“Kau nginap disini lagi, Pung?” tanya Nando bergitu melihat Ipung mendaratkan tubuhnya di kasur setelah makan malam mereka.
Ipung mengangguk lalu mengeluarkan telepon seluler dari dalam saku celana pendek yang dia gunakan. “Nanti abis ujian baru aku pulang. Aku mau belajar sama kau disini.”
“Gayamu mau belajar. Nah kerjaanmu main hape terus.” Nando mendengus. “Pacaran aja kerjanya.”
“Eh, si jomblo sewot,” tukas Ipung tapi matanya masih fokus dengan telepon seluler miliknya. “Kasih keluar lah bukumu baru kita belajar sama-sama.”
Bukannya beranjak mengambil buku, Nando malah ikut berbaring di sisi Ipung. “Aku capek, mau tidur aja.”
“Eh.” Ipung menoleh pada Nando. “Kau kenapa sih? Kayak lesu betul seharian ini. Tadi pagi masih semangat. Pulang kuliah sudah loyo. Abis makan masih juga, loyo. Kau abis ditolak cewek kah?”
“Apa sih?”
“Siapa namanya tu? Yasmin kan?”
Nando perlahan mengangguk. “Iya, Yasmin.”
“Kau sudah nyerah? Ndak mau dekati dia lagi?”
Nando hanya diam. Pikirannya melayang. Dia tak tau harus menjawab apa. “Apa dia benar-benar benci sama aku?”
Ipung memperhatikan perubahan raut wajah dari Nando. Raut wajah yang hampir tak pernah terlihat sebelumnya. Terlihat jelas Nando sedang sangat bimbang.
“Kau kenapa sih?” taya Ipung lagi. “Biasanya kau tuh semnagat dan percaya diri sekali. Kalau dikasih tau suka ngeyel, keras kepala.”
Nando hanya diam.
“Kayak aneh rasanya kalau ndak bedebat sama kau bah,” lanjut Ipung. “Ibarat motor, kau tuh kayak motor yang ndak pernah dicuci sebualan. Mana belum ganti oli, belum diservice, lampu depan mati pula. Lengkap lah pokoknya.”
Nando tetap diam.
“Bawaanya males gitu bawa motor kayak kau. Baru dilirik, udah males. Mau dibawa jalan, apalagi, takut pas digas malah macet.”
Nando masih saja diam.
“Kayaknya aku tau cara service motor kayak kau nih. Sebentar,” ujar Ipung lalu memperlihatkan telepon seluler miliknya. “Coba liat postingan terbarunya Yasmin.”
Herlina bersama Putri Yasmin S
Ada yang lagi jatuh cinta tapi gak sadar-sadar.
Nando menyipitkan mata saat Ipung mendekatkan telepon selulernya. Tapi setelah membaca postingan itu, matanya terbelalak. Dia bahkan terlonjak hingga duduk.
“Ini maksudnya dia yang lagi jatuh cinta atau temannya sih?”
“Siapa yo?” Ipung tersenyum jahil.
Nando mengacak-acak rambutnya. “Sudahah, aku mau tidur aja. Aku bener-bener ndak bisa mikir sekarang.” Merebahkan tubuh lalu menarik selimut hinga menutup seluruh tubuhnya
Ipung menggelengkan kepala. “Beginilah kalau baru mengenal cinta.”
Nando semakin mengeratkan selimut ditubuhnya. “Aku butuh istirahat,” pikirnya.
Tapi beberapa menit kemudian dia membuka selimutnya. “Aaaaargh!”
Ipung memutar kepalanya ke arah suara yang baru saja menggelegar. “Kau kenapa sih?” lagi lagi Ipung bertanya hal yang sama.
“Aku ganteng kah, Pung?” tanya Nando dengan tatapan kosong.
Ipung menggangguk meski tau Nnado tak akan melihat anggukan itu. “Iya, Do. Bahkan orang buta pun tau kalau kau ganteng.”
“Mukaku keliatan kayak cowok jahat kah ya?”
“Hm,” sejenak Ipung berpikir. “Ndak sih, kau malah terlihat. Hm, apa ya namanya.” Dia masih berpikir. “Letoy bukan, kalem bukan, apa ya sebutannya? Intinya mukamu ndak sangar lah.”
“Kalau aku senyum,” kalimat Nando terhenti karena dua orang perempuan mengampirinya lalu tanpa aba-aba perempuan yang lebih tua menangkup kedua pipinya.
“Kau kenapa, Nak? Ada yang sakit?”
Nando diam. Dia tidak tau kenapa ibunya bisa berpikir seperti itu. Sementara Ipung malah terbahak. Sesekali dia menyeka butiran air di sudut matanya.
“Pung,” ujar Susi dengan tegas.
“Maaf Cil,” ucap Ipung seraya mencoba menghentikn tawanya. “Nando bukan sakit, cuman lagi stres aja. Hehe.”
“Bener, Do?”
Nando mengangguk.
“Iiiih abang, bikin kaget aja. Kurang abang jatuh kah tadi, rupanya karea capek belajar.” Nindi berkacak pinggang. “Aku ke kamar dulu ah, mau nonton Drakor dulu. Hehe.”
Susi mengembuskan napas. Lega karena anaknya baik-baik saja. Tidak terluka sedikitpun. “Ya sudah, mamak tinggal dulu ya. Istirahatlah. Jangan dipaksa belajar kalau otaknya sudah capek.”
Nando mengangguk lesu sementara Ipung menahan geli. Begitu Susi keluar, Ipung langsung menutup pintu. Lalu tertawa terbahak di belakang pintu.
Setelah puas tertawa, Ipung duduk bersila di hadapan Nando. “Cerita, Do. Kau kenapa sih?” pertanyaan itu terlontar lagi dari mulut Ipung.
“Pung.” Nando menjeda kalimatnya.
“Ya?”
“Kayaknya dia benci sama aku.”
“Loh? Kok kau bisa bilang begitu?”
“Kalau kuingat-ingat, dia ndak pernah membalas senyumku.”
“Tapi pas pertama ketemu dia senyum kok,” ujar Ipung cepat.
“Itu kayak senyum ngolok kayaknya bah. Seperti yang kau bilang, aku keliatan sangat aneh hari itu. Dia illfeel kayaknya sama sikapku yang aneh dan ndak jelas ini. Hm, aku musti gimana?” Nando menarik napas perlahan lalu menghembuskannya dengan kasar. “Kayaknya aku ndak akan bisa dekat sama dia. bagaimana mau dekat, aku senyum dicuekin.”
“Do.”
“Ya?” tanya Nando dengan tampang nelangsa.
“Kau mau tau apa yang musti kau lakukan selanjutnya?”
“Apa?”
“Kau harus diterima di borneo biar bisa dekati dia.”
“Pung, aku kan sudah bilang, dia illfeel sama aku.entah sudah berapa senyum yang aku beri tapi tak pernah dibalas.,”ungkap Nando. “Aku kira dia ndak mau balas senyumku karna malu. Tapi semakin dipikir, kayaknya karna dia risih sama sikapku yang...”
Ipung menepuk pundak Nando. “Karena itu, ubah sikapmu. Cewek kayak dia gak suka sama cowok yang terlalu agresif. Slow aja mainnya. Dekati dia sebagai teman, buat dia nyaman. Setelah yakin, baru deh tembak,” jelas Ipung.
“Begitu ya?”
“Iya, Do,” jawab Ipung mantap. “Ndak semua cewek suka sama cowok ganteng. Ada beberapa yang lebih tertarik sama cowok baik, meski ndak ganteng.”
“Jadi? Aku musti berteman sama dia, begitu?”
“Ya, bener.”
“Kalau dia ndak mau beteman sama aku gimana?”
“Liat peluang dong, Do.”
“By the way, dia ambil jurusan apa sih? Kayaknya cewek-cewek cantik itu banyak di jurusan ekonomi. Kau kan jurusan Hukum. Nah, gedung kalian kan depanan. Tapi..” Ipung mulai berspekulasi.
“Tapi apa?”
“Kalau ndak satu jurusan, bakal susah buat punya alasan untuk berteman. Tapiiii,” Ipung mulai berpikir. “Tapi, kau masih bisa punya peluang dekati dia di Ospek. Berdoa saja kaliana bisa satu kelompok.”
“Kalau kami ndak satu kelompok?”
Ipung tampak berpikir. “Hm, kau bisa ikut organisasi yang sama kayak dia.”
“Organisasi sejenis OSIS gitu maksudmu?”
“Nah itu, pinter. Tapi...”
“Tapi apa lagi?”
“Kayaknya cewek kayak dia ndak suka ikut organisasi deh.”
“Kayaknya iya. Selama ini, yang aku liat temennya cuma satu aja.”
“Nah itu. Tapi masih ada peluang kok. Kalian kan bisa ketemu di Ospek. Berdoa jaa supaya kau diterima.”
“Kau meragukan kepintaran aku?”
“Hehehe,” Ipung terkekeh. “Aku yakin kau diterima. Bagus kita cari tau dia daftar di jurusan apa. Semoga jurusan Hukum sama kayak kau.”
“Dia ambil jurusan Bimbingan Konseling di pilihan pertama, ndak tau deh pilihan keduanya apa. Aku sempat baca nama sama jurusan pilihan pertamanya waktu itu.”
Ipung terkesiap. “Wah, ndak nyangka aku kalau kau sudah sejauh itu tau tentang dia. Itu jurusan di Fakultas Keguruan kan? Bakal jauh dong dari fakultamu nanti.”
“Kau tau jurusan itu ada?”
“Tau lah, kan pas mau daftar aku sibuk milih-milih jurusan yang sekiranya cocok sama aku.”
“Oohh, kukira kau terpikir buat masuk BK kayak aku.”
“Apa? Coba ulang.” Ipung seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Kau pilih jurusan BK juga?”
Nando mengangguk.
“Wah wah, serius. Karena dia?”
Nando mengangguk lagi sembari tersenyum.
“Astaga, segitunya kau suka sama cewek itu?” ujar Ipung setengah tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.”Aku janji bakal bantu kau, Do.” Ipung memasang tampang serius.
“Aku mengandalkanmu, Pung. Aku bener-bener buta tentang cewek.”
“Tenang, Do. Percayalah, aku pasti bantu kau sampai kalian jadian. Kalau perlu sampai kalian nikah.”
“Aaah,” Nando mendesah. “Lega rasanya setelah cerita sama kau.”
“Itulah kau, sok mau bohongi aku.”
“Bukan bohong sih tapi belum cerita aja, hehe.” Nando terkekeh. “Abis kau suka ngolokin aku jadi aku malas cerita.”
“Hehehe, tenang Do, kali ini aku ndak bakal ngolok kau. Janji!” Ipung memperlihatkan jari kelingkingnya.
Nando memukul tangan Ipung. “Apa sih, Pung. Aku bukan pacarmu yang biasa kau kasih janji-janji manis yang berakhir pahit.”
Ipung tertawa. Sedangkan Nando hanya menggelengkan kepala. Dalam hati dia berujar, “Kenapa aku punya sepupu kayak gini, Tuhan?”
Sementara di kamar lain yang jauh dari kamar Nando, seorang gadis tertidur pulas. Gadis lainnya sibuk dengan ponsel miliknya.
“Iya sayang, aku yakin dia juga tertarik sama cowok itu, hehe,” ucap Lina pelan
“Nanti dia marah karna sayang pasang stattus begitu nah,” ujar lelaki yang berada di pulau yang berbeda dengan Lina.
“Tenang, dia ndak bakal marah sama statusku. Paling ngambek, haha.”
“Sayang ni. Ya sudah, istirahatlah. Besok masih ujian kan?”
“Iya Sayang, aku tidur duluan ya. Besok masih ujian.”
“Mimpi indah, Sayangku Love you.”
“Oke, love you too. Emmuach..” Lina mengerucutkan bibir.
Lina meletakkan ponselnya di dekat bantal lalu terkekeh memandang Putri. “Put Put, semoga cowok itu cowok baik. Ini pertama kalinya kau cerita tentang cowok sama aku.” Mata Lina berkaca-kaca.