Aku membuka tisu yang menutupi lukanya, lantas tampak tertinggal beberapa sobekan lembut bercampur darah yang ternyata menempel pada kulit yang memerah. Aku mencoba membersihkannya, namun darah kembali mengucur, hingga membuatku semakin bingung. “Apa yang sudah Kakak lakukan? Kakak boleh marah, bahkan memaki, atau memberiku sumpah serapah sepuasmu, tapi jangan pernah menyakiti diri sendiri seperti ini. Kak Virza sudah membuatku merasa lebih bersalah dan ketakutan melihat ini semua.” Aku terisak sambil membenamkan beberapa helai tisu lagi pada telapak tangannya. “Kamu tahu, aku tidak mungkin bisa berkata kasar padamu.” Virza mendengus kesal. “Karena itulah, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melampiaskan segala kemarahanku.” Ia menatapku dengan mata nanarnya. “Diandra, aku

