Aku ingin mendekat, tapi kakiku terasa kaku untuk melangkah. Nyaliku sungguh menciut melihatnya meratap seperti itu. Aku belum pernah melihatnya menangis sepanjang kami bersama. Sekarang dia meraung, meronta, seolah melonak takdir yang terjadi dalam hidupnya. Aku sungguh merasa terluka dan hatiku begitu perih mendapati calon suamiku bergelut dengan kesedihan yang sangat jelas pada wajahnya. “Ada apa dengan kakiku? Tidak bisa bergerak. Kenapa? Aku tidak bisa menggerakkannya. Aku gak bisa gerakin kakiku. Kenapa kakiku, Le?” teriak Arkha, sembari terus menggerakkan-gerakkan sebelah kaki dengan ke dua tangannya. “Ada apa denganku? Apa yang terjadi, Le? Katakan!” pekiknya gelagapan. “Kak, tenanglah dulu. Keadaan ini hanya sementara saja. Kakak pasti masih bisa berjalan lagi.” Ale

