Aku menangkap perhatian Mama dan Tante Dewi melekat pada bungkusan plastik merah besar yang berada di tangan Virza. Aku duduk dengan sembarangan, sedangkan Virza meletakkan bungkusan tersebut di atas meja, tepat di depanku. “Virza datang bawa makanan banyak nih, Tante. Aku juga mau makan, laparnya!” Aku segera membuka sebungkus yang berisi nasi goreng udang. “Bukankah kamu tadi bilang ke Mama, mau keluar cari makan?” Tanya Mama heran. Aku berhenti mengunyah. “Itu ... tadi warungnya tutup, terus aku bertemu Kak Virza di sana,” aku merangkai kebohongan, tepat setelah Virza duduk di sampingku. “Bukankah kita bertemu di depan ruangan Mamanya—” Aku merasa tersedak. “Ki-kita bertemu di depan warung, benarkan, Kak?” Aku mengedip-kedipkan mataku. “I-iya,” sahut Vi

