Bab 3. Aisyah

1994 Kata
"Aisyah", Raka menyebut namanya dalam hati dan mau mengejarnya namun hal itu terpecah dengan kehadiran Malik yang menghampiri dirinya, dengan nafas tersengah mau tidak mau dia harus berhadapan dengan Malik dan kehilangan jejak Aisyah. Raka kembali ke tempat duduknya bersama Malik dan kemudian mereka mengobrol di sana rasanya Malik datang terlalu cepat padahal akan pergi nanti jam 10, sekali lagi Raka mendengus dan berpaling sejenak ke arah tempat yang lainnya. "cepat banget kamu datang, toko saja belum ada yang buka tuh", kata Raka. "awak ini gimana kita cakap dulu sambil sarapan bahas tentang ke depannya nanti", kata Malik. "awak betah di apartemen milik saya", ? tanya Malik. "Betah dan saya juga sudah ada teman di depan kamar saya", jawab Raka dan matanya masih mencari Aisyah yang kenyatannya sudah tidak terlihat lagi di sana kemudian dia terlihat resah dan Malik mengamatinya dari tadi sikap yang sedang janggal di rasakan oleh Malik dari Raka. "Awak itu kelihatan penasaran sama someone yah", tebak Malik. "Perempuan tadi yah", katanya lagi menambahkan kata - katanya dan dengan malu - malu dan kemudian setelah membayar menu sarapan mereka Raka malah mengajak Malik untuk jalan - jalan sejenak ke pusat perbelanjaan di Times Square dan melihat barang - barang yang murah, pada saat itu Raka tertarik untuk membeli sepatu yang berada di salah toko lagi - lagi dari kejauhan dia melihat Aisyah dan sedang membeli sepatu juga nampaknya dari modelnya tidak mungkin itu untuk dirinya sendiri tapi untuk seseorang. Sekillas Raka mendengar kata - kata Aisyah kepada perempuan di tempat kasir mengenai sepatu itu. "for my mom", katanya singkat jadi sepatu itu sudah jelas untuk siapa, untuk ibunya dan entah kenapa kepala Raka menjadi semakin ingin mencari tahu tentang dirinya waktu di pesawat juga dia melihat ada orang di Indonesia seorang ibu - ibu di galeri hpnya pada waktu di pesawat ingin sekali lagi dia berusaha untuk menghampiri Aisyah tapi lagi - lagi di gagalkan oleh orang lain yang mengecoh pusat perhatiannya. Ada seseorang teman Malik yang juga mengajak Raka berbicara dan menawarkannya untuk minum kopi di kafe, teryata orang itu juga adalah teman kuliah dulu Malik yang akrab dengannya bernama Hasan. Raka tidak fokus dengan obrolan mereka berdua dan dia yang di ikut sertakan di dalamnya hanya Aisyah pikirannya sampai pada akhirnya Raka jadi merasa ingin cepat - cepat segera ke studio rekaman dia menarik tangan Malik. ketika mereka kembali ke dalam mobil Raka menceritakan semua apa yang di rasakannya kepada Malik. "enggak tahu gimana saya penasaran sama tuh perempuan saya ketemu dia juga waktu di pesawat", cerita singkat Raka. "kalau tuh perempuan jodoh awak tak akan kemana - mana", respon perhatian Malik dengan apa yang di katakan Raka padanya. Raka melayangkan pandangan ke arah jalan dari jendela mobil dan kata hatinya mulai berkata. "Ya Allah entah kenapa sampai detik ini rasanya aku masih mengalami hal yang susah aku jabarkan dalam hidup aku ke orang lain dan aku mau ceritakan aku merasa ada sesuatu yang membuat aku masih tertekan, mereka semua sudah pasti akan pandang aku sebelah mata hanya karena belum nikah kadang - kadang di judge yang macam - macam sedikit saja dekat dengan perempuan apakah yang namanya jodoh semudah itu untuk di jalani, mereka sok tahu menilai seseorang tapi Allah dan aku yang lebih tahu apa yang aku rasakan dan sebenarnya aku enggak mau di cap macam - macam hanya karena belum nikah yang tahu isi hati manusianya itu hanya Allah bukan siapapun di dunia ini dan Allah yang hanya tahu apa yang aku rasakan ini" Dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda dengan Raka, rupanya memang Aisyah sedang ke tempat pengiriman barang dia mengirim sepatu itu kepada ibunya yang kerja di Singapore dan sebenarnya pada saat itu Aisyah sendiri juga kerja di Singapore sebagai pegawai hotel di Grand Central tapi berhenti ketika ayahnya di Malaysia mulai sakit - sakitan dan hanya seorang diri karena ibunya juga belum bisa pulang ke Malaysia dan kumpul bersama lagi karena belum ada dananya. Perempuan berkulit putih itu dia masuk ke dalam rumahnya dan nampak di sana ada Fatimah sang kakak yang menemani Ridwan sang ayah di kursi rodanya dan memandang foto pernikahan mereka yang terletak di ruang tamu. "Saya sudah antar itu paket sepatu untuk mommy", kata Aisyah. "Insya Allah juragannya mau sampaikan ke mommy, Mak cik Khadijah itu orang baik soalnya terhadap mommy", sahut Fatimah. "Awak ganti dululah baju nanti kita ngobrol", timpal Ridwan. Aisyah mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil kaos dan juga celana training setelah itu barulah dia pergi ke arah keluar kamar, rasanya memang begini juga rasanya kalau menjadi seorang anak pekerja pembantu di Singapore dan harus mengurus lansia juga di sana kadang orang memandang sebelah mata walau gajinya juga termasuk besar mereka orang - orang yang sombong yang hanya memandang dunia ini dengan gemerlap harta bukan berserah kepada Allah akan rezeki apapun yang di terima dan derajat manusia sama saja di mata Allah. papa Aisyah menikah seorang Indonesia yang bekerja sebagai pembantu di Singapore pada saat papa Aisyah saat itu sedang ada proyek di Singapore dan rumah lansia tempat mama Aisyah bekerja juga sebenarnya adalah orang yang juga masih sahabat dekat dengan Ridwan papa Aisyah. waktu dulu mereka masih mudah Ridwan punya sahabat satu rekan kerja bernama Kevin dia adalah seorang chinesse di Singapore tapi sudah menganut agama Islam dan menikah dengan perempuan muslim juga di Singapore bernama Khadijah dan akhirnya punya anak bernama Dahlia. Dahlia masih memakai nama marga tionghoanya yaitu Lin namun sebenarnya dia sendiri sedang gusar atas keyakinan yang sedang di jalaninya saat ini, meskipun dia sudah menganut Islam tapi entah kenapa masih ada sedikit rasa kegusaran dan ketakutan terhadap apa yang baru saja di jalaninya sekarang ini. Di tambah keluarga besar yang masih menganut Budha sudah tidak lagi mengakui dia dan orang tuanya sebagai apapun itu bentuknya dan sekarang Dahlia dan keluarga kecilnya hanya seorang diri. Apakah rasa egois yang di junjung tinggi juga bisa membuat hidup bahagia meskipun membully orang lain sekalipun karena kesombongan sudah pasti dirinya sendiri merasa tidak bahagia. Di tempat yang berbeda dengan Aisyah, Raka sedang melakukan rekaman musik di studio tersebut hasilnya cemerlang dia langsung di angkat menjadi penyanyi Indonesia yang terkenal di Malaysia dalam sekejap hidupnya bertabur bintang. Dalam sekejap Raka memiliki banyak fans dari Malaysia dan Indonesia juga singapore dan rata - rata perempuan namun ada satu hal yang lagi - lagi menjadi derita bagi batinnya sendiri. Perlakuan para fans hanyalah obsesi yang tanpa sadar merugikan artisnya yaitu Raka Wiryawan mereka memanfaatkan Raka dengan ketenarannya dengan sengaja memposting foto bersamanya di Instragram hanya untuk dirinya sendiri di puji orang lain tanpa memikirkan apa yang di rasakan oleh Raka sendiri mengatas namakan dirinya yang menimbulkan kebencian orang lain padanya Ingin rasanya kembali Tegal Jawa Tengah kampung halamannya dan menjadi diri sendiri tapi kesibukkan sekarang ini sebagai artis membuatnya justru sulit untuk pulang kampung dan hati ingin terus menangis, satu hal juga yang teringat dalam pikirannya sendiri juga kalau pulang ke Tegal pasti Mas Yudi dan Mbam Dewi akan bertanya enggak bawa calon istri kamu Malam Raka baru saja selesai menyanyi lagu single perdananya yang bertakjub Cahaya dan kemudian dia berjalan - jalan di sepanjang Time Square lagi - lagi dia bertemu Aisyah di sana yang sedang duduk kursi yang menghadap ke arah pusat pertokoan. grogi mulai menyerang hati Raka untuk menghampiri Aisyah namun Raka mencoba melawannya dan duduk di sampingnya. "Asalamualaikum apa kabar", ? sapa Raka dengan kikuk dan menundukkan kepala malu - malu sedangkan Aisyah dengan berani menatap wajahnya. "Alhamdulilah baik", jawabnya singkat. "Awak itu ngikutin saya yah", tuduh Aisyah dengan mata melotot ke arahnya tiba - tiba saja. "Gr banget", " ceplos Raka dan kemudian dia menghembuskan nafasnya dari mulut sorot mata Raka yang melihat ke arah sebelah kanan tanpa sengaja dia melihat orang menjual es krim dan langsung Raka menawarkan Aisyah. "Kamu mau es krim", ? tanya Raka. "Kamu baru kenal saya udah berani juga yah", balas Aisyah sambil menaikki alisnya. Raka tidak membalas lagi kata - katanya tapi dia hanya berjalan ke tempat orang yang menjual es krim tersebut dan memberikannya satu kepada Aisyah. "Kamu dari Malaysia kerja di Singapore terus mau pulang lagi buat apa", ? tanya Rakak "Daddy aku sakit sendirian tapi aku juga mau sambil cari kerja yang lain di sini, kalau jadi penyanyi seperti kamu boleh juga, nama kamu udah ada lho masuk di entertaiment di Tv", jawab Aisyah. "kamu orang yang beruntung Raka dari Indonesia dan kami orang mau menarik kamu ke sini untuk jadi penyanyi di sini padahal kami orang yang emang pandai bernyanyi dan lagunya terkenal di Indonesia belum tentu juga bisa di terima di rekaman musik sedangkan kamu langsung masuk, aku dulu kerja sebagai pegawai hotel di Singapore dan jadi pegawai hotel itu adalah sama halnya seperti orang yang di suruh - suruh, seperti Nanny begitu sedangkan pekerjaan artis mungkin lebih enak di banding Nanny ah sebenarnya aku juga bisa bernyanyi hanya saja aku belum ada keberanian untuk melangkah ke sana", kata Aisyah bercerita panjang lebar. "Kamu pikir jadi penyanyi enak juga fans aku adalah orang - orang yang bukan mengangungkan nama Allah tapi manusia dan aku enggak mau menjadikan orang lain sesat dan berdosa hanya karena ketenaran lebih baik enggak usah jadi orang tenar daripada jadi orang tenar tapi bawa dosa ke orang lain, aku bukan orang yang mau berjalan pada akhirnya di berjalan di setan tapi tetap lurus di jalan Allah, aku takut akan dosaNya pada Allah apalagi aku belum menikah dan pacaran juga belum pernah", tanggap Raka panjang lebar. "Jika kita mencintai seseorang karena Allah maka hati pun akan ikhlas dan cinta itu hanya untuk kebaikan saja dan rasa cinta itu enggak tergoda oleh syetan manapun, karena rasa itu bukanlah sebuah obsesi yang melahirkan pikiran - pikiran kotor manusia, cemburu sosial, ingin memiliki karena cinta buta, iri dan dengki itu semua lahir sifat setan karena perasaan hati dalam mencintai bukan karena di jalan Allah tapi karena nafsu setan karena itu buat aku walau artis sekalipun yang di kagumi dan di puja adalah nama Allah bukan manusia dan manusia terhadap manusia lainnya hanya saling mencintai karena manusia hidup butuh kasih dan sayang serta di cintai juga tapi di jalan Allah", kata Raka panjang lebar lagi. "Itu benar yang di tuhankan hanya Allah satu nama bukan siapapun", tanggap Aisyah sambil mengangguk "Awal kenal kamu, aku pikir kamu orang yang lancang teryata aku salah menilai kamu", Aisyah kemudian memberikan senyuman hangat kepada Raka. namun dia masih kikuk rasanya tidak mungkin dalam sekejap ada perempuan yang mau jatuh cinta padanya apalagi Raka adalah orang desa itulah yang muncul dari hatinya ketika berdekatan dengan perempuan yang bukan hanya dengan Aisyah saja. "awak boleh minta nomor w******p", ? tanya Aisyah dengan canggung Raka memberikannya. "thanks yah nanti kita bisa ngobrol kalau begitu", jawab Aisyah sambil tersenyum. Aisyah kembali ke rumahnya, dan ketika masuk ke dalam kamarnya bayang Raka menari di matanya dan membuatnya susah tidur entah kenapa rasanya dia juga ingin sholat istigharoh agar di berikan petunjuk jodoh yang baik untuknya. waktu subuh menjelma perempuan itu masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil air wudhu dan setelah itu dia sholat subuh. Aisyah melepas mukena dan sarungnya kemudian melipat sajadah juga sarung dan mukenanya karena mendengar ketukan dari luar sambil memanggil namanya. "Aisyah", "Asiyah", "Yah kak Fatimah", sahut Aisyah. Aisyah membuka pintunya dan Fatimah mengajaknya bicara di depan pintu kamarnya. "Tadi ada telepon dari mommy rindu katanya sama Kita", cerita Fatimah singkat. "Oh kalau begitu aku mau telepon mommy dulu juga", kata Aisyah "Kita video call sekeluarga juga sekalian yah" Aisyah melanjutkan ucapannya. "good idea", ! seru Fatimah dan Aisyah mengangguk dia mengambil hpnya yang di letakkan di atas meja rias lalu membawanya ke ruang keluarga di sana Hasan dan Fatimah sudah berkumpul dan terlihat Khadijah menyapa mereka semua. "Asalamualaikum apa kabar kalian semua", ? tanya Khadijah. "kami sehat", jawab Hasan. dan saat itu juga Dahlia dan Ridwan juga Siti istri dari Ridwan ikut video call juga. "apa kabar kalian semua", ? tanya Dahlia. "Baik kok kita", jawab Aisyah dan obrolan itu terasa hangat walau sejenak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN