Bukan hanya mencari
yang pantas, namun
juga mau memantaskan.
Bukan hanya mencari yang
sempurna, namun juga mau
menyempurnakan.
~Atha
Akhirnya atha dibawa ke uks oleh teman-temannya, lea yang merasa khawatir mengikuti orang-orang yang membawa atha setelah menarik tangan kara agar mengikuti dirinya.
"Aduh gimana kar? semua gara-gara gue" ujarnya panik
"Udah lo tenang aja le, pasti atha baik-baik aja" tenang kara.
Begitu memasuki uks ia melihat atha masih berbaring di ranjang ditemani dengan andre dan aldo teman sekelasnya.
Seakan mengerti situasi andre mengajak aldo keluar, tak lupa menarik tangan kara membuat cewek itu menjerit kaget namun dasarnya kekuatan lelaki lebih besar kara tak bisa melepaskan tautan tangan andre membuat cewek itu pasrah ditarik andre.
"Masih ada yang sakit?" kata lea setelah duduk di kursi samping ranjang.
"Sakit banget punggung aku yang" adu atha seperti anak kecil.
"Aduh pasti nyeri banget ya? mau aku kompresin" lea yang merasa bersalah ingin bangkit mengambil kompresan namun tangan atha menahan langkahnya.
"Aku ngakpapa tadi akting aja biar kamu khawatir" kata atha membuat lea menatap tajam lelaki itu.
"Emang kamu masih mau aku perhatiin? bukannya lebih seneng di perhatiin reta pake acara pulang segala nggak ngasih kabar" gerutu lea yang masih kesal dengan lelaki itu.
"hahaha" bukannya merasa bersalah atha malah tertawa membuat lea semakin kesal.
"Kamu cemburu ya?" tanya atha.
"Ngapain cemburu" sewot lea.
"Aku semalem capek banget yang, kemarin reta yang maksa aku, rozi juga nggak bisa nganterin, awalnya aku udah nolak tapi dia mohon-mohon habis nganterin dia aku langsung pulang terus ketiduran. Maaf ya kemarin nggak ngabarin kamu" jelas atha membuat lea luluh seketika, lea sebenarnya hanya kesal pada lelaki itu yang tidak memberi kabar semalaman.
Lea percaya pada atha dan ia yakin atha akan selalu menjaga kepercayaan yang lea berikan pada lelaki itu, ia juga tak mau egois pada atha ia tahu betapa sibuk dan lelahnya lelaki itu. Ia tahu atha kurang tidur, ia juga tahu atha sering lupa makan namun lelaki itu selalu memastikan dirinya tetap makan, ia tahu atha capek harus mengurus semuanya sendiri, ia tahu beban lelaki itu terlalu berat.
Bahkan beberapa kali lelaki itu harus mendapat kritikan dari beberapa guru karena kegiatan yang kurang meriahlah, kurang kondusif, tidak sesuai jadwal kadang ia juga kesal guru sih enak tinggal terima beres mereka nggak tau betapa lelahnya anak osis merancang kegiatan yang kadang harus di hancurkan karena beberapa tidak disetujui guru.
Harusnya mereka itu ikut membantu bukannya membeli kritikan yang brujung pada perubahan membuat semua panitia jadi kuwalahan. Pak bu panitia juga manusia wajar kalau membuat kesalahan walau sekecil apapun seperti ada guru yang lupa di kasih undangan padahal sih dikasih cuma gurunya pas tidak ada saja sehingga belum sempat diberikan.
Melihat wajah lelah atha membuat lea mengerti bukan hanya dirinya yang membutuhkan atha namun banyak orang, bahkan organisasi ini sangat membutuhkan sosok atha yang pemberani dan pandai memunculkan ide-ide luar biasanya.
"Kamu tuh kalau capek istirahat, udah tau capek masih aja dipaksain emang situ robot yang bisa diajak kerja rodi" omel lea membuat atha tersenyum, kekasihnya itu khawatir namun juga kesal dalam waktu yang bersamaan.
"Iya sayang, kamu juga kalau mau minum jangan di tengah lapangan kayak tadi" nasehat atha.
"Iya, padahal itu udah agak kepinggir"
"Tetep aja le, bola itu larinya kemana aja nggak usah ngeyel"
Lalu hanya keheningan, atha masih sedikit meringis menahan nyeri dipunggungnya sedangkan lea mengelus surai rambut lelaki itu sesekali menoleh ke pintu uks takut jika ada orang yang masuk.
"Aku tinggal nggakpapa? aku ada pelajaran ekonomi habis ini" tanya lea membuat atha membuka matanya yang tadi terpejam menikmati elusan tangan lea di kepalanya.
"Nggakpapa nanti aku nyuruh andre nemenin" jawab atha membuat lea beranjak, sebelum pergi lea memastikan kening atha suhu tubuh cowok itu normal membuatnya tenang.
"Nanti makan roti ini ya minumnya air putih aja dulu biar tubuh kamu nggak kekurangan cairan" mengambil roti yang ada di uks setelah memastikan tanggal kadaluarsanya, bagaimanapun lea anak pmr ia tahu betul tata letak benda diruangan itu.
"Iya bu pmr" canda atha membuat lea tersenyum pelan sebelum melanjutkan langkahnya untuk keluar dari dalam uks.
********
Setelah mengganti baju olahraganya dengan seragam batik lea masuk kedalam kelas, untung saja bu war yang merupakan guru bahasa indonesianya belum masuk membuat lea bernapas lega.
"Lama banget, dari mana aja le" tanya kara penasaran.
"Tadi sekalian bahas lpj sama atha" bohong lea membuat kara mengangguk mengerti.
"Masih sakit aja udah bahas lpj, bener-bener ya pak ketos" kata kara ssdikit heran "Eh le nanti jadi nyeblak ya sekalian nongkrong" ingat kara membuat lea mengangguk karena bu war sudah masuk.
Waktu istirahat kedua lea lebih memilih dikelas bergosip ria bersama teman-temannya, namun notifikasi di hpnya membuat ia mengalihkan pandangan ke ponsel yang ia letakkan di laci meja.
from Razka
Nanti pulang sekolah
dijemput atau aku anterin?
To: Razka
Aku pulang sama
temen-temenku mau makan
seblak sekalian nongkrong
bentar.
Tak lama atha langsung membalas pesan yang lea kirimkan.
From Razka
Pulangnya nanti aku
jemput yang, aku ada latihan
basket hari ini.
To: Razka
Punggungmu emang
udah sembuh? kalau belum
enakan izin aja latihannya.
From Razka
Udah yang, aku udah
di kelas, nanti ngabarin
aja kalau udah selesai sama
temen kamu.
To: Razka
Siap bos
From Razka
Seblaknya jangan pedes
To: Razka
Sedikit aja, udah ya
guruku udah masuk nih.
Begitu mengakhiri chatnya lea langsung duduk tenang karena guru bahasa indonesianya sudah masuk kedalam kelas, Pak wandi. Beliau selalu memberi tugas saat pelajaran bahasa indonesia namun tak jarang juga jadi PR karena banyak tugas yang diberikan.
Sebenarnya pak Wandi itu guru tersantui kalau ngajar selalu main hp kita dibebasin di dalam kelas namun harus tetap mengerjakan tugas kalau lagi malas lea lebih memilih dikerjakan di rumah namun jika sedang rajin akan langsung dikerjakan disekolah toh ujung-ujungnya akan jadi pekerjaan rumah.
Tak terasa sudah dua jam lea mengerjakan tugasnya tadi ia sempat mengobrol juga bersama kara lebih tepatnya kara yang curhat mengenai gebetannya.
"Seluruh pelajaran hari ini telah selesai sampai jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru, All today's lessons have been completed, see you tomorrow morning with a new spirit of learning" Bunyi bel pertanda pulang sekolah membuat semua murid bergegas membereskan buku mereka.
"Baik anak-anak nanti tugasnya diselesaikan di rumah, ketua kelas mimpin do'a" perintah pak wandi.
Lea sudah berada di mobil vani, hari ini vani sengaja membawa mobil agar mereka bisa menebeng. Lea duduk dikursi samping kemudi sedangkan sukma, sofia, kara duduk di kursi tengah dibagian belakang ada dinda dan sari.
Tiba di depan warung seblak mbak tiwi mereka langsung mengambil tempat duduk, warung sederhana yang disediakan banyak bangku ada juga lesehan namun karena lesehan penuh akhirnya lea dan yang lainnya duduk di bangku. Seperti biasa mereka memesan seblak komplit dan es teh.
Begitu pesanannya tiba mereka langsung melahab seblak yang begitu menggiurkan lidah.
"Eh le, ultah sma nanti guestarnya siapa?" kepo sukma.
"Nggak tau ntar yang megang event itu udah bukan gue lagi, kan gue mau purna bentar lagi" jawab lea seadanya.
"Yahh padahal kepo berat, eh ntar lo nggak panitia brarti dong" sahut dinda yang juga ingin tahu.
"Iya, kita bisa nonton bareng gess" ujar lea senang, pasalnya selama dua tahun kemarin ulang tahun sma dia tidak bisa menonton konser ulang tahun sekolahnya bersama mereka karena lea harus jadi panitia seperti biasanya.
Sekarang ia bisa lega setidaknya masa terakhir merayakan ulang tahun sekolah bersama sahabatnya.
"Kita kembaran topi yuk lucu banget pasti" cetus sari.
"Setuju gue pasti seru banget" setuju sofia.
"Gue juga ntar kita foto bareng gue upload di ig" semangat kara.
"Gue ngikut kalian aja" sahut lea yang juga setuju.
Hampir pukul lima sore akhirnya lea dan teman-temannya memutuskan untuk pulang, ia berasalasan akan dijemput supir.
"Hallo" kata lea pada sang kekasih seberang telpon.
"Tunggu bentar yang bentar lagi aku nyampek" Ujar atha diseberang telpon lalu langsung mematikan sambungan telepon.
Tak lama kemudian motor atha sudah tiba, lelaki itu sudah tidak memakai seragamnya hanya menggunakan seragam basketnya yang dilapisi jaket membut pesona lelaki itu berkali lipat bertambah keren.
"Dapet helm dari mana?" tanya lea, setahunya lelaki itu hanya membawa satu helm karena mereka tidak ada rencana pulang bersama.
"Minjem punya pacarnya rozi, tadi dia gagal kencan" jawab atha yang diangguki lea, lalu ia duduk di jok motor belakang setelah dibantu atha naik karena tinggi motor milik lelaki itu yang membuat lea kesusahan karena masih memakai rok.
"Langsung pulang aja?" tanya atha.
"Iya udah sore" jawab lea.
Menikmati angin sepoi-sepoi diperjalanan pulang ditambah langit sore yang indah membuat mereka nyaman, Lea melingkarkan tangannya di pinggang lelaki yang membuat dunia lea berwarna.
Sedangkan atha masih fokus menyetir motornya dengan satu tangan kanannya, tangan kirinya ikut menggenggam tangan lea yang berada dipinggangnya. Demi apa pun atha berjanji akan selalu mengusahakan agar mereka tetap bersama, menikmati hari-hari tua bersama gadisnya sampai maut memisahkan.
Atha juga tak mengerti magnet apa yang lea miliki sehingga membuat atha jatuh sejatuh-jatuhnya pada perempuan penggemar kucing yang membuat kisah mereka berjalan sampai sekarang, diawali dengan ketidaksengajaan atha melihat lea menolong kucing di selokan yang mengakibatkan baju perempuan itu basah dan kotor hingga membuat mereka dekat karena merawat kucing yang mereka temukan meskipun akhirnya kucing itu harus meninggal.
Ia berterimakasih sekali pada kucing yang membuat pertemuan mereka hingga membuat kisah yang tak pernah terpikirkan oleh atha maupun lea akan terjadi begitu indahnya, atha tak akan melepaskan lea ia berjanji akan menjaga lea dengan segenap jiwa raganya.