Chapter 45

2011 Kata
Setelah menyelesaikan pertarungan duel itu, mereka kembali ke penginapan. Tentu saja segalanya menjadi sulit sejak ketenaran Ace meningkat berkat berita kemenangan yang menyebar cepat. Para player tentu berjuang di tengah kerumunan mereka sendiri untuk sekadar melihat wajah Ace. Namun, bagi Ace, perhatian orang-orang ini tidak lebih dari gangguan. Meski begitu, Ace tetap bersyukur tidak ada kamera atau ponsel di dunia ini, sehingga tidak ada alat untuk memotret wajahnya. “Uh, ya ampun.” Ace melihat ke luar jendela markas guild mereka. Player-player itu tetap bersikeras menunggunya di halaman penginapan meski malam semakin larut. Bukan hanya sekadar mengincar Ace, tapi juga berusaha menemui Niel. Mereka tahu kalau Ace tidak akan pindah dari guild [Sleepy Bunny Bunch] dan sebaliknya, mereka ingin bergabung dengan mereka. Tentu saja Niel tidak akan mengizinkannya. Akan sangat repot mengatur player dalam jumlah banyak, apalagi mereka baru saling mengenal. “Aku tidak akan menambah anggota lagi.” Itulah yang Niel katakan setiap player-player itu berhasil mendekat dan memberikan surat pengajuan diri. Dan karena kekuatan Niel juga, mereka bisa memasuki penginapan tanpa mengalami hal buruk seperti berdesak-desakan dengan player. Pandangan Ace menjadi lebih gelap saat melihat kerumunan player itu melihat ke jendela mereka. “Haruskah aku turun untuk mengatakan sesuatu?” “Dan kau akan diserang tanpa ampun.” Hilla menambahkan dengan nada sinis. Tidak seperti sebelumnya, perempuan itu tampak kesal karena sejak kembali ke penginapan, dia tidak bisa turun ke lantai dasar untuk memesan makanan favorit. Alhasil, mereka harus memakan makanan ala kadar yang dibawakan pelayan. “Tidak apa-apa, Ace.” Kali ini Allura yang menahan lengannya ketika Ace berdiri. “Kau sudah menjadi incaran mereka. AKu tidak bisa membayangkan apa yang mereka lakukan jika kau mengusir para player itu. Ah, jangan lupa kalau kau menolak untuk bertemu mereka. Jadi, citramu juga lumayan buruk.” Perempuan itu mengatakannya dengan raut wajah yang sedikit berbeda dari biasa. Senyum lembut yang selalu menghiasi wajah Allura telah berubah menjadi senyum sarkas yang membuat Ace jadi canggung. Lagipula, bukan kemauannya untuk menciptakan imej yang buruk. Dia telah mengabaikan banyak player yang berusaha bicara atau memintanya untuk melatih mereka. Bahkan Ace juga mencampakkan para player perempuan yang mencoba menggodanya. Lihat? Siapa yang memulai masalahnya duluan? Lagipula, Niel selalu memasang wajah dingin dan menunjukkan ketidaktertarikan ketika ada player yang ingin bergabung dengan mereka. Wajah-wajah yang seolah mengatakan ‘pergi kau s****h’, ‘memang kau siapa ingin bergabung dengan kami?’,  atau ‘kau ingin menjadi parasit ya?’ Karena hal itu, sebagian player merasa Ace dan guild-nya memiliki sikap yang buruk. Sementara masih ada banyak player yang tetap berusaha bergabung dengan tujuan bertahan hidup. Bagi mereka, tidak masalah anggotanya memiliki sifat yang buruk atau tidak asalkan memiliki kekuatan sehingga mereka tidak perlu melaksanakan raid dengan resiko tinggi bersama sesama player lemah. “Jadi, bagaimana dengan rencana kita untuk berlibur kalau mereka tetap mengelilingi kita seperti ini, huh?” Tidak seperti biasanya, kini Lucas tampak lumayan frustasi. Dia terus menundukkan kepala sambil menarik rambut. “Tentu saja pakai