Chapter 46: Sarmeet

2204 Kata
“Naga es?” Nama itu muncul begitu saja dalam benak Ace. Namun, karena ragu-ragu, dia mengucapkannya dengan suara lirih. Sesaat, Frantz terkesima. Matanya membulat ketika mendengar jawaban Ace. Rasa kagumnya menjadi berkembang karena Ace langsung bisa mengenalinya hanya dengan melihat sekali. “Benar.” Frantz menepuk tangan dengan gembira. “Saat kau mengalahkan naga itu, aku tidak sengaja mendapat material Dragon Bone yang bisa digunakan untuk membuat jubah. Yah, awalnya aku berharap benda ini akan menjadi milikku, tapi setelah dicoba, resonansi sihirnya tidak sesuai. Aura naga es ini selalu menolak sihirku dan membuatku pingsan berhari-hari. Kupikir, aku akan menjualnya dengan harga tinggi, tapi saat bertarung denganmu, aku jadi teringat pada pertarungan itu.” Frantz tersenyum masam saat mengingat pertarungan konyol itu. Saat itu, seorang player meminta bantuan [Juran] untuk mendapatkan Obsidiant Stone. Memang benar bahwa membantu player baru untuk membunuh naga itu diperbolehkan. Namun, [Juran] yang saat itu dipandang sebagai salah satu guild kuat malah gagal menjalankan tugas. Mereka bahkan tidak bisa menyentuh naga itu sama sekali, seolah-olah dia menunggu seseorang untuk membunuhnya. Dan orang itu adalah Ace Clauser. Biasanya, naga akan langsung bersikap destruktif tanpa memandang lokasi, tapi naga itu berbeda. Dia dengan sengaja mengincar gerbang utama Dawn Grimmer, seolah-olah menuju seseorang. Lalu, ketika player-player kuat mencoba menyerang, naga itu bertindak seakan tidak tertarik. Awalnya Frantz berpikir bahwa naga itu memiliki akal dan dugaannya memang benar. Keesokannya, berita tentang Dragon Slayer yang berhasil membunuh naga es benar-benar membuat Frantz terkejut. Dialah yang sempat berhadapan satu lawan satu. Dia tahu betul betapa mengerikannya kekuatan naga itu. Jadi, ketika berita itu tersebar, Frantz benar-benar penasaran seperti apa orangnya? Siapa yang mengalahkan naga es itu dan menjadi Dragon Slayer? Betapa kecewanya Frantz ketika melihat foto Ace yang tampak seperti lelaki pengecut yang akan bersembunyi di balik punggung perempuan ketika profil Dragon Slayer muncul. Tentu saja pandangan orang-orang tidak langsung berubah. Mereka memang terkejut dan penasaran dengan sosok Ace, tapi mereka tidak terlalu berharap. Ah, paling juga penyihir tingkat rendahan. Peringkatnya juga pasti tidak lebih dari D. Mungkin saja E. Dia kan hanya punya tubuh kurus seperti tengkorak. Mana mungkin seseorang seperti itu memiliki sihir yang hebat. Akan tetapi, begitu rank quest Ace selesai, semua perhatian jadi tertuju padanya, termasuk Frantz. Dia memang jarang memperhatikan player lain, terutama yang memiliki sihir lemah. Baginya orang-orang seperti itu tidak akan berguna. Walau Frantz kuat, dia butuh orang kuat untuk berdiri di sisinya. Dia tidak butuh player lemah yang hanya bisa menjadi bebannya saja. Dia memang memiliki Sada, Sasha, Ebi, dan Dyne yang selalu menjadi pedang serta orang yang menjaga punggungnya, tapi Frantz belum puas. Di Erfheim hanya memiliki sedikit sekali penyihir setingkat dengannya. Hanya Raztia dan Niel. Tapi, dua orang itu sudah memiliki guild masing-masing. Frantz tidak terlalu ingin berhubungan dengan Raztia. Dia memang memiliki sihir yang kuat, tapi kebodohannya adalah masalah besar. Frantz butuh player kuat dan cerdas. Niel memang memenuhi persyaratan itu, tapi Niel bukan orang yang mudah ditundukkan. Ketika Ace sebagai penyihir tingkat pertama muncul, bagaimana bisa Frantz tidak senang? Apalagi pikiran-pikirannya tentang Ace adalah sosok lemah, rapuh, dan mudah dipengaruhi membuatnya cukup percaya diri untuk merekrut orang itu. Yah, bagaimanapun, semua orang butuh uang kan? Jika dia memberikan banyak uang, Ace pasti akan dengan senang hati mengikutinya dibanding bertahan di guild kecil seperti itu. Akan tetapi, sebuah pemikiran mulai terbesit di benak Frantz. Bagaimana jika, anak itu tidak sekuat yang tertulis di data system? Bagaimana jika Ace tetaplah anak kurus yang tidak punya kemampuan apa-apa? Atau buruknya, lelaki itu malah menyia-nyiakan kekuatan peringkat satu hanya karena dia bodoh. Memikirkan hal-hal itu, Frantz jadi merasa bahwa ini adalah tanggung jawabnya. Dia pun mengajak Ace berduel untuk memastikan kekuatan lelaki itu. Dengan sifat berlebihan, dia mengajak Ebi, Dyne, Sada, dan Sasha untuk ikut bertempur, berusaha tidak terlihat meremehkan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia sengaja bersikap tenang sambil melihat kemampuan Ace saat mengalahkan anak buahnya, sekaligus tercengang. Mata Frantz jadi berbinar-binar setiap kali Ace mengeluarkan sihir dan mengendalikannya dengan cara yang berbeda. Frantz jadi sadar bahwa inilah kekuatan penyihir tingkat pertama dengan rank S. Tidak perlu ada yang diragukan lagi. Lalu setelah itu, hasrat untuk bertarung satu lawan satu muncul. Meski pada akhirnya dia tidak bisa mengalahkan Ace. “Tapi, bagaimana caranya kau membuat armor dari tulang? Apakah ada NPC yang bisa melakukannya?”   Pertanyaan Ace menginterupsi benak Frantz. Dalam sekejap, dia merasa pikirannya tersedot kembali ke ruangan ini, lalu menatap Ace lekat-lekat. Frantz sadar bahwa dia terlalu meremehkan Ace karena penampilannya yang sama sekali tidak keren. Sebetulnya, itu pandangan yang lumayan salah. Andaikan saja lelaki ini lebih terawat dan tubuhnya tidak terlalu kurus, Ace akan terlihat lebih baik. Wajahnya juga tampan untuk ukuran lelaki berusia dua puluhan. Selain itu, Frantz cukup terkejut dengan pertanyaan Ace barusan. NPC? Jangan-jangan lelaki itu tidak tahu bahwa seorang player bisa menjadi pandai besi? “Seorang blacksmith terkenal yang membuatnya dengan teknik peleburan. Yah, seperti yang kau tahu. Player yang tidak mendapat Obsidiant Stone akan menjadi saar. Sebagian dari mereka memilih menjadi pandai besi dan melatih kemampuannya untuk membantu player untuk menjadi lebih kuat. Waktu itu aku ingin membuat s*****a, tapi kalau dipikir-pikir, apakah seorang mage membutuhkan s*****a? Sama sepertimu, aku juga berpikir bahwa mage tidak terlalu membutuhkan s*****a. Di Erfheim, tongkat sihir hanya dibuat untuk para healer. Mage akan menggunakan seluruh tubuhnya sebagai s*****a. Ah, bocah berambut merah dan bocah berambut putih yang satu guild denganmu juga tidak memakai s*****a kan? Nah, daripada aku membuatnya sebagai s*****a yang tidak bisa kupakai, akhirnya aku membuatnya jadi armor. Dan itu akan menjadi milikmu sekarang.”   Ace tidak bisa mencerna kalimat-kalimat panjang yang diucapkan sekaligus oleh Frantz, tapi dia bisa menangkap intinya. Jadi, armor ini dibuat dengan teknik khusus? Ace berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tak keruan. Sihir yang mengalir di armor itu membuat Ace merasa nyaman, sekaligus meledak-ledak. “Tapi, kenapa kau memberikannya padaku?” “Menurutmu, apa yang terjadi jika seorang penyihir terkuat memakai armor yang kuat? Yah, aku yakin kau sudah mendapatkan jawabannya. Aku selalu memakai armor yang ditempa oleh blacksmith terbaik dan kau tidak, tapi kau berhasil menghalahkanku. Jadi, anggap saja ini sebagai hadiah karena telah menunjukkanku kemampuanmu yang mengagumkan.” “Tapi, tidakkah ini terlalu—“ “Tidak ada kata berlebihan!” Frantz mengangkat tangan kanannya dan memotong pembicaraan. Senyum lebarnya masih menghiasi wajah flamboyan itu. “Dan lagi, mulai sekarang aku akan mendukungmu. Kau ingin menyegel Apostologia kan? Kami sadar, kesempatan itu akan sulit dicapai tanpa dirimu. Tapi, kau juga tidak bisa melakukan