Jodoh Pasti Bertemu

1658 Kata
Hari terakhir ujian. Sama seperti hari sebelumnya, Nando berboncengan dengan Ipung. Sedangkan Putri berboncengan dengan Lina. Setelah Putri dan Nando mengantar masing-masing penumpangnya, mereka menuju ruang ujian. Tapi mereka tidak datang bersamaan, Putri lebih dahulu sampai. Setelah memarkirkan motor, Putri menuju ruang ujian. Begitu memasuki ruangan, matanya tertuju pada kursi yang biasa ditempati Nando. Melihat tak ada yang duduk di tempat tersebut, Putri melangkahkan kaki menuju kursi miliknya. Melirik sejenak ke kiri, Putri tertegun. Lalu mengeluarkan alat tulis dari tas, begitu juga buku catatan berukuran (12x16) cm. Setelah memastikan semua benda yang dibutuhkan utuk ujian nanti telah lengkap, Putri mulai membaca catatan kecil yang berisi rangkuman dari buku yang dia baca semalam. Dia terlihat fokus dengan buku di hadapannya. Beberapa orang di sekitarnya juga terlihat melakukan hal yang sama. Namun ada pula yang bercengkerama. Lalu sebuah suara membuyarkan konsentrasi Putri. “Apaan sih, To. Aku baik-baik aja loh ini,” ucap Nando, menjawab pertanyaan Anto yang bertanya kabarnya hari ini. “Sudah, jangan ajak aku ngobrol, aku mau belajar.” Anto mengatupkan mulut lalu menempelkan telunjuk dan jempolnya, menempatkan kedua jari itu tepat di depan mulutnya kemudian menariknya dari kiri ke kanan, persis seperti menutup resleting. Lalu dia membalikkan badan. Nando tersenyum kemudian mengeluarkan buku yang cukup tebal dari dalam tas. Dia mulai membaca kata demi kata dari buku di hadapannya. Meski sebenarnya dia tak benar-benar memahami isinya, dia bahkan tak benar-benar membaca buku tersebut. Pikirannya terus berkontradiksi, antara ingin melirik Putri atau tidak. Dia ingin sekali melihat ke arah Putri. Tapi di sisi lain, dia juga harus memegang janji kepada dirinya sendiri agar tak lagi bersikap memalukan di hadapan Putri. Sementara Putri sesekali melirik Nando. Sedikit heran karena biasanya Nando selalu memperhatikan dirinya. “Apa sekarang cowok itu sudah waras?” pikirnya. “Tapi kok kayak lain-lain yah kurasa? Hm, mungkin karena biasanya dia suka ngeliatin aku dan sekarang ndak lagi, makanya aku ngerasa aneh. Aah, sudahlah. Fokus Put, fokus.” Mereka pun fokus dengan buku masing-masing. Hingga ujian berakhir, benar-benar tak ada lirikan. Nando benar-benar berusaha keras untuk fokus dengan ujiannya. Dalam hati, dia berdoa bisa diterima di kampus ini agar bisa mendekati Putri dengan gentle, bukan malu-maluin kayak sekarang. Bahkan setelah pulang ujian pun, Nando bergegas menjemput Ipung. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Putri. Teman sekolahnya yaitu Anto sampai geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap Nando. Bukan hanya Anto, Putri sampai terheran-heran. “Berasa aneh banget dia hari ini,” gumam Putri begitu melihat Nnado meninggalkan ruang ujian. Dan, begitu pulang ujian. “Linaaa,” teriak Putri. Seseorang di seberang sana mengusap-usap telinganya. “Apa sih, Put? Baru juga ketemu sudah nelpon lagi aku tau kok kalau aku ngangenin.” “Lin, kau kan yang buat status begitu? Pake tag namaku pula,” geram Putri. “Hapus memang!” Lina terkekeh. “Hehe, kau baru baca? Astaga, kukira dari tadi pagi kau baca. Kukira kau ndak marah karna tadi pagi pas ke kampus, ndak ada ngomong apa-apa.” “Sudah, hapus pokoknya.” Tegas Putri lalu mematikan sambungan telepon. Lina nih, bikin aku malu. Mana temen-temen di f*******: anggap serius pula. Dikira aku jatuh cinta beneran. Idih, ndak mungkin aku jatuh cinta. Apalagi sama cowok modelan kayak si Nando Nando itu. Ndak level! Eh, tapi kan Lina ndak ada sebut nama Nando ya? Ah, sudahlah. *** Sekitar jam delapan pagi, Nando dan Ipung telah sampai di Universitas Borneo Tarakan. Mereka akan mendaftar untuk Ospek. Setelah mendaftar, mereka bergegas pulang. Namun, saat berada di parkiran, dari jauh tampak Putri dan Lina menuju ke arah mereka. “Jaga sikap. Do. Jaga sikap,” gumam Nando dalam hati. Ipung yang heran dengan Nando yang tak kunjung menyalakan motor. Padahal mereka telah duduk di motor. “Loh, kok ndak jalan?” tanya Ipung seraya menepuk pundak Nando. Nando tersentak. “Oh iya,” ucapnya lalu menyalakn motor. Mereka berpapasan. Nando berpura-pura tak melihat. Sementara Putri melirik sekilas. “Itu cewek pujaanmu kan. Do? Nando mengangguk. “Iya.” “Ciee, sok ndak liat lagi tuh,” goda Ipung. “Perubahan besar ini. Hahaha.” Nando mengeram. “Bisa diam ndak sih? Mau kita berdua jatuh berdua? Mau?” ancamnya. Ipung menutup mulut dengan kedua tangannya. “Jangan bangunin macan yang lagi hibernasi. Eh, lagi tidur, hehe.”Ipung terkekeh. Sementara Nando larut dalam pikirannya. Berkali-kali dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap konsisten dengan perubahannya yang sekarang. “Ingat Do, ini semua demi kau. Demi masa depanmu bersama Yasmin.” Eh, masa depan? Tak jauh berbeda, Putri dan Lina juga tengah membicarakan Nando. “Loh, itu cowok yang aneh itu kan? Jangan bilang dia diterima disini?” tanya Lina. “Hayo kau, ingat memang buat kenalan sama dia. Haha.” “Bisa diam ndak sih?” ucap Putri lalu menghentikan motornya. Lina turun dari motor sementara Putri memarkirkan motornya. Mereka memasuki gedung Fakultas Ekonomi yang menjadi sekertariat panitia Ospek. Setelah mendaftar, mereka bergegas untuk pulang. “Makasih, Kak,” ucap Lina pada senior yang melayaninya sebelum mereka benar-benar pulang. Di parkiran Lina kembali bertanya pada Putri, “Yakin mau langsung pulang? Ndak mau ke pantai dulu? Ngadem gitu?” Putri menggeleng. “Besok-besok aja lagi. toh, tiga hari lagi kita disuruh ke kampus kan? Mau pembagian kelompok untuk Ospek.” “Oh iya ya,” Lina mengangguk. “Semoga kita sekelompok ya, Put?” “Aamiin aamiin. Semoga lah,” ujar Putri sembari berjalan menuju motor yang terparkir bersama dengan motor lain. Sementara Lina menunggunya tak jauh dari situ. “Aku deg-degan tau, Put,” aku Lina begitu mereka melewati gerbang kampus. “Deg-degan kenapa pula?” “Bilang abangku, Ospek itu lebih parah daripada MOS.” “Oh ya?” Lina mengangguk dengan antusias meski Putri tentu saja tak bisa melihatnya. “Pokoknya kita bakal dikerjain habis-habisan.” “Serius, Lin?” “Iya Put, pokoknya hati-hati aja. Bilang abangku, jangan bertingkah aneh-aneh. Jangan bicara kalau ndak disuruh. Yang paling penting, jangan sampai terlambat datang Ospek. Bisa-bisa kau dikerjain dari pagi sampai sore.” “Astaga! Segitunya?” “Iya. Makanya, semoga kita sekelompok. Biar bisa pergi sama-sama,” ucap Lina. ”Aah, aku tidur di rumahmu aja lagi pas Ospek “ “Alah, biar juga ndak Ospek, kau suka nginap di rumahku.” Lina terkekeh, “Iya sih, di rumahmu kan sepi. Nah di rumahku ramenya ndak ketulungan. Mau telponan sama abangku tersayang aja, susah. Ada aja anak kecil yang teriak-teriak. Bikin ndak konsen.” “Kauuu. Kayak telponan itu butuh konsentrasi penuh aja. Serasa lagi ujian aja.” Sekali lagi, Lina terkekeh. “Jomblo mana ngerti kalau telponan sama pacar enaknya itu di situasi yang sepi, bukan di keramaian.” “Iya bah, aku tau aku jomblo jadi aku ndak ngerti,” tukas Putri. “Ciee ngambek.” Lina menyentuh pinggang Putri dengan telunjuknya. “Maaf ya.” Putri hanya diam. Dia fokus dengan jalanan di hadapannya. “Nanti sore aku traktir mie ayam, mau?” “Mau,” jawab Putri cepat. Lina tertawa. “Dasar. Giliran mau ditraktir, langsung jawab.” “Alah, kayak dia ndak gitu juga kalau diajak makan. Hehe.” Mereka tertawa. *** Ribuan orang tampak berkumpul di sebuah lapangan. Seseorang yang menggunakan almamater tampak memberikan pengarahan. Semua orang mendengar dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut orang tersebut. “Oke, untuk mengetahui kalian di kelompok berapa, kalian bisa cek nama dan NPM kalian di papan pengumuman di dekat sekretariat atau tempat kalian mendaftar. Kalau sudah, kembali kesini lagi. Kakak pembimbing kalian akan menunggu kalian disini. Ingat, kelompok ganjil di sebelah kanan saya dan kelompok genap di sebelah kiri saya,” jelas lelaki yang mengenakan almamater tersebut. “Nanti kakak pembimbing yang akan memberitahu apa aja yang harus kalian bawa besok dan semua hal yang berkaitan dengan Ospek. Ingat, jangan malu bertanya. Jangan sampai kalian malah bikin masalah besok,” tambahnya lagi. Lelaki bertubuh tinggi besar tersebut mematikan pengeras suara. Semua orang yang berkumpul di tengah lapangan menuju ke Gedung Fakultas Ekonomi, begitu juga dengan Nando dan Ipung. Berdesak-desakan, akhirnya mereka tau di kelompok berapa mereka berada nanti. Ternyata mereka berbeda kelompok. “Kau kelompok berapa, Pung?” tanya Nando begitu selesai membaca papan pengumunan. “Sembilan. Kau berapa?”tanya Ipung balik. “Aku kelompok tujuh.” “Yah, beda dong,” keluh Ipung. “Tapi tadi kuliat ada nama Yasmin di kelompokku.” “Serius?” tanya Nando sembari terus berjalan keluar dari kerumunan orang. “Yasmin Putri Septiananda?” “Iya deh kayaknya, namanya panjang gitu,” jawab Ipung sedikit ragu. “Mau tukaran kelompok kah? Hehe,” goda Ipung. “Coba bisa, aku mau lah. Hehe,” ucap Nando. “Kayaknya kami memang ndak ditakdirkan bersama deh. Buktinya aku ndak sekelompk sama dia.” “Tapi kau kan diterima di jurusan yang sama dengan dia? Iya kan?” “Tapi belum tentu sekelas juga, karena setahuku dibagi jadi dua kelas,” ucap Nando tak percaya diri. “Tapi semoga lah kami sekelas. “Nando mencoba tersenyum meski terlihat sangat kaku. “Ayo ah, aku cari kelompokku dulu ya? Daah,” ucap Ipung. “Doakan kami sekelompok biar aku bisa jadi mak comblang kalian,” lanjutnya lagi lalu berlari meninggalkan Nando. Nando melihat beberapa orang telah membentuk kelompok. Dia pun berjalan menuju kelompok yang sepertinya teman sekelompoknya. Ternyata bukan, itu adalah kelompok sebelas. “Kelompok tujuh yang mana ya kira-kira?” tanya Nando pada salah satu mahasiswa baru. “Disana,” ucap lelaki hijau sembari menunjuk segerombolan orang. Di kelompok sebelahnya, ada Ipung sedang tersenyum ke arahnya. “Ooh, oke. Makasih,” ucap Nando lalu berjalan menuju gerombolan mahasiswa yang merupakan teman sekelompoknya. Terlihat pula dua orang perempuan menggunakan almamater di antara mereka. “Ipung ndak sekelompok sama Yasmin. Buktinya dia ndak ada disitu,” pikirnya. Lalu, tanpa Nando sadari. Seorang gadis berlari di sampingnya. Nando menoleh lalu matanya tertuju pada gadis yang masih berlari menuju sekelompok orang yang sedang dia tuju. “Kami sekelompok?” gumam Nando. “Alhamdulillah,” ujarnya lalu mempercepat langkahnya. Jodoh pasti bertemu, hehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN