Jangan salahin aku
yang egois
Salahin perasaan aku yang
maunya sama kamu
~Reta
Kelas dua belas sudah mulai akan disibukkan dengan persiapan untuk ujian nasional, seperti halnya atha saat ini lelaki itu sedang berada diperpustakaan sekolahnya untuk mencari buku yang ia butuhkan sebelum kehabisan.
Atha bukan murid dengan langganan peringkat pararel atau siswa pandai yang selalu mengikuti olimpiade namun lelaki itu juga pandai dengan langganan peringkat tiga besar dikelasnya, beberapa kali masuk pararel meskipun tak tetap.
Meskipun beberapa kali atha harus mengesampingkan waktu belajarnya karena padatnya kegiatan yang ia ikuti, namun bukan brarti ia tak pernah belajar lelaki itu suka membaca buku, hobinya ini tak banyak orang yang tahu hanya keluarga dan lea saja bahkan teman dekatnya jarang yang mengetahui.
Keadaan perpustakaan masih sepi membuat atha lebih nyaman, lelaki itu memang tak suka keramaian karena saat di keramaian ia merasa risih diperhatikan bukan sombong ia tahu wajahnya yang kata orang tampan membuatnya jadi pusat perhatian bahkan waktu kecil atha sering diculik tetangganya karena gemas dengan ketampanan lelaki itu kata sang mamanya dulu.
"Atha kamu disini juga, aku nggak nyangka kamu seneng baca" Tiba-tiba reta datang, membuat mood atha langsung memburuk ia tahu reta menyukainya namun karena mereka partner osis membuatnya tak bisa menghindari perempuan itu.
"Hmm" Balas atha singkat, lalu ia beranjak pergi dan duduk di salah satu bangku yang disediakan di perpustakaan. Bukannya pergi reta malah mengikuti lelaki itu untuk duduk disampingnya setelah mengambil asal buku di rak.
"Katanya kemarin kamu kena bola ya tha, masih sakit nggak?" ujar reta mencoba mencari topik obrolan.
"Nggak" jawab atha lagi dengan singkat.
Baru saja reta hendak membuka suara namun bel pertanda masuk membuat atha bergegas pergi ke kelas yang diikuti reta, karena bel baru saja berbunyi membuat koridor masih ramai sehingga banyak yang memperhatikan mereka.
Atha sengaja mempercepat langkahnya agar ia tidak berjalan bersisihan dengan reta. Dari arah berlawanan ia melihat lea dan kedua sahabatnya yang ia ketahui namanya sari dan vani.
Tatapan mata atha masih lurus kearah lea, semakin berjalan mendekat. Namun lea hanya melewatinya tanpa menyapa dirinya membuat atha sedikit kesal.
"Pagi leaa" sapa reta ceria.
"Pagi juga ret, duluan ya" sapa balik lea lalu berjalan cepat menuju kelas perempuan itu yang langsung diikuti kedua sahabatnya.
Begitu masuk kelas atha langsung menaruh tas dan buku yang ia pinjam diperpustakaan tadi, baru saja ia hendak mengirim pesan pada sang kekasih namun kedatangan miss yani guru bahasa inggrisnya membuat ia membatalkan niatnya.
"Good morning, how are you today?" sapa miss yani.
"I am fine miss thank you and you" kata kelas dua belas mipa 3 serempak.
"me too, okay today because I have an interest please open the package page 118"
"Yes miss"
"There are twenty choice questions and five easy questions, please do it later, put it on my desk" kata miss yani lalu berpamitan keluar kelas lagi membuat semua orang berteriak bahagia karena jarang miss yani memberi mereka jam kosong walaupun ada tugas setidaknya mereka tidak usah mendengarkan ceramah guru bahasa inggrisnya yang killer.
Kadang miss yani akan menunjuk acak salah seorang murid untuk menjawab pertanyaannya, maka dari itu jika pelajaran guru killer yang satu ini mereka harus fokus dan mendengarkan dengan baik materi yang dijelaskan oleh guru itu.
Bel tanda istirahat sudah berbunyi membuat semua murid bersorak senang, perut yang sudah keroncongan membuat konsentrasi belajar jadi tak tenang termasuk juga atha dan teman-temannya.
Bergegas pergi ke kantin sebelum kantin penuh, atha, andre, aldo berjalan menuju kantin sekolahan.
Sesampainya di kantin mereka langsung memesan makanan.
"Mau pesen apa? biar gue pesenin kalian cari bangku" tawar andre.
"Nasi rames kasih kuah pecel sedikit minumnya es teh" jawab aldo.
"Gue samain aja" ujar atha setelah itu mereka mencari bangku atha lebih memilih duduk didekat jendela yang menghubungkan pepohonan hijau.

Dirinya tak sengaja melihat lea dan teman-temannya sedang berjalan ke arah sini, mereka terlihat asik ngobrol sambil sesekali tertawa.
Diliriknya orang-orang disekitar membuat atha sedikit menggeram marah, ia melihat beberapa kaum lelaki juga ikut memandangi lea namun sepertinya perempuan itu tak sadar karena masih asik dengan dunianya sendiri.
"Lo kenapa tha?" heran aldo yang melihat perubahan dari mimik wajah temannya itu.
"Nggakpapa, gue keinget aja ntar ada latihan basket sebelum tanding" alasan atha.
"Owh iya gue lupa, ntar jam ke enam kan?" ujar aldo memastikan, nanti tim basket akan ada latihan yang akan ditonton seluruh siswa satu sekolah sebagai bentuk latihan, lawan mainnya pun sesama tim yang akan di bagi menjadi dua satu tim inti yang satu tim cadangan yang akan menjadi lawan main.
"Iya, dispennya jam setengah dua" kata atha sekolahnya pulang jam tiga sore jika hari senin, sedangkan hari selasa, rabu, dan kamis akan pulang jam empat kurang seperempat lalu hari jumat akan pulang jam dua. karena hari ini hari kamis maka pulangnya jam empat kurang seperempat.
"Senengnya nggak ketemu kimia" ujar aldo, tak lama kemudian andre datang membawa nampan berisi makanan pesanan mereka.
**************
Bel istirahat sudah berbunyi membuat lea yang masih mencatat sejarah indonesia mempercepat tulisannya.
"Ayokk le buruan, tulisannya jangan di bagus-bagusin" cerewet kara yang sudah selesai mencatat meskipun dengan tulisan yang sedikit seperti cakar ayam.
"Iya bentarr tinggal satu paragraf lagi bawel" omeh lea.
"Guyss katanya atha sama reta lagi deket ya?" ujar sofia yang menghampiri meja lea dan kara diikuti dinda, sukma, vani dan sari.
"Masak sih?" kata sukma tak percaya.
"Katanya kelas sebelah tadi pas di toilet, tadi aja mereka berangkat bareng" ujar sofia lagi.
"Nggak cocok deh kalau sama reta, anaknya suka caper gak like gue" sahut vani.
"Iya sih mending cantik masih cantikan juga lea" kata dinda menyetujui.
"Gue lebih setuju atha sama lea aja" kata sari membuat lea kaget.
"Kok sama gue?" jawab lea.
"Kalian tuh cocok tau, pas kemarin jalan keliatan banget cocok terus ya nggak tau kenapa gue ngerasa tatapan atha ke lea tuh beda gitu, iya nggak sih guys" jelas kara.
"Iya, gue aja masih ngira atha suka sama lea. Pas kejadian atha rela kena bola demi lea inget nggak? itu keren banget sih si atha" Dinda yang ikut menyetujui.
"Udahlah ke kantin yuk, gue udah selesai nih" lea yang sudah selesai mencatat langsung beranjak yang diangguki semua temannya.
"Lea mau ke kantin?" tanya nisya teman sekelasnya.
"Iya, kenapa?" tanya lea.
"Nisya titip es poci ya, lagi males ke kantin" ujar nisya yang lea ketahui sedang galau, sedikit yang lea tahu nisya sedang putus cinta dengan pacarnya yang merupakan ketua pecinta alam.
"Iya, ntar agak lama nggakpapa?"
"Nggakpapa, ini uangnya makasih lea cantik" kata nisya yang dijawab senyuman oleh lea.
"Nisya kalau lagi diem keliatan cantiknya" celetuk vani.
"Iya biasanya tuh orang pecicilan nggak jelas, hari ini nggak ada teriakan nisya lumayan tenanglah walaupun sedikit aneh kalau liat dia diem" sahut sukma.
"Hampa nggak sih" kata kara yang langsung mendapat gelak tawa dari mereka.
"Lebay banget lu, ya walaupun kelas agak sepi sih tapi nggak sampek hampa juga kali" ujar sofia.
Begitu sampai kantin mereka langsung mengambil tempat duduk yang dipinggir kaca, tempat kesukaan mereka yang masih tersisa satu dekat kaca, mungkin karena suasananya yang nyaman membuat kebanyakan anak-anak memilih duduk di dekat kaca ada juga yang suka ditengah kantin sekalian tebar pesona.
"Biar gue sama sari aja yang pesen" dinda langsung menarik tangan sari sebelum perempuan itu protes.
Mereka hari ini memilih makan siomay, lea mengeluarkan ponselnya melihat notifikasi di hpnya, banyak pesan yang belum ia balas beberapa juga dari grup osis, pmr yang sudah menumpuk dan malas ia buka, lea hanya akan membuka jika ada kepentingan dirinya terlalu malas menanggapi candaan receh temannnya.
Tak sengaja mata lea melihat kearah bangku yang diduduki atha dan teman-temannya, menyadari ada yang memperhatikan atha menolehkan kepalanya tanpa sengaja mata mereka bertemu sedikit mencuri pandang ke arah sang kekasih lalu mengedipkan satu matanya yang berniat menggoda lea.
Melihat tingkah atha ia hanya tersenyum pelan, ini serunya punya hubungan yang tak diketahui banyak orang, tanpa lea sadari kara melihat semua interaksi antara dirinya dengan atha.
"Apa mereka pacaran?" batin kara.
"Nih guys makanan lengkap sama minumannya" Sari yang baru saja tiba meletakkan nampan berisi makanan dan minuman.
"Tega lo ninggalin gue sama nobel" Dinda yang baru saja datang terlihat kesal dengan sari.
"Ya maaf lagian lo kalau sama nobel berantem mulu kerjaannya" jawab sari, memang bukan rahasia umum lagi jika dinda dan nobel adalah musuh bebunyutan, nobel yang kelas mipa 7 entah kenapa selalu sewot dengan dinda meskipun dia laki-laki namun mulutnya itu kayak perempuan yang membuat dinda sangat membenci lelaki tinggi berkulit sawo matang itu.