semuanya sendiri kan? Anggap saja, armor ini salah satu dukunganku untukmu. Kau adalah penyihir yang kuat. Jika memakai armor kuat, kau akan bertambah kuat. Itu artinya, tujuan semua player untuk kembali ke dunia asal akan terwujud kan? Saat ini, bukankah kita memiliki tujuan yang sama?” Ace tidak percaya atas apa yang didengarnya barusan. Dia bukannya tidak suka mendengar ucapan Frantz tentang memberikan dukungan. Ace senang mengetahui bahwa sebagian besar player memiliki tujuan yang sama: keluar dari game. Tapi, ada satu hal yang membuat Ace tidak nyaman, yaitu ketergantungan. Secara tidak langsung, Frantz seolah-olah menggantungkan tugas menyegel Apostologia padanya. Haruskah Ace menerima armor itu? Yah, kalau dibandingkan dengan armor murahannya, armor itu jauh lebih bagus. Tapi, bagaimana jika Ace gagal memenuhi ekspektasi orang-orang? “Satu hal lagi.” Ace berbicara sambil memandang Frantz. “Aku tidak datang ke sini hanya untuk melihat hadiahmu, tapi ada yang sama pentingnya.” Dahi Frantz mengernyit. “Apa itu?” “Aku ingin menukar hadiah duel dengan informasi tentang Menara Penyihir.” Kini bukan hanya mata Frantz yang melebar, tapi juga empat player di sampingnya. “Menara … Penyihir katamu?” “Apa … itu sesuatu yang dilarang?” “Tidak. Tidak seperti itu.” Wajah Frantz yang sempat kaku sejenak kini kembali normal. Hanya saja, Ace tahu ada yang mengganjal perasaan lelaki itu. “Tapi, tidak banyak yang kami tahu tentang tempat itu. Ngomong-ngomong, dari mana kau mengetahuinya?” “Ah.” Ace terdiam sejenak, berusaha memikirkan jawaban yang masuk akal. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa sosok yang kemungkinan besar adalah penyihir tingkat pertama datang mengatakannya kan? Lagipula, Ace belum punya bukti bahwa sosok itu adalah penyihir tingkat pertama. Bisa saja, dia adalah penyihir gelap yang mengendalikan Apostologia. Kalau memang sosok itu adalah penyihir gelap, itu artinya dia berada di Menara Penyihir, menanti kedatangan Ace. “Aku … tidak sengaja mendengarnya dari salah satu player.” “Begitukah?” Frantz tampak menimbang-nimbang kebenaran jawaban Ace. “Lain kali kau harus berhati-hati saat menyebut nama itu.” “Kenapa?” “Yah, ini hanya rumor. Tapi, ada sekelompok player yang melakukan PK kepada player lain yang mencari informasi tentang Menara Penyihir. Jadi, informasi tentang ini benar-benar sangat sedikit.” “Apakah tidak ada jalan lain?” Ace bertanya lagi, merasa tidak puas. Frantz berpikir sejenak, lalu memandang empat player itu bergantian. “Yah, ada satu tempat yang memungkinkanmu untuk mendapatkan informasi. Tapi, untuk pergi ke tempat itu, kau harus mendapat izin dari dewan istana.” “Dewan … istana?” Tanpa alasan, perbicaraan teman-temannya dengan Haze terlintas di benak Ace. Kalau diingat-ingat, rasanya Haze pernah mengatakan hal serupa. “Apakah yang kau maksud adalah Perdana Menteri Erfheim yang berada di pusat kota?” “Benar.” Frantz menjawabnya langsung. “Dia adalah orang yang cukup keras kepala, tapi ketika mendapatkan izin darinya, kau bisa pergi ke Kota Esthar. Di sana ada banyak informasi yang tidak bisa didapatkan di Dawn Grimmer. Dan lagi, kau bisa membeli informasi di pasar gelap dengan harga yang sesuai.” “Ah. Aku mengerti.” Melihat perubahan raut wajah Ace, Frantz bertanya lagi. “Apa ini hadiah yang kau inginkan? Informasi itu—“ “Iya. Itu cukup.” Ace menjawab cepat sambil tersenyum tipis. “Itu jauh lebih berharga dibanding hadiah total 10x raid dungeon rank S.” Frantz menggeleng cepat. “Itu terlalu murah. Kau harus tetap mengambil armor itu.” Keras kepala. Itulah yang ada di benak Ace. Tapi, dia benar-benar tidak berniat menolak hadiah itu. “Itu akan menjadi milikmu sekarang.” Mira kemudian maju membawa kotak yang telah terbuka itu ke hadapan