Puisi untuk Rengganis.

406 Kata
Semilir angin menggetarkan sukma. Berlari membelai helaian rambut yang terurai. Menderu satu dengan hangatnya kasih. Kasih yang tak sampai, mengenai dikau. Rintik hujan membasahi bumi. Membuat pelangi di langit raya. Langit kala itu, mendung tak bermega. Kumelangkah mencari jalan. Tersesat pada pencarian semu ini. Hingga di ujung waktu, Aku kehilangan dirimu. Cintaku menorehkan luka. Hati yang beku, sedingin duka. Ingin kuhapus sedu sedan ini. Berharap merpati layangkan sebuah berita. Raga ini, Semakin lama semakin renta. Semakin aku jauh melangkah, Semakin aku menjadi tua, renta. Oh, takdir. Bisakah aku berharap satu padamu. Kutitipkan salam rindu untuk dia. Kulelah pada pencarian semu tak berarah. Kuingin menggenggam cinta darinya, Hanya dirinya yang mampu Membuatku terkapar dalam kesedihan. Oh, takdir. Di sini, di batas kota ini. Aku tuliskan sebait syair tak romantis. Tolong sampaikan padanya, Jika memendam rindu itu, Seperti memendam bongkahan permata, Tapi, sayang itu hanya ilusi semata. **** Puisi yang tidak romantis aku tulis demi menggoreskan sebuah tinta di atas buku tulisku. Ada perasaan menggetarkan sukma, saat melihat sosok Alvian, lelaki yang telah menolongku saat aku terjatuh. Mata itu sepertinya aku kenal. Mata berwarna jingga kecokelatan, sama seperti warna bola mata milik Rengganis. Sahabatku sewaktu aku masih tinggal di panti asuhan. "Puisi buat siapa tuh?" tanya Rea, menegurku dengan ketus. Kedua netranya melirik ke arah tulisan syairku di selembar buku tulisku. "Buat Rengganis, Dek," jawabku pelan. Sambil mengulum senyuman. Kutatap binar indah kedua mata Rea, adik angkatku. "Cih! Begitu naif sekali kamu, Kak!" ketusnya. Lalu menarik paksa buku tulisku. Kemudian membaca syair yang kutulis tangan. "Indah juga," gumam Rea. Ia tak sadar jika perkataannya tadi membuatku bahagia. Aku pun segera memegang lengannya. Ia melirik ke arahku. "Terima kasih adikku yang cantik," ucapku memuji. "Eleh, aku tidak memujimu ya? Puisimu jadul banget!" sergahnya, berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa puisi buatanku ini menggugah hatinya. "Buatkan puisi untukku, dong!" pintanya kemudian. Sekali lagi, Rea membuatku merasa bahagia. Ia sepertinya sudah tidak lagi membedakan kasta padaku. Buktinya hari ini, ia meminta tolong di buatkan puisi. "Yakin, Dek?" tanyaku memastikan. "Kalau enggak mau, ya, sudah. Aku bisa buat puisi sendiri, kok," cetusnya. Aku tahu ia mulai merajuk. "Baiklah adik kecil. Kakak akan buatkan puisi untukmu. Sebentar ya?" kataku menyanggupi permintaannya. "Hem," balasnya dengan berdehem. Kemudian pergi meninggalkanku sendiri di kamar tidurku. Aku yakin, sesungguhnya Rea sangat mencintaiku sebagai kakaknya. Ia hanya merasa kasih sayang ibu terlalu berlebih padaku. Aku pun tak ingin merebut ibu darinya. Yang aku butuhkan hanyalah kasih sayang dari kalian, keluarga 'Dias'. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN