Taruhan

1752 Kata
“Ayo, jalan!” “Harus boncengan gitu? Kau nda mau bawa motor sendiri kah?” “Lagi males, Do. Ayolah!” Ipung menepuk pundak Nando. “Ingat, kau punya utang jawaban sama aku?” “Jawaban apa lagi? Kau mau nyontek pas ujian nanti?” tanya Nando lalu melihat Ipung melalui spion. “Aku ndak mau ketahuan main hape pas ujian.” “Eh eh eh, kau belum ngasih tau aku loh kenapa kau mau kuliah di borneo.” Astaga, kukira dia lupa sudah. Sekali lagi, Ipung menepuk pundak Nnado. “Ayo eh, ndak lama kita terlambat.” Tanpa membalas perkataan Ipung, Nando melajukan motor menuju Universitas Borneo Tarakan. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Meski Nando ingin sekali bertanya pada Ipung tapi dia urungkan karena takut malah ditanya balik oleh sepupunya itu. Begitu melewati gerbang Nando bertanya pada Ipung dimana gedung ujiannya. “Paling belakang, Gedung Fakultas Pertanian. Pokoknya terus aja nanti.” Nando mengangguk. ”Oke, Boss!” Begitu sampai di parkiran Gedung Fakultas Pertanian, Nando melihat Putri yang baru saja akan menyalakan motor. Nando tersenyum pada Putri tapi gadis itu mengacuhkannya. Tanpa menoleh, Putri melewati Nando dan Ipung. Ipung tertawa terbahak-bahak. Sementara Nando melongo melihat kepergian Putri. “Hahahaha.” Ipung terus tertawa hingga membuat orang di sekitar mereka menatap heran pada mereka berdua. Menyadari pandangan aneh beberapa orang, Ipung menghentikan tawanya. “Sudah ah, aku masuk kelas dulu.” Ipung meninggalkan Nando. Ingin rasanya Nando berteriak pada Ipung tapi tak dia lakukan karena tak mau menjadi pusat perhatian lagi. Dia pun meninggalkan tempat itu lalu menuju gedung tempatnya ujian. Saat melangkahkan kaki di dalam ruang ujian, Nando melirik ke arah Putri tapi lagi-lagi Putri bersikap acuh, seolah tak melihat Nando. Dia pikir aku hantu, gitu? “Hai Do!” sapa Anto dengan suara pelan. “Kenapa kemarin kau langsung pergi, ha?” Nando menatap Anto. “Serius mau tau alasannya?” Anto mengangguk. “Aku males dekat-dekat kau,” ucap Nando lalu mengeluarkan alat tulis dari dalam tas. “Asem kau,” ujar Anto lalu melirik ke arah Putri. “By the way, gebetan ndak disapa dulu?” Nando menoleh ke arah Putri. “Bagaimana mau disapa kalau aku senyum aja dicuekin.” Nando menarik napas sekilas lalu menghembuskannya. Anto terkekeh. “Kau sih, mau dikasih tau cara dekatin dia tapi malah pulang duluan.” “Ada urusan mendadak,” ujar Nando. “Kapan-kapanlah aku belajar sama kau ya?” “Berarti kapan-kapan jugalah kau bisa dekat sama cewek itu?” Nando melirik ke arah Putri yang sedang fokus dengan buku di mejanya. Melihat hal tersebut membuat Nnado terpikir untuk belajar saja daripada bicara dengan Anto. “Aku mau belajar dulu, To.” “Oke oke,” ucap Anto, masih dengan suara pelan. Nando mencoba berkonsentrasi dengan buku di hadapannya tapi sangat sulit. Banyak hal yang terasa mengganjal di pikirannya. Apa dia benci sama aku, sampai ndak mau senyum sedikitpun? Pikir Nnado. Suara bel dari pengeras speaker di ruangan memutus lamunan Nnado. *** Di saat jam istirahat, Nando lebih memilih di kelas membaca buku. Meski sebenarnya pikirannya sedang bergerilya di tempat lain. Saat Anto mengajaknya keluar mencari udara segar, dia tetap memilih berada di dalam kelas. Bahkan saat Putri keluar dari kelas, Nando tetap berada di kursi yang sejak pagi dia duduki. Begitu ujian selesai, Nando perlahan memasukkan semua alat tulis ke dalam tas. Lalu berdiri, melangkah perlahan. “Do,” panggil Anto. “Sudah mau pulang?” berjalan di sisi kiri Nando. Tanpa menoleh Nando mengangguk perlahan “Kau sakit?” “Ha? Ndak kok, lagi lemes aja.” “Kau sih ndak ikut ke kantin tadi pas istirahat.” “Aku mau jemput Ipung.” Nnado mengangkat tangan kiri. “Aku duluan ya, To.” Nando meninggalkan Anto yang masih terbengong dengan perubahan sikap Nando. Kemarin menggebu-gebu dan bersemangat. Hari ini malah keliatan lesu, persis seperti orang yang belum makan tiga hari. Begitu sampai di parkiran gedung Fakultas Pertanian, Nando menunggu Ipung. Tapi lelaki itu tak kunjung muncul. Nando memilih menghubunginya lewat telepon agar tak menunggu terlalu lama. Benar saja, Ipung sedang bercengkerama dengan beberapa temnnya di ruang ujian. Ipung bahkan lupa kalau dia datang ke kampus bersama Nando. Saat menunggu Ipung, Putri terlihat sedang menunggu seseorang juga beberapa meter dari Nando. Tapi Nando hanya diam. Dia tak lagi tersenyum lebar kepada Putri. Perubahan sikap itu mebuat Putri sedikit heran. Tapi dalam hati, Putri bersyukur karena tak lagi merasa risih dengan sikap Nando. “Kan enak liatnya kalau dia diam daripada senyum ndak jelas,” pikir Putri. “Tapi kok dia keliatan lemes banget ya? Kayak orang yang hidup segan tapi mati tak mau, hehe.” Sementara mereka larut dalam pikiran masing-masing, Ipung datang menghampiri Nando. Mereka langsung meninggalkan tempat tersebut. Beberapa menit kemudian, Lina pun muncul dengan senyum mengembang di wajahnya. “Maaf Put, tadi anak-anak ngajak nongkrong weekend ini,” ucap Lina begitu bokongnya mendarat di jok motor. “Kami bahas kemana bagusnya nanti.” “Sudah punya teman baru?” tanya Putri heran. “Hebat memang kau.” Lina terkekeh. “Beberapa dari mereka itu teman sekolah kita juga kok.” “Di ruanganku juga ada teman sekolah kita tapi kami ndak ada niat buat nongkrong bareng.” Lina memajukan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Putri. “Itu karena kau ndak tegur mereka, Put. Kau kan memang begitu. Ndak mau negur duluan.” “Hehe iya sih. Males bah. Mending aku belajar daripada ngobrol yang ndak jelas.” “Aku tau kok Put, aku satu-satunya orang yang jelas menurutmu. Hahaha.” Mereka tertawa.  Dan, sepanjang perjalanan tawa itu terkadang terdengar di sela obrolan mereka. Seolah bahan pembicaraan mereka tak ada habisnya. “By the way, tadi itu cowok yang kapan hari liatin kau kan? Tanya Lina. “Siapa namanya?” “Nando.” “Nando?” tanya Lina lagi. “Iya, namanya Nando.” “Ciee, yang sudah kenalan. Hahahaha.” “Diam, Lin. Sembarangan aja kalau ngomong. Aku ndak pernah ya kenalan sama dia. Males deh,” Putri memajukan mulutnya meski tak terlihat oleh Lina yang duduk di belakang. “Terus kau tau dari mana kalau namanya Nando?” Putri menghembuskan napas dengan kasar. “Dari temannya yang teriak manggil dia.” “Kalian seruangan?” “Hm, iya.” Putri menjawab singkat karena dia tau akan seperti apa heboh sahabat sekaligus tetangganya itu. “Kenapa kau baru cerita?” “Apa coba yang mau diceritakan?” Putri mematikan motor. “Turun. Sudah sampai.” Lina memperhatikan sekitarnya. “Oh, sudah sampai. Padahal lagi seru-serunya loh. Harusnya dari awal kita bahas dia aja. Hehe.” Lina terkekeh lalu tersenyum jahil. “Mau mu,” ujar Putri mencibir. “Sudah ya, aku pulang dulu.” Putri melambaikan tangan lalu kembali menyalakan motor. Tak sampai dua menit, Putri sudah sampai di rumahnya. Setelah mengucapkan salam, Putri memasuki rumah. Malam hari, Lina datang ke rumah Putri. Mereka belajar bersama seperti dua malam sebelumnya. Tapi disela belajar, Lina bertanya mengenai Nnado. Tapi, Putri tak ingin membahsanya kaarena tak ingin mengganggu proses belajar. Begitu mereka bersiap untuk tidur. Lina yang sudah sangat penasaran memberondong Putri dengan berbagai macam pertanyaan. “Kalian seruangan kan? Dia duduk di depan, belakang atau di sampingmu? Apa dia liatin kau sama persis kayak harian tu? Sampai ndak berkedip juga?” tanya Lina lalu dahinya berkerut. “Klau kalian seruangan, berarti selama ujian dia ngeliatin kau terus, iya? Astagaaa, Put.” Menutup mulutnya dengan tangan. “Kau yang astaga. Pertanyaanmu kurang banyak loh. Tambah dulu baru kujawab. Kalau perlu tulis baru aku jawab satu-satu biar kau puas.” Lina terkekeh. “Ciee, ada yang ngambek ni. Hahahaha.” “Ketawa lah, aku ndak bakal jawab.” Seketika Lina mengatupkan mulut. “Intinya dia ngeliatin aku terus. Mana liatnya sambil senyum-senyum ndak jelas. Aku heran loh, dia tuh niat kuliah ndak sih.” “Mungkin niatnya mau ngeliatin kau.” Lina kembali terkekeh. “Hanya orang gila yang kuliah cuma buat ngeliat orang. Harusnya kuliah itu yah buat belajar lah.” Lina mngusap-usapdagu. “Tapi dia kayak orang gila sih. Hahahaha.” Tertawa sangat keras. ”Ingat betul aku bagaimana mupengnya dia pas pertama kali kita ketemu. Hahaha.” “Pelankan suaramu, Lin. Malam sudah nih.” Lina menghentikan tawanya. “Oke oke, maaf.” “Tapi seharian tadi dia aneh loh.” “Aneh bagaimana maksudmu? Bukannya dia memang aneh? Anehnya orang yang aneh itu bagaimana sih?” “Lin, aku tiba-tiba stres dengar pertanyaanmu itu.” Putri menggelengkan kepala. “Seharian dia ndak senyum ke arahku. Sesekali sih ngeliat aku tapi ndak ada senyum sama sekali. Heran aku.” “Eh, bentar. Kok kayak aneh ya? Kesannya kau malah yang ngeliatin dia?” Lina menengadahkan kepala. “Darimana kau tau kalau dialiatin kau? Pasti karna kau juga suka lirik-lirik dia kan? Ayo ngaku. Hehehe.” Mencolek dagu Putri. Putri terdiam. Kok jadinya gitu sih. “Kayaknya kau sudah mulai suka sama cowok yang namanya Nando itu deh. Serius.” Lina menatap manik mata Putri. “Coba kau pikir, sebelumnya pernah kah kau tertarik buat ngelirik-lirik cowok? Ndak kan?” Putri menggeleng. “Nah kan, berarti kau suka juga sama dia.” “Loh, kok bisa-bisanya narik kesimpulan begitu? Aku loh yang rasain, bukan kau.” “Oh ya?” goda Lina. “Liat aja besok-besok. Aku yakin kau suka tapi ndak mau ngaku atau belum sadar aja.” “Amit-amit suka sama cowok aneh kayak dia.” “Ndak boleh ngomong gitu loh, Put,” ucap Lina mengingatkan. “Mana tau karena sering ketemu akhirnya kalian malah saling suka, nah.” “Tapi aku yakin kami ndak bakal sering ketemu.” “Seyakin itu? Kenapa?” “Dia aja keliatan males belajar. Dan, setahu aku ndak ada cowok ganteng yang pintar. Aku yakin dia ndak bakal diterima.” “Kalau dia diterima bagaimana?” “Kalau dia diterima,” Putir tampak berpikir. “Aku kabulkan satu permintaanmu.” “Jangan deh,” tolak Lina. “Aku tuh kalau dikasih satu permintaan, pasti aku minta tiga permintaan lagi. Hehe.” “Dasar!” “Gini aja deh, kalau misalnya tuh cowok diterima, kau harus ajak dia kenalan. Gimana?” “Aku? Ngajak kenalan?” tanya Putri tak percaya. “Bukan style ku itu, Lin. Aku ndak suka ngajak oang kenalan, apalagi cowok.” “Itulah taruhan, Put. Kau harus ngelakuin sesuau yang sebenarnya kau ndak mau karna kau kalah. Jadi gimana?” tanya Lina lagi. Putri tampak berpkir sejenak. Lalu tangannya menarik tangan Lina. “Deal!!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN