Billy melangkah pergi menuju mobilnya, Ia mengendarai mobil tersebut tanpa tujuan, ingatannya tentang Erina terus berputar di otaknya, hingga pada bayangan nya bagaimana Erina disiksa oleh kedua kakak angkatnya dan dibuang ke lautan,
Berbulan bulan Billy mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan Erina di lautan itu, bahkan ia menyewa puluhan penyelam profesional untuk mencari jasad Erina,
Namun, hingga kini ia tidak pernah bisa menemukan jasad Erina, disisi hatinya yang lain, Billy sadar betul jika kemungkinan Erina masih hidup itu hampir bisa dikatakan tidak ada,
Tetapi, disisinya yang lain Billy percaya jika Erina memang masih ada di suatu tempat,
Tanpa terasa buliran bening itu pun kembali mengalir melewati pipinya, Billy memutuskan untuk mencari tahu tentang jati diri Kirana sebenarnya,
****
Di lain Sisi,
Dua orang pria yang mendapatkan Vonis sejak dua tahun yang lalu, Kini terlihat tengah berjalan menuju ke sebuah ruangan,
Wajahnya kini ditumbuhi oleh kumis dan janggut, nampak mereka yang kurang terurus, badannya yang semakin kurus, dan kantung mata yang menghitam, dengan borgol yang terpasang di kedua tangan mereka,
Sesampainya di ruang jenguk, mereka melihat seorang wanita paruh baya yang tengah duduk membelakangi mereka,
Mereka pun duduk di hadapan wanita tersebut, nampak wanita paruh baya itu melemparkan senyuman ke arah mereka.
"Bagaimana kabar kalian?"
Kevin pun mendengus kesal,
"Kau lihat sendiri! Tidak usah berbasa basi,"
Wanita paruh baya itu pun kembali tersenyum,
"Kalian terlihat lebih baik disini, daripada berkeliaran di luar sana!"
"Apa?"
"Kami seperti ini, karena semua ini adalah rencanamu!"
"Ssstt,"
Wanita itu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya,
Kemudian ia pun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya,
"Kau tau? Sekalipun kau berteriak sekencang kencangnya, dan mengatakan bahwa aku lah yang merencanakannya, tetap saja kau tidak punya bukti apapun untuk ikut menyeret ku ke tempat menjijikkan ini!"
Kevin pun mengepalkan tangannya,
"Dasar, Kurang ajar!! Kau menjanjikan pada kami uang dan kebebasan setelah kami berhasil melenyapkan Erina!"
"Huh, Kalian sangat polos, hanya dengan rayuan murahan seperti itu saja, kalian gampang sekali terjerat,"
Kevin pun menggebrak meja di hadapannya, dan menunjuk ke arah Wanita itu,
"Benar benar wanita licik!"
Wanita itu pun tersenyum tipis, ia kemudian berdiri dan hendak melangkah, namun ia kembali berbalik dan menatap mereka,
"Aku rasa, Jika Alan dan Amanda masih hidup, Mereka pasti akan menangis melihat kalian yang seperti ini!"
Theo pun langsung berdiri dari duduknya,
"Apa maksudmu? Apa kau mengenal kedua orang tua kami?"
Wanita itu pun kembali menyunggingkan senyumnya,
"Tentu saja, Amanda Owent adalah sahabatku, lebih tepatnya sahabat yang menusukku dari belakang!"
Kevin dan Theo pun mengerutkan dahinya,
"Amanda Owent adalah wanita yang merebut Alan Owent dariku! Alan lebih memilih gadis Menyebalkan seperti dia, daripada gadis berkelas seperti ku!"
Rahang kevin pun mengeras,
"Tapi, mereka sekarang mungkin tenang di alam baka sana melihat kalian berada di tempat ini, dan setidaknya kalian disini tidak perlu lagi mencuri hanya untuk sesuap nasi!"
Tangan Kevin pun mengepal keras,
Wanita itu pun kembali melanjutkan langkahnya, namun saat di muka pintu, ia kembali menatap ke arah Kevin dan Theo,
"Karena kalian akan tinggal disini selama sisa hidup kalian, dan karena aku sedang berbaik hati, aku rasa kalian memiliki hak untuk mengetahui tentang satu kebenaran lagi,"
Kevin dan Theo pun hanya terdiam, dengan kedua tangan mengepal dan rahangnya yang mengeras,
"Erina, Gadis yang kalian singkirkan itu adalah Adik kandung kalian yang hilang!"
Kevin dan Theo terlihat syok mendengar pernyataan Wanita tersebut, mata mereka terbelalak dan tidak mampu berucap apapun,
"Aku menyadari jika Erina adalah adik kalian saat aku menyelidiki nya, Dia adalah bayi yang aku culik dulu dari sisi orang tua Kalian, dan aku yang membuang nya ke tempat terkutuk itu! Hah! Tapi, syukurlah, Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk melenyapkannya!"
Mendengar itu Kevin pun murka, Ia berusaha untuk menyerang Wanita itu, namun dihalangi oleh para penjaga, Wanita itu pun melenggang pergi dengan santai nya,
Kevin dan Theo pun kembali digiring menuju ke sel Mereka masing masing,
Kevin dan Theo terlihat menangis dan menyesali perbuatannya, mereka pun hanya bisa berteriak,
"Aaarrrggghhh!!"
Kevin pun memegang kepalanya, sedangkan Theo memukul mukul kepalanya ke dinding,
"Maafkan Aku Erina!" Ucap pelan Mereka,
Mendengar kebenaran tentang Erina, membuat penyesalan yang sangat besar di dalam diri mereka,
Semua ingatan bagaimana perlakuan mereka terhadap Erina terus berputar di otak mereka, yang membuat mereka terus menangis histeris dan menyesalinya.
****
Di suatu tempat,
Seseorang tengah terbaring di atas tempat tidur, dengan perban yang membalut hampir di seluruh tubuhnya, dengan selang infus dan selang oksigen yang menempel di tubuhnya, Ia terlihat hampir seperti mayat hidup,
Seorang dokter tengah memeriksa keadaannya dengan sangat teliti, hingga seorang partnernya menghampiri,
"Apa keadaannya masih sama?"
"Hmm,"
"Apa tidak lebih baik, jika kita melepas semua alatnya? Selama ini, dia hanya bertahan hidup karena semua alat bantuan ini bukan?"
"Kau benar, tapi.. Seorang dokter tidak mungkin membiarkan pasiennya begitu saja, selagi dia masih berjuang untuk tetap bertahan, selama itu pula aku tidak akan menyerah, aku akan terus membantunya untuk bertahan sampai akhir,"
Partnernya pun mengangguk dan menepuk bahu dokter itu, kemudian melangkah pergi..
****
Sementara itu,
Billy mendapat kabar dari orang suruhannya jika kirana memang hidup sendirian, dia tidak memiliki seorang keluarga satupun,
"Jadi, Kirana hidup sebatang kara?"
"Benar Tuan, Nona Kirana dikabarkan pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan ingatannya secara permanen,"
"Kecelakaan? Apa kau tau kecelakaan seperti apa?"
"Emm, Kami masih menyelidiki nya Tuan,"
Billy pun mengangguk pelan,
"Lanjutkan penyelidikan mu,"
"Baik Tuan,"
Billy nampak termenung,
Di tengah lamunannya, seseorang datang, Ia menepuk bahu Billy hingga membuat Billy sedikit terperanjat,
"Hey, Apa yang sedang kau lamunkan?"
Billy menarik nafas panjang,
"Kau mengagetkanku saja,"
Ryan nampak tersenyum melihat reaksi Billy,
"Jangan melamun terus,"
Billy menatap ke arah Ryan,
"Kau tau?"
"Hmm?"
"Aku merasa yakin, jika Kirana adalah Erina,"
Ryan menghela nafas kasar,
"Tapi menurutku, mereka berdua adalah orang yang berbeda, meski secara fisik mereka terlihat sama,"
"Kenapa kau begitu yakin?" Billy mengerutkan dahinya,
"Entah lah, tapi aku yakin seperti itu,"
Billy pun tersenyum tipis,
"Aku rasa, mungkin karena kau belum pernah bertemu dengan Kirana,"
Ryan pun mengangguk pelan,
"Mungkin,"
"Baiklah, begini saja, bagaimana kalau kau bertemu dengan Kirana dulu?"
Ryan terlihat melengkungkan bibirnya,
"Baiklah, Aku setuju!"
****
Hari berikutnya,
Billy mengajak Ryan ke tempat Kirana bekerja, Disana mereka memperhatikan bagaimana cara Kirana bersikap dan berucap, Bagi siapapun sepintas Kirana memang terlihat seperti orang yang sama dengan Erina, Namun Ryan menyadari satu hal,
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Billy menatap Ryan yang masih memperhatikan Kirana
"Tidak, Dia bukan Erina!"
"Aku akan menyelidikinya, dan akan aku pastikan dia memang Erina,"
Ryan pun terdiam dengan raut wajah serius.
Billy pun meminta Kirana untuk duduk bersama mereka, Kirana yang tidak ingin kejadian tempo hari kembali terulang, ia pun mengikuti permintaan Billy,
"Kirana kenalkan, ini Ryan, dia adalah sahabatku,!"
Kirana tersenyum ramah menatap ke arah Ryan, ia pun mengulurkan tangannya
"Hai! Namaku Kirana!"
Ryan menyambut uluran tangan Kirana dengan raut wajah dingin nya,
"Aku Ryan,"
Kirana pun hanya tersenyum tipis,
"Duduklah," Ucap Billy
Kirana duduk berhadapan dengan mereka,
"Jadi, kamu bekerja disini?" Tanya Ryan.
Kirana pun mengangguk pelan,
"Apa kau sudah lama bekerja disini?"
Billy menatap heran ke arah Ryan, dan menyenggol pelan lengan Ryan, seolah memberi kode padanya,
Billy pun kembali menatap Kirana, seraya tersenyum manis,
"Emm, Sudahlah! Tidak usah dianggap! Ryan memang seperti itu, temanku ini memang sedikit menyebalkan,"
Kirana pun tersenyum tipis,
****