[Remaining Time: 2 minute 48 seconds]
[HP: 2867/2867]
[MP: 460/ 460]
Waktu yang tersisa tinggal sedikit, tapi dia memiliki HP dan MP penuh sebagai gantinya. Dengan sebilah pedang panjang di kedua tangan, Ace mengambil napas. Dia memejamkan mata sesaat untuk menenangkan diri dan mempertajam pendengaran. Suara-suara yang tidak mengenakan muncul ketika para magis melantunkan mantra, seakan berusaha mengganggu konsentrasi Ace. Sambil mengumpulkan kekuatan sihir di kaki, Ace melesat dengan kecepatan tinggi.
Beberapa elf penyerang berusaha menghadang. Dia menghindari pertarungan single target dan menyerang dengan ayunan besar, memusatkan konsentrasi pada serangan-serangan lawan. Ace melompat lalu berputar untuk menghindari serangan beruntun para elf. Namun, karena kalah jumlah dan kecepatannya tidak terlalu cepat, Ace tidak berhasil menghindar sepenuhnya. Beberapa ujung dagger menggores pundak dan menyebabkan damage yang kecil beruntun.
Ace segera mengabaikannya dan memfokuskan diri untuk mempersiapkan serangan. Dia memanjangkan pedang untuk menambah range serangan, lalu bergerak dalam garis lurus, menembus barisan musuh. Cahaya kebiruan yang kemudian pecah menjadi polygon keluar ketika Ace menarik pedang ke sisinya. Namun, elf penyerang lain dengan cepat mengisi barisan di hadapannya.
[Remaining Time: 2 minute 12 seconds]
[HP: 2561/2867]
[MP: 420/ 460]
Rahang Ace mengetat ketika para elf itu kembali menyerang lebih cepat dari sebelumnya. Setelah merasa Ace tidak punya waktu untuk menghindari, Ace segera mengangkat kedua tangan untuk menangis serangan.
Ace melihat bar HP-nya berkurang seratus poin karena serangan lain muncul dari belakang. Namun, karena Ace telah membekukan bagian punggung, ayunan dagger musuh telah berkurang. Ace sekuat tenaga mendorong dagger yang menahan pedang di tangan kanan, lalu mengayunkan tangan kiri. Namun, karena kuda-kudanya goyah, ayunan pedangnya menjadi lemah. Terlebih lagi, muncul satu elf yang melesat dari samping kiri. Ace segera memutar tubuh dan menendangkan kaki kiri yang telah dibekukan.
Tendangan itu berhasil membunuh dua elf penyerang. Ace menghalang dagger penyerang lain dengan tangan kiri. Sambil berteriak, Ace mengubah bentuk pedang di tangan kanan menjadi kepalan tinju es raksasa yang menghantam sebagian besar penyerang. Para elf itu mengeluarkan pekikan kesakitan.
Ini adalah perasaan yang kuat seperti saat Ace menghadapi naga di Dawn Grimmer. Perasaan bergejolak yang tidak bisa ditahan ketika serangan musuh terus mendarat di tubuh. Namun, tetap saja pertarungan ini tidak sebanding dengan naga itu. Para elf hanyalah sekerumunan monster yang menyerang secara bersamaan seperti pengecut.
Pedang yang masih tersisa di tangan kiri memberikan tebasan luas kepada para penyerang, lalu kepalan tangan Ace maju terus menerus, bergantian dengan pedang di tangan kiri.
Ya, benar. Dia sudah bertahan sendirian selama ini. Jika tidak ada yang bisa menyelamatkannya, Ace sama sekali tidak masalah. Dia tidak memerlukan bantuan siapa pun, tapi dia akan memberikan bantuan. Di dunia ini, dia akan membalik posisinya dari yang paling bawah menjadi yang tertinggi. DIa tidak akan melarikan diri dari kenyataan bahwa dirinya sangat lemah.
[HP: 2222/2867]
[MP: 375/ 460]
Tinju Ace akhirnya berhasil menghancurkan sisa-sisa penyerang di sekitar, menyemburkan cahaya polygon warna-warni yang kemudian menghilang. Ace masih dikuasai keinginan untuk menghancurkan segalanya ketika pedang di tangan kiri kembali menembus beberapa tubuh elf.
Lima atau enam elf mengangkat dagger, kemudian menjatuhkan diri ketika Ace mengayunkan pedang. Tinju es raksasa di tangan kanannya menghilang. Senyuman lebar terbit di wajah Ace ketika melihat pasukan elf yang menghadangnya telah menipis. Napasnya mulai terengah-engah, tapi yang dirasakannya bukan keputusasaan, melainkan amarah. Ace kembali melesat ke arah pasukan elf yang masih melindungi [Kor] dan mahkota. Semua syaraf di tubuh Ace bergetar ketika merasakan aliran sihir yang kuat di kedua kaki dan tangan.
[HP: 1863/2867]
[MP: 340/ 460]
Dengan teriakkan bergema di ruangan, Ace menciptakan pedang besar dan panjang lalu mengayunkannya secara horizontal. Dia menangkis dagger-dagger para penyerang, lalu berputar dengan cepat melebihi batas kemampuan untuk menebas leher-leher elf.
Setelah kepala elf berambut putih itu melayang di udara, polygon warna-warni kembali muncul dan beterbangan di udara, mengirimkan lebih banyak rasa panas di seluruh tubuh. Ace bisa melihat bar HP-nya terus berkurang karena serangan lain.
Dengan pikiran bahwa dia tidak akan gagal dan jatuh, Ace terus menembus monster-monster mati di depan mata. Kemudian dia berbalik, menggunakan ujung pedang besar untuk menghantam sisa-sisa elf di bagian d**a. Pada saat Ace melewati pecahan polygon, muncul dua dagger mendekat dari arah kiri dan kanan seolah hendak menggunting tubuhnya. Ace segera menghadang dager dengan pedang besar tanpa memperhatikan serangan lain yang mengarah kepada bahunnya. Dengan cepat, Ace menangkap pergelangan tangan elf yang berada di sisi kanan, lalu membekukannya.
Sambil berteriak, Ace mengayunkan elf dalam genggaman ke atas kepala dan menabrakkannya pada elf lain. Dia menikam elf yang tersisa dalam posisi terkunci dengan damage fatal. Berkat kuda-kudanya yang kokoh, dia berhasil mendapatkan critical hit.
Ace mengangkat kepala menghadap singgasana yang ternyata sudah cukup dekat. Dia melihat [Kor] menantinya dengan sabar sambil tersenyum licik. Kemudian, pandangan Ace beralih pada penunjuk waktu yang semakin berkurang.
[Remaining Time: 1 minute 20 seconds]
Dia hanya punya delapan puluh detik. Di sisi lain, Ace berpikir dirinya bisa terus bertarung dan membantai semua musuh yang muncul. Namun, saat Ace hendak melesat lebih cepat, sesuatu menusuk kakinya. Itu adalah anak panah yang diselimuti kekuatan magis. Seakan mereka sudah menungguku untuk berhenti bergerak, anak panah lain berjatuhan membentuk hujan. Lalu, satu, dua, tiga, dan empat panah berturut-turut mengenai tubuh Ace yang lain. Ketika dia tidak bisa bergerak, HP-nya berkurang perlahan.
Karenat terlalu fokus mengincar singgasana, Ace tidak menyadari bahwa elf magis telah mempersiapkan sihir untuknya, melantunkan mantra-mantra sihir dengan suara aneh. Sementara di sisi lain, anak panah kembali melesat ke arahnya.
Ace mengayunkan pedang besarnya untuk memblokir anah panah, tapi sihir para elf magis dengan telak mengenainya. Dalam sekejap, bar HP Ace merosot ke dalam zona merah. Meski serangan masih berlanjut, Ace mengangkat wajah dan melihat singgasana.
Inikah akhirnya?
Sangat sulit untuk mengalahkan musuh jarak jauh sendirian. Kemudian, dengan sekuat tenaga, Ace melepaskan diri dari serangan ganda para musuh untuk menerobos dan mencapai singgasana itu. Anak-anak panah terus mengejar, tapi Ace tidak ingin berhenti. Tujuannya sudah semakin dekat.
Lusinan elf penyerang melesat untuk memangsa dari segala arah. Saat ini, Ace tidak sempat memeriksa HP. Beberapa saat kemudian, Ace tidak bisa menggerakkan tubuh. Dia tidak bisa merasakan tangan dan kaki, yang tersisa hanyalah mana yang menguar dari tubuh. Ingatannya kembali pada saat dirinya melihat sosok lelaki yang menghilang di g**g sempit. Ketika ingatan itu terputar di dalam kepala, perasaan sesak yang hebat menyelimuti Ace.
Apakah dia akan mati? Dia pernah mati sekali, walau pada akhirnya dia terjebak di Erfheim.
Ya, dia memang menyedihkan. Meski dirinya telah dibantu oleh system, kekuatan-kekuatan ini hanyalah angka yang berada di status data. Hanya karena berhasil mengendalikan sihir, dia bisa melakukan segalanya.
Jendela penghitung waktu terus berkurang. Ace jadi bertnaya-tanya apa yang akan terjadi ketika detik itu menjadi nol. Tidak peduli apa pun yang terjadi, hanya satu hal yang Ace yakini.
Saat memikirkan kematian, wajah seseorang yang sangat ingin Ace temui, melintasi pandangan. Ayahnya. Sosok ayahnya yang tengah tersenyum lebar dengan kerutan menghiasi wajah. Pada saat Ace mengerjap, bibir ayahnya bergerak seperti menggumamkan sesuatu.
“Jangan menyerah.”
Benar. Jangan menyerah.
Ace segera bangkit. Dia sudah berada sangat dekat dengan singgasana itu, tapi para elf menghalanginya. Mereka berkumpul, menciptakan tembok tebal berlapis-lapis. Tanpa memedulikan itu, Ace kembali memusatkan sihir di kedua kaki, lalu melesat dengan cepat. Hal itu membuat jarak Ace dan singgasana semakin terkikis.
[HP: 923/2867]
[MP: 280 460]
Di kesempatan itulah, Ace melirik HP yang sudah sekarat. Namun, berkat passive skill [Elemental Affinity], dia bisa melakukan beberapa serangan beruntun dan mengincar critical hit. Di sisi lain, jika terkena lebih dari lima serangan dari [Kor], dia pasti mati. Namun, tanpa memedulikannya, Ace menerjang ke depan seolah tidak memiliki kesempatan untuk berpikir.
“Kau kuat.” Monster itu tersenyum sinis ketika pandangan mereka bertemu.
Ace berteriak ketika mengayunkan pedang pada musuh yang menghalangi jalan. Jarak antara dirinya dan [Kor] hampir tidak ada. Dan di saat bersamaan, perasaan yang dingin muncul memainkan otaknya. Perasaan yang familier, seperti yang dirasakannya sewaktu bertarung hidup dan mati dengan naga itu.
Wajah Ace terpantul di dagger pada saat berhadapan dengan [Kor]. Tangan kiri Ace yang bebas dengan segera membentuk pedang lalu mengayunkannya tanpa ragu-ragu. Pedang Ace dan dagger [Kor] beradu satu sama lain di tengah udara. Aura sihir kebiruan seakan meledak-ledak di dalam ruangan.
Monster itu mengangkat dagger ke atas kepala dan bersiap untuk menyerang kembali, tapi Ace membiarkan pedangnya kembali bergerak menyerang d**a [Kor] yang tidak memiliki pertahanan.
Meski melawan monster yang dikendalikan oleh system, Ace tahu [Kor] adalah monster yang memiliki akal. Ketika melawan [King Yedee], dia mencari tahu seberapa jauh jarak serang monster itu kemudian menjaga jarak untuk selalu berada di safe zone serangan. Namun, dia tidak bisa melakukannya jika berhadpaan dengan monster berakal. Secepat apa pun Ace menyusun strategi, [Kor] pasti bisa menebaknya. Bahkan monster itu pun mulai mempelajari pola gerakan Ace yang telah bertarung dengan bawahannya. Tentu saja hal ini sangat merugikan Ace, tapi akan ada waktu di mana sistem [Kor] mengalami delay.
Dengan menggunakan pedang di tangan kanan, Ace menusuk d**a bagian kiri [Kor] yang tidak terlindungi apa pun. Dia mengumpulkan mana ke tangan kanan untuk memperkuat serangan hingga pedangnya menembus d**a kanan [Kor]. Tentu saja Ace tahu serangan semacam itu tidak akan berpengaruh pada monster yang kemungkinan besar setara dengan naga.
[Remaining Time: 32 seconds]
Tinggal tiga puluh detik. Jika terjebak dalam pertarungan dengan [Kor], dia pasti akan kehabisan waktu dan HP. Dengan segera, Ace mencari sesuatu yang dapat menyelamatkannya dari situasi mendesak ini, yaitu mahkota yang berjarak beberapa langkah saja darinya. Jika dia bisa mencapai benda itu, quest ini akan selesai.
Tunggu, bukankah sihirnya adalah kekuatan imaji? Sebuah pedang es, perisai es, bahkan tinjuan es raksasa tercipta ketika dia memikirkannya. Ketika membayangkan skill Edgar dan Karein, dia berhasil menciptakan [Infinite Strike], dan ketika membayangkan [FireBurst] Demian, dia berhasil menciptakan [Frost Barrage]. Dia menamai skill-skill yang dibuat berdasar daya imaji, sementara system memberikannya skill yang tidak pernah Ace bayangkan. Bahkan Ace bisa membekukan diri sendiri karena imajinasinya.
Kemungkinan baru terbentuk di kepala Ace.
Kekuatan imaji yang bahkan mengalahkan system.
Kekuatan imaji yang dapat membentuk segala apa pun. Dan jika Ace memahami kekuatan itu lebih jauh lagi, dia bisa membentuk apa pun yang diinginkan selama memiliki mana.
“Jika tebakanku benar—“ Ace merasa perlu memastikannya sekarang. Dia terus menghadapi serangan-serangan [Kor] sementara hitungan sepuluh detik sudah dimulai.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tidakkah lebih baik terima tawaranku saja?” Pandangan [Kor] yang berada di hadapannya tidak mengganggu konsentrasi Ace.
Ace tahu bahwa monster itu mencoba untuk memprovokasi agar dirinya lengah. Sekarang dia tidak akan termakan oleh omongan monster itu dan fokus membayangkan sesuatu dalam benak.
Sebuah tangan yang dapat bergerak sesuai perintahnya.
Sebuah serangan dari [Kor] telah berhasil menghancurkan pedang besar Ace. Dengan segera, lelaki itu menciptakan tembok besar di depannya agar Ace bisa fokus memandangi mahkota itu. Keringat mulai bercucuran di dahi ketika tangan kanan Ace terulur ke depan, berusaha mengumpulkan kekuatan mana, menembus barisan-barisan elf yang melindungi mahkota.
Tatapan Ace menajam. Dinding ini tidak akan bertahan lama karena serangan bertubi dari [Kor]. Sementara itu, hitungan waktu memasuki lima terakhir.
[Remaining Time: 5 seconds]
Retakan baru muncul di dinding es setelah tinju [Kor] menghantamnya. Namun, Ace tidak peduli. Memang benar dia bisa menggapai mahkota itu dengan tangannya sendiri, tapi tidak ada jaminan kalau [Kor] atau elf lain menghadang. Ace memilih untuk berdiam diri, memfokuskan kekuatan sihir dan imajinasinya pada mahkota itu/
[Remaining Time: 3 seconds]
Aura sihir kebiruan mulai muncul mengitari podium. Mata Ace melebar melihat aura sihir itu perlahan membentuk sebuah tangan raksasa yang terbuat dari es, lalu dengan cepat menggenggam mahkota.
[Remaining Time: 1 seconds]
Panah-panah yang mengincar Ace telah membeku di udara. Dalam sekejap mata, seluruh elf berhenti bergerak lalu ruangan dipenuhi pecahan polygon-poligon yang berasal dari tubuh para elf. Bahkan [Kor] yang Ace duga adalah musuh terkuat di sini ikut menghilang.
Beberapa pesan penyelesaian quest melayang di hadapan Ace.
[Congratulations!]
[You have completed the ‘Rank Quest’]
Namun, di antara pesan itu, pandangan Ace tertuju pada pesan terakhir.
[The rank quest has been concluded as all quest have been completed. You rank will be determined shortly. Depending on the amount of points accumulated, it will be possible to get a mid-high ranking. (Rankmu akan segera ditentukan. Berdasarkan jumlah poin yang diakumulasikan, kemungkinan akan mendapat rank menengah ke atas.)
Ace menghela napas lega, menyadari betapa sulit dan panjangnya pertempuran ini. Jika saja Ace menyerah dengan memberikan Obsidiant Soul yang didapatnya dengan keberuntungan, perasaan bangga dan lega ini tidak akan hadir dalam tubuhnya.
Dan sekarang sudah waktunya Ace mendapat hadiah. Tatapan Ace melayang ke layar pesan. Dia bertanya-tanya seberapa besar poin yang didapat dari seluruh pertarungan ini. Meski gagal membunuh seluruh monster di quest ketiga, Ace telah menyelesaikan quest pertama dan quest kedua. Mungkinkah Rank C atau Rank B? Jika dia mendapat antara rank B dan C, kemungkinan Ace bisa percaya diri menemui teman-temannya sambil tersenyum. Namun, jika dipikir-pikir, apakah namanya tidak akan semakin terkenal?
Menjadi terkenal adalah hal merepotkan bagi Ace. Namanya sudah tersebar sejak berita seorang player mendapatkan sihir Dragon Slayer di hari kedatangannya. JIka sampai dirinya mendapat rank tinggi, entah berita apa yang akan tersebar di seluruh Erfheim suatu saat nanti.
Layar pesan berkedip-kedip ketika pengakumulasian poin berlangsung dengan sangat cepat. Bahkan Ace sendiri tidak bisa mengikuti kecepatan angka-angka yang bergerak. Sistem membacakan hasil seleksi dengan suara dingin seperti biasa.
[Your rank has been set as Rank S, First Class Magician]
Pesan itu muncul dengan tulisan besar dan diiringi musik meriah. Mata Ace membulat sempurna dengan mulut terbuka, tidak memercayai apa yang baru saja dilihat dan didengarnya dari system.