Aku menatap Vivi yang terdiam di sisiku, serta Pak Dirga yang menatap geram ke arahku. Aku ingin membela sahabatku, tapi aku juga takut pembelaanku akan memperburuk situasi yang ada. “Kenapa diam saja?” Pak Dirga menghela napas dengan kasar. “Baik, kalau begitu aku kaan cabut izin cutimu!” Ia sepertinya berniat mengambil keputusan sepihak. “Jangan, Pak!” pekikku dengan seketika berdiri dari tempat duduk. “Jadi, kenapa kamu masih di sini?!” hardiknya kasar. “Mbak! Bisa minta menunya?!” teriak seorang laki-laki dengan tangan terangkat yang berada tidak terlalu jauh dari kami, menatap Vivi. Sedangkan seorang wanita yang bersama dengannya, terlihat menarik kursi yang didudukinya agar lebih mendekat pada meja. “A-ada pelanggan, Pak. Saya permisi dulu,” ucap Vivi sem

