* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Karena Deril lebih dulu sudah mandi, lalu kini dia juga sudah rapui dengan kaos putih polosnya, celana selutut, lalu dengan ponsel di tangan, cowok tersebut sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, sesekali kepalanya terangkat untuk menonton ke arah televisi yang menyala dan emnampilan siaran film Harry Potter entah series ke berapa. Ia pun memang tak begitu peduli. Laki-laki itu asik membaca dan membalas segala macam pesan masuk yang ada di ponselnya—walaupun tidak semua, karena ia lebih berminat stuck di ruang chatting bersama tiga teman baiknya—sedangkan pesan masuk lain adalah ucapan-uapan selamat yang Deril putuskan untuk dibalas besok saja.

