Kali ini aku bertemu dengannya lagi dalam situasi yang rumit. Aku sungguh tidak berharap ia akan muncul di hadapanku, di ruangan yang sama denganku. Menatap wajahnya, bahkan mendapati senyum dari mulut yang pedas itu, seolah membuatku ingin memakannya hidup-hidup. “Aku sudah mendengar semuanya dari temanku. Dia bekerja di rumah sakit ini.” Ia meletakkan sebuah tas dari kertas coklat tebal ke atas meja. “Tidak ada yang tampak parah padamu, jadi kenapa harus marah-marah?” Ia mendekatiku dan kini berdiri tepat di depanku. “Tidak baik untuk kondisimu dan sepertinya penyebab kemarahanmu harus segera menyingkir dari sini,” ia melemparkan tuduhannya. Arkha tidak bergemim sedikit pun, bahkan melirikku juga tidak. Sementara Ale, ia tampak heran menatap Anggita yang tersenyum sinis pad

