“Jika kamu tidak ingin teman-teman kamu ini saya pecat, lebih baik kamu diam saja!” Pak Dirga seakan mengintimidasiku. Aku hanya bisa mematung menatap mereka yang meninggalkanku seorang diri. Untuk sesaat, sorot mata Panji yang begitu sinis telah membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku sungguh tidak mengerti dengan alasan Pak Dirga menyisihkanku seorang. Ini semua kesalahanku, tapi teman-temanku yang terkena dampaknya, hingga aku begitu takut mereka akan membenciku yang tampak dianakemaskan. Saat ini tubuhku terasa sangat letih, hingga aku menempati bekas kursi yang diduduki oleh Anggita dengan lunglai. Kemudian aku edarkan mataku ke seluruh ruangan yang semakin sepi. Lalu tanpa sengaja, di kejauhan tertangkap oleh kedua mataku, Danis sesekali mencuri pandang ke arahku. Aku

