Chapter 50: Broken Dungeon

1278 Kata
Tidak ada satu pun dari Ace maupun Allura yang membahas tentang kejadian semalam. Allura tampak lebih bangun lebih dulu dari Ace, lalu bergegas kembali ke pondok sebelum teman-temannya bangun, meninggalkan Ace yang tertidur sambil bersandar di batang pohon dengan selimut. Awalnya Ace akan menduga kondisi di antara mereka akan canggung, tapi ternyata tidak sama sekali. Saat dirinya kembali ke pondok, Allura menyambutnya dengan senyuman lebar. Rupanya mereka telah bersiap untuk piknik di pinggir danau. Setelah Ace berganti pakaian, dia melangkah keluar menuju enam temannya. Edgar dan Niel telah membawa perlengkapan piknik. Ketika melihat Demian yang bertubuh besar dengan kemeja aloha berwarna merah dan celana pendek, menenteng keranjang jerami berisi makanan, Ace hampir tertawa. Namun, Ace segera mengalihkan pandangan sebelum bogem mentah melayang ke wajahnya. Ace mengosongkan pikiran, berjalan cepat menyusul teman-temannya sambil menghirup udara segar dan bersih dalam-dalam. Hari ini termasuk hangat mengingat beberapa hari terakhir, udara paginya benar-benar dingin. Meski musim dingin mulai mendekat, cuacanya benar-benar baik. Sinar matahari terasa lembut. Di hadapan mereka, jalan setapak yang hanya bisa dilalui dua orang terhampar menuju danau yang diapit pepohonan lebat. Suara kicauan burung yang biasanya jarang terdengar di Dawn Grimmer menjadi musik bagi hari mereka. “Wah, kita benar-benar beruntung bisa jalan-jalan di pagi hari dengan cuaca yang bagus.” Allura berseru riang sambil terus berjalan ke depan. Seperti biasa, Allura mampu memahami betapa berharganya hari ini, sementara bagi Ace, ini adalah kenangan terbaik tentang lingkungan sosialnya setelah dua puluh satu tahun hidup di dunia. Setelah berjalan melalui hutan lebat selama beberapa saat, mereka akhirnya bisa melihat air yang berkilauan di antara batang-batang pohon. Salah satu danau yang menghiasi Pulau Ersh akhirnya muncul di pandangan. Jalan berliku di sekitar danau, tapi saat mendekat, tidak ada satu pun orang di sana. Mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, deru aliran air, dan kicauan burung semakin memeriahkan sekitar. Semua suara ini benar-benar hiasan manis meski hanya perwujudan data, menjadi satu dalam warna-warni yang indah. Allura memalingkan pandangan ke salah satu pohon besar yang berdiri terpisah dari deretan pohon lain, agak jauh dari tepi danau, tapi memiliki dedaunan rimbun yang menyembunyikan mereka dari cahaya matahari. “Pohon itu sungguh besar. Tidakkah lebih baik kita ke sana?” Menanggapi pikiran Allura, enam temannya menoleh bersamaan. “Boleh saja.” Setelah mendapat persetujuan dari Niel, Hilla dan Allura berlari mendahulu lalu melambai-lambai ketika mendapati posisi yang bagus. “Sebelah sini!” Sebuah senyum yang biasa muncul di wajah perempuan itu berseru pada mereka. Lima lelaki segera menyusul. Niel dan Edgar menggelar tikar dalam sekejap. Sementara itu, Hilla dan Allura membuka keranjang besar berisi makanan lalu duduk membentuk lingkaran.   “Ahh, makan di tempat seindah ini membuatku semakin lapar.” Demian mengusap area perut berototnya dengan satu tangan membuat kedua perempuan itu tertawa ketika mengatur posisi makanan itu. “Masakan Allura memang yang terbaik!” Demian kembali berseru dengan mata berbinar ketika menu mewah ditaruh di keranjang itu. Potongan daging ikan, lalu roti panggang yang dioles keju dan krem manis, lalu kue yang dipenuhi buah kering dan selai. Karena Niel dan Lucas mendapat banyak ikan kemarin, mereka bisa bersantai hari ini. Berbeda dengan menu semalam, kali ini Allura mencampurkan beberapa bumbu pedas sehingga ikan yang tadinya berwarna cokelat kini menjadi merah. Berkat system yang dibuat Creator, keranjang jerami itu berfungsi layaknya inventory. Walau mereka menyimpan makanan berkuah, mereka tidak perlu mengkhawatirkan kuahnya tumpah atau berceceran, atau krem-krem kue menjadi berantakan. “Bagaimana kau bisa membuat kue dengan bahan-bahan seperti ini?” tanya Lucas sambil mengunyah sepotong kue. “Ah, aku membeli bahan-bahannya sebelum berlibur. Kupikir, kita akan sulit menemukan bahan-bahan kue di sini.” “Ini benar-benar lezat! Rasanya benar-benar berbeda dengan masakan penginapan!” “Syukurlah! Tadinya aku khawatir kue itu tidak cocok untuk kalian.” Perempuan itu berseru dengan wajah berseri-seri, mengganti pandangan sambil tertawa senang. Bahkan Niel yang terlihat dingin pun ikut mengambil kue manis itu dan memakannya dengan lahap. “Tidak! Mana mungkin. Ini benar-benar enak.” Demian mengatakannya sambil berulang kali, padahal mulutnya sudah hampir penuh dengan makanan. Berbeda dari bekal yang selalu dibawakan Allura pada jam makan siang, makanan itu hanya berupa nasi kepal yang diisi sayur dan potongan daging, juga telur gulung. Sebuah makanan sederhana yang bisa dibuat dengan cepat di pagi hari. Meski suka dengan rasa makanan ini, Ace belum terbiasa dengan makanan kelas atas seperti yang tersaji di sini. Sesaat Ace jadi penasaran, seperti apa sosok Allura? Jangan-jangan, dia adalah nona kaya raya yang bisa memasak apa pun? “Ini benar-benar enak. Apakah kau mendapat resep di sini?” Allura menoleh pada Edgar yang tampak berkaca-kaca begitu menyicip masakannya. “Tidak. Aku … memadukannya dengan resep dari duniaku.” “Ah—“ Edgar mengangguk-angguk paham meski terkejut. “Duniamu benar-benar luar biasa dengan makanan seperti itu.” “Aku senang bisa berguna bagi kalian seperti ini.” Allura berkata dengan malu-malu. Mungkin karena perbedaan jenis sihir mereka, Allura merasa minder setiap kali terjadi pertarungan. Bagaimanapun, dia hanyalah seorang healer yang terus berlindung di balik anggota raid. Memang benar bahwa pertarungan tanpa healer cukup mengerikan, tapi healer bukan satu-satunya yang mereka butuhkan. Terutama bagi anggota party dengan level tinggi dan armor yang bagus. Malahan, seorang healer bisa saja menjadi beban mereka. Jadi, Allura berpikir untuk membantu teman-temannya sekeras mungkin selain posisinya sebagai healer. “Bicara apa sih.” Hilla menyenggol Allura yang menundukkan kepala dengan siku, lalu menyuapinya potongan daging ikan. “Raid tanpa dirimu itu benar-benar sulit, lho.” Ekspresi Allura langsung berubah ketika mendengar kalimat penyemangat dari Hilla. Ah, Ace jadi lupa kalau Allura adalah tipe gadis polos yang mudah terbuai ketika dipuji sampai-sampai pujian gombal pun masih bekerja dengan baik. Meski masih merasa tidak nyaman, Allura terus tersenyum ketika melihat rekan-rekannya dengan tenang mengunyah makanan. Sesekali, Ace berpikir bahwa apakah ada cara untuk membantu kepercayaan diri Allura. Yah, wajar sih. Seandainya saja Ace mendapat sihir tingkat keempat dengan rank E atau D, dia juga benar-benar frustasi. Meski anggota guild mereka hanya tujuh player, mereka adalah orang-orang kuat. Ace telah menyaksikan sendiri kekuatan lima temannya yang tidak kalah dengan Ebi, Sasha, Dyne, dan Sada. Yah, walau tentu saja kualitas armor dan weapon mereka berbeda jauh. “Ngomong-ngomong—“  Ucapan Demian terhenti ketika tekanan sihir yang kuat tiba-tiba muncul. Jantung mereka seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Pandangan menjadi abu-abu, lalu dua detik kemudian, tekanan itu terasa semakin kuat. “Hei, kalian merasakannya?” Lucas bertanya itu dengan ragu-ragu. Matanya terbelalak. Tangan kanan Lucas yang harus memasukkan potongan kue ke mulut tiba-tiba berhenti, lalu kue itu jatuh dengan krem berhamburan di atas tikar. Hawa dingin dan juga kelam merayap perlahan. Awalanya, mereka menduga ada monster tingkat tinggi yang tiba-tiba muncul di Pulau Ersh, tapi ketika Ace mengedar pandang, tidak ada siapa pun. Dedaunan yang bergerak tertiup angin tetap seperti biasa. Bahkan burung dan hewan-hewan lain di sekitar mereka bertindak seolah tidak meraskan apa-apa. Ah, mereka kan cuma data, bukan orang sungguhan yang punya indera perasa seperti mereka. Ace bahkan merasa kesulitan untuk berdiri tegak dengan kedua kaki tanpa gemetar. Seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar, bahkan Niel yang selalu tampak tenang pun ikut memasang raut wajah terkejut. Suasana menjadi hening. Demian yang tadinya asik bicara kini terdiam, bergetar ketakutan. Tunggu, apa ini sebenarnya? Situasi ini benar-benar aneh. Langit masih cerah seperti biasa walau awannya menebal. Bahkan saat Niel mengedarkan pandang, mencari kursor merah tersembunyi yang menandakan munculnya monster, pun tidak ada satu pun. Apakah itu artinya tekanan sihir yang kuat ini bukan berada di Pulau Ersh? “Dawn Grimmer?” Nama itu terucap begitu saja dari mulut Niel. Lalu, beberapa menit kemudian, mereka bertujuh menerima sebuah berita melalui siaran system. [Telah terjadi Dungeon Break rank S di Dawn Grimmer] 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN