Saat ini aku kembali berada di dalam ruang Intensive Care Unite. Aku seorang diri, tanpa siapa pun bersamaku di sini. Pemandangan yang aku rekam dengan ke dua mataku ini, seakan membuat jantungku kembali berpacu dengan lebih cepat. Air mataku mengalir dengan sendirinya, ketika aku mendapati seseorang yang berarti bagiku, saat ini terbaring tidak berdaya. Aku sungguh tidak pernah menyangka, ia akan terlihat begitu sangat menyedihkan. “Apakah saat ini dia sedang memetik akibat dari hasil perbuatannya sendiri?” hatiku bersuara dengan pilu. Namun aku merasa ini terlalu kejam, jika ia menjadi begini atas perselingkuhan yang telah dilakukannya. Beberapa saat kemudian tampak olehku seorang suster muda muncul dan aku langsung menghapus air mata yang menghiasi wajahku. “Permisi ya, Bu!” uc

