Keesokan paginya, Ace bersantai di lantai dasar penginapan. Dia duduk di bangku yang terbuat dari kayu sambil menyilangkan kaki dan meminum ale. Persis seperti waktu dia bertemu Edgar di malam itu.
Frantz menepati janji untuk menyingkirkan player-player yang berkerumun di penginapan. Pagi hari, penginapan sudah mulai kembali tenang. Hal pertama yang Ace sadari adalah pekarangan penginapan yang telah lengang kembali, berisikan kereta-kereta kuda para player yang menginap di penginapan. Meski masih ada beberapa player yang terlihat berpura-pura berbaur dengan pengunjung hanya untuk melihat atau mencuri kesempatan berbicara dengannya.
Untuk mengalihkan pikiran, Ace mengambil sebuah surat kabar besar di atas meja. Meski menyebutnya sebagai surat kabar, benda ini hanyalah kumpulan rumor-rumor dari saar yang bekerja pada Dragon Slayer. Mereka saling bertukar informasi lalu mencetaknya melalui system. Walau terkesan konyol, bisa dibilang, benda ini adalah salah satu sumber media penting yang memuat informasi-informasi di luar batasan kanal system. Seperti game pada umumnya, sebuah system dapat membatasi informasi apa saja yang dapat disiarkan. Tentu saja hal itu mengekang para player, sehingga mereka mencetak surat kabar untuk bergosip satu sama lain.
Sama seperti surat kabar pada umumnya, benda ini terbagi menjadi enam halaman. Ace hanya membaca judulnya sekilas, tapi itu benar-benar membuatnya kesal. Semua itu dikarenakan karena surat kabar yang hanya memuat duelnya dengan Frantz, juga sifat buruk anggota guild-nya yang menghindari player lain dan menolak pendaftaran anggota.
[Player tingkat pertama dengan rank S mengalahkan [Juran]]! mengisi hampir empat halaman, sementara [Ace Clauser dan [Sleepy Bunny Bunch] mengusir player! Sungguh guild yang tidak memiliki tata krama] mengisi sisanya. Di bawah judul-judul itu, terdapat foto dirinya yang mengalahkan Frantz, juga foto Niel dan teman-temannya yang berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke kerumunan.
Yah, seperti yang dikhawatirkan mereka sebelumnya, juga tentang apa yang dipikirkan Ace. Tidak hanya nama Ace saja yang tersorot, tapi keenam temannya juga ikut terlibat. Ace memang membebaskan tatapan baik yang merepotkan dari player lain, tapi tetap saja rasa ketergantungan mereka mengganggu Ace.
“Yo, Ace. Sudah waktunya berangkat.”
Raut wajah kesal Ace langsung berubah ketika melihat Edgar beserta tiga lelaki lainnya turun dari kamar mereka. Sementara Hilla dan Allura berdiri di belakang. Ace memang yang turun paling awal karena dirinya tidak memiliki banyak barang untuk dikemas, tapi lain hal dengan mereka yang telah menantikan liburan ini.
Mereka berangkat dengan menggunakan kereta kuda. Awalnya mereka berniat membayar biaya teleport seandainya kerumunan player itu belum mereda. Tapi, berkat bantuan kereta kuda Frantz, mereka bisa berangkat dengan tenang. Tidak ada satu pun player yang bisa mengganggu kereta kuda yang memiliki lambang [Juran].
Pulau Ersh adalah salah satu area yang paling jarang ditinggali di Erfheim. Bukan hanya player, tapi NPC di sana pun bisa dihitung jari yang bertugas untuk merawat pondok. Karena tempat ini hanya dikelilingi hutan-hutan dan banyak danau tersebar. Monster jarang muncul meskipun Pulau Ersh memiliki area safe zone yang kecil.
Niel memutuskan untuk menyewa sebuah pondok kecil berbentuk bundar di dalam hutan untuk berlibur selama seminggu di sana. Walau ukurannya kecil, uang sewanya tetap tiga kali lipat dari ruangan markas di penginapan. Gara-gara itu, Ace jadi menyesal tidak meminta kompensasi uang dari guild [Juran] dan hanya menerima armor serta informasi itu saja. Akan tetapi, jika Ace melakukannya, dia hanya membuat penasaran guild [Juran] tentang liburan mereka. Dia berpikir bahwa mereka seharusnya dapat menghabiskan hari-hari mereka dengan tenang di tempat yang jarang ditinggali.
Pondok itu memiliki tiga ruangan. Mereka membaginya menjadi ruangan perempuan dan ruangan lelaki, lalu satu ruang yang tersisa dijadikan tempat berkumpul. Tentu saja pondok itu telah mempersiapkan alat-alat tidur yang bisa diakses melalui inventory pondok. Agak di luar dugaan, tapi telah tersedia beberapa alat masak .
“Seperti rumah sungguhan, huh?” Lucas melebarkan mata saat melihat barang-barang di dalam pondok yang benar-benar lengkap. Bahkan kursi dan tempat duduk pun sudah tersedia sesuai jumlah orang yang menginap.
“Uwah! Betapa indahnya pemandangan ini!” Hilla berhambur menuju jendela berbingkai persergi yang menampilkan pemandangan hutan.
Pemandangan di luar memang sangat memesona. Karena pondok ini terletak di pinggiran danau, mereka bisa melihat danau-danau bergemerlapan yang memantulkan cahaya beragam warna kupu-kupu, hutan yang hijau, serta langit yang terbuka bebas secara bersamaan. Langit yang bebas memberikan mereka kesan kebebasan yang tidak dapat dijelaskan. Berbeda dengan Dawn Grimmer yang padat, tempat ini benar-benar seperti berada di dunia lain.
“Jangan mencondongkan diri seperti itu, Hilla.” Suara Edgar yang terdengar lembut meski wajahnya jauh dari kata itu hanya ditujukan pada Hilla.
“Meski jatuh, aku hanya akan jatuh di teras kok.” Rupanya perempuan itu cukup keras kepala. Dia menarik lengan Allura untuk berdiri di sampingnya. “Lagipula, bagaimana aku bisa melewatkan pemandangan secantik ini? Ya ampun, Edgar.”
Ace hanya tertawa ketika melihat Edgar yang mendesah panjang. Kalau diperhatikan, Edgar memang sangat peduli pada Hilla. Lelaki itu selalu berdiri di depan Hilla dan melindunginya. Hilla pun juga tampak peduli pada Edgar. Yah, meski Ace berusaha untuk tidak penasaran, dia tidak bisa berpura-pura menahan senyum selagi melihat kedekatan mereka berdua.
Kalau dipikir-pikir, kata-kata Hilla memang benar. Mereka memang seharusnya menikmati pemandangan ini sesantai mungkin. Karena setelah permainan ini selesai, mereka tidak akan bisa kembali ke sini.
Memikirkannya membuat perasaan Ace sedikit tidak nyaman. Ace tidak dapat dengan yakin mengatakan bahwa dia telah berfokus menyelesaikan permainan. Akan lebih akurat kalau dia hanya terus meningkatkan kemampuan dan mencari kebenaran tentang ayahnya. Bila Ace terus bertambah kuat, lalu di suatu tempat yang jauh di dalam hatinya, Ace jadi menikmati segalanya. Apakah … Ace tidak ingin dunia ini berakhir?
Ace berhenti mengatur barang-barangnya lalu ikut bersandar di sisi jendela yang satu lagi. Ketika memikirkan hal itu, pikiran Ace menjadi kalut. Seakan-akan kayu yang dipijaknya mulai tenggelam.
Sebelum terperangkap ke dalam dunia ini, Ace hanyalah seorang lelaki pengecut yang dirundung tanpa bisa melawan. Lalu, kembali ke apartemen keluarga tanpa memikirkan cita-cita atau hal yang disukai dalam hidupnya. Dia hanya terus menuruti kemauan orangtuanya tanpa memikirkan apa pun. Namun, saat sang ayah menghilang, Ace benar-benar tidak punya tujuan hidup. Dia tidur, makan, bekerja, dan melanjutkan hidup seperti biasa tanpa memikirkan masa depan. Namun, dunia nyata itu telah menjadi masa lalu yang jauh.
Bila permainan ini selesai, mereka dapat kembali ke dunia nyata. Mereka akan kembali ke dunia masing-masing. Itu adalah hadiah mutlak bagi seluruh player, termasuk Allura dan Ace, juga lima teman lain. Itu juga yang mereka semua harapkan menjadi nyata.
Perlu digarisbawahi, bahwa mereka berasal dari dunia yang berbeda. Bahkan Ace dan Allura yang berasal dari Hilfheim, juga berasal dari waktu yang berbeda. Artinya, setelah semua ini, mereka tidak bisa bertemu lagi. Meski sejauh apa pun menempuh jarak atau selama apa pun menunggu, mereka … akan terpisah begitu permainan selesai. Ketika melepaskan semua pikiran tentang dunia nyata, Ace tidak bisa menahan rasa cemas yang muncul. Tentang bagaimana dirinya menganggap bahwa Erfheim adalah dunia nyata, sementara Hilfheim hanyalah masa lalu yang amat jauh. Setiap kali memikirkan itu, Ace tanpa sadar mengeratkan kepalan tangannya di kusen jendela.
Bagaimana jika … kehidupan ini ternyata tidak seburuk yang Ace bayangkan?
Bahwa saat ini pun, Ace mulai menikmati kehidupan dengan teman-temannya?
Jika … dia berhasil bertemu lagi dengan sang ayah, bahwa ayahnya baik-baik saja, bukankah itu sudah cukup? Dia tidak perlu lagi memikirkan sang ibu, yang mungkin saja tidak pernah tahu pernah melahirkan Ace.
“Ace, apa kau sedang memikirkan sesuatu?”
Suara milik Allura yang lembut menyapa telinga Ace begitu saja. Dia pun menoleh pada Allura yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah khawatir.
Apakah raut wajahnya terlihat begitu mencemaskan?
“Ah, Allura ….” Untuk sesaat, Ace berhenti berbicara. Haruskah dia menanyakan hal ini? “Apa … kau benar-benar ingin keluar dari tempat ini?
Perempuan itu mengernyit. Dia terdiam sejenak, Demian dan Lucas yang tengah memperebutkan tempat tidur, Niel yang berkutat dengan barang-barang misteriusnya, juga Hilla dan Edgar yang tengah bersantai di teras.
“Hei, bagian kanan kan tempat tidurku! Jangan melebarkan kakimu seperti itu donk!” Terdengar suara protes Lucas sambil memelototi Demian yang berbaring dengan kaki dan tangan terlentang.
Lalu beberapa deitk kemudian terdengar Demian berseru sambil mengibas-ngibaskan tangan. “Dasar bocah kerdil, tidak bisakah kau membiarkanku istirahat sejenak?”
Ketika melihat itu, kegundahan yang sempat menghampirinya tiba-tiba memudar.
“Apa yang ingin Ace lakukan?” Allura balik bertanya.
“Aku?” Ace menunjuk dirinya sendiri, sedikit bingung. Namun, beberapa detik kemudian, Ace menjawab seolah telah memikirkannya matang-matang. “Aku … akan membeli satu pondok di sini, lalu hidup tenang bersama kalian semua sampai mati.”
“Kalau begitu, aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu.” Perempuan itu menekan kedua pipi Ace dengan kedua tangan sambil tersenyum, lalu berkata, “Aku mempelajari banyak hal di sini. Mungkin akan jadi bagus kalau kita berhasil menyegel Apostologia dan kembali ke dunia nyata, tapi tetap ada kemungkinan hal itu tidak pernah tercapai. Meski gagal pun, aku tidak akan menyalahkanmu. Seperti yang kau bilang, kita hanya perlu hidup tenang di sini bersama semuanya sampai mati.”
“Dan bagaimana jika kembali ke dunia nyata? Setelah itu, kita semua akan terpisah.”
“Meski berasal dari dunia yang berbeda, aku yakin hati kita semua tetap terhubung. Jika aku berhasil ke dunia nyata, aku akan tetap mencari kalian semua. Walau harus menunggu beratus-ratus tahun atau menyebrangi dunia lain, aku akan mencari kalian. Aku akan mencarimu dan akan tetap berada di sisimu.”
Mata Ace membulat ketika mendengar kalimat Allura. Entah sudah berapa kali, Ace mengagumi kejujuran dan ketulusan Allura, atau mungkin memang hatinya saja yang lemah. Ah, memang Ace adalah orang yang lemah. Tapi, hal itu tidak masalah. Berkat kekuatan Sarmeet, Ace jadi lupa betapa menyenangkannya untuk bersembunyi di balik punggung orang lain dan membiarkan orang lain memukulinya. Ace tidak tahu berapa lama mereka dapat tinggal di sini, tapi setidaknya, Ace ingin menikmati tujuh hari singkat bersama mereka.
Kemudian, Allura menarik lengan Ace berbalik, menuju lima temannya yang seolah-olah menyambut mereka.