Malam hari, bi Asih terbangun dari tidur. Merasakan kantong kemihnya tidak bisa menahan buang air kecil. Bi Asih sangat merasa ngantuk, matanya masih terasa perih. Ia mencoba memejamkan sejenak dalam keadaan sadar, untuk menghilangkan perihnya. Cukup lama setelah nyawanya tersadar dari lelap, bi Asih mengucek mata dengan punggung tangan. Kelopak mata yang mulai kerutan itu terbuka perlahan dari bola matanya. Merasa nyawanya terkumpul penuh, perlahan bi Asih duduk dari berbaring tadi. Berdiri dari sisi tempat tidur, bi Asih melangkah ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Sebab, kamar mandi tidak mungkin ada di kamar pembantu. Kamar mandi hanya ada di kamar majikan. Langkah bi Asih bergegas menuju kamar mandi dengan penuh hati-hati. Wanita paruh baya yang sedang tergesa-gesa itu tida

