Kedua mataku menangkap sosok yang membuat jantungku berdenyut dengan kencang, sampai-sampai langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu. Aliran darahku juga sepertinya bergerak cepat memompa emosi yang sudah semakin membeludak, hingga aku ingin mengumpat, dan melemparkan sumpah serapahku pada laki-laki yang melambungkan senyum menyambut kedatanganku. Ekpresi seorang penipu ulung yang ditampilkannya saat ini, membuatku ingin sekali menikamkan pisau pada hatinya yang telah bercabang. Amarahku semakin meluap, di restoran ada seorang wanita licik, dan sekarang dihadapkan padaku seorang pengkhianat handal. “Kenapa berhenti, Di?” ucap Virza mendahului jalanku dan ikut terpaku ketika matanya bertabrakan dengan Arkha. “Sejak kapan kamu di sini?” ucapku datar. Kemudian aku mela