Ace. Tatapan Frantz seolah-olah menantikan saat-saat ketika Ace mengambil armor yang seringan bulu, lalu membentangkannya di udara. Beberapa detik kemudian, system yang sedang membaca data dari armor berdering. [Item: Sarmeet Propechy Cloak] [Rank Requirement: S                              Grade: 1] [Rarity: Legend ] [Attack Power: +10000                             Physical Defense: +10000] [Magic Power: +10000]                            Magical Defense: +10000] [Special Effect: +10% Physical and Magical Attack Power, MP Cost -10%, Damage Reduction +10%] Akan tetapi, ketika detail informasi armor itu keluar, Ace langsung membelalakan mata. Bagaimana bisa dia percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini? Statistik ini … benar-benar tidak masuk akal. Benar-benar sangat jauh dibandingkan dengan armor murahan yang dia beli di toko. Terutama bagian power dan defense yang benar-benar membutakan mata. Tidak. Rasanya, Ace sangat lancang jika membandingkan armor dari tulang naga dengan armor murahannya. Gila. Hanya itu yang muncul di benak Ace. Sekarang, bagaimana bisa dia menolak hadiah sebagus ini? Bahkan jika hanya menggunakan armor ini saja, dia tidak membutuhkan equipment lain. Jika Ace terkejut dengan statistik armor, lain hal dengan para player yang ada di ruangan itu. Sejak Ace pertama kali memasuki ruangan, mereka telah merasakan sihir yang kuat, tapi sekarang, kekuatan itu telah bertambah berkali-kali lipat. Bagaimana bisa seseorang mengeluarkan aura sihir yang sama dengan armor legendaris? Sesaat Frantz berpikir bahwa dia akan menyesal memberikan armor sebagus itu pada orang lain. Akan tetapi, saat merasakan kekuatan sihir Ace dan armor yang bersatu, Frantz merasa tenang. Armor yang baik selalu memilih tuan yang terbaik. Dia merasa keputusannya tidaklah salah. Seolah-olah puas melihat reaksi Ace, Frantz bertanya lagi. Kali ini nada bicaranya lebih santai dan percaya diri. “Bagaimana? Kau akan menerimanya?” Ace menimbang sejenak. Aura sihir yang dikeluarkan armor itu seakan menyambutnya. Udara dingin yang dulu menusuk kini terlihat seperti bersahabat dengannya. Seakan seperti mereka telah terhubung jauh hari ini. Ace tidak tahu apakah ini pengaruh kekuatan naga es yang mengalir di tubuhnya, tapi … jantungnya berdetak tak keruan, seakan baru saja mengalami reuni panjang.   Kalau dia menerimanya, armor ini akan menjadi pengikat di antara Ace dan Frantz. Selain itu, hal ini akan menjadi sebuah beban bagi Ace sendiri. Bagaimana bisa dia menerima hadiah yang begitu berharga hanya karena memenangkan duel? Ace mengajukan pertanyaan yang sama lagi. “Tapi, sungguh tidak apa-apa menerima hal ini secara cuma-cuma?” “Ya. Aku akan memberikannya sebagai hadiah.” Frantz yang sejak tadi tersenyum kini menjadi serius. “Lagipula aku tidak memberikannya secara cuma-cuma. Kau tahu? Bertarung dengan penyihir tingkat pertama yang kehadirannya bagai mitos adalah sebuah kehormatan besar bagiku. Jadi, itu benar-benar tidak masalah.” Ace menggaruk pelipis sambil tertawa canggung. Kemudian, dia mengangguk, lalu mengganti jubah usangnya menjadi armor itu. “Baiklah. Aku sangat berterima kasih atas hadiahnya.” “Aku senang jika kau menerimanya.” Tidak hanya wajah Frantz yang berubah menjadi hangat, tapi semua player. Terutama ketika kekuatan sihir yang amat kuat itu telah menjadi tenang saat terpasang di tubuh Ace. Ace sendiri merasakan kekuatan sihir yang begitu kuat mengalir di tubuhnya. Kemudian, tangan Ace terkepal. Dia melihat symbol kepingan es di tangannya bersinar, seolah sedang menyatukan kekuatan dengan armor. “Sarmeet. Jadi … itu namamu, ya?” Ace bergumam, seolah-olah sedang berbicara dengan naga yang telah memberinya kekuatan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN