Aku mengedarkan pandangan ke semua penjuru mencari keberadaan Mamaku. Ingin rasanya aku dekap tubuh sintal itu untuk mendapatkan kembali ketenangan hatiku. Namun nihil, ia tidak tampak juga di mana pun. Aku hanya mendapati sekumpulan saudara jauh, hingga kerabat dekat yang membuat kelompok gosip masing-masing. Hari-hari persiapan untuk acara pernikahanku di rumah kami ini, layaknya penyedia ajang untuk para penggibah lihai. Aku mulai mendekati seorang wanita gemuk yang tampak antusias dengan kue kering di tangannya. “Ini enak loh, Jeng. Rasanya mantul, dijamin endes pokoknya.” Ia membuka penutup toples. “Coba deh, coba deh, silakan dicicipi,” bujuk rayunya terdengar menggiurkan, tapi para ibu-ibu itu terlihat enggan untuk menjumput barang sebiji. “Tan, lihat Mama, gak?” tanya

