Cuaca hari ini cerah setelah kabut pagi yang menutupi kota sudah hilang sepenuhnya. Cahaya matahari memantul di permukaan danau, mewarnainya dengan warna biru langit yang berkilauan. Menurut kalender Erfheim, bulan ini telah memasuki akhir musim gugur dengan temperatur yang sedikit dingin menyegearkan.
Sudah tiga hari berlalu, semenjak mereka berlibur. Karena pondok ini tidak memiliki NPC yang menyediakan makanan, mereka harus berburu.
Untuk mengumpulkan makanan setiap hari, mereka harus mengorbankan seharian penuh untuk meningkatkan skill memancing. Sama seperti game slice of life pada umumnya, player harus melatih skill memancing untuk mencapai level minimal tertentu untuk mendapatkan ikan berkualitas. Edgar, Lucas, dan Niel memang sudah mencapai level lima, tapi entah kenapa, Demian dan dirinya baru mencapai level tiga. Jadi, Ace tidak mengharapkan tangkapan ikan besar apa pun dan hanya berharap ada satu atau dua ikan berukuran sedang untuk dimakan.
“Ini menyebalkan.”
Ace menguap lebar. Meski waktu system telah menunjukkan pukul delapan, rasa kantuk Ace belum hilang. Terlebih kegiatannya memancing pagi ini benar-benar membosankan. Entah sudah berapa kali Ace menarik benang pancing, tidak ada apa pun yang tertangkap, hanya ada kail besi pada ujung benang yang bersinar di bawah cahaya. Umpan yang dibelinya dari toko system telah lenyap.
“Ini game fantasy, tapi tetap ada skill memancing, huh?” Dia menggumamkan keluhan-keluhan sambil melempar pancingan setelah mengisi umpannya kembali.
Angin yang bertiup di sekitar mereka terasa dingin. Yah, tentu saja tidak ada kaitannya antara musim dan hasil pancingan. Semua ini karena Ace yang terlalu fokus melatih kemampuan bertarungnya dibanding kemampuan mencari makanan. Lagipula, siapa player yang memiliki waktu luang untuk meningkatkan skill memancingnya sampai mencapai level maksimal? Mungkin dalam hal ini, Ace telah menginvestasikan seluruh keberuntungannya untuk mendapatkan sihir tingkat pertama dibanding sekadar ikan pancingan.
Pandangan Ace tertuju pada Demian yang tampaknya sudah menyerah. Dia melempar pancingan ke samping lalu merebahkan dirinya ke tanah. Niel dan Lucas yang berada di sisi berseberangan dengan Ace terlihat bersiap-siap membawa hasil tangkapan. Sementara Edgar terlihat sibuk membantu membantu Hilla dan Allura mempersiapkan sarapan. Sungguh di luar dugaan bahwa di game ini juga ada skill memasak. Semakin tinggi level-nya, semakin enak juga rasa masakannya. Tentu saja Ace tidak berniat menghabiskan waktu untuk meningkatkan skill itu, tapi Allura menaikkan level memasaknya sampai level sepuluh.
Ace tidak akan terkejut. Sejak berada di Hilfheim, Allura selalu membuatkannya bekal lalu makan bersama di atap. Bisa dibilang, masa-masa bahagia Ace selain kenangan bersama ayahnya, adalah menghabiskan waktu bersama Allura.
Ketika Ace memikirkan hal itu, kekesalan akibat memancing berganti dengan kebahagiaan. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyum lebar.
“Kau sudah gila gara-gara memancing ya?”
Sebuah suara mencapai telinga Ace, membuatnya melompat kaget dan melihat Demian berdiri di belakangnya saat Ace menoleh.
Berbeda dari biasanya, lelaki itu memakai kaus polos berwarna merah dan celana pendek cokelat. Jubah merah berbulunya tentu tidak akan cocok berada di tengah hutan dan danau yang indah seperti ini. Meski wajah lelaki itu tertutup topi jerami, Ace bisa melihat wajahnya yang juga kesal.
Lelaki itu duduk di samping Ace sambil meletakkan keranjangnya yang kosong. Hampir saja Ace tertawa, tapi dengan segera dia menyadari keadaan mereka sama. Sepertinya mereka senasib soal memancing.
“Haaa … kenapa lelaki itu jadi unggul dalam segalanya sih?” Dia berdecak kesal dengan pandangan yang tertuju pada Niel yang berjalan berdampingan dengan Lucas menuju mereka.
Guild master mereka yang biasa memakai jubah panjang berwarna merah gelap kini tampak lebih cerah dengan kaus putih dan celana pendek hitam. Rambut hitam lurus sepunggungnya diikat satu seperti ekor kuda dengan bagian dahi terbuka. Sungguh penampilan tak terduga dari sosok kelam seperti Niel. Terlebih, keranjang jeraminya penuh oleh ikan-ikan berukuran sedang hingga besar.
Bahkan Lucas yang berjalan di sampingnya memapah ikan berukuran besar. Andai saja Lucas memiliki warna rambut hitam. Ace pasti menduga bahwa Lucas adalah anak Niel dengan perbedaan tinggi yang begitu jauh.
“Hei, Landak Merah Bodoh dan Bocah Pengecut, kalian belum menangkap satu ikan pun ya?” Lucas melemparkan ledekan yang berhasil membuat Demian kesal. Bibirnya yang tipis membentuk senyum miring yang menyebalkan ketika mereka bertemu di pinggir danau.
“Hei! Dasar Bocah Ker—” Demian kembali berdiri, tapi Niel dengan cepat memelototi mereka.
“Berhenti berkelahi dan kembalilah ke pondok.” Niel berkata dengan nada datar, tapi Ace tahu ada rasa peduli di baliknya.
“Yah, karena kami sudah banyak menangkap ikan, kalian tidak perlu repot-repot menangkapnya lagi.”
Ace bergegas menahan Demian yang hendak melayangkan tinjunya pada Lucas sambil tertawa canggung. Yah, meski Demian dan Lucas memiliki kombinasi yang bagus di pertarungan, mereka sama sekali tidak akur dalam keadaan biasa. Selalu saja bertengkar. Tapi, entah kenapa, Niel seringkali memasangkan Demian dan Lucas, seperti saat pembagian tempat tidur.
“Biar pembagiannya pas. Demian bertubuh besar, sedangkan Lucas memiliki tubuh kecil. Coba bayangkan kalau Demian dan Edgar berada di satu tempat tidur.” Itulah yang dikatakan Hilla saat Ace menggeleng-geleng melihat kelakuan Demian dan Lucas yang selalu bertengkar soal tempat tidur.
Ketika Hilla menyambut kepulangan mereka, kedua matanya terbelalak kaget melihat hasil tangkapan Niel. Kemudian, dia tersenyum sambil berkata, “Wah, kalian memang bisa diandalkan.”
Perempuan itu memakai sebuah rok panjang biru dengan kemeja putih polos. Dia terlihat sangat berbeda dengan citranya saat bertarung dengan panah, tapi meski begitu, jelas saja Edgar tetap memandang Hilla dengan tatapan takjub.
“Dasar malu-malu kucing.” Ace bergumam dalam hati saat melihat wajah Edgar memerah, lalu berubah datar saat Hilla menoleh padanya.
Allura menggunakan skill memasaknya yang mengesankan kepada ikan-ikan besar yang ditangkap Niel dan Lucas. Lalu dalam beberapa menit, Hilla membantunya menaruh semua hidangan di atas meja setelah mengubahnya menjadi ikan panggang dengan bumbu sedap.
Sontak, raut wajah mereka berubah ketika aroma yang sedap menggelayut di udara. Ace tidak tahu itu ikan jenis apa, tapi ketika Ace mengecek batas level menangkapnya adalah level lima belas. Jadi bisa dipastikan level memancing Niel sudah berkembang jauh di atasnya.
Setelah Niel mengeluarkan aura death glare-nya untuk menghentikan pertengkaran singkat antara Demian dan Lucas yang memperebutkan ikan, mereka bertujuh mulai sarapan dengan tenang.
Meski Niel terkadang buruk dalam bersosialisasi dan cenderung abai terhadap player lain, Ace merasakan perhatian ketika Niel menegur mereka. Yah, untuk hal-hal semacam menghentikan perseteruan remeh antaranggota, Niel memang paling juara. Bahkan hanya dengan melempar tatapan tajam saja, Demian dan Lucas langsung berdamai walau terpaksa.
Piring-piring mereka telah kosong dalam sekejap mata. Ace menghela napas seolah baru saja menikmati hidangan lezat sambil meneguk kopi hangat. Yah, walau rasa makanannya sedikit aneh, Creator tetap wajib diacungi jempol. Mereka bisa meniru rasa-rasa makanan dan mempresentasikannya dalam bentuk sensor rasa di otak—walau sampai sekarang Ace tidak mengerti bagaimana game ini bekerja.
“Jadi, ikan tangkapan siapa kali ini?”
Ace mendadak canggung ketika Hilla menanyakannya sambil menyapu pandang kepada keempat lelaki yang pagi tadi berangkat memancing.
“Tentu saja aku dan Niel.” Lucas berkata dengan bangga sambil meletakkan teh hangatnya perlahan.
Kemudian, Allura melanjutkan perkataan. “Sepertinya Ace belum pernah menangkap ikan satu pun.”
Awalnya Ace tidak akan peduli jika ucapan itu dilontarkan oleh Lucas atau Niel, tapi dia jadi tidak bisa mengabaikannya karena itu adalah Allura. Dia segera menyesap kopi itu sampai habis sebelum menjawab.
“Yah, mau bagaimana. Level memancingku kan masih rendah.”
Tentu saja jawaban Ace mengundang tawa Hilla dan Allura. Dan sarapan berakhir dengan tawa meledek yang ditujukan pada Ace dan Demian.
***
“Ah, dinginnya.” Allura turun dari tempat tidur lalu membuka jendela menu. Dia melihat jam system yang terletak di pojok kanan. Pukul satu malam.
Udara dingin yang berembus membuatnya tidak bisa tidur. Pada akhirnya, Allura memakai sweater-nya lalu keluar dari pondok, meninggalkan Hilla yang meringkuk seperti anak kecil di tempat tidur yang sama dengannya. Allura harus menahan tawa ketika melintas tempat tidur para lelaki yang benar-benar berantakan. Padahal baru dua jam berlalu, tapi Demian dan Lucas telah berada dalam posisi bertarung di atas tempat tidur, sementara Edgar dan Niel tampak seperti putri tidur yang tenang.
“Ace?” Allura mengernyit ketika tidak menemui lelaki berambut biru di tempat tidur. Kemudian, pandangan Allura tertuju ke luar.
Setelah mengedar pandang selama beberapa menit, Allura akhirnya menemukan Ace di bawah pohon cedar sedang berbaring santai di rerumputan. Tak ingin membangunkan lelaki itu, Allura segera keluar sambil membawa selimut, berjalan perlahan, lalu duduk di sampingnya.
Bibir Allura tersenyum ketika memperhatikan wajah damai Ace yang tertidur. Kenapa lelaki itu berada di sini? Padahal di luar sini sangat dingin. Ah atau karena kekuatannya adalah es, jadi Ace tidak merasa kedinginan?
Allura berkedip dengan enggan, lalu tersenyum lagi seakan baru saja memikirkan sesuatu. “Ada banyak sekali … orang yang ada di sini. Dan kau sudah bertemu beberapa orang yang menarik, bukan?”
Meski tahu Ace tidak akan menjawabnya, Allura kembali bicara. “Kau pasti akan bilang, bahwa mereka bukan kewajiban kita untuk melindunginya kan? Yah, aku tidak pernah berharap kau akan berpikir seperti itu. Aku selalu merasa, melihatmu bertambah kuat adalah jalan untuk bertahan hidup. Dan setelah ini, aku yakin akan ada banyak orang yang bergantung padamu. Tentu saja aku juga termasuk.”
Jemari Allura yang kurus bergerak perlahan menelusuri garis wajah Ace yang cukup tegas karena kurus. “Mungkin kau tidak percaya dengan dirimu sendiri. Tapi, Ace, aku tahu kau mampu melakukannya. Bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Apa pun pilihanmu, aku … akan selalu berada di sisimu.”
Selagi Ace tertidur, Allura tidak bisa menahan diri untuk tidak membelai rambut Ace sambil berharap kehidupan ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Memang benar, untuk beberapa player, termasuk Hilla yang berjuang untuk menyelamatkan adiknya, mereka harus kembali ke garis depan. Akan tetapi, untuk beberapa saat, Allura merasa sesuatu yang paling penting baginya adalah kehidupan ini bersama Ace, juga kelima temannya.