item. Kita tidak mungkin menerobos kerumunan atau membawa mereka sepanjang perjalanan.” “Item yang mahal itu maksudmu?” Demian tampak heboh saat Edgar mengusulkan hal itu. Namun, dengan cepat Niel menyanggupi. “Itu bukan masalah besar.” “Tapi, ngomong-ngomong.” Hilla menghentikan kalimatnya sejenak. “Apa mereka terus berniat menguntit? Kalau begini, rasanya tidak aman kembali ke kamar masing-masing meski dipasangi pelindung sihir.” Teman-temannya berpikir sejenak, lalu membenarkan ucapan Hilla. Tidak jarang player lain melakukan PK secara diam-diam. Terutama ketika kemunculan player kuat baru yang dianggap tidak berpengalaman. Mereka yang merasa gagal merekrut player itu akan mencuri kesempatan untuk membuatnya lengah, lalu membunuhnya. “Kalau begitu, kita hanya harus tidur di sini semalam sebelum pergi berlibur. Kau sudah menentukan tempatnya, Ace?” Pandangan Edgar teralih pada Ace yang masih berdiri di samping jendela. Dia menggangguk. “Aku sudah menanyakannya pada Hilla dan Allura. Katanya ada pulau yang indah di sebelah utara Dawn Grimmer.” “Ah, maksudmu Pulau Ersh itu?” Seolah-olah mengetahui tempatnya, Edgar mengangguk-angguk mengerti. Wilayah indah di sebelah utara Dawn Grimmer adalah Pulau Ersh yang menjadi salah satu area yang jarang ditinggali. Karena tempat ini hanya dikelilingi hutan-hutan dan banyak danau yang tersebar, serta tidak memiliki penginapan atau pedesaaan apa pun. Akan tetapi, mereka bisa menyewa pondok kecil untuk bersantai selama beberapa hari. Lagipula siapa yang mau hidup bersantai di tengah pulau sementara setiap detiknya, nyawa seorang player bisa terancam? Hanya mereka. Siapa lagi? Tangan Ace yang hendak membuka tirai jendela tiba-tiba terhenti. Pandangannya sontak tertuju pada pintu ruangan setelah merasakan aura sihir yang kuat. Ace menduga dia adalah player tingkat tinggi, tapi … siapa? Bagaimana bisa mereka masuk ke tempat ini yang telah dipasangkan pelindung sihir? Apakah mungkin … sosok itu? Itu mungkin saja jika mengingat dia bisa menekan kekuatan sihirnya sampai tidak bisa dilacak sekali pun, atau menyamarkan aura sihir sehingga tidak ada yang mengenalinya. Namun, ada urusan apa jika sosok itu sampai datang kemari? “Ada orang?” Hilla bertanya dengan suara lirih. Seperitnya bukan hanya Ace saja yang merasakan aura sihir itu, tapi keenam temannya, bahkan Allura juga ikut merasakan. Ace mengangguk. Dia berjalan perlahan-lahan menuju pintu, mencegah Edgar yang baru saja berdiri untuk membuka pintu. “Biar aku yang melihatnya.” Enam temannya mengangguk, tapi Ace tahu mereka bersiap seandainya saja orang yang datang adalah musuh. Ketika Ace membuka pintu, dia melihat tiga orang player kuat yang memakai seragam seperti militer berwarna biru bergaris emas. Ace mengernyit saat merasa emblem yang tersemat di d**a kiri mereka tampak familier. Kemudian, di antara tiga player, ada seseorang yang Ace kenal, bertubuh kurus dan tampak keberatan dengan seragamnya perlahan maju. Ah. Ace mendadak jadi ingat ketika melihat senyum lebar yang menyebalkan itu. “Tuan Lore?” Wajah Lore terlihat jelas di mata Ace. Tidak peduli apa pun yang dia katakan, tentu bukan sebuah kebetulan bagi anggota guild [Juran] berada di penginapan saat malam hari seperti ini. “Maaf?” “Ah.” Seakan-akan tersadar bahwa dirinya baru saja mematung, Lore dengan segera melebarkan senyum di wajah. Dia juga mengulurkan tangannya. “Ace Clauser?” Masih terjebak dalam kebimbangan, Ace menyambut uluran tangan Lore, tapi ketika tangan mereka berjabat, senyum Lore langsung sirna. Matanya membulat seolah baru saja bersalaman dengan hantu. Namun, itu hanyalah efek dari status kepekaan yang terus meningkat dan Lore berhasil merasakan sihir yang amat kuat mengalir dari Ace. Lore sendiri tidak tahu cara untuk menjelaskan secara tepat apa yang dirasakannya itu. Ace melemparkan pertanyaan lagi saat mereka terdiam beberapa detik. “Ada apa?” Kemudian, Lore tersenyum lagi saat jabat tangan mereka selesai. “Maaf karena datang tanpa pemberitahuan. Bisakah kau memberiku sedikit waktu untuk bicara?” “Apakah guild master-mu yang meminta hal ini?” “Benar.” Lore menjawab tanpa ragu-ragu. Akan tetapi, Ace bisa melihat kecemasan di wajah Lore yang menanti jawabannya. Ace mengernyit, memandang Lore yang terus mempertahankan senyum yang memuakkan. Dia jadi heran kenapa lelaki itu ada di tempat seperti ini? Setelah beberapa detik terdiam, mulutnya terbuka untuk bicara. “Bukankah guild master-ku sudah bilang akan menemuinya nanti?” “Itu benar. Tapi, master ini mengatakan sesuatu hal sekarang ini.” “Di mana dia sekarang?” “Aku akan membawamu ke tempat yang tenang, tentunya. Dan jangan khawatir soal player-player bodoh itu. Master bilang, dia bisa menghilangkan mereka kalau kau mau menghadiri makan malam dengannya.” Makan malam? Hal itu membuat Ace jadi bergidik ngeri. Bagaimanapun, wajar saja jika Ace mendapat ajakan makan malam dari seorang perempuan, tapi dia malah mendapatkannya dari seorang lelaki bertubuh besar seperti Frantz? Bagi Ace yang tidak terbiasa dengan kehidupan sosial, hal semacam itu terasa menggelikan. Tatapan Ace berpaling pada enam temannya, juga jam dinding. Sekarang sekitar pukul delapan malam. Sudah terlambat untuk makan malam. Lagipula dia baru saja menyantap sup penginapan yang dibuat ala kadar. Tapi, yang menarik bagi Ace adalah perkataan terakhir yang diucapkan Lore. Menyingkirkan para player yang terus membuntutinya? Itu penawaran bagus, setidaknya itulah yang Ace butuhkan saat ini. Dia tidak bisa terus hidup dalam pengejaran tak wajar dari orang-orang yang terobsesi atau menyimpan dendam kepadanya kan? “Baiklah.” Ace menghela napas. Wajah Lore yang tadinya cemas kini berubah menjadi lebih cerah. Namun, senyum lebarnya itu malah membuat Ace semakin tidak nyaman. “Kalau begitu, mari pergi. Aku akan memastikan kau tetap aman sampai di tujuan.” Ace masuk ruangan untuk berbicara dengan teman-temannya, lalu pergi bersama Lore dan dua player [Juran]. Seperti yang Ace duga, para player telah menunggunya bahkan ketika Ace baru menuruni tangga. Namun, dua player itu beserta Lore lah yang menjauhkan Ace dari kerumunan player yang berdesak-desakan. “Apa? Kenapa player dari [Juran] bisa mengunjunginya? Kenapa kami tidak bisa berkunjung!?” “Bukankah Ace Clauser dan guild-nya menolak kunjungan?!” Seruan-seruan seperti itu mulai terdengar. Sepertinya para player itu mulai kesal begitu melihat guild [Juran] datang berkunjung dan berhasil bertemu dengan Ace, sementara mereka yang telah sejak siang tadi berkerumun tidak punya satu detik pun untuk bicara. “Mundur!” Lore berteriak sambil mengangkat tangan. Para player itu berhasil terdiam selama beberapa detik. Namun, yang terjadi berikutnya adalah mereka terus saling mendorong demi mendapat kesempatan untuk bicara dengan Ace. “Ace Clauser!” Mereka memanggil dengan nada anarkis yang mengingatkan Ace pada fanmeeting seorang artist di Hilfheim dulu. Entah kenapa, sensasi ini terasa seperti familier baginya. Hanya saja, orang-orang ini tidak tulus menyukai Ace. Mereka hanya berusaha memanfaatkannya untuk terus bertahan hidup. Bukankah bagus jika kau bergabung dengan guild yang berisi player-player kuat? Awalnya Lore dan dua player itu tampak berusaha mempertahankan kesabaran. Namun, dua menit setelahnya, mereka langsung memakai skill untuk menciptakan celah dan menarik Ace untuk pergi dari penginapan. **** Lore menuntun Ace ke markas guild [Juran] yang ternyata benar-benar besar. Tidak seperti guild-nya yang hanya menyewa satu ruangan kecil di penginapan, markas [Juran] terletak agak jauh dari pusat kota. Saat ini, Ace dibawa menuju salah satu lantai atas dari menara besi. Di dalam ruangan tamu, terdapat jendela besar di mana mereka bisa melihat keseluruhan Erfheim, bahkan Istana Dawn Grimmer sekali pun. “Oh, Ace Clauser!” Frantz menyambut Ace yang baru saja memasuki ruangan. Frantz duduk di tengah meja besar berbentuk setengah lingkaran, masih memakai jubah panjangnya yang biasa. Sementara empat player yang berhadapan dengan Ace hari ini duduk di sampingnya. Frantz menyatukan jemari tangan kurus di depan wajah dan memandang Ace dengan senyum yang memuakkan. Awalnya Ace akan menduga bahwa lelaki ini akan melampiaskan kemarahannya karena Ace telah mencoreng nama baik [Juran]. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan Ace. Yah, bagaimanapun, mereka tetap guild besar yang tidak akan memiliki masalah jika kalah dari seorang penyihir tingkat satu. “Aku ingin memberikan hadiah untukmu atas kemenangan duel itu.” “Sekarang?” “Yap, tidak ada yang lebih tepat selain malam ini.” Pandangan Frantz beralih pada salah satu player—mungkin tingkat ketiga dengan rank yang cukup rendah karena aura sihirnya tidak begitu kuat—yang berdiri di sisi ruangan sambil membawa sebuah kotak besar. Bahkan ukuran kotak itu hampir mengubur wajahnya. “Mira, tolong bawakan benda itu ke sini.” Player itu menurut. Meski kotak itu terlihat berat, dia sama sekali tidak terlihat kesulitan saat membawanya. Pandangan Ace kini teralih menuju sebuah kotak yang telah terbuka. Bagian dalamnya dilapisi kain serta pelindung sihir. Meski Ace tidak terlalu berharap pada hadiahnya, dia tetap menatap sesuatu yang dibungkus kain dengan pandangan yang tak terbayangkan. Akan tetapi, tatapannya berubah menjadi tajam saat aliran sihir yang kuat seolah memanggilnya. Apa ini? Sesuatu yang ada di balik kain itu terus beresonansi dengan aura sihir Ace. Ketika menyadari perubahan wajah Ace, Frantz tersenyum lebar seolah puas. Dia baru saja memilih hadiah yang tepat, seolah-olah benda ini baru saja memilih Ace Clauser sebagai tuannya. Frantz memerintahkan Mira untuk membuka kain serta sihir pelindung. Di baliknya, terdapat sebuah jubah yang desainnya mirip seperti milik Ace. Tampilannya seputih salju dan terasa sangat mistis dengan garis-garis biru yang tampak sederhana. Hanya saja, dia tidak terbuat dari kristal sihir, melainkan material langka dari tulang naga yang ditempa oleh blacksmith terkenal. Dan Ace sadar, jubah di hadapannya ini memancarkan aura yang sangat Ace kenal. “Naga es ….” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN