Aku mengikuti Ale untuk melihat Mamanya yang masuk ke ruang rawat inap, karena penyakit vertigo yang di deritanya kembali muncul setelah melihat kondisi Arkha. “Aku mau lihat anakku sekarang juga. Pokoknya aku mau lihat Arkha, Pa!” Mama mertuaku meronta. “Tidak bisa sekarang, Ma. Nanti kita sama-sama, kalau Mama sudah jauh lebih baik,” Papa mertuaku melarangnya. “Papa sungguh tega sama Mama!” sentak Mama dengan air mata terurai. “Papa lebih tidak tega lagi melihat Mama jatuh pingsan seperti kemarin. Kita tunggu pusing Mama mereda dulu,” bujuk Papa. “Mama tidak mau!” sentak Mama sembari beranjak dari pembaringannya. “Kalau Mama tetap bersikeras seperti ini. Terpaksa Ale akan pindahkan Kak Arkha ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuan Mama. Jadi Mama tidak b

