Apa yang sebetulnya terjadi?
Beberapa jam yang lalu, dia memang meninggalkan pondok untuk mencari udara segar, lalu berbaring di rerumputan untuk melihat langit. Tentu saja orang yang dengan ceroboh tertidur di luar tanpa penjagaan sedikit pun adalah dirinya. Namun, Ace tidak ingat Allura datang menghampiri atau semacamnya.
Apakah dia salah ingat?
Apa mungkin dia berbincang dengan Allura sebelum tertidur di sini?
Tidak. Ace sangat yakin dia pergi sendirian.
Dia tidak menyangkan bahwa setelah Ace tertidur, ketika membuka matanya, dia menemukan Allura benar-benar telah tertidur lelap di sampingnya. Perempuan itu menggunakan sweater dan rok panjang berwarna cokelat. Meski memang pernah dekat selama di Hilfheim, harusnya hal semacam ini tidak pernah terjadi. Allura memang peduli padanya, tapi perempuan itu tidak akan sampai rela tidur menemaninya di luar pondok pada malam yang dingin.
Dengan segera, Ace mengecek jam system. Pukul dua malam. Itu artinya sudah tiga jam berlalu sejak dia keluar dari pondok. Lalu, masalahnya, sejak kapan Allura muncul? Kenapa perempuan ini keluar? Apa jangan-jangan, perempuan ini tidak bisa tidur lalu tanpa sengaja melihat tempat tidurnya kosong?
Benar-benar tidak ada bayangan yang tepat mengenai kejadian ini. Ace menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya, lalu memandangi wajah Allura yang masih begitu cantik ketika tertidur nyenyak. Kapan ya, dia pernah melihat wajah sahabat lamanya dalam kondisi ini?
Sahabat?
Ah. Sebetulnya Ace tidak tahu tepatnya sebutan tentang hubungan mereka. Teman? Sahabat? Atau sekadar rekan seperjuangan?
Meski hidup di dunia yang berbeda, Allura beradaptasi dengan cepat. Wajah tidur Allura benar-benar berbeda dengan wajahnya ketika terbangun. Ekspresi lembut dan tenang yang membuat Ace lupa tentang keadaan dunia saat ini. Bagi Ace, eksistensi Allura menjadi salah satu bukti bahwa dunia ini hanyalah dunia virtual, bukan sesuatu yang nyata. Seandainya dia tidak bertemu Allura, mungkin Ace akan hidup layaknya manusia yang lahir dan besar di Erfheim.
Tangan Ace bergerak hendak menyentuh untaian rambut Allura. Sedikit keraguan singgah ketika Ace melihat Allura yang benar-benar lelap. Haruskah dia membangunkannya?
Awalnya, karena cuaca malam ini tidak terlalu dingin seperti hari sebelumnya, Ace jadi ingin berjalan-jalan ke luar, lalu berencana menghabiskan malam sambil menikmati bulan yang bersinar terang. Setelah berjalan cukup lama, Ace akhirnya menemukan tempat yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan itu. Di bawah sebuah pohon di dekat area jalanan kecil menuju danau. Yah, bukan tanpa alasan. Semua itu karena Ace bisa melihat kilauan danau dengan kunang-kunang yang bersinar dengan indah.
Sebetulnya Ace tidak pernah memperhatikan cuaca di Erfheim sebelumnya. Dia pikir, karena tempat ini hanyalah perwujudan dari data-data menjadi visual, cuaca-cuaca akan terkesan sama saja. Namun, ketika Ace meluangkan waktu untuk menikmati itu semua secara perlahan, dia jadi tercengang. Creator gila itu berhasil membuat ulang cuaca, seperti musim panas yang lembab, akhir musim gugur yang mulai dingin. Bahkan hal-hal sepele seperti hujan, kelembapan, angin, dan bahkan hewan-hewan pendukung.
Seperti mala mini. Suhunya memang lebih dingin daripada di dunia nyata. Tapi, keindahan cahaya bulan yang dipadukan dengan pantulan danau itu benar-benar sempurna. Udara berembus lembut dengan dingin yang menusuk. Ada beberapa serangga yang muncul.
Mungkin Creator ingin menghadiahkan tempat seindah ini agar para player bisa mendinginkan sejenak kepala mereka setelah bertarung mati-matian. Setelah beberapa hal yang Ace lalui, dia ingin berbaring di atas rerumputan sejenak. Yah, awalnya dia ingin berbaring di atap seperti kebiasaannya di Hilfheim, tapi tidak ada bangunan dengan atap yang nyaman seperti di Hilfheim.
Ketika mengingat kebiasaannya di atap, Ace jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Allura. Saat itu, dia berbaring di atap tanpa sepengetahuan siapa pun. Kebiasaannya sejak memasuki sekolah menengah pertama untuk menghindari orang-orang yang merundungnya. Setiap kali jam istirahat dimulai, Ace dengan segera naik ke atap tanpa sempat membeli makanan sebelum orang-orang itu mencari dan menyuruhnya tanpa jeda.
Kebiasaan itu berhasil menjauhkannya dari perundungan, tapi selama hampir tiga bulan, dia jadi kelaparan. Apalagi sang ibu tidak pernah menyempatkan diri untuk membawakannya bekal makan siang. Lalu, ketika Ace mulai memejamkan mata, sepasang sepatuh putih tiba-tiba muncul di pandangan. Pada saat yang bersamaan, sebuah suara yang asing berkata dengan lembut.
Seorang perempuan berambut cokelat lurus sebahu dengan mata bulat seperti kelinci. Ace menyipit ketika melihat wajah anak itu seakan merasa familier. Setelah terdiam beberapa detik, Ace tersadar bahwa dia adalah Allura Fleutron, sosok perempuan idaman para siswa di sini. Namun, kenapa perempuan itu ada di sini?
“Apa kau tidak kelaparan selalu pergi ke sini tanpa membawa makanan?”
Ace berusaha tidak memedulikannya lalu berbalik ke arah lain, berharap anak perempuan itu mengabaikannya. Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Ace tidak menduga bahwa anak itu akan duduk di sebelahnya sambil meletakkan sebuah kotak makan di hadapan wajah Ace.
“Kau ini—“
Sebelum Ace melontarkan protesnya, suara lembut itu bicara lagi. “Cuaca pada hari ini sangat baik. Bukankah seharusnya kita menikmati semua itu sambil makan siang?”
“Bukankah cuaca selalu sama?”
Perempuan itu menjawab sambil mendesah panjang. “Bila kau memandang langit sambil menyantap makanan, kau pasti tahu bedanya.”
“Kenapa?” Tanpa berbalik memandang Allura, Ace kembali bertanya dengan nada dingin. Dia berharap dengan perlakuannya ini, Allura akan segera pergi dan berhenti mengganggunya.
“Ya?”
“Kenapa kau menghampiriku di sini? Bukannya kau bersenang-senang dengan mereka?”
Ace merasa kalimat barusan agak jahat, tapi ya siapa peduli? Mereka yang merasa superior dengan hidup sempurna selalu saja bertindak seenaknya. Karena mereka berada di tingkatan atas, mereka memandang rendah orang lain yang berada di bawahnya. Ketika mengingat orang-orang yang melempar hinaan padanya, Ace sangat yakin Allura sama saja seperti orang-orang itu. Hanya persoalan waktu sampai Allura menjadi salah satu dari mereka.
Ketika Allura tidak menjawab selama beberapa detik, Ace jadi merasa tidak tenang. Apakah perempuan itu menangis? Kalau seandainya perempuan itu menangis, apa yang akan terjadi padanya? Apakah teman-teman kaya Allura akan memukuli Ace habis-habisan? Kalau itu sampai terjadi, Ace tidak punya pilihan selain tidur di luar agar ayahnya tidak melihat luka lebam. Ayahnya yang sangat perhatian tentu tidak akan tinggal diam melihat apa yang terjadi pada putranya lalu melapor pada sekolah.
Namun, setelah itu apa? Sekolah mereka tidak cukup tegas menghukum anak-anak orang kaya. Pada akhirnya Ace akan berakhir dipukuli lebih parah lagi. Jadi, percuma saja melapor ke sekolah. Mau pindah sekolah pun Ace tidak bisa karena system pendidikan di sini tidak mengizinkan seorang siswa bersekolah di luar daerah tempat tinggal.
Ace yang sudah sangat khawatir Allura akan menangis, langsung bangun dan duduk. Kepalanya menoleh kepada Allura, tapi perempuan itu tidak menangis. Malahan Allura memasang senyum lebar yang bisa membuat siapa pun terpana.
“Apa?” Tanpa sadar, Ace mengucapkan satu kata itu, terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Loh, perempuan ini tidak menangis? Kenapa? Padahal dia baru saja mengucapkan sesuatu yang jahat. Jangan-jangan perempuan ini sudah gila sehingga teman-temannya mengabaikan dia.
Allura menggeleng pelan. Kemudian, dia menyelipkan untaian rambutnya yang tertiup liar oleh angin ke belakang telinga. “Bagaimana ya? Aku selalu memperhatikanmu.”
Jawaban Allura membuat Ace benar-benar terkejut. Mata safirnya membulat ketika melihat senyum canggung yang terukir di wajah perempuan itu. “Memperhatikanku?”
Apa dia salah dengar? Seseorang seperti Allura … memperhatikannya? Mana mungkin kan? Mau dipikirkan seperti apa pun, seorang yang bersinar seperti Allura tidak akan memandang lelaki pengecut yang gelap sepertinya. Akan tetapi, pikiran-pikiran itu langsung lenyap ketika kehangatan yang aneh menjalar di tangan Ace. Baru saja perempuan itu menggenggam sebelah tangan Ace dengan kedua tangan.
“Kuharap kita bisa menjadi lebih dekat.”
Setelah mengatakan itu, Allura memaksanya untuk menerima kotak makan siang. Bahkan keesokan, lalu keesokan hari, dan seterusnya, Allura terus datang menghampiri Ace sambil membawa makanan. Dan entah bagaimana caranya, mereka jadi semakin dekat. Walau begitu, Ace tahu pertemanan Allura dengan yang lain jadi renggang karena kedekatan mereka. Yah, wajar saja sih. Siapa pula yang menyangka perempuan cantik seperti Allura malah dekat dengan lelaki suram sepertinya?
Namun, tak seperti yang Ace pikirkan, Allura bertindak seolah-olah tidak peduli dan terus mendekat. Tentu saja masa-masa itu tidak akan pernah Ace lupakan sepanjang hidupnya.
Ketika Ace terjebak di tempat ini, dia sempat khawatir kenangan indah itu akan sirna begitu saja. Namun, begitu melihat Allura berbaring di sampingnya sambil tertidur lenyap, Ace jadi lega. Meski dunia ini menakutkan, Ace merasa jadi bisa melaluinya karena ada Allura juga lima teman mereka yang lain.
“Sepertinya, aku tidak bisa membangunkanmu, huh?” Ace berbisik pelan, merasa bersalah kalau membangunkan Allura yang tertidur lelap. Dia melepas selimut—yang mungkin dipakaikan Allura sebelumnya—lalu memasangkannya pada perempuan itu sepelan mungkin.
Seandainya mereka tertidur di field, mereka mungkin akan menjadi incaran criminal player yang sering melakukan PK. Meski ada beberapa field yang memiliki proteksi anti PK, tetap saja ada kemungkinan player menyerang player lain yang tengah tertidur. Bahkan tanpa menggunakan sihir pun, mereka bisa menyerang player dan menyebabkan warna kursornya berbeda. Biasanya player yang melakukan PK mengincar weapon, armor, atau barang berharga lainnya. Itu juga alasan kenapa Ace memilih Pulau Ersh sebagai tempat berlibur.
Selama ini, dia tidak pernah tertidur di alam bebas. Hanya atap yang menjadi satu-satunya tempat menatap langit. Sementara di Erfheim, dia begitu kikuk untuk melakukan hal-hal santai semacam itu.
Ace kembali menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Mungkin akan lebih nyaman kalau dia berbaring, tapi setiap melihat wajah Allura, jantungnya merasa tidak tenang. Seperti ada debaran aneh yang bergejolak dan enggan untuk beralih. Di sisi lain, dia tidak mungkin meninggalkan Allura sendirian. Satu-satunya jalan hanya membangunkan perempuan itu, tapi—
“Yah, kurasa, malam ini tidak buruk juga.” Malam ini, Ace berusaha menguatkan fakta dalam benak bahwa dunia ini hanyalah virtual, bukan dunia nyata. Mungkin, Ace memang pengecut karena berjanji pada orang yang tidur.
“Allura, aku berjanji akan melindungimu apa pun yang terjadi. Meski harus terjebak selamanya di sini, aku tidak akan membiarkan dirimu dan teman-teman yang lain mati.”