Setelah kemarin aku mengantar Mamaku pulang dari rumah sakit. Kini aku harus kembali lagi ke ruangan tempat Arkha masih terbaring. Meskipun aku tidak bisa memeluknya, paling tidak aku bisa mendapati tawanya dan meredakan gelisah pada hatiku yang meronta. Namun raut mukanya kembali muram, ketika ia telah memergokiku berdiri di ambang pintu ruangan miliknya. Arkha langsung terdiam, lantas seketika itu juga ia memalingkan muka dariku. Seiring dengan sikap tidak acuhnya padaku, senyum yang sempat mengambang pun kini sirna dan berganti dengan duka di wajahku. Aku menghela napas dan menenangkan hatiku yang terus meracau sedih. Kemudian aku melihat Ale, ia tampak berjalan ke arah di mana aku berada. Lalu ia menarik daun pintu, agar terbuka lebih lebar lagi. “Masuklah, Ra!” Jangan hanya b

