Billy dikejutkan dengan kedatangan sahabatnya Ryan,
"Ada apa?"
Ryan pun melangkah masuk, dan melihat Erina yang ternyata ada di dalam ruangan Billy,
"Erina? Kau disini?"
"Em, ada berkas yang harus ditandatangani oleh Billy,"
Ryan pun mengangguk paham,
Billy merangkul bahu Erina, dan membuat Erina sedikit terkejut,
"Ada apa kau kesini?"
Ryan pun menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat pada Erina,
"Kau memintaku untuk mengurusnya bukan?"
Erina pun meraih amplop tersebut, dan membuka isi didalamnya,
Billy yang berada disampingnya terkejut saat ia membaca tulisan pada kertas tersebut,
Billy pun merebut kertas tersebut dari tangan Erina,
"Surat perceraian?"
Billy menatap tajam ke arah Erina,
"Apa maksudnya ini?" Tanya Billy,
Erina pun mengambil kembali surat tersebut dari tangan Billy, dan memasukkannya kembali ke dalam amplop,
"Erina, jawab aku! Apa maksudnya?"
Erina menatap lekat Billy,
"Itu benar, Aku ingin kita bercerai!"
Billy menghela nafas kasar,
"Jangan bercanda! Kau tahu itu tidak lucu!"
"Aku tidak bercanda!" Jawab Erina,
"Tapi, Kenapa? Bukankah hubungan kita baik baik saja?"
Erina menundukkan pandangannya,
"Aku merasa, kita sudah tidak cocok lagi,"
Billy tertawa miris,
"Tidak cocok? Apa maksudmu? Kita bahkan hampir saja bercinta barusan, dan kau tidak menolakku sama sekali,"
Mata Erina berkaca kaca,
"Aku tidak bisa menerima pengkhianatan mu bersama Lisa!" Teriak Erina,
"Kau bahkan tega melakukan itu di depan mataku! Itu sangat melukaiku dan juga melukai harga diriku! Aku tidak bisa menerima itu!"
Bibir Billy bergetar, Ia menggeleng kan kepalanya cepat,
"Dengar! Kau harus tau, Jika semua itu adalah….." Ucapan Billy terpotong,
"Aku tidak mau mendengar apapun!" Teriak Erina sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya,
Billy kemudian menatap Ryan,
"Ryan, tolong jelaskan pada Erina, Kau tau sekali bagaimana aku,"
"Maaf, Aku sudah menjelaskan pada Erina, tapi Erina sudah mengambil keputusan,"
Billy yang merasa kesal kemudian mengambil amplop yang Erina pegang tersebut dan merobeknya hingga menjadi potongan potongan kecil,
Erina pun merasa sangat marah dengan tingkah Billy,
"Kau benar benar keterlaluan!!" Teriak Erina,
Erina melangkah pergi,
****
Dilain sisi,
Diana pun dikejutkan dengan kedatangan Lilian dan juga Lisa ke kediamannya,
"Ada perlu apa kalian kemari?" Tanya Diana,
Lilian pun tersenyum penuh arti,
"Saya kesini, karena ingin memberitahukan berita gembira,"
Diana mengerutkan dahinya,
"Maksudmu?"
Lilian pun memberi kode pada Lisa untuk angkat bicara, Lisa pun mengangguk pelan,
Lisa mengukir senyuman di bibirnya, Ia terlihat mengelus perutnya yang rata,
"Bu, Aku.. Sedang mengandung anak Billy," Terang Lisa
"A-apa?" Diana membulatkan matanya sempurna mendengar pengakuan Lisa,
Diana sangat syok mendengarnya,
"Jangan membohongiku!"
"Aku tidak berbohong bu, jika kau tidak percaya aku membawa hasil testpack yang aku gunakan pagi ini,"
Lisa merogoh tas kecilnya dan mendapatkan sebuah benda kecil, ia menyerahkannya pada Diana,
Diana pun melihat garis dua yang ada di testpack tersebut,
Tangan diana bergetar, hingga testpack tersebut terjatuh,
Diana menggeleng cepat,
"Tidak! Aku yakin, itu bukan anak Billy!"
Lilian pun tersenyum tipis,
"Maaf jika mengecewakanmu Nyonya, tapi.. Aku juga tidak ingin nama keluarga ku hancur karena ulah putramu, dan aku juga yakin, anda juga tidak ingin citra buruk tertempel pada keluarga anda, bukan?"
Diana terdiam,
"Lalu, Apa yang kalian inginkan?"
Lilian kembali tersenyum,
"Kita tidak mungkin memisahkan seorang anak dengan kedua orang tuanya, bukan? Karena itu, Aku ingin mereka segera menikah,"
Diana terdiam,
****
Billy merasa sangat marah dengan keputusan Erina, Ia membanting seluruh barang yang berada di hadapannya,
"Arghh!!" Teriak Billy,
Nafasnya terengah engah menahan amarah,
Tiba tiba terdengar dering ponselnya, Billy mengangkatnya,
In Call
"Billy, Cepat pulanglah! Ibu ingin bicara denganmu!"
End Call
Telpon pun dimatikan sepihak, Billy bersandar di dinding dan menutup matanya sesaat,
Ia kemudian melangkah pergi untuk menemui ibunya,
****
Setibanya di rumah,
Ia melihat Diana yang tengah duduk di kursi, Billy pun menghampirinya,
"Ada apa bu?"
Diana berdiri dari duduknya, dan..
"Plakk!"
Satu tamparan keras mengenai pipi kanan Billy,
Billy terkejut dengan sikap sang ibu,
Dengan nada bergetar, Diana angkat suara,
"Ibu, tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pria b******k!"
"Tapi kenapa, kau bisa melakukan itu?" Imbuhnya,
Billy menatap heran Diana,
"Aku tidak mengerti, Apa maksud ibu?"
Diana menunjuk ke arah Billy,
"Kau! Sudah menghamili Lisa!"
Billy syok mendengar ucapan Diana,
Diana kemudian menunjukkan testpack milik Lisa,
"Ini! Ini bukti jika Lisa tengah hamil anakmu!"
Billy mengambil testpack tersebut dan melihat garis dua disana,
"Tidak! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin," Ucap Billy sambil menggeleng kuat,
"Sekarang, Ibu tahu.. Kenapa Erina bersikeras ingin bercerai denganmu! Jika kejadiannya seperti ini, Ibu bahkan tidak bisa membelamu di depan Erina, Ibu benar benar kecewa padamu!"
Diana pun melangkah pergi menjauh,
****
Billy yang merasa sangat frustasi pun memutuskan untuk pergi ke sebuah Night Club,
Ia menenggak beberapa gelas minuman keras,
Hingga ia sudah mulai mabuk,
"Aku, tidak mengerti.. Kenapa jadi seperti ini? Aku kehilangan Istriku dan Ibu juga sangat kecewa terhadapku," Ucap Billy dengan nada khas orang mabuk,
Wajah Billy pun mulai memerah karena efek minuman, Ia terus meneguk minuman tersebut, hingga saat ia akan kembali mengisi gelasnya yang kosong, rupanya botol yang berisi minuman itu telah habis,
"Heh! Berikan aku satu botol lagi!"
Namun, barista itu pun menolak,
"Maaf Tuan, tapi Tuan sudah terlalu mabuk, akan terlalu berbahaya untuk Tuan,"
Billy merasa kesal dengan ucapan barista tersebut,
"Heh! Kau tidak perlu mengurusku! Berikan saja minumannya!"
"Tapi Tuan…" Ucapan barista tersebut terpotong oleh ucapan seseorang yang datang ke Club tersebut
"Berikan! Aku nanti yang akan mengantarnya pulang,"
Barista tersebut pun mengambil satu botol minuman untuk Billy,
Billy kembali meminum minuman tersebut langsung dari botolnya,
"Sepertinya, kau sangat tertekan?"
Billy menatap ke arah seorang pria yang sudah berada disampingnya,
"Aku sama sekali tidak tertekan! Aku.. Hanya merasa hidup ini tidak adil, disaat aku benar benar mencintai seseorang, dia pergi begitu saja karena kesalahpahaman!"
Billy pun tertawa dan kembali minum,
Tiba tiba botol yang Billy pegang pun terjatuh,
"Praangg"
Billy kehilangan kesadarannya,
Pria itu pun membopong Billy ke mobilnya, dan membawanya pulang.
****
Sesampainya di rumah,
"Terima kasih, sudah menjaga Billy," Ucap Diana pada Ryan
Ryan pun mengangguk,
"Aku rasa, Billy sangat tertekan dengan masalah yang dihadapi,"
Mata diana berkaca kaca,
"Dia harus belajar untuk menanggung semua konsekuensi akibat perbuatannya," Terang Diana
Ryan pun berpamitan pulang,
****
Keesokan harinya,
Billy terbangun dari tidurnya karena merasakan mual, Ia berlari ke toilet dan mengeluarkan muntahan karena minuman semalam,
Kepala Billy pun terasa pusing, Ia berjalan perlahan menuju ke tempat tidurnya kembali,
Pintu kamar pun terbuka, menampakkan Diana yang datang menghampiri Billy,
"Bangunlah!!"
Billy menatap sang ibu,
"Sebentar lagi bu, kepalaku sangat pusing,"
Diana melihat wajah putranya yang pucat, Ia pun panik dan menghampirinya,
"Badanmu panas sekali!" Ucap Diana setelah memeriksa kening sang putra,
Diana pun meminta asisten rumah tangganya untuk membawakan sup, obat dan air hangat untuk Billy,
Diana menyuapi Billy dengan telaten, memberinya obat dan menggantikan pakaiannya,
Diana pun menyuruh Billy untuk kembali beristirahat,
"Bu?" Panggil Billy yang menghentikan langkahnya,
"Maaf, sudah membuatmu kecewa,"
Diana pun berlalu pergi,
****
Diana memutuskan untuk menghubungi seseorang dan mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat,
Diana pun melangkah pergi menuju tempat janji temu,
Sesampainya di sebuah kedai,
Diana pun duduk di salah satu kursi dan menunggu seseorang,
Tak lama kemudian, seseorang yang ia tunggu pun datang dengan senyuman tipis,
Diana berdiri dari duduknya,
"Silahkan duduk!"
Mereka pun duduk berhadapan,
"Ada apa, kau memanggilku?"
Diana terdiam berpikir sejenak,
"Aku, ingin membicarakan tentang anak kita,"
"Maksudmu?"
Diana menarik nafas panjang, dan menutup matanya sesaat,
"Aku ingin, Billy dan Lisa secepatnya menikah,"
Lilian mengukirkan senyuman di wajahnya,
"Itu kabar yang sangat menggembirakan,"
"Baiklah, Kapan kita akan melaksanakan pernikahan itu?" Imbuh Lilian,
****
Di lain sisi,
Lisa tengah berada di kamarnya memainkan ponselnya, Sedangkan kevin dan Theo bekerja,
Lisa mengerutkan dahinya saat terdengar bunyi ponsel miliknya, dan melihat nama sang ibu yang tertera di layar ponselnya,
Ia kemudian mengangkat teleponnya,
In Call
"Hallo, ada apa bu?" Tanya Lisa,
"Nak, bersiaplah!"
"Bersiap untuk apa?"
"Karena kita akan melaksanakan lamaran antara kau dan Billy,"
Lisa sangat terkejut mendengarnya, hingga ia berdiri dari tempat tidurnya,
"Benarkan?"
"Iya,"
Lisa pun melompat bahagia saat mendengar ucapan Lilian,
****
Diana menyampaikan pada Billy, tentang niatnya menikahkan Billy dengan Lisa, Billy sangat terkejut mendengar itu,
"Apa? Kenapa ibu tidak bicara dulu denganku?" Ucap Billy,
"Dengar! Ibu sudah memikirkan ini matang matang, kita urus surat perceraian mu dan kau bisa langsung menikah dengan Lisa,"
"Bu! Aku sangat mencintai Erina, Aku tidak mau berpisah dengannya!"
"Anggap ini sebagai hukuman untukmu! Karena kau sudah melakukan kesalahan yang fatal, kau sudah menghamili Lisa, dia mengandung anakmu! Lepaskan Erina, biarkan dia bahagia dengan mencari cinta yang baru untuknya," Terang Diana
Billy menggeleng kepalanya,
"Tidak! Bagaimana bisa ibu melakukan ini padaku bu?"
"Suka tidak suka, kau harus menerimanya!"
Diana melangkah pergi,
****
Erina yang kembali tinggal bersama Arvin, Ia terlihat tengah melamun di balkon kamarnya, Arvin yang baru saja tiba di rumah, melihat Erina dari bawah, Tatapan Erina yang sendu membuat Arvin ikut bersedih,
Arvin memutuskan untuk menghampirinya,
"Kau tidak apa apa?"
Erina menatap ke arah Arvin,
"Aku tidak apa apa,"
"Benarkah?"
"Hmm,"
Arvin pun menghela nafas panjang,
"Aku rasa, aku sangat lapar, malam ini.. Bagaimana jika kita pergi makan malam?"
Erina pun mengangguk setuju,
Mereka kemudian memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran,
Namun, tanpa disengaja Erina melihat Billy dan keluarganya sedang melakukan pertemuan keluarga dengan Lisa dan keluarganya,
Mereka terlihat bahagia, layaknya sebuah keluarga besar yang tengah berkumpul,
Erina menatapnya dengan mata berkaca kaca,
Billy tanpa sengaja menangkap sosok Erina di depannya yang mematung dan meneteskan air mata,
Arvin pun menghalangi pandangan Erina, membalikkan tubuhnya, dan merangkul bahunya, mengajak Erina untuk pergi dari sana,
Sedangkan Billy hanya bisa menatap kepergian mereka,
Arvin membawa Erina cukup jauh dari restoran tadi,
"Kau baik baik saja?"
Erina masih menundukkan pandangan nya,
Arvin pun menatap sendu Erina,
"Maaf, Karena aku sudah salah mengajakmu ke tempat tadi,"
Erina menggeleng pelan,
"Jika kau memang ingin menangis, menangislah, tidak perlu kau menahannya, setidaknya itu bisa membuat hatimu sedikit lega!"
Erina mengangkat wajahnya, dan menatap Arvin,
Tangisnya pun pecah, Erina menangis keras, Arvin pun memeluk Erina untuk menenangkannya,
****
Billy merasa sangat kesal dengan apa yang terjadi, Ia bahkan melemparkan jas yang ia kenakan, dan menendang tempat tidur miliknya,
"Arrgghhh!!"
Billy kembali mengingat saat Erina memergokinya bersama dengan Lisa,
Ia mengacak acak rambutnya sambil berteriak,
"Dasar bodoh!!" Teriaknya berulang ulang,
Berbeda dengan Lisa,
Ia terlihat sangat bahagia setelah pulang dari restoran,
"Ha.. Aku benar benar sangat bahagia, Terima kasih bu,"
Lisa memeluk erat Lilian,
"Sama sama putriku!" Jawab Lilian,
Lilian menciumi sang putri seraya memeluknya erat,
"Sebentar lagi, Aku akan menikah.. Lalu bagaimana dengan kedua pemuda bodoh itu?"
Lilian berpikir sejenak,
"Nanti saja, Kita urus mereka, yang terpenting sekarang kita harus merayakan semua ini,"
"Ibu benar!"
Lisa pun tertawa bahagia bersama sang ibu,