Aku menatap wanita rapuh yang berdiri dengan tubuh bergetar di samping ranjang Arkha. Ia meratap melihat bekas luka pada wajah, serta perban putih yang bersarang pada kepala putra sulung tercinta.Wanita dengan wajah yang sudah berhias keriput itu tampak sangat mengkhawatirkan anak kesayangannya. Ia yang beberapa hari ini telah dikekang karena penyakitnya, kini sekarang bisa menatap sedih atas segala yang terjadi pada Si Buah Hati. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Anak Mama jadi seperti ini?” Ia menangis sedih. “Aku memang seorang Ibu yang payah. Di saat kamu seperti ini, aku malah ikut jatuh sakit.” Ia menciumi dahi, serta kedua pipi anaknya. “Mama, Jangan begini!” Arkha terlihat risih. “Maaf ya, Sayang. Mama baru bisa datang sekarang,” ucapnya seraya sesekali memeja

