Episode 53. Perang Mulut

1213 Kata

    Aku melampiaskan kekesalan pada makanan yang aku masukkan ke dalam mulutku dengan kasar. Kemudian aku menegak air dalam botol yang tinggal setengah saja. Selanjutnya aku kembali membuka suara, “Aku bukan pegawai serabutan, Tante. Aku sebagai supervisor di sana,” ungkapku memberikan penjelasan padanya.     “Masa supervisor juga harus melayani pembeli? Itu sih sama saja dengan writer,” sangkal Tante Dewi dengan lirikan sinisnya.     “Maaf Tante, writer itu penulis,” Virza memberikan teguran atas kata yang telah salah ucap.     “Ah, iya, wri ... writress,” ralat Tante Dewi dengan wajah tersipu malu.     Aku benar-benar tidak terlalu suka pada sorot mata Tante Dewi yang seolah meremehkan pekerjaanku. Meskipun gajiku memang tidak besar di sana, tapi setidaknya aku tidak mencuri milik or

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN