Di suatu tempat, Nampak seseorang yang tengah terbaring lemah dengan perban yang menutupi sekujur tubuhnya, sudah hampir dua tahun ini ia mengalami koma, setelah melewati kejadian mengerikan itu, tak disangka seseorang yang bahkan tidak mengenalnya mau menolongnya,
Jiwanya sebagai seorang dokter merasa terpanggil tatkala melihat sosok tubuh yang penuh dengan luka sayatan, luka bakar dan lebam bahkan hampir tidak bisa dikenali itu menghampiri,
Seorang dokter muda bernama Arvin yang tengah menjalani tugasnya di perkampungan pesisir pantai, dikejutkan dengan penemuan sosok seorang wanita yang terluka itu,
Wanita itu pun ia bawa ke klinik tempat ia praktek, dan kenyataan ia masih bernafas dengan detak jantung yang lemah membuat Arvin bertekad untuk membawanya ke rumah sakit tempat ia bekerja, dikarenakan peralatan di kliniknya tidak memadai.
Butuh waktu beberapa jam menuju ke rumah sakit,
Hingga setibanya disana, pasien langsung mendapatkan penanganan,
"Dokter Arvin, Kondisi pasien ini tidak terlalu baik, dia mengalami luka yang cukup parah, aku tidak yakin dia bisa bertahan!" Jelas Dokter seniornya.
"Iya dok, Saya harap kita bisa melakukan semaksimal mungkin untuk menolongnya,"
Dokter senior pun mengangguk paham,
Sejak itu, wanita itu pun menjadi pasien khusus dokter Arvin,
Sudah hampir dua tahun setelah kejadian itu, namun wanita ini masih belum sadarkan diri, ia masih terbalut dengan perban, karena masih ada beberapa luka yang masih memerlukan perawatan,
Hingga suatu hari,
Ketika Dokter Arvin tengah mengecek kondisi wanita itu, tiba tiba ia merasa jika jari pasiennya bergerak.
Arvin pun mencoba untuk memperhatikannya kembali, dan ternyata memang benar, Jari wanita ini bergerak perlahan.
Senyuman pun terukir di wajah Arvin,
Pergerakan ini, diikuti oleh terbukanya mata si pasien secara perlahan,
Pasien ini mencoba untuk memfokuskan pandangannya,
"D-dimana aku?" Ucap pelan si pasien
"Kau berada di rumah sakit,"
Pasien itu pun sedikit menoleh ke arah Arvin yang tengah tersenyum ke arahnya,
Tiba tiba buliran bening itu pun meluncur dari sudut matanya, Arvin membantu mengusap air matanya.
"Kau hebat! Kau berjuang dengan baik!"
Si pasien pun tersenyum mendengarnya,
****
Di lain sisi,
Billy semakin dekat dengan Kirana, Ia hampir setiap hari menemui Kirana, Billy seolah menemukan semangat barunya dari diri Kirana,
Mereka pun mulai sering menghabiskan waktunya bersama,
Billy mengajak Kirana untuk pergi ke sebuah tempat favoritnya dulu bersama Erina,
Kirana menatap kagum dengan keindahan yang ia lihat di depan matanya,
"Waaaa… Ini benar benar indah sekali!"
Billy pun tersenyum menatap Kirana,
"Ini adalah tempat favorit kami dulu,"
Kirana pun menatap ke arah Billy,
"Benarkah?"
Billy mengangguk pelan,
Ketika menikmati keindahan kota, tiba tiba Billy memeluk Kirana dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Kirana, yang membuat Kirana terkejut,
"Hey, A-apa yang kau lakukan?"
Billy pun tersenyum,
"Biarkan aku seperti ini sebentar saja, Aku merasa sedang bersama Erina saat ini,"
Kirana yang awalnya berontak pun akhirnya membiarkan Billy memeluknya,
"Apa kau tidak ingin tinggal bersamaku?"
Kirana menatap ke arah Billy,
"Tiba tiba?"
Billy kembali tersenyum,
"Aku tahu, Kau kehilangan ingatanmu secara permanen karena sebuah kecelakaan, meski aku belum tahu kecelakaan apa itu, tapi aku yakin, kau adalah Erina ku,"
Kirana pun tertawa,
"Ha ha ha, Jangan terlalu cepat menyimpulkan, bagaimana jika aku bukan Erina?"
"Jika begitu, bagaimana jika kau tinggal bersamaku? Siapa tahu itu bisa membantumu mengingat jati dirimu yang sebenarnya,"
Kirana pun terdiam,
"Bagaimana, Hmm?"
Billy pun membalikkan tubuh Kirana menjadi berhadapan dengannya,
"Kau mau kan?"
Setelah berpikir sejenak, Kirana pun mengangguk kan kepalanya,
Billy terlihat sangat bahagia dengan persetujuan Kirana, hingga ia langsung memeluk Kirana dengan erat.
****
Sementara itu,
Di satu sudut ruangan, seorang pria tengah sibuk dengan laptopnya, ia membuka artikel tentang kemungkinan seseorang kehilangan ingatannya, ia bahkan mencari tahu tentang kemungkinan seseorang yang memiliki kemiripan hampir seratus persen,
Tiba tiba,
Suara dering ponsel terdengar, Ia pun meraih ponselnya
Matanya terbelalak, saat orang suruhannya memberitahukannya tentang sesuatu,
"Billy, tidak akan percaya ini.. Sebelum aku memiliki bukti yang kuat," Gumamnya.
****
Billy terlihat sangat bahagia saat menginjakkan kakinya di rumah, membuat Diana sang ibu menatap heran padanya,
"Sepertinya, putraku ini sedang berbahagia?"
Billy kembali tersenyum,
"Bu, Aku bahagia karena Kirana bersedia untuk tinggal disini,"
"Apa?" Diana terkejut dengan pernyataan Billy,
"Aku yakin, jika Kirana tinggal disini itu akan membantunya memulihkan ingatannya,"
Diana pun terdiam sejenak,
"Emm, Apa tidak lebih baik jika kau menyelidikinya terlebih dahulu?"
Billy menatap lekat ke arah Diana,
"Aku sudah mendapat informasi jika Kirana hidup sebatang kara dan dia juga kehilangan ingatannya, itu sudah sangat mengarah jika Kirana itu adalah Erina,"
"Percaya padaku bu," Imbuh Billy
Diana pun tergugu,
Billy merangkul bahu sang ibu,
"Ibu tidak usah khawatir, aku tahu apa yang aku lakukan,"
Diana pun hanya mengangguk,
Billy melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya,
****
Di lain sisi,
Dokter Arvin memasuki ruangan pasiennya setelah ia membawa se nampan makanan untuk pasiennya,
Semangkuk bubur dan sup bening juga beberapa potongan buah nampak berada di atas nampan tersebut,
Dokter arvin pun dengan telaten menyuapi pasiennya, Tak lupa ia selalu memberikan terapi untuk pasiennya.
Perlahan kondisi nya pun mulai membaik, hingga luka nya pun mulai mengering, perban pun dibuka, Wanita yang duduk di kursi roda ini nampak bergetar tubuhnya saat ia melihat kondisi wajahnya yang sudah rusak karena luka luka yang ia derita,
Matanya pun berkaca kaca, ia memegang wajahnya perlahan, dan menundukkan pandangannya, Rasa marah, kecewa, sedih, syok semua bercampur aduk di dalam hatinya, Hingga tangisannya pun pecah seketika,Arvin pun mencoba untuk menguatkannya.
****
Hari ini,
Kirana mulai tinggal bersama Billy, Billy merasa sangat bahagia, hingga ia memiliki sebuah ide,
"Emm bu, bagaimana jika kita membuat pesta penyambutan untuk Kirana?"
Diana pun hanya tersenyum tipis,
"Terserah kau saja,"
Billy pun berencana untuk membuat pesta penyambutan untuk Kirana, Ia bahkan mengundang teman temannya.
"Tidak perlu seperti itu, Lagi Pula aku disini hanya untuk sementara hingga aku mengingat semuanya,"
Billy pun memegang tangan Kirana, yang membuat tatapan Diana berubah menjadi tajam,
"Tidak apa apa, Aku akan katakan pada dunia, jika istri tercinta ku sudah kembali,"
Kirana pun tersenyum tipis,
****
Pesta pun diadakan dua hari kemudian, Billy memberikan banyak sekali pakaian dan perhiasan untuk kirana,
Dalam pesta itu, Kirana terlihat sangat anggun dan cantik, Billy terus saja tersenyum memandangi Kirana.
"Kau sangat cantik,"
Kirana pun tersipu malu mendengar pujian dari Billy,
Di tengah pesta, seseorang datang..
Billy nampak sedikit terkejut, karena ia merasa tidak pernah mengundang nya dalam pesta ini.
Namun, tiba tiba ia langsung memeluk Kirana dengan sangat erat,
"Erina, Putri ku!"
Lilian yang tiba tiba datang dan memeluk Kirana, membuat semua orang terheran menatapnya,
Lilian pun melepas pelukannya, dengan deraian air mata, ia mengatakan..
"Maafkan ibu, atas semua perlakuan buruk ibu terhadap kamu dulu! Saat ibu tau kau masih hidup, ibu tidak ingin membuang buang waktu lagi, ibu langsung menemuimu ke sini, nak!"
Kirana pun terdiam, dan menatap ke arah Billy,
Billy pun mencoba untuk menjelaskan pada lilian,
"Emm, maaf Nyonya! Tapi, Erina kehilangan ingatannya secara permanen karena sebuah kecelakaan, dan itu membuatnya tidak mengingat apapun,"
Lilian pun membulatkan matanya, Ia terlihat syok saat mendengar itu,
"A-apa? Bagaimana bisa itu terjadi pada putri ku?"
Billy pun hanya terdiam,
Kirana pun menjelaskan secara perlahan pada Lilian tentang apa yang terjadi padanya sejauh yang dia ingat,
****
Di tengah acara pesta,
Billy meninggalkan Kirana bersama Lilian di meja mereka,
"Kau benar benar luar biasa," Puji Lilian.
Kirana pun menatap ke arah Lilian,
"Apa maksud ibu?"
Lilian pun tersenyum,
"Sudahlah! Lagipula disini hanya tinggal kita berdua, jadi berhentilah berpura pura,"
Kirana pun tersenyum licik di hadapan Lilian,
"Apa kau bahagia sekarang?" Tanya Lilian,
"Tentu saja, Aku sangat bahagia, karena Billy bisa kembali ke pelukan ku!"
"Rencana ibu, berhasil bukan?"
Kirana pun mengangguk seraya tersenyum puas,
"Sekarang, kau hanya tinggal membuat Billy tidak bisa lepas darimu,"
"Bagaimana dengan Erina?"
Lilian pun tersenyum licik,
"Anak itu sudah bertemu dengan penciptanya, dan tidak akan ada yang tahu mengenai itu, karena yang mereka tahu Kau adalah Kirana yang mereka yakini sebagai Erina bukan Lisa,"
Kirana dan Lilian pun tersenyum licik.