekali.. Terima kasih nak," Diana pun mengelus lembut pipi Erina, sedangkan Erina menatap sayu ke arah diana, "Erina?" Erina menatap Diana, "Ibu mohon, Jangan tinggalkan Billy.. Dan juga ibu," Mendengar permintaan Diana, Erina merasa tidak berdaya, Ia kemudian bergegas pergi tanpa pamit dan dengan mata berkaca kaca, Diana pun menundukkan pandangannya, Ia melihat foto pernikahan sang putra dan Erina dulu, Ia kemudian mengelus lembut poto tersebut, Tak terasa buliran bening itu pun lolos mengalir saja, **** Erina memutuskan untuk pergi menemui Ryan, Setibanya di Cafe, "Kak?" Erina memanggil Ryan yang tengah briefing bersama dengan para karyawannya, Ryan pun menatap ke arah Erina, "Kau?" Ryan yang merasa ada sesuatu terjadi pun, membubarkan karyawannya untuk kembali bekerja di pos nya masing masing, Ryan menghampiri Erina, Ryan pun mengajak Erina ke ruangannya, "Ada apa?" Tanya Ryan langsung, Erina menatap Ryan dengan pandangan berkaca kaca, "A-aku.." Ryan yang khawatir langsung mendekat ke arah Erina, Ia mengusap air matanya yang meluncur begitu saja, "Katakan, Ada apa?" Tanya Ryan, Erina menatap lekat Ryan, "Aku ingin, kau membantuku menyiapkan surat perceraianku dengan Billy," Terang Erina "A-apa?" Ryan menggeleng gelengkan kepalanya, "Tapi kenapa? Aku pikir.. Hubungan kalian sudah membaik, dan kau melupakan semua keinginanmu untuk berpisah itu, Aku dan Arvin sudah merasa lega karena kalian terlihat baik baik saja," Erina menundukkan pandangannya, "Semuanya tidak berjalan baik, lagipula.. Untuk perempuan seperti ku, Cinta yang tulus hanyalah sebuah hal yang tidak mungkin," Ryan memegang bahu Erina, "Kau ini bicara apa? Cinta itu bisa dimiliki oleh siapapun selagi ia mau membuka hatinya," "Dan Billy sudah membuka hatinya untuk Lisa, bahkan jauh sebelum ia akhirnya mengetahui siapa Lisa," Ryan menggeleng cepat, "Dengar! Kakak sama sekali tidak mengerti cara berpikirmu, tapi.. Billy seperti itu karena ia tidak mengetahui jika itu bukan kau," Jelas Ryan, "Lalu, kenapa Dia tidak mencari tahu? Kenapa dia justru malah melakukan itu di depan mata ku?" Ryan terdiam dengan pertanyaan Erina, "Kenapa? Kakak tidak punya jawaban nya bukan?" Erina menghapus kasar air matanya, "Aku hanya ingin, Kakak membantuku untuk menyiapkan surat perceraian ku, aku ingin hubungan ini cepat selesai," Erina pun melangkah pergi meninggalkan Ryan yang tertegun, **** Di perjalanan pulang, Erina memutuskan untuk singgah ke makam Ariana, Erina menangis sejadi jadinya sambil memeluk makam tersebut, "Bu, Kenapa ibu tidak membawaku bersamamu?"  "Aku merasa sangat kesepian dan sendirian disini, tidak ada yang benar benar menyayangiku, bahkan Ibu Lilian, Ibu kandung ku sendiri, Dia lebih memilih kakak daripada aku, Dia tidak peduli aku terluka, yang dia pedulikan hanyalah kebahagiaan kakak!" Erina pun tertunduk sambil menangis, Tiba tiba hujan pun perlahan turun dan semakin deras membasahi tubuh Erina, Ia menggigil kedinginan, air mata itu pun bersatu dengan air hujan yang turun, Erina memeluk dirinya sendiri, Namun, seseorang tiba tiba memayunginya.. Erina menoleh ke arah belakang, nampak wajah seorang pria dengan senyuman manis nya, "B-billy?" Erina pun berdiri dari duduknya, "Darimana kau tau, Aku ada disini?" Billy pun tersenyum manis, "Kau tidak perlu tahu, yang terpenting, sekarang.. Kita pulang, ini sudah menjelang malam, pakaianmu juga basah, kau harus segera mengganti nya sebelum kau terkena flu," Billy pun melepas jaket yang ia kenakan, Ia memakaikannya ke tubuh Erina, dan merangkul bahunya, Erina pun melangkah bersamaan dengan langkah Billy menuju ke mobilnya, **** Sesampainya di rumah, Billy mengantar Erina ke kamarnya, Namun, pada saat ia ingin berganti pakaian tiba tiba.. "Brukk," Erina jatuh pingsan, Billy yang merasa panik pun, langsung menggendong Erina, dan membaringkan Erina diatas tempat tidur, Karena melihat Erina yang masih berpakaian basah, Billy pun mengambil pakaian ganti, Billy terlihat ragu untuk membuka pakaian Erina, Tapi, Ia juga tidak mungkin membiarkan Erina dalam keadaan seperti itu, Ia melihat wajah Erina yang pucat, Billy kemudian meletakkan telapak tangannya di kening Erina, Matanya membulat, karena ternyata suhu tubuh Erina yang panas, "Bagaimana ini?" Gumam Billy, Billy kemudian memutuskan untuk mengganti pakaian Erina, **** Selesai mengganti pakaian Erina, Billy pun mengompres dahi Erina dengan air hangat, sepanjang malam ia menemani Erina, meski ia sangat mengantuk.. namun ia tetap menahannya agar tidak tertidur, "Ibu.. Ibu.." Erina mengigau sepanjang malam memanggil ibunya, Ia terlihat sangat gelisah dalam tidurnya, Billy menatap sendu Erina, Ia merasakan sakit saat melihat Erina, Billy pun menguatkan dirinya, **** Keesokkan harinya, Erina mulai tersadar dari pingsannya, Ia melihat sekitar, dan mendapati Billy yang tertidur di sampingnya dengan posisi duduk, "Kasihan sekali, Seharusnya tidak usah seperti ini,"  Erina pun mengulurkan tangannya perlahan, meletakkannya di kepala Billy, dan mengelus nya lembut, Billy yang merasa ada yang menyentuhnya pun, perlahan membuka matanya, Ia mendapati Erina yang menatapnya, "Kau sudah bangun?" Tanya Billy, Erina mengangguk pelan, "Bagaimana keadaanmu?" "Aku… Baik baik saja," Namun, untuk memastikan Billy memaksa Erina untuk mau di periksa ke rumah sakit, "Tidak mau!! Aku baik baik saja! Tidak perlu sampai ke rumah sakit!" Teriak Erina, "Apanya Yang tidak  apa apa? Semalaman tubuhmu panas, dan kau tidak sadarkan diri," Erina terus memberontak karena ia tidak ingin ke rumah sakit,  Namun, Billy tidak mengikuti keinginan Erina,  Untuk membuat Erina mau diperiksakan keadaannya, Billy membujuk Erina kembali, "Aku akan menghubungi Arvin untuk memeriksamu," Erina yang baru saja membuka mulutnya langsung disela oleh Billy, "Tidak ada penolakan!" Erina langsung terdiam, Billy pun menghubungi Arvin untuk datang ke rumahnya, **** Tidak perlu waktu yang lama bagi Arvin untuk tiba di kediaman Billy, Apalagi saat ia mendengar apa yang terjadi, dengan langkah cepat Arvin pun pergi ke kediaman Billy,  Arvin pun tiba di kediaman Billy, Billy mengantar Arvin ke kamar Erina, Arvin pun mulai memeriksa Erina, "Bagaimana keadaan Erina?" Arvin tersenyum tipis, menatap Billy, "Dia tidak apa apa, hanya demam biasa," Kemudian ia menatap lekat Erina yang berada di hadapannya, "Perbanyaklah istirahat, karena tubuhmu itu bukanlah robot, tubuhmu juga butuh istirahat," Arvin menyentuh lembut hidung Erina dengan jarinya, Erina tersenyum manis menatap Arvin, Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka, "Ekhem!" Billy berdehem karena merasa kesal melihat keakraban mereka berdua, Arvin dan Erina pun menatap ke arah Billy, "Jangan terlalu dekat dengan istriku dokter, karena istriku itu pintar mencuri hati seorang pria," Erina menatap tajam Billy,  "Apa Maksud perkataanmu itu? Apa kau cemburu?" Billy memutarkan bola matanya, Sedangkan Erina hanya tertawa melihat sikap Billy, Billy yang merasa kesal karena ditertawai oleh Erina pun memutuskan untuk melangkah keluar, "Dasar menyebalkan! Apa dia tidak tahu, jika seperti itu.. Mereka malah terlihat seperti pasangan, dan aku tidak menyukai itu," Gerutu Billy sambil berjalan. **** Arvin menatap lekat Erina yang sedang menertawai Billy, Erina kemudian menyadari itu, dan menatap ke arah Arvin, "Apa?" Tanya Erina, Arvin pun melemparkan senyumannya, "Tidak apa apa, hanya saja.. Aku menyukai suara tawamu, itu terdengar sangat menyenangkan!" "Apa?" Arvin pun melangkah pergi meninggalkan Erina, **** Dilain sisi, Lisa merasa sangat kesal karena ia mendengar Billy yang semakin dekat dengan Erina, Lisa pun pergi menemui ibunya, Sesampainya di rumah, Lisa pun turun dari kursi roda, dan melangkah cepat menuju kamar sang ibu, Terlihat Lilian yang sedang duduk santai di birai kasur sambil memainkan ponselnya, Lisa yang sangat kesal, langsung bicara tanpa jeda pada sang ibu, "Bu! Ibu bilang, Billy akan menjadi milikku selamanya, tapi mana? Aku malah mendengar jika Billy dan Erina semakin berbahagia! Sedangkan aku terjebak dengan dua orang pria t***l seperti mereka! Apa ini rencana ibu yang sempurna itu? Jika terus seperti ini, Aku lebih baik tidak usah kembali lagi ke rumah kumuh itu!"  Lilian pun menghela nafas panjang, "Sini, duduklah!" Lisa pun menghampiri sang ibu dan duduk disampingnya, Ia mengelus lembut surai sang putri, "Ibu sudah berjanji padamu, maka ibu akan menepatinya, hari ini.. Adalah hari terakhir perjanjian Erina bersama Ibu, jika Erina melanggarnya, ia akan tahu akibatnya, dia akan dilenyapkan oleh saudara kandungnya sendiri, dan ibu yakin, salah satu dari mereka berdua akan mau melakukannya," Lisa pun tersenyum mendengar penjelasan sang ibu, "Jangan membuatku terlalu lama menunggu untuk rencana itu bu," "Tentu saja tidak nak!" Lilian memeluk sang putri bersamaan dengan senyuman di sudut bibirnya, **** Billy dan Erina memutuskan untuk masuk kantor karena sudah terlalu banyak pekerjaan yang menumpuk di meja, Selama bekerja, Billy terus menerus memperhatikan Erina lewat jendela kantornya, Ketika Erina melirik, Ia cukup lihai dan menatap arah lain, Erina hanya menggeleng gelengkan kepalanya, Tak lama kemudian, Erina pun menghampiri Billy dengan beberapa berkas yang perlu Di tanda tangani, "Ini pak, berkas nya," Erina menyimpannya di atas meja, Billy pun meraihnya, "Kalau begitu, Saya kembali lagi ke meja saya ya pak," "Tunggu!" Erina pun kembali beralih menatap Billy, "Ya pak, Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Erina, Billy kemudian berdiri dari duduknya dan menghampiri pintu, ia menutup nya dan menguncinya, Tak lupa, Billy menutup tirai kantornya, Ia kemudian mendekat ke arah Erina, Billy melingkarkan kedua tangannya di pinggang Erina dan menariknya, sehingga tidak ada lagi jarak antara Billy dan dirinya, Nafas Billy mulai berat, Ia membisikkan sesuatu di telinga Erina, "Aku menginginkanmu," Bisikan Billy, membuat Erina merinding. "Jangan seperti ini, Aku tidak mau!" Tolak Erina, Namun, Billy tetap nekad, Ia mencium leher Erina dan meninggalkan bekas merah keunguan disana, Erina pun mendesah, karena perlakuan Billy, Ia merasa gila dengan setiap sentuhan yang Billy berikan, Billy pun membuka kancing satu persatu kemeja putih yang digunakan oleh Erina, sehingga nampak lah sesuatu yang indah dibalik kemejanya, Billy pun mencium kembali leher Erina dan turun terus hingga di d**a Erina, Ia kemudian, menggiring Erina diatas sofa panjang miliknya, tanpa melepaskan ciumannya, Ciumannya pun semakin dalam dan memanas, Kali ini, Erina yang mulai terangsang dengan sentuhan Billy pun, ikut membalas ciuman Billy, dan tidak menghalangi kedua tangan Billy yang mulai beraktivitas 'nakal'. 'Apakah ini saatnya?' Batin Erina, 'Walau bagaimanapun dia tetap suamiku, dia memiliki hak atas diriku,' Imbuhnya, Billy pun mulai membuka resleting  rok Erina perlahan, Ia mengelus perut Erina yang rata dan menciumnya, 'Tok tok tok,' Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar yang membuat Billy sangat kesal, "Sudah! Biarkan saja! Benar benar mengganggu sekali!" Ucapnya, Erina pun tertawa, Ia mendorong tubuh Billy, "Pergilah! Siapa tau itu penting," Jawab Erina, Billy menatap dalam ke arah Erina, "Bagiku, kaulah yang paling penting," Jawab Billy, "Sudah sana!" "Iya iya! Tapi, kau harus berjanji.. Kita akan melanjutkannya nanti malam?" Billy tersenyum seraya menaikan kedua alisnya, Erina pun mengangguk pelan, Kemudian Billy berdiri dari duduknya dan merapikan pakaiannya, begitupun dengan Erina, Setelah itu, Billy membuka pintu, "Ada apